
Saat sore hari, jeon dan lucy kembali lagi kekantor, dan menemui cindy disana, lalu mengantar mereka pulang.
Setibanya dirumah, mereka disambut dengan hangat.
"Hai paman, baru pulang?." Sapa jeon pada rendy papanya cindy itu.
"Iya nak, paman baru saja tiba, oh iya, ini temannya cindy itu ya?." Tanya rendy pura-pura tidak mengenal lucy.
"Iya paman, dia akan tinggal disini, semoga lucy dan cindy bisa berteman baik." Jawab jeon.
Mamanya cindy hanya diam tertunduk melihat kelakuan anak sulung nya itu, dia tidak menyapa atau bicara apapun.
"Ayo semuanya silahkan masuk. Nak jeon, mari masuk dulu." Ajak rendy dengan ramah.
"Maaf paman, bukannya jeon gak mau, tapi jeon masih banyak kerjaan dikantor, soal nya besok ada event besar." Sahut jeon dengan senyuman.
"Oh begitu, baiklah, terimakasih ya sudah mengantarkan cindy pulang, maaf kalau dia selalu merepotkan kamu." Tutur rendy.
"Gak masalah paman, aku seneng kok bisa mengantar jemputnya, baiklah, aku pergi dulu ya. Cindy! Aku pergi dulu, kamu istirahat lah, siapkan mental untuk besok,, pagi besok aku jemput kamu." Ujar jeon menatap cindy tersenyum.
"Ya. Hati-hati dijalan ya."
Jeon pun pergi meninggalkan rumah itu.
Kemudian cindy dan yang lainya langsung masuk kerumah.
"Wahh.. Rumah ini benar-benar besar dan megah, kalian beruntung banget ya bisa menempati rumah orang yang baru saja dikenal." Ucap lucy sembari melihat-lihat isi dalam rumah putri itu.
"Lucy, silahkan duduk dulu. Papa mau tanya kemana saja kau selama ini, kenapa kau tidak ada niatan untuk pulang?." Tanya rendy pada anak sulungnya itu.
"Hah? Pulang?. Pa. Aku gak mau tinggal dirumah yang kumuh seperti kemarin, aku gak mau terlihat miskin, aku lebih baik hidup bebas, mencari uang sendiri dan hidup sendiri." Ketus lucy.
"Oh.. Begitu, lalu kenapa sekarang kau mau pulang setelah kita tinggal dirumah yang bagus?, kalau kamu bisa hidup sendiri, silahkan pergi dari rumah ini, dan atur hidupmu sendiri tanpa bantuan kami." Sahut jesica dengan kesal.
"Mama ngusir lucy?. Aku baru saja tiba ma. Apa kalian tidak merindukan aku?" Timpal lucy dengan keras.
"Ya.. Awal nya kami semua merindukan kamu, dan selalu berusaha mencari keberadaan kamu tapi setelah kamu merahasiakan bahwa kamu kakaknya cindy, mama berubah pikiran, ternyata kami tidak merindukan kamu, bahkan tidak membutuhkan kamu.
Kamu itu sama sekali tidak berguna, hanya mementingkan diri sendiri. Kau lihat adikmu, sekarang dia bisa bekerja dan mendapatkan penghasilan sendiri." Timpal jesica geram.
"Iya aku tau!! Aku memang tidak baik, kalian memang tidak sayang padaku. Aku tau saat ini cindy sudah membantu ekonomi kalian, tapi siapa yang tau jika dia menggunakan cara yang intim untuk menggoda jeon?." Ujar lucy mencibir adiknya itu.
Jesica langsung berdiri dengan penuh emosi.
Paaakkkkk!!! Tangan itu menempel pada pipi lucy.
"Beraninya kamu memfitnah adik kamu sendiri? Dasar anak jahanam!! Lebih baik kamu pergi dari rumah ini.!! Aku tidak mau keheningan rumah ini menjadi neraka dengan keberadaan kamu!." Ujar jesica dengan amarah yang meluap.
"Nggak!! Aku gak mau pergi!! Aku ingin tetap tinggal disini." Jawab lucy sambil menangis, lalu ia berlari menuju kamar cindy dengan memegang pipinya yang masih sakit akibat tamparan dari mamanya.
"Ma. Biarin kak lucy tinggal disini, lagian kita juga sudah lama tidak tinggal bersama, aku yakin dia pasti bisa berubah jadi lebih baik lagi kok, asal kita memperlakukannya dengan baik, dia berbuat seperti itu mungkin dia hanya iri padaku." Timpal cindy membela kakaknya itu.
Jesica langsung memeluk cindy. "Kamu memang anak mama yang paling baik dan pengertian, walau lucy adalah kakak kamu, tapi kamu jangan terpengaruh padanya, jangan terbawa sikapnya yang jahat itu." Tutur mamanya pada cindy.
"Semoga saja tidak ma. Ya sudah aku kekamar dulu ya ma." Cindy pergi kekamarnya untuk menemui lucy
__ADS_1
Lucy masih menangis tersedu-sedu. Cindy pun menghampirinya perlahan.
"Kak.. Apa kau baik-baik saja.?" Tanya cindy ragu-ragu.
"Jangan sok peduli, aku tau, kamu pasti seneng kan liat aku kayak gini. Ya kan!!." Teriak lucy.
"Apa maksud kakak. Aku sayang sama kakak, kita semua sayang sama kakak, hanya saja sikap kakak itu yang membuat papa dan mama marah." Jawab cindy sembari duduk didekat lucy.
"Apa kau benar-benar sayang padaku?" Tanya lucy menatap cindy.
"Tentu saja." Jawab cindy singkat.
"Kalau begitu, apa kau akan melakukan apapun untuku, tolong jauhilah jeon, dan bantu aku supaya bisa menjadi pacarnya jeon. Dengan begitu, mungkin aku bisa berubah menjadi lebih baik, dan aku janji, aku juga akan membantu ekonomi keluarga kita." Ujar lucy berharap pada adiknya itu.
Cindy tertunduk diam sembari berpikir. "Em.. Baiklah." Jawab cindy ragu-ragu.
Lucy langsung memeluk cindy. "Terimakasih ya dek." Ucapnya dibalik telinga cindy sambil tersenyum sadis.
_
Keesokan paginya, terdengar suara mobil jeon yang baru tiba dirumah cindy. Diapun langsung turun dari mobil.
Lucy membuka pintu rumahnya dengan semangat saat mengetahui kedatangan jeon.
"Heii jeon, selamat pagi. Mari masuk." Lucy dengan sigap menarik tangan jeon dan memaksanya masuk. Tidak ada pilihan lain, jeon pun ikut masuk bersama lucy.
"Em.. Dimana cindy?" Tanya jeon sambil mencari cindy dengan matanya.
"Dia ada diatas, mungkin baru selesai mandi, maklum lah, nama nya cewek, agak ribet." Jawab lucy.
"Kerja dong, nih udah siap berangkat, gimana kalau kita pergi duluan saja, aku numpang mobil kamu ya, nanti biarin cindy nyusul aja, lama kalau nungguin dia." Ucap lucy yang berharap bisa pergi bersama jeon.
"Mau nunggu sampai kapanpun, kamu gak bisa bertemu denganya hari ini karna aku sudah mengucinya dalam kamar mandi." Batin lucy dalam hati sembari tersenyum jahat.
"Em.. Lebih baik aku tunggu cindy saja, mungkin tidak lama lagi." Sahut jeon tetap duduk santai
"Baiklah, kalau begitu, kita tunggu sampai sepuluh menit ya, kalau dia tidak juga turun, kita pergi berdua saja, oke! soal nya aku juga mau kerja, udah telat."
"Baiklah, oh iya, dimana bibi jesica?"
"Oh tante lagi sibuk masak didapur. Kalau om rendy udah ngantor dari pagi." Jawabnya singkat.
12 menit sudah berlalu, namun cindy belum juga turun dari kamarnya membuat jeon khawatir akan terjadi sesuatu padanya.
"Cindy dimana sih?, tumben dia membuang waktu sia-sia gini. Ditelpon juga gak diangkat. Lucy, coba kamu cek dulu dia dikamar. Siapa tau terjadi sesuatu padanya." Ucap jeon menyuruh lucy melihat cindy.
"Em.. Baiklah, tunggu sebentar ya." Lucy langsung pergi sambil berlari kecil naik kekamar cindy.
Tidak lama kemudian, lucy kembali turun.
"Jeon, tadi cindy bilang, katanya dia akan menyusul nanti setelah dia selesai, soalnya dia lagi dandan, dia menyuruh kita untuk pergi duluan, takutnya nanti telat, soalnya kamu kan yang menjadi pembuka acara." Tutur lucy pada jeon.
"Oh gitu,, baiklah, ayo kita pergi."
"Sepertinya ada yang aneh." Pikir jeon dalam hati sambil melangkah keluar rumah.
__ADS_1
Lucy tersenyum bahagia karna bisa pergi bersama jeon hanya berdua saja.
Saat mereka hendak naik kemobil, tiba-tiba cindy muncul.
"Jeon!! Tunggu!!" Teriak cindy dari dalam rumah. Jeon kaget, diapun menoleh dan menunggu cindy.
Cindy berlari terengah-engah. "Jeon maafkan aku, kamu sudah membuang waktu yang lama karna menungguku. Aku benar-benar minta maaf." Tutur cindy tertunduk sedih.
"Tidak apa-apa, mari masuk mobil." Jeon tersenyum lega melihat cindy, lalu dia mengelus kepala cindy dan membukakan pintu mobil untuknya.
Saat lucy hendak masuk mobil, jeon menghentikanya. "Em.. Lucy maaf, bukannya aku tidak mau mengajakmu bersama kita, tapi saat ini kita berdua sudah telat dan sudah ditunggu banyak orang, tidak akan sempat jika aku harus mengantar kamu ke bar dulu, karna arah kita berlawanan, mending kamu naik taxi saja ya. Kami pergi dulu." Jeon langsung naik mobil dan meninggalkan lucy didepan rumah.
Lucy sangat kesal. "Ahh!!! Kenapa sih dia bisa keluar dari kamar mandi?!, padahal aku sudah menunggu dan berdandan secantik ini supaya bisa pergi berdua bareng jeon. Sepertinya cindy mengingkari janji nya, aku akan membuat perhitungan padanya nanti." Gerutu lucy dengan kesal, lalu dia berangkat kerja menggunakan taxi.
Sementara itu, cindy hanya murung dan diam saat dalam mobil. "Untung saja aku bisa keluar tepat waktu, aku tau, ini pasti kerjaan kak lucy, tapi untunglah aku bisa keluar, aku gak akan mengecewakan jeon hari ini."
"Heii.. Kok diam aja, ada apa? Kamu terlihat murung, apa kau sakit?, kamu sedikit pucat." Tutur jeon memperhatikan wajah cindy.
"Eh! Aku gak apa-apa kok, mungkin tadi aku sedikit berlari, makanya terlihat agak pucat. Oh iya, aku sudah belajar semalam loh supaya bisa bicara didepan wartawan." Ujar cindy mengalihkan topik.
"Oh ya!! Bagus dong,, kamu memang giat. Jangan gugup ya. Kalau kamu gemetar, kamu bisa pegang tanganku nanti." Sahut jeon tersenyum.
"Iya, makasih ya." Jawab cindy singkat, lalu dia kembali diam dan murung.
Jeon menatap wajah cindy, seperti ada yang dia sembunyikan darinya.
"Hari ini cindy terlihat aneh, sebenarnya apa yang terjadi padanya, bukankah dia harusnya senang karna ada teman baru, tapi kelihatanya hanya lucy yang begitu senang hari ini, apakah mereka tidak akur?. "
_
Setibanya dikantor, mereka langsung digiring oleh keamanan kantor karna mobil jeon sudah dikerumuni wartawan.
Tibalah mereka diatas panggung.
Dalam gedung perusahaan jeon, sudah dipenuhi ribuan undangan dari berbagai penjuru dunia. Tahun ini lebih ramai dari tahun sebelumnya. Tapi sayangnya stev tidak bisa hadir, tapi putri dan jennie hadir mewakili stev.
Event pagi ini pun dimulai, walau waktunya telat dari jadwal yang ditentukan, tapi jeon membuka acara ini dengan hangat.
"Selamat pagi semuanya, maaf sudah menunggu lama, karna tadi ada kendala saat dijalan.
Terimakasih kalian sudah hadir di acara peluncuran perhiasan tahun ini. Ini adalah perhiasan satu set lengkap, yaitu terdiri dari kalung, gelang, cincin, anting, dan sepasang jepit korea yang terbuat dari mutiara asli."
Tim dibelakang panggung memancarkan proyektor ke layar panggung untuk menunjukan set perhiasan itu.
"Nah, ini adalah gambar perhiasan yang sudah ada didepan saya, perhiasan ini limited edition, karna baru dibuat 5 set saja. Tidak bisa membeli satuan, karna ini paket complate. Dan total harganya 2M.
Oh iya, perancang perhiasan ini bukan saya yang buat, tapi rekan saya. Perkenalkan namanya adalah cindy.
Cindy silahkan maju." Ucap jeon menarik tangan cindy mengajak nya maju dan menyuruh nya bicara.
Tangan cindy terasa dingin dan berkeringat, jeon menatap cindy dan mengedipakan mata, mengisyaratkan bahwa dia ada untuk cindy. Semuanya Pasti akan baik-baik saja.
•••
BERSAMBUNG...
__ADS_1