
Beberapa hari selanjutnya, cindy dan jeon berangkat keamerika untuk mengurus bisnis mereka disana.
Meeting itu dipercayakan jeon pada cindy karna sebelumnya cindy lah yang menanganinya.
Cindy sangat berani dan tegas saat rapat berlangsung, banyak hal yang dia bahas bersama client, jeon hanya menyimaknya dengan senyuman.
Rapat berjalan sukses, cindy dan jeon berhasil membuat kontrak kerja sama pada perusahaan perhiasan di new york.
Setelah mereka mengurus segala macam kebutuhan perusahaan,. Mereka pun kembali lagi kejakarta. Namun jeon diminta untuk terus memantau perusahaan disana.
Selama dalam penerbangan, jeon sangat memanjakan pacarnya itu,dia mendekap cindy saat cindy tengah tidur. Dan memberinya selimut hangat.
Saat bosan, mereka saling bercanda, membuat penumpang lainya iri pada kemesraan dua sejoli ini.
Setibanya dijakarta, jeon mengantar cindy kerumahnya terlebih dahulu sebelum dia pulang kerumahnya.
"Mama...! Ma.!!" Teriak cindy saat hendak memasuki rumahnya.
"Sayang, sepertinya mama kamu tidak ada dirumah. Sepi banget. Padahal ini weekend, kemana paman dan bibi juga dek rio?" Ujar jeon melirik sekeliling.
"Iya ya.. Kemana mereka. Apakah mereka shoping?"
"Sayang, kerumahku saja yok." Jeon menarik tangan cindy keluar dari rumahnya.
"Baiklah. Tapi aku tinggalin koper nya dulu ya."
Jeon dan cindy kembali naik mobil kantor jeon yang dijemput oleh supirnya itu.
Setibanya dirumah jeon, ternyata orang tua cindy juga berada disana.
"Mama, papa?? Kalian disini? Pantesan saja rumah sepi banget." Tutur cindy sembari menghampiri mereka.
"Iya sayang, karna kita mau menyambut kedatangan kalian, makanya kita ngumpul disini." Sahut mama cindy.
"Mumpung lagi disini, kita ada oleh-oleh buat kalian, nih silahkan dibuka." Jeon menyodorkan beberapa kotak dan bungkusan plastik pada mereka.
Jeon juga memberikan mainan untuk rio. Sedangkan cindy membelikan tas untuk jennie.
Siang itu, mereka berkumpul bersama dengan bahagia. Berbincang dan bercanda.
Tiap hari jeon dan cindy menghabiskan waktu bersama dengan bekerja bersama dikantor, dan mengantar jemput cindy kekampus. Jeon sendiri sudah menyelesikan wisudanya setelah sembuh dari sakitnya beberapa bulan lalu.
Keadaan saat ini sangat stabil, tanpa masalah dan gangguan apapun. Mereka bahagia menjalani hari-hari berdua bersama keluarga yang menyayangi mereka.
Hari tidak terasa berlalu jika dilewati berdua. Sampai satu tahun mereka bersama.
Tibalah dihari pernikahan mereka.
Umur jeon sudah memasuki 21 tahun lebih, dan cindy baru saja 20 tahun.
__ADS_1
Hari ini adalah hari H pernikahan mereka yang sudah lama dinantikan.
Banyak fans mereka yang berkomentar karna menikah diusia muda. Namun jeon dan cindy hanya menjawab kalau lebih baik pacaran setelah menikah.
Hari ini jeon dan cindy sah menjadi suami istri, pasangan muda yang romantis. Semua keluarga besar berkumpul, banyak awak media yang merekam dan menghadiri pernikahan mereka.
Pasangan muda itu terlihat seperti raja dan ratu yang bersanding diatas pelaminan dan disaksikan ribuan tamu undangan bahkan banyak juga tamu dari luar negri.
"Sayang, apakah kamu bahagia menjadi istriku?" Tanya jeon sembari menggenggam tangan cindy.
"Kamu nanya apa sih, jelas aku bahagia lah, siapa yang gak bahagia menikah dengan orang yang penyayang dan pengertian seperti kamu.
Makasih ya jeon! Andai saja dulu aku gak bertemu kamu, mungkin saja sekarang keluargaku masih tinggal dipinggir kali yang kumuh itu. Dan aku juga gak mungkin bisa jadi sukses seperti ini. Kamu lah penyelamatku, penyelamat keluargaku. Kamu malaikat nyata bagi kami. Terimakasih banyak."
Cindy mengutarakan isi hatinya dengan berlinang air mata.
"Sayang, aku gak suka melihat air mata kamu untuk hal yang tidak penting. Jangan ingatkan lagi masa lalu itu jika harus mengeluarkan air mata.
Kita memang sudah ditakdirkan untuk bertemu dan bersama." Jeon mengusap air mata cindy dengan kedua tanganya.
"Heii senyum dong!! Mau kita foto nih.." Beberapa kamera siap mengambil gambar mereka dari depan, banyak juga teman dan sahabat jeon yang hadir disana.
Seharian itu, jeon dan cindy menahan lelahnya demi memenuhi permintaan mereka untuk berfoto bersama. Hingga sore tiba dan acara itu selesai.
Seluruh keluarga pulang dari gedung tempat berlangsungnya pernikahan mereka.
Cindy dan jeon tinggal terpisah dari keluarga mereka, saat ini mereka menempati rumah putri yang sempat ditinggali cindy dan keluarganya setelah rumah ini direnovasi dan berubah total.
"Sayang, gimana? Apa kamu suka dengan rumah ini." Ujar jeon sembari mereka menatap rumah itu saat baru turun dari mobil.
"Jeon! Ini rumah mama putri kan? Kamu renovasi?? Ini bagus sekali, warna biru dan putih yang indah, aku sangat menyukainya. Makasih ya sayang. Tapi kapan kamu melakukan ini?" Tanya cindy heran.
"Sudah lama sih, aku sengaja tidak memberitahu kamu. Ayo kita lihat kedalam. Ajak semua keluarga." Jeon menggandeng tangan cindy yang masih mengenakan pakaian pengantin itu.
Keluarga yang mengantar mereka juga turut masuk melihat kedalam.
"Wahh! Kak jeon benar-benar mengubah rumah ini seperti istana. Ahh aku juga mau dong tinggal disini." Ujar jennie sambil melihat sekeliling isi rumah itu yang sudah berubah total.
"Kamu apaan sih nak, ini rumah buat pengantin baru. Gak boleh ada yang ganggu, apa lagi anak kecil kayak kamu." Sahut mamanya tertawa kecil.
"Oh iya, apakah pelayan yang lama masih disini, biarkan mereka mengurus jeon dan cindy, karna pelayan disini sangat baik dan ramah." Timpal mama cindy.
"Iya ma, mereka masih disini kok, aku gak mungkinlah membiarkan istriku kerja didapur sedangkan dia sangat sibuk dengan kerjaanya." Sahut jeon tersenyum menatap cindy.
"Ahh aku gerah,, aku ganti pakaian dulu deh. Eh tapi, apakah aku ada baju disini?" Cindy bingung dan baru ingat dia tidak membawa apa-apa.
"Ayo sini, biar kuantar kekamar." Jeon menarik tangan cindy dan membawanya menuju kamar baru mereka yang berada dilantai dua.
Saat masuk kamar, cindy terperangah melihat kamar baru mereka.
__ADS_1
"Ya ampun!! Ini kamar kita? Luas banget. Lengkap banget udah kayak apartemen aja."
"Iya dong, ini kan waktu itu ada tiga kamar, tapi aku bongkar jadi satu kamar. Ada tempat lemari pakaian khusus, dapur kecil dan ruangan santai untuk kita. Biar betah lama-lama dikamar, apalagi sama kamu." Goda jeon mencubit pipi cindy dengan gemas.
Cindy berjalan menuju lemari besar yang tersusun rapi. Dia tak sabar untuk membukanya.
Isi lemari itu membuat cindy geleng kepala karna sudah dipenuhi baju-baju baru yang branded. Disebelahnya tempat tas dan sepatu yang tersusun rapi.
"Jeon, apakah ini gak terlalu berlebihan, kamu menghabiskan berapa banyak uang untuk rumah dan seluruh isinya ini? Bukankah uang nya sangat sayang." Cindy membalikan badanya pada jeon.
"Sayang, saat ini kamu sudah menjadi nyonya jeon. Semua kebutuhan kamu harus lengkap dan terpenuhi. Kamu tidak perlu membawa baju lama kamu kesini, uang bukanlah apa-apa dibanding kebahagiaan kamu."
"Jeon.. Makasih banyak ya.. Tapi aku benar-benar tidak harus memiliki ini semua, karna aku gak terlalu suka kemewahan dan keglamoran. Cukup segini saja, kedepannya kamu gak perlu beliin aku apa-apa lagi, ini sudah sangat banyak. Tapi terimakasih ya." Cindy menarik tangan jeon dengan tatapan cintanya.
"Iya sayang, aku tau kamu kok, makanya aku membelikan ini tanpa minta izin dari kamu. Maaf ya." Jeon memeluk cindy dengan hangat.
"Ahh, aku makin panas dipeluk gini. Kita ganti baju dulu yuk. Kamu juga. Pasti panas banget kan? Aku mau cari baju yang simple aja deh." Cindy membongkar isi lemarinya dan mencari baju yang nyaman untuknya.
Jeon mendekat pada cindy dan membuka resleting belakang baju pada gaun pengantinya itu.
Cindy kaget seketika. "Jeon! Kamu mau ngapain???" Teriak cindy langsung menghadap jeon.
"Sayang, ada apa? Kok sampai teriak gitu. Aku hanya membantu kamu untuk membuka resletingnya doang. Kamu pasti susah kalau membukanya sendiri. Kamu kok takut gitu sih, kita ini udah suami istri." Ujar jeon tertunduk kecewa.
Cindy menyadari kesalahanya itu, diapun memeluk jeon.
"Sayang, maafin aku ya, aku cuma kaget kamu tiba-tiba kau membuka bajuku. Jangan marah ya."
"Aku gak marah kok, karna aku juga kaget melihat kamu teriak. Aku ngerti kok perasaan kamu, aku tau kamu belum siap untuk itu, aku akan menunggu kapan kamu mau dan kapan kamu siap." Jeon membalas pelukan cindy dan mengecup pipinya.
"Makasih jeon,, aku akan berusaha memberanikan diri. Ayo ah kita ganti baju, kok jadi melow gini. Aku mau kok kalau kamu bersedia membukakan bajuku." Timpal cindy tersenyum manis.
"Ahh aku gak bisa tahan melihat senyumu yang imut itu,, aku jadi gemes." Jeon mencubit pipi cindy sambil gereget. "Sini aku bantu buka bajunya. Baju ini tebal banget, panjang lagi, wajar aja kamu kepanasan."
Jeon membantu membuka baju cindy, ini pengalaman pertama bagi jeon untuk melihat tubuh gadis, walaupun masih berbalut pakaian. Setelah baju pengantin itu terlepas, jeon membantu cindy memasang pakaiannya yang lebih simple dan berbahan dingin.
"Wahh baju ini sangat dingin, aku suka, maksih ya sayang sudah membantuku mengganti baju ini. Sini aku bantu kamu lepas bajumu, baju kamu itu lumayan rumit." Cindy pun mendekat pada jeon.
"Ahh jangan,, biar aku sendiri saja. Maaf aku belum siap untuk kamu lihat." Jeon melangkah mundur.
"Apaan sih,, laki juga! Kok kayak perempuan." Cindy tetap memaksa jeon untuk membantu membuka bajunya.
Jeon pasrah dan membiarkan cindy melakukanya sambil menutup matanya, sesekali cindy tertawa dengan tingkah konyol suaminya itu padahal cuma membantu melepaskan baju udah kayak mau diperkosa saja.
Jeon tersenyum melihat cindy geleng kepala karna jeon tidak ingin cindy melibat tubuhnya, padahal ia hanya mengerjai istrinya. namun cindy menganggapnya serius.
•••
BERSAMBUNG...
__ADS_1
Jangan lupa vote.