
Siang itu, setelah makan bersama dirumah steven, hubungan rani dan riana mulai membaik, begitu juga dengan shine dan bianca. Mereka mulai mengakrabkan diri satu sama lain.
"Waktunya aku balik ngantor nih, stev aku pulang dulu ya." Ujar shine berpamitan.
"Oh. Baiklah,, aku juga harus balik ngantor, masih banyak kerjaan."
"Shine, apa aku dan mama boleh ikut. Soalnya tadi kita naik taxi kesini nya." Tutur bianca berharap.
"Boleh kok, shine pasti mau antar kamu sama tante riana." Sahut putri dengan cepat.
"Apaan sih put, aku aja belum jawab. Aku pikir dulu deh." Timpal shine.
"Udah.. Buat apa dipikirin lagi, kelamaan. Kamu antar aja bianca kerumahnya." Sahut stev mendorong shine.
"Emangnya kamu gak kerja, ntar kamu dipecat putri loh." Ucap shine pada bianca.
"Ini hari sabtu shine. Mereka kerja setengah hari doang. Udah antar aja sana." Sahut putri.
"Oh.. Ya udah, ayo.. Karna ini putri yang minta loh ya!."
"Iya. Bawel.. Yaudah semuanya, kita pergi dulu ya, makasih atas makan siangnya, enak sekali. Lain kali kami akan berkunjung lagi." Pamit bianca pada semuanya.
"Rani, aku pulang dulu ya. Kalau ada waktu akhir pekan, aku akan main lagi kesini, boleh ya." Ucap riana pada rani.
"Hm.. Baiklah." Jawab rani singkat.
"Weii cepat dikit, lama amat sih, pamit aja lelet." Ucap shine sambil berjalan keluar.
"Iya.. Iya.. Sabarin dikit napa?." Susul bianca dan mamanya dari belakang shine.
Merekapun diantar oleh shine kerumah putri yang ditempati oleh bianca itu.
"Shine. Abis antar aku, tolong antar mama ke vilanya putri ya." Pinta bianca pada shine ketika dalam perjalanan menuju rumahnya.
"Ahh ribet amat sih, lagian kenapa kalian gak tinggal satu rumah aja sih." Timpal shine sambil melihat bianca dari kaca mobil diatas nya.
__ADS_1
"Mama kan kerjanya disana, susah bagi mama kalau harus pulang pergi kerumah, lagian putri hanya mengizinkanya tinggal divila." Jawab bianca.
"Kalian itu ya, harus berterimakasih pada putri sudah memberikan kehidupan yang layak sekarang, pikirkan cara menabung, supaya bisa beli rumah sendiri, biar gak numpang lagi dirumah putri. Walaupun rumah itu gak dia tempati." Jelas shine pada bianca dan mamanya.
"Iya nak,, saat ini tante dan bianca tengah menabung. Kalau uangnya sudah cukup, kita akan beli rumah dan tinggal bersama lagi." Sahut mama bianca tersenyum.
"Eh.. Shine!! Rumahnya udah lewat loh, kok gak berhenti.?" Tanya bianca heran saat shine melewati rumah putri.
"Antar mama kamu dulu, abis itu baru kamu." Ketus shine.
Bianca tersenyum, karna bisa ada waktu buat berdua dengan shine.
Diwaktu yang sama. Steven juga pamit pada putri dan anaknya.
"Sayang, papa pergi dulu ya, kamu baik-baik sama mama dan oma." Ucap stev menciumi bayinya itu.
"Sayang, aku pergi dulu. Abis ini ajak jeon keatas ya, kalian istirahat yang banyak. Besok hari minggu, aku mau ajak kamu ke mall." Tambah stev.
"Ke mall? Tapi kan jeon belum dibolehkan untuk keluar rumah." Jawab putri.
"Kita berdua aja kok sayang, biar jeon sama oma nya. Kan udah lama juga kamu gak belanja. Kita juga mau beli perlengkapan jeon." Timpal stev.
"Hm. Gitu dong,, ya udah, aku pergi dulu ya sayang." Stev mengecup kening putri, lalu mencium jeon sebelum berangkat kerja. kemudian stev berpamitan pada mama nya, lalu pergi menuju kantornya.
_
Setelah pulang dari mengantar mama bianca kevila, shine pun memutar arah untuk mengantarkan bianca pulang.
"Shine, kapan-kapan jalan bareng yuk. Udah lama gak refreshing, mungkin kamu juga lelah bekerja kan?" Tutur bianca tersenyum berharap.
"Hm.." Jawab shine singkat.
Bianca agak kecewa dan sedih. "Shine, besok kan hari minggu. Gimana kalau kita jalan. Aku yang traktir." Ucapnya menyemangati diri.
Shine melihat kesungguhan bianca dari tatapan matanya melalui kaca mobil.
__ADS_1
"Baiklah. Besok aku jemput kamu. Apa kamu sudah ada hp lagi? Simpan nomor telponku, supaya besok kamu bisa menghubungiku." Shine menghentikan mobilnya setelah tiba didepan rumah putri itu.
Bianca pun turun. "Shine makasih ya atas waktunya hari ini. Oh iya, mana hp kamu, biar aku save nomor telponku." Ucap bianca meminta hp shine.
Shine mengeluarkn ponsel dari saku celananya lalu memberikanya pada bianca. "Nih.. Jangan lama-lama, aku mau kerja." Ketus shine.
Bianca langsung mengambil hp shine. Dia kaget melihat wallpaper dilayar ponsel shine.
"Wow.. Wallpaper kamu mengagumkan. Foto putri yang sedang menggendong Jeon.. Kalau gini cara nya, bagaimana kamu bisa move on shine.. Yang ada, kamu malah tambah sayang sama putri, kamu itu secara tidak sengaja menyakiti hati kamu sendiri." Pungkas bianca sambil memasukan nomor telponya ke hp shine.
"Jangan banyak bacot. Mereka itu obat kangen dan lelahku. Sini hp nya."
"Ya. Aku hanya menyampaikan saran saja sama kamu. Karna aku kasihan sama perasaan kamu yang bertepuk sebelah tangan itu. Aku tau putri itu mantan terindah kamu yang masih kamu cintai sampai saat ini. Tapi kamu sudah tidak pantas lagi mencintai wanita yang sudah bersuami apalagi sudah mempunyai anak. Lebih baik kamu sering-sering bergaul sama gadis lain, supaya kamu tidak terfokus sama putri. Kalau sama jeon sih gak masalah.
Okelah, aku masuk dulu, sampai jumpa besok ya."
Bianca langsung pergi meninggalkan shine yang tengah bengong dengan ucapan bianca itu.
Shine menyalakan mobilnya lalu bergegas pergi.
Dalam perjalanan kekantornya, shine berpikir tentang apa yang dikatakan bianca.
"Bianca benar, kalau aku selalu melihat bayangan putri, maka aku tidak akan pernah bisa untuk melupakanya. Sedangkan aku selalu melihat kemesraannya dengan steven. Ya. Aku harus perbanyak bergaul dengan cewek lain, siapa tau aku bisa menghilangkan rasa ini terhadap putri.
Aku akan mencobanya. Tapi kalau untuk jeon, aku akan tetap menyayanginya sepenuh hatiku.
Untung suaminya steven, kalau misal orang lain, mungkin aku sudah dibunuhnya."
Gerutu shine sambil mengemudi. Lalu dia melihat kelayar ponselnya yang terletak dikursi sebelahnya.
"Aku dilema dengan perasaan ini. Sepertinya aku harus mengganti wallpaper ini menjadi foto jeon sendirian saja. Aku harus berusaha keras untuk mengurangi perasaanku sedikit demi sedikit.
Biar aku tidak terlalu sakit, dan aku akan berusaha membuka hati untuk orang lain. Mungkin juga putri tidak nyaman dengan perasaanku padanya, karna dia harus menjaga perasaan steven. Ini salah ku, aku benar-benar bodoh, aku gila karna cinta. Tapi mau diapakan, hati itu tidak bisa dipaksakan."
Shine terus bergumam berbicara sendiri didalam mobil. Dia sangat bingung dengan perasaan yang dia miliki itu.. Semoga saja dia bisa melepas putri.
__ADS_1
•••
BERSAMBUNG...