Pembalasan si Gadis Cantik

Pembalasan si Gadis Cantik
4 pria tampan


__ADS_3

Malam hari menjelang, charlie dan deniel tiba dijakarta setelah melalui perjalan panjang selama dipesawat.


Mereka langsung menuju rumah steven dengan koper yang mereka bawa.


Ting.. Tong.. !


Charlie memencet bel rumah steven.


"Apa gak apa-apa nih kita langsung kerumah steven. Kenapa gak kerumah kamu dulu aja." Ucap deniel ragu-ragu pada charlie sembari menunggu pintu dibuka.


"Stt..!! Jangan banyak omong!." Ketus charlie cuek.


Sementara putri dan stev sedang bermain bersama jeon.


"Sayang, ada tamu tuh, tolong bukain pintu ya." Ujar putri sambil menggendong jeon.


"Iya sayang." Sahut stev sembari berjalan menuju pintu untuk membukanya.


"Ehh,, kak charlie.? Deniel?. Silahkan masuk, kalian baru sampai?" Tanya stev dengan ramah.


"Iya, charlie tidak mau menunda lagi untuk bertemu jeon." Timpal deniel dengan cepat.


"Bisa diem gak sih! Kutonjok ntar tuh mulut.!" Sahut charlie terlihat kesal melotot menatap deniel.


"Dih, gak mau ngaku.! . Ayo ahh masuk, aku mau ketemu anakku.!!" Deniel masuk terlebih dahulu tanpa disuruh, dengan riangnya dia melangkahkan kaki kayak gak punya dosa. Charlie dan steven bengong melihat tingkah deniel.


"Dasar anak jailangkung! Gak disuruh masukpun masuk sendiri." Gerutu charlie kesal.


"Udah kak gak apa-apa. Mari kita masuk." Stev mengajak charlie masuk dan membawakan kopernya.


Setibanya diruang keluarga, deniel melihat putri yang tengah menggendong jeon, bersama mama rani yang sedang bersantai, diapun berjalan dengan cepat mendekati mereka.


"Tante, apa kabar.?" Deniel menyalami tangan mama rani sambil tersenyum. "Waau.. Ini jeon? Ya ampun!. Anakku ganteng banget sih." Deniel mencubiti pipi jeon dengan gemas. Membuat cahrlie makin geram.


"Nih orang gak tau malu banget sih!." Gerutu charlie dengan suara kecil.


"Em.. Put, aku boleh gendong jeon gak?".Ujar deniel dengan tatapan penuh harapan.


"Gak boleh.!!!." Ketus seseorang dari kejauhan.


Suara itu terdengar keras dan familiar. Membuat semua orang menoleh padanya.


"Shine?? Kapan kau datang.?" Ucap steven heran melihat shine yang tiba-tiba berada dibelakangnya.


"Baru saja. Karna tidak ada yang menyahut saat aku panggil, makanya aku langsung masuk saja." Jawab shine dengan santai.


"Heh. Ngapain kamu datang kesini?, dan kenapa kamu melarangku untuk menggendong jeon hah?!." Pungkas deniel geram.


"Jelas aku melarangmu, karna jeon itu anakku, dan aku adalah ayahnya. Kamu gak boleh sembarangan gendong jeon, hanya aku dan stev yang boleh!." Jelas shine panjanga lebar dengan gaya sombongnya.

__ADS_1


"Hah??. Hahaha. Kamu halu ya.? Ngaku-ngaku.. Kalau mau anak bikin dong." Ucap deniel tertawa keras.


"Ngatain orang!! lah kamu sendiri tadi bilang kalau jeon anak kamu kan?. Yang ada tuh kamu yang ngaku-ngaku, kalau aku sih memang ayahnya jeon, kalau gak percaya tanya aja sama putri dan bibi rani." Timpal shine sambil memangku kedua tangannya.


"Eh.. Benarkah put?. Tante??" Tanye deniel serius kepada putri dan mama rani.


"Benar den,, shine ayahnya jeon. Ayah angkatnya." Sahut putri sambil tersenyum dengan tingkah mereka.


"Hah?? Kok bisa.?? Aku boleh gak jadi ayah angkatnya?" Timpal deniel penuh harap.


"Kamu jadi om nya aja ya, dan kak charlie jadi pamannya, kalau terlalu banyak ayah nanti jeon jadi bingung." Jawab putri dengan lembut.


"Yaaahh.. Aku kecewa." Deniel duduk lemas dikursi sambil tertunduk sedih.


"Lebai banget sih lo.!Pakai Tampang sok sedih gitu, lagian jeon gak cocok punya ayah angkat kayak kamu!." Timpal charlie.


"Eleh.. Ngomong aja kalau kamu iri, karna kamu juga mau dipanggil ayah oleh jeon, iya kan?!" Sahut deniel kemudian.


"Kalian ini ngeributin apa sih, gak penting banget, sudahlah terima saja kenyataannya, karna memang hanya aku yang pantas jadi ayah angkat nya jeon." Timpal shine dengan senyuman sombong.


"Sombong banget sih,! kutonjok baru tau rasa kamu.!" Sahut charlie mengepalkan tangan.


"Sudah.. Cukup!! Kalian bertiga ini kayak bocah semua. Kalau masih ribut, silahkan pergi dari rumahku." Teriak stev.


"Baiklah.. Maaf.." Ucap mereka bersamaan.


"Mending Sekarang kalian duduk saja dulu, baru juga sampai udah bikin heboh dirumah orang." Tutur stev.


"Ngatain orang! , kamu sendiri pulang dari kantor langsung kesini. Apa coba tujuannya?" Timpal deniel masih lanjut berseteru.


"Aku mau ketemu anak aku lah. Kenapa? Ada masalah?" Jawab shine melotot.


"Kalau gitu sama dong, kamu kira cuma kamu doang yang mau ketemu jeon." Sambung charlie.


"Huhhhh.." Stev menarik nafas panjang. "Sekali lagi kalian ribut, aku akan lempar kalian bertiga dari sini.!" Bentak stev geram.


Mereka bertiga sontak diam sambil saling tatap dan saling melotot.


"Sudah.. Sudah bercandanya.. Ini minuman dan cemilan, silahkan dimakan dulu." Mama rani muncul dari dapur sambil membawa makanan ringan dan beberapa jus.


"Nak, ambil kereta bayi saja, taruh jeon disana, supaya mereka bisa melihatnya dengan seksama. Biar gak rebutan." Ucap mama pada putri.


"Sayang, biar aku aja yang ambil ya, tempat nya diatas, ntar kamu susah bawanya, lagian lumayan berat." Pungkas stev sembari berjalan menuju kamar nya.


"Baiklah, terimakasih." Jawab putri tersenyum.


"Wah.. Makanannya enak banget, tante tau banget sih makanan yang kita suka." Puji deniel pada mama rani sambil mengunyah makanan yang penuh dalam mulut nya.


"Kamu lapar apa doyan?? makannya banyak banget, aku sama charlie belum kebagian nih. Dasar rakus.!" Shine melotot pada deniel.

__ADS_1


"Siapa cepat dia dapat dong,, aku tuh laper plus doyan, karna tadi aku mau ajak charlie makan dulu, tapi dia gak mau, dia udah gak sabar banget pengen ketemu keponakannya." Jawab deniel yang tidak jelas berbicara karna isi mulutnya penuh.


"Nyalahin orang aja bisa nya,! ngomong aja gak jelas, abisin dulu tuh makanan dalam mulut, baru ngomong!!" Timpal charlie menjitak kepla deniel.


"Dasar pada bocah!." Gumam shine.


Tidak lama kemudian stev turun dari kamarnya dengan membawa tempat tidur bayi.


"Kalian ini ribut mulu, suara kalian terdengar sampai keatas, gak masalah jeon, gak masalah makanan, ada aja yang diributin.!" Bentak stev emosi sambil menaruh kereta bayinya didekat putri.


"Sayang, taruh sini jeon nya." Ucapnya pada putri (Langsung berubah ke mode lembut).


"Baiklah.. Biar para ayahnya bisa liat. Kalau mau gendong tunggu dia agak gedean." Timpal putri sembari menaruh bayinya.


Shine, deniel dan charlie langsung mengerumuni jeon. Mencubit dan menciuminya secara bergantian.


"Duhh.. Cucu oma ini hebat banget masih kecil sudah disukai banyak orang." Mama rani senang melihat mereka menyukai cucu nya itu, bahkan mereka ingin sekali mengangkatnya sebagi anak.


Putri hanya tersenyum melihat tingkah konyol mereka, candaan mereka seperti orang yang sedang bermusuhan, begitulah cara mereka berteman, mereka bicara sembarangan saat sedang berkumpul, tapi mereka sama sekali tidak ambil hati walau ucapannya kasar.


"Mereka berbeda sekali saat sedang bicara soal kerjaan dikantor, dan saat seperti ini. Mereka sangat tau dimana tempatnya bicara serius dan saat bercanda. "Ucap putri dalam hati sambil memandangi mereka bereempat yang sedang rebutan menciumi jeon.


Tiba-tiba stev melihat kearah putri yang tengah bengong sambil tersenyum itu.


"Sayang,, apa kamu juga mau dicium?" Tanya stev tanpa malu walau ada mamanya disana.


"Kamu apaan sih. Gak malu apa diliatin orang." Jawab putri tertunduk malu.


"Kenapa harus malu, lagian mama udah biasa liat keromantisan kalian." Timpal mama rani tersenyum.


"Tuh.. Mama aja gak keberatan." Sahut stev, kemudian mendekati putri lalu mencium kening dan pipinya dengan lembut. Putri menutup matanya menyimpan rasa malu.


"Wooooww..!!! Sungguh pemandangan yang luar biasa. Aku yakin pasti ada yang jealous." Ucap deniel sambil melirik shine.


"Kenapa melirik padaku?? Kau pikir aku akan cemburu?? Memang mereka suami istri kan?" Timpal shine cuek, lalu kembali bermain dengan jeon.


"Oh.. Ternyata udah gak cemburu. Bagus deh, aku sih masih berharap kalau kamu masih cemburu, kan enak kalau liat orang patah hati. hehe." Sahut deniel terkekeh.


Shine memukul bahu deniel. "Mau ngajak gelut? ayo kita keluar!" Tatapan mata shine pada deniel penuh aura emosi.


"Eh!! Enggak.. Enggak.. Aku gak berani, hehe.. Aku percaya kamu gak cemburu." Jawab deniel mengangkat kedua tanganya.


"Hm.. Awas kalau ngomong lagi, aku pecahin idung kamu." Timpal shine melotot. Lalu kembali lagi pada jeon sambil menciumi nya dengan senyuman manis.


"Dasar deniel pe'ak!. Bagaimana mungkin aku gak cemburu, aku hanya berusaha untuk menyimpan nya.! " Batin shine berkata sambil tersenyum bermain dengan jeon.


Putri dan mama rani hanya menggeleng kepala melihat mereka yang selalu ribut karna masalah kecil. Mereka berempat jarang bersama, tapi beginilah kalau lagi ngumpul, berisik, untung pada tampan. (Begitulah kata hati mama rani)


•••

__ADS_1


BERSAMBUNG...


Jangan lupa like🙏


__ADS_2