
Satu minggu setelah kepergian stev, namun kesedihan masih bersarang dihati putri.
Malam itu semua orang sedang berkumpul dirumah stev.
"Put, apa rencana kamu selanjutnya." Tanya shine pada putri.
"Aku berpikir, sepertinya aku akan kekorea, karna stev sudah terlanjur berkorban. Maka aku akan menuntaskan masalah ini. Aku akan mengusutnya hingga tuntas. Shine, apa kau bisa menemaniku? aku sangat membutuhkanmu dalam hal ini."
"Aku pasti akan membantumu, tapi bagaimana dengan jeon, apa kau akan meninggalkanya?." Timpal shine.
"Kalian tenang saja, aku sebagai bunda angkatnya jeon akan menjaganya tiap hari selama kalian pergi." Sahut bianca.
"Iya, disini banyak orang yang menjaga jeon, mama harap kamu bisa menyelesaikan masalah ini secepatnya dan segeralah kembali. Tapi kapan kamu akan berangkat." Pungkas mama.
"Sepertinya akan berangkat besok, lebih cepat lebih baik, aku tenang meninggalkan jeon pada kalian, dia pasti bahagia ditemani kalian, sepertinya aku akan pergi dalam waktu yang cukup lama, sampai masalah ini tuntas dan mengembalikan perusahaan seperti dulu lagi." Jawab putri.
"Baiklah, kalau begitu, semuanya sudah sepakat, besok aku dan putri akan berangkat kekorea. Dan kak charlie dan deniel akan kembali kejepang. Kimberly juga pulang keparis melanjutkan kuliahnya.
Aku minta sama kak charlie dan deniel, kalian tolong jaga baik-baik perusahaan dijepang, jangan sampai mengalami penurunan, dan untuk perusahaan stev dan putri disini, akan ada paman alex dan orang bawahannya yang akan membantu mengawasi.
Oh iya,, sementara itu, perusahaan seehan, akan diambil alih oleh papa dan mama." Jelas shine pada semuanya.
"Itu ide yang bagus, kita sepakat untuk itu. Baiklah, kita pulang dulu, ini sudah hampir larut, kasian putri dan rani, mereka ingin beristirahat." Timpal paman alex.
Semuanya berpamit untuk pulang, dan meninggalkan rumah stev, tapi shine masih duduk santai disofa.
"Loh, shine.? Kok gak pulang?." Tanya bibiknya itu.
"Bentar lagi bik, aku akan menghabiskan teh ini dulu sebelum pulang." Jawab shine santai.
"Baiklah, kalau gitu bibik tinggal dulu, biar putri yang menemanimu." Mama rani pergi kekamarnya,
"Shine. Apa ada yang ingin kau sampaikan?" Tanya putri sambil menggendong jeon yang tengah tertidur.
"Gak ada, aku hanya ingin lebih lama saja disini, aku masih mencemaskanmu.
Put, apa kau yakin akan berangkat besok, apa tidak terlalu mendadak?" Tanya shine sambil minum teh nya.
"Tidak shine, karna aku sudah memikirkan ini dengan matang. shine, sepertinya kita membutuhkan seorang detektif untuk membantu kita." Sahut putri.
__ADS_1
"Ya, kamu benar, oh iya, aku punya beberapa kenalan detektif sewaktu dijepang, aku akan menghubunginya nanti, dan memintanya berangkat kekorea besok." Jawab shine.
"terimakasih shine, kau sangat membantu, maafkan aku dan jeon yang selalu merepotkanmu. Kalau gak ada kamu, mungkin aku masih terpuruk saat ini." Tutur putri tertunduk.
Shine pun berdiri mendekati putri dan memegang kedua pundaknya. "Kamu wanita yang sangat baik, banyak sekali orang yang menyayangimu, termasuk aku, jadi, kamu pantas mendapatkan perlakuan yang baik juga. Kamu gak perlu berterimakasih untuk itu." Timpal shine tersenyum menatap putri.
"Hari sudah larut, aku pulang dulu.
Sayang, ayah pulang dulu ya." Shine mengecup lembut kening jeon dalam gendongan putri.
"Put, aku pulang ya." Tutur shine menatap lembut mata putri sambil menepuk kepalanya pelan.
"Ya, hati-hati dijalan,, besok kita langsung ketemu dibandara saja ya."
"Gak!. Besok aku diantar supir, aku akan menjemputmu disini, kita bisa pergi bersama kebandara. ya sudah aku pulang dulu, kamu istirahat lah, jangan terlalu banyak pikiran." Shine mengelus kepala putri, lalu melangkah pergi.
"Hm.. Terimakasih shine." Ucapnya dengan suara kecil sambil melihat shine berjalan menuju mobil nya.
Lalu dia pun pergi kekamarnya bersama jeon.
Malam itu, putri menangis sambil menatap jeon dan bingkai foto stev. Dia bersedih karna harus meninggalkan jeon dalam waktu yang lama, tapi dia harus mengusir kesedihan itu jauh-jauh dan mencoba bangkit kembali demi stev.
_
"Bagaimana, apa sudah siap.? Kenapa hanya membawa satu koper?" Ujar shine saat melihat putri tengah bersiap.
"Tidak apa. Nanti bisa beli pakaian dikorea. Mari kita pergi."
Putri berpamitan pada mama nya, tak hentinya dia menciumi jeon yang sedang digendong oma nya itu, putri menahan air matanya, tidak boleh terlihat sedih didepan jeon, senyuman dan tawa jeon mengiringi kepergian putri, tapi dia lega karna jeon tidak menangis melihatnya pergi.
Saat didalam mobil, putri dan shine duduk bersama dibangku belakang. Namun putri hanya diam dan menatap kearah luar dari kaca mobil.
"Put. Kok diam? Ada apa.?" Tanya shine penasaran.
Putri tetap diam, hanya menggelengkan kepala tanpa melihat shine.
"Put, kamu kenapa?" Shine membalikan badan putri, lalu dia melihat air mata putri yang berlinang. Kemudian shine langsung mengusap air mata itu.
"Air mata ini akan kering jika kamu terus mengeluarkanya, katakan padaku, apa yang kau pikirkan. Apa kamu masih tidak tega meninggalkan jeon.?" Tanya shine mentap putri yang sedang tertunduk.
__ADS_1
Putri hanya mengangguk diam. kemudian shine mendekapnya. "Hei, kita ini pergi sebentar saja, bukan untuk selamanya, kalau kamu merindukan jeon, kamu bisa melakukan vidio call. Kalau cengeng seperti ini, bagaimana bisa kamu menghadapi masalah dikorea sana. Please.. Hentikan air mata itu, aku makin mencemaskan kesehatan kamu." Tutur shine mendekap putri.
"Maafkan aku shine, aku selalu membuatmu cemas, membuatmu khawatir. Aku akan berusaha untuk tegar dan kuat, demi jeon dan stev." Sahut putri mencoba tegar.
"Nah gitu dong, ini baru putri yang aku kenal." Shine mengusap air mata putri.
_
Setelah melalui perjalanan panjang didalam pesawat, ahirnya mereka tiba dikorea, dan bermalam diapartemen putri disana.
Sebelum kekantor, putri sudah memberitahu pihak kantor, bahwa dia akan berkunjung.
Keesokan harinya mereka langsung pergi keperusahaannya, tak disangka kedatangan mereka diserbu oleh para wartawan, dan mereka mengerumuni putri dan shine, shine pun sigap berjaga untuk putri.
Wartawan awak media pun berbondong memberikan pertanyaan pada putri.
"Nyonya lee, selamat datang kembali dikorea, sudah lama sekali anda tidak berkunjung, kami turut berduka atas kepergian tuan stev."
"Nyonya lee, bisa anda ceritakan bagaimana dan apa penyebab meninggalnya tuan stev yang secara mendadak itu?"
"Nyonya lee,, apa kedatangan anda kemari ingin menyelesaikan masalah perusahaan? Sebenar nya apa yang sedang terjadi, bisa tolong anda ceritakan.?"
"Nyonya lee, siapa lelaki yang disamping anda, bukankah suami anda baru saja meninggal.?"
Wartawan itu terus bertanya-tanya sambil mengiringi putri berjalan dari saat baru keluar mobil hingga sampai didepan kantor.
Shine menghadang mereka yang terus mendesak putri. "Maaf semuanya, tolong bertanya satu-satu, dan mohon beri jalan pada kami."
Putri pun menghentikan langkahnya untuk menjawab pertanyaan mereka. "Baiklah semuanya, aku akan memberi jawaban. Steven meninggal karna kecelakaan mobil, dan kedatanganku kemari ingin mengurus masalah dikantor ini, seperti yang kalian ketahui, sejak aku menikah, sudah hampir dua tahun ini aku tidak berkunjung kesini, dan aku jarang mengontrol atau memantau perusahaan ini, jadi, tentang menurunnya sahamku, aku juga belum tau pasti, karna kantor ini aku percayakan pada tuan kiim selaku coe keduanya.
Dan aku akan menyelesaikan masalah ini secepatnya. Dan dia adalah shine, dia adalah sahabatku sekaligus penjagaku, dia orang yang akan membantuku dalam mengatasi masalah ini. Baiklah, itu saja yang bisa aku sampaikan, kami permisi dulu. Terimakasih.
Putri dan shine langsung masuk kekantor setelah memberikan sedikit klarifikasi pada wartawan yang haus info itu.
Mereka pun bubar setelah shine dan putri meninggalkan mereka.
•••
BERSAMBUNG...
__ADS_1