
Dalam keributan itu, lucy senang melihat jeon membenci cindy. Dia tersenyum tipis sembari melihat cindy.
Cindy tertunduk meneteskan air mata.
"Maaf.. Maafkan aku telah membuat kalian kecewa."
Cindy berbalik badan dan melangkah pergi.
"Cindy tunggu!!" Jeon meraih tangan cindy, dan memutarkan badannya lalu memeluknya.
Cindy kaget tiba-tiba jeon memeluknya.
"Jeon, lepaskan aku!. Bukankah kau membenciku?" Ujar cindy terisak tangis.
"Kapan aku bilang kalau aku membencimu? Aku hanya bilang kalau aku kecewa padamu?" Sahut jeon menatap mata cindy.
"Terus, kenapa kau memeluku?" Tanya cindy bingung.
"Maaf,, aku hilaf.. Kau tau? kamu sudah mengecewakan aku, kamu menutupi segalanya dariku? Kamu menyiksa dirimu sendiri?" Tutur jeon menatap mata cindy.
Lucy bingung dan kesal melihat jeon memeluk cindy, dia berdiri dan menghampiri mereka. Namun jennie menghalanginya.
"Mau kemana kamu?" Ucap jennie sembari menarik tangan lucy.
"Lepaskan! Kamu jangan ikut campur,!" Jawab lucy sembari berontak melepaskan tangannya.
"Gak!! Aku gak akan lepaskan! Dasar pengganggu! Kamu mau menyakiti kak cindy kan?" Tegas jennie
"Dek. Lepaskan lucy." Ujar jeon pada jennie.
Jennie pun melepaskan tangannya.
Lucy langsung menghampiri jeon dan memeluknya. "Jeon, adikmu kenapa jahat sekali padaku, tanganku sampai sakit dicekalnya." Tutur lucy sambil merengek.
"Hm.. Kamu silahkan duduk." Jeon menyuruh lucy untuk duduk disampingnya. Sementara jeon kembali berdiri disamping cindy.
"Jeon, kenapa kau berdiri disamping cindy, ayo duduk bersamaku." Ujar lucy sambil menarik tangan jeon.
"Lepaskan! Sayangnya disini gak ada paman rendy.
Bibi jesica.. Silahkan temani lucy duduk." Tegas jeon memanggil mama cindy itu.
Jesica pun turut hadir dalam keributan anak muda itu.
Jeon menghadap cindy, menatap matanya dan memegang kedua pundaknya.
"Jeon! Apa yang kau lakukan?, kalau ingin bicara, bicara saja. Gak perlu kayak gini." Tutur cindy tertunduk malu.
__ADS_1
"Cindy. Aku tau perasaan kamu terhadapku, aku tau bahwa kamu tidak membenciku. Maafkan aku selama ini tidak peduli dengan perasaan kamu, tapi sekarang aku mengerti, aku mengerti dengan perasaan hati kamu yang baik seperti malaikat itu."
"Jeon. Aku tidak mengerti apa yang kau maksud?." Ucap cindy.
"Kamu mengerti, hanya saja kamu belum mengetahui apa yang sudah aku ketahui.
Aku sudah tau semua kejadian dalam rumah ini, aku tau alasan kamu menjauhiku, aku tau kenapa kamu berhenti bekerja dikantorku. Dan itu semua kamu korbankan hanya untuk Lucy, kakak kamu.!!" Ucap jeon dengan tegas dan melirik tajam pada lucy.
Cindy dan lusy langsung kaget!
Cindy memundurkan langkahnya. "Tidak! Bukan seperti itu, dia bukan kakakku, dia temanku, kau tau sendirikan kita ini hanya teman, kamu jangan mengarang." Jawab cindy menyangkal.
"Benar, kita hanya berteman, aku bukan kakaknya ataupun bagian dari keluarga ini" Sambung lucy.
Jeon tidak mempedulikan apa yang lucy katakan. Dia tetap fokus pada cindy.
"Cindy! Harus sampai kapan kau menutupinya dariku?, kamu ini terlalu baik, jangan terlalu polos hingga perasaan kamu dimainkan olehnya. Kalian jangan menyangkal lagi, aku mengetahui ini, karna aku mencari tau nya sendiri..
Dek, lakukan apa yang aku suruh tadi." Perintah jeon pada jennie.
Jennie pergi mengambil laptop, kemudian dia menghidupkanya didepan semua orang. Lalu memutar rekaman vidio yang memperlihatkan seluruh kejadian dalam rumah itu.
Lucy kaget dan duduk lemas. "Nggak!! Gak mungkin, bagaimana ini bisa terjadi. Gakk!!!" Teriak lucy histeris. "Jeon! ini bohong, dari mana kalian mendapat rekaman ini,? ini semua pasti cindy yang sengaja merekamnya supaya dia bisa menjatuhkan aku dan membuatmu benci padaku. Iya kan?." Lucy menunjuk cindy penuh amarah.
"Sudah cukup!!.
"Awalnya aku mendekatimu hanya untuk mengorek tentang masalah cindy dan apa yang sudah terjadi padanya. Tapi tiap kali aku bertanya tentang cindy, kamu seakan tidak menyukainya, bahkan kamu turut menjelekan namanya",
"Apa kau masih ingat saat aku memberimu bunga mawar ini?,disini aku sudah memasang kamera kecil yang tidak kalian ketahui. Dan kemarin, aku menyuruh jennie untuk mengambil kamera ini.
Dari sinilah aku mengetahui siapa kamu yang sebenarnya. Aku benar-benar tidak menyangka, ada kakak yang sejahat kamu pada keluarganya sendiri, bahkan pada adik yang menyayangi kamu. Dasar egois!!."
Jeon begitu marah, ia menatap tajam mata lucy dengan penuh kebencian.
"Jeon, tidak seperti itu, dia memang kakakku, tapi dia juga bukan orang jahat, dia juga mencintai kamu, aku hanya mengalah saja padanya." Tutur cindy membela lucy. Sedangkan lucy hanya tertunduk sedih dan juga malu.
"Cindy,, kamu terlalu polos, dia tidak benar-benar mencintaiku, dia hanya mencintai materi dan fisik. Aku tidak melihat cinta dimatanya. Justru kamulah yang benar-benar mencintaiku, karna aku bisa merasakannya dari tatapan matamu." Jeon memegang kedua pipi cindy dan menatap matanya dalam.
Cindy meneteskan air mata, perasaanya menjadi campur aduk, entah dia harus bahagia atau harus sedih.
"Heii.. Kenapa kamu menangis? Jangan buang air mata untuk hal yang tidak berguna." Jeon mengusap air mata cindy dengan kedua tangannya lalu merangkulnya.
"Jeon, sebenarnya aku lega kamu sudah mengetahui semuanya, dulu aku berniat untuk menceritakan ini padamu, tapi aku takut." Ujar cindy tertunduk dalam dekapan jeon.
"Apa yang kamu takutkan?, jika kamu menceritakan ini dari awal, mungkin tidak akan seperti ini masalahnya, aku juga pasti akan melindungi kamu, apalagi hanya masalah lucy, itu bukanlah hal yang besar.
Dan kau lucy!! Mulai sekarang tinggalkan rumah ini, aku gak mau ketenangan rumah ini kacau karna kehadiran kamu." Bentak jeon pada lucy.
__ADS_1
"Jeon!! Jangan!! Biarkan dia tinggal disini, dia kakakku, aku merindukan dirinya yang dulu, kuharap dia bisa berubah. Tolong jangan usir dia." Cindy memohon pada jeon demi kakaknya itu.
"Tidak cindy!! Biarkan dia pergi, jika dia benar-benar sudah berubah, maka barulah dia boleh tinggal bersama kalian. Kamu tenang saja, aku akan menyewakan apartemen kecil untuknya. Aku gak mau kamu tersiksa lagi.
Bagaimana bibi? Apakah kau setuju dengan keputusanku?." Tanya jeon pada jesica.
"Aku menuruti kamu saja. Itu pilihan yang baik." Jawab mama cindy.
"Makasih bibi.
Lucy!! Segera kemasi barang-barangmu, aku sudah menyiapkan apartemen kecil untukmu. Sebelum kamu berubah, jangan pernah kau menginjakan kaki dirumah ini, apalagi sampai menyakiti cindy. Ngerti.!!."
"Ba.. Baik.." Jawab lucy singkat sambil menundukkan kepala.
"Hm..bagus!!
Dek,, silahkan antar lucy sekarang juga." Perintah jeon pada adiknya.
"Siap kak!!." Sahut jennie semangat.
Lucy pergi melewati mereka sembari tertunduk tanpa sepatah katapun, usahanya selama ini sia-sia. Tak habis pikir, dia bahkan diusir jeon dari rumah itu.
setelah mereka pergi. Jesica tersenyum lega. "Jeon, terimakasih kau sudah meluruskan masalah ini, bibi lega sekali melihat kamu dan cindy berbaikan."
"Sama-sama bibi, aku juga senang masalah ini segera kuketahui."
"Kamu memang baik,, kalau begitu bagaimana kalau kamu dan jennie nanti makan siang disini saja ya, bibi masak dulu. Kalian ngobrol saja dulu."
Setelah mama cindy pergi, jeon kembali memeluk cindy dengan erat.
"Cindy, sekali lagi aku minta maaf,, aku terlambat mengetahui ini, aku sangat menyesal, sekarang aku janji, aku tidak akan membiarkan siapapun lagi yang menyakitimu.
"Jeon,, tolong lepaskan aku! Aku gak bisa bernafas." Cindy berontak melepaskan pelukan jeon.
"Eh, maaf.. Maaf.. Aku terlalu bersemangat, karna aku sangat merindukan kamu. Em.. Apakah kau juga merindukan aku.?" Tanya jeon sembari menatap mata cindy.
Cindy hanya tertunduk. "Iya." Jawab cindy malu-malu dengan suara kecil.
Jeon sangat senang mendengar itu, dia kembali memeluk cindy. "Terimakasih cindy. Aku sangat menyayangimu." Ucap jeon dalam dekapannya.
keduanya terhanyut dalam kebahagiaan. Jeon sangat bersukur bisa mengetahui kejahatan lucy dengan cepat. Dia sangat menyesal karna cindy sudah tersakiti, hingga membuatnya sakit parah.
Cindy juga merasa lega karna jeon sudah mengetahuinya tanpa dia beri tahu. Semoga ini awal yang baik untuk mereka berdua.
•••
BERSAMBUNG...
__ADS_1
AYO! Dukung dengan VOTE!