
Shine kembali kerumah steven setelah menyelesaikan tugasnya untuk mencelakai seehan.
Ia pun menghubungi stev melalui telpon saat ia berada didepan rumah steven.
"Stev, aku sudah dirumahmu, temui aku dibawah, tapi jangan bawa putri." Ucap shine dalam telpon tersebut.
"Shine, masuk saja. aku gak bisa ninggalin putri."
"Baiklah. aku tutup telponnya."
Mendengar ada suara orang dari luar rumah, mama stev pun membuka pintu
"Eh, ada shine, silahkan masuk!" Ujar mama rani saat melihat shine tengah berdiri didepan pintu rumahnya.
"Ya, terimakasih bibi." Shine pun masuk dan duduk dikursi sambil menunggu steven.
"Shine, maafkan bibi, pertama kamu datang kerumah ini, bibi sama sekali tidak mengenalimu, karna terakhir kita ketemu waktu kamu masih SD, dan steven juga tidak menceritakannya pada bibi bahwa kamu adalah shine sepupunya."
"Tidak apa bik, aku ngerti kok, steven memang sengaja menutupinya dari bibi, karna dia tidak mau bibi dalam masalah." Sahut shine tersenyum.
Steven pun turun dari kamarnya.
"Kau sudah kembali?" Tanya stev sambil menuruni tangga dari kamarnya.
"Nah, sekarang steven sudah turun, bibi buatkan kalian minum dulu." Mama rani langsung pergi meninggalkan mereka kedapur.
"Stev, bagaimana keadaan putri? Seehan bilang dia sudah.." Shine menghentikan ucapannya.
"Iya. Seehan sudah membuatnya kehilangan kesucianya. Saat ini dia sangat trauma, dia sangat tertekan, bahkan dia tidak ingin aku menyentuhnya." Jelas stev.
"Dasar!! Seehan memang bajing*n!! Ternyata dia benar-benar melakukan itu? Stev, aku minta padamu jagalah putri baik-baik sampai hari H pernikahan kalian minggu depan. Soal kerjaan kantor, kamu bisa menyuruh direkturnya untuk mengambil alih, saat ini kau hanya perlu mengurus putri supaya dia bisa kembali ceria lagi."
"Kamu tenang saja shine, aku sudah memikirkan itu. Aku akan berusaha semampuku untuk membuat putri kembali tenang. Tapi bagaimana dengan seehan, apa kalian sudah menemukanya?".
"Iya, aku sudah melumpuhkan saraf tubuhnya, hingga dia tidak bisa bergerak, tapi itu tidak berlangsung lama, tapi bisa kupastikan kalau dia tidak akan bisa merusak pernikahan kamu dan putri." Shine menggertakan gigi saat mengingat kakaknya yang bejat itu.
"Shine, aku tidak tau lagi bagaimana cara berterimakasih padamu,, pokoknya terimakasih banyak." Ujar stev sembari menepuk pundak shine.
"Stev, mungkin inilah cara takdir untuk memperbaiki hubungan kita yang telah rusak sebelumnya. Aku juga berterimakasih, karna dengan kehadiran putri bisa membuat kita bersatu kembali." Sahut shine tersenyum.
Mama rani kembali datang dengan membawa minuman dan sedikit makanan ringan.
"Nak, ini minum nya, silahkan kalian ngobrol dulu, aku mau menjenguk putri keatas sebentar." Ucap mama, kemudian ia beralih menuju kamar stev untuk menemui putri.
Setelah tiba dikamarnya, mama rani kaget melihat putri yang hanya tertutup kain selimut sambil menangis, diapun mencoba mendekati putri dan bicara pelan-pelan padanya.
"Nak, apa yang membuatmu bersedih? Kenapa kau tidak mengenakan pakaian?" Tanya mama sembari duduk disebelah putri.
__ADS_1
Putri pun langsung memeluk mama steven yang sudah dianggapnya sebagai mamanya sendiri itu.
"Mama. . Hikss.
Ma, aku.. Seehan sudah merenggut kesucianku yang sebenarnya milik steven. Aku diperkosa berkali-kali oleh seehan, aku ingin membatalkan pernikahan dengan stev, tapi dia tidak mau. Aku harus bagaimana.?Hikss.. " Putri menangis tersedu-sedu dalam pelukan mamanya.
"Benarkah? Seehan memang bejat!. Tapi kamu tenang saja, baik mama atau steven, kami tetap akan menerima dan melindungi kamu, mama yakin, steven tidak akan melepaskan kamu walaupun keadaan kamu seperti ini." Tutur mama sambil mengelus rambut putri dalam dekapanya.
"Nak, maafkan mama dan stev, kamu adalah korban dari perseteruan keluarga kami, bagaimana mungkin kami meninggalkan kamu dalam kondisi seperti ini." Batin mama sambil meneteskan air mata.
"Sayang, kamu istirahat saja dulu, jangan terlalu banyak bergerak, supaya kamu cepat pulih, siapkan mental dan fisik kamu untuk pernikahan kamu dan stev minggu depan. Jangan sampai sakit ya. Mama pergi dulu." Mama mengelus pipi putri, lalu pergi keluar.
Sementara itu, shine dan steven masih berbincang.
"Stev, apa aku boleh melihat kondisi putri?" Ucap shine.
"Baiklah, mari ikut aku kekamar, tapi jangan bicara terlalu banyak, dia masih agak takut."
"Baiklah.."
Mereka berdua pergi keatas menuju kamar steven untuk melihat keadaan putri.
Shine kaget melihat kondisi putri yang selalu menangis dan memeluk kedua lututnya duduk diatas ranjang berbalut selimut. Perlahan shine mendekatinya dan duduk disamping nya.
Shine mencoba untuk mengajaknya bicara. "Hei. Wajahmu terlihat keriput saat kau mengeluarkan air mata. Harusnya masalah seperti ini tidak perlu diratapi, justru kamu harus bangkit dan lebih kuat, supaya bisa balas dendam, dan orang yang menyakitimu akan kaget saat melihat kau baik-baik saja." Ucap shine menghibur putri. Namun putri tidak bergeming. Sedangkan steven hanya melihat mereka sambil duduk disofa yang ada dikamar itu.
Lalu stev memberikan sebuah salep dan memberinya pada shine, kemudian shine kembali lagi duduk didekat putri.
Putri hanya bengong, pikirannya melayang, ia sama sekali tidak menyadari apakah itu shine atau steven.
"Hei. sini tanganmu, tenang saja, aku tidak akan menyakitimu." Ucap shine meraih tangan putri yang masih tertunduk.
"Lihat deh, disebelah tangan ini ada lima jari, dan disetiap jari ini ada orang yang sangat menyayangi kamu. Pertama, ada papa kamu, mama kamu, steven, aku, dan terakhir ada kamu juga disini."
"Dan disebelah nya lagi ada juga lima jari, disana ada paman alex, kak charlie, nenek kamu, mama rani, dan deniel. kesepuluh jari ini akan selalu menyayangi dan melindungi kamu. Maka dari itu kamu gak perlu larut dalam kesedihan, karna jika mereka melihatmu seperti ini, mereka juga akan sedih. apa aku boleh memelukmu?." Tutur shine dengan lembut.
Putri tidak bergeming, namun shine tetap memeluknya.
Perlahan dia menurunkan selimut yang melekat ditubuh putri, lalu dia mengoleskan obat salep ketubuhnya yang merah dan memar itu tanpa disadari putri.
Steven hanya diam dan terpaku melihat shine yang begitu lembut memperlakukan putri. Tanpa ada rasa cemburu sedikitpun dihatinya, karna shine sudah banyak menolongnya dan juga putri, steven juga tau kalau shine tidak akan berniat untuk memiliki putri dan merebutnya darinya.
"Aku harus mencontoh apa yang dilakukan shine, dia memang handal dalam membujuk perempuan." Batin stev.
Setelah shine selesai mengoleskan salep pada tubuh putri, shine pun mengedipkan matanya pada steven, lalu steven mendekat dan menggantikan posisi shine untuk duduk disamping putri dan memeluknya. sedari tadi putri tidak menyadari bahwa disampingnya itu adalah shine bukan steven.
"Maafkan aku telah lancang, aku pergi dulu." Bisik shine ditelinga steven sambil menepuk bahunya.
__ADS_1
Lalu dia pergi meninggalkan kamar itu. steven membalas nya dengan menganggukan kepala.
"Sayang, apa kau sudah merasa baikan? Apa kamu mau makan?dari tadi pagi kamu gak mau makan, mungkin kamu butuh udara segar. Biar aku temani ya?" Ucap steven sembari menutup tubuh putri dengan selimut.
"Stev, aku mau duduk dibangku taman, hanya berdua saja denganmu." Sahut putri perlahan.
"Baiklah, ini sore yang cerah, kita jalan-jalan dulu, supaya kamu gak suntuk, aku bantu kamu pakai baju ya, ini bajunya sudah mama belikan untukmu." Steven mengeluarkan baju dalam tas kecil dari mamanya, lalu ia menyuruh putri untuk memakainya.
Setelah itu mereka berpamitan pada mama lalu pergi menuju kantor steven.
Sebelum tiba dikantor, steven mampir ketoko ice cream terlebih dahulu. Dan membeli satangkai bunga mawar merah. Lalu menyelipkanya dalam jasnya.
"Sayang, kita pergi kekantor ya, dibelakang kantor ada taman yang cukup luas, banyak juga bunga disana." Tutur steven, putri hanya menjawab dengan sedikit senyuman.
Setibanya ditaman kantor, steven membawa putri duduk dikursi ayunan. Sambil merangkul putri, dia juga menyuapkan ice cream pada putri. Putri tampak menikmati suasana itu sembari tersenyum saat mentap steven.
"Sayang, aku seneng, kau bisa tersenyum lagi, tolong jangan sedih lagi ya, lupakanlah semua masalah, anggap saja itu tidak pernah terjadi. Tekadkanlah dalam hati bahwa seorang putri itu wanita yang hebat, kuat, dan tegar.
Dan siap membalaskan dendamnya." Ujar stev memberikan semangat.
Putri tertunduk sambil berpikir. Mencoba melupakan apa yang sudah terjadi, dan mencoba untuk bangkit.
"Kamu benar stev, aku gak akan terpuruk lagi seperti ini, karna tidak ada gunanya. Aku akan melupakan yang sudah terjadi. Bantulah aku untuk melupakan semuanya." Jawab putri sambil menyandarkan kepalanya didada steven.
Steven pun mengeluarkan setangkai bunga mawar merah yang dia selipkan dalam jasnya tersebut lalu memberikanya pada putri.
"Sayang, kamu jangan ragu, aku pasti akan membantu istriku ini. kamu itu seperti bunga plastik ini, tidak bisa layu ataupun hancur. Aku ingin kau seperti ini, tetap segar dan disukai banyak orang." Ujar steven sembari mengecup kening putri.
"Iya stev, makasih ya bunga nya, ini wangi sekali." Jawab putri sambil mencium aroma bunga mawar itu."Dan terimakasih juga kamu masih menerimaku dalam keadaan seperti ini." Sambung putri.
"Apapun yang sudah terjadi sama kamu, aku akan tetap menjadikan kamu istriku, sampai nanti kamu tua pun, aku akan tetap sayang." Timpal stev tersenyum.
"Apaan sih, lebai." Jawab putri turut tersenyum.
Melihat putri tersenyum, stev pun merangkulnya dengan hangat. "Bidadariku, tetaplah tersenyum." Bisik stev sambil mengusap kepala putri.
Dalam hati, steven tersenyum bahagia, kekasih nya yang dulu sudah kembali lagi, sekarang dia tidak terlalu khawatir lagi. karna perlahan putri pun bisa bangkit kembali.
Dan dia siap untuk menemani dan berbagi pada kekasihnya itu.
Disore hari itu, mereka terlihat sangat mesra dalam keheningan taman yang dihiasi bunga yang indah. angin yang berhembus pelan menambah keromantisan diatara mereka.
•••
BERSAMBUNG...
Jangan lupa like🙏
__ADS_1