
satu Minggu kemudian tiba lah hari pernikahan Mira dan dan Rangga. Mira terlihat begitu cantik dengan mahkota di kepala nya. layak nya seperti seorang ratu.
"Masya Allah sahabat aku cantik banget."ucap Nadira
"kamu bisa aja nad, kamu juga cantik kok."
"beneran lho mir, ih nggak secantik kamu ah."
setelah menunggu beberapa lama, keluarga mempelai laki-laki sudah datang. tak lama kemudian akad nikah pun sudah terdengar dan dalam hitungan detik Mira sudah sah menjadi istri Rangga. Nadira hanya tersenyum dengan mata yang sulit di artikan. setelah selesai acara akad Mira pun dipanggil untuk menemui Rangga. dengan langkah yang anggun Mira turun ke lantai bawah dengan dipegang Nadira disampingnya.
senyum kebahagiaan terpancar di wajah Mira begitu juga dengan Rangga. setelah di hadapan Rangga, Mira meneteskan air mata nya kemudian ia mencium tangan Rangga untuk yang pertama kali nya.
begitu pun dengan Rangga ia mencium kening Mira kemudian ia membaca doa sambil memegang ubun-ubun Mira.
semua orang berteriak riang melihat pasangan pengantin baru itu. Nadira pun berusaha untuk tetap tersenyum walaupun pun ada rasa sakit di hatinya.
"nggak apa-apa kamu harus ikhlas Nadira, semoga setelah ini Allah beri pengganti yang jauh lebih baik."batin Nadira
"Nad sini."panggil Mira
Nadira pun mendekati Mira dan Rangga
"selamat ya semoga bahagia dan menjadi keluarga yang sakinah mawadah dan warohmah ya."
"aamiin, terima kasih ya nad"
"sama-sama mir."
****
di rumah, pak Ahmad dan ibu Alya sedang duduk di ruang tamu. mereka sedang memperbincangkan sesuatu.
"ma kalau kita tetap tinggal disini gimana" tanya pak Ahmad
"gimana sama Nadira, pa?"
"iya, dia ikut kesini aja tapi kalau memang dia mau tetap disana nggak apa-apa kan kita bisa jenguk dia kesana."
"terserah papa aja dech."
keluarga besar Nadira,.memang semua nya hampir tinggal di Semarang, namun karena kemarin pak Ahmad ada kerjaan di kota B sehingga mereka harus pindah.
"sekolah vino gimana ma?"
"pindah aja dek kalau nggak mau disana sama mbak."
"nggak mau ma, aku mau nya sama mama aja. mbak galak banget."
"hahaha, mbak galak itu karena kamu bandel coba kalau kamu nurut mbak nggak mungkin marah kan."
"iya sih ma.hehe."
"ya udah ma, telpon aja Nadira nya."
"iya pa."
Bu Alya mengambil ponselnya lalu menekan nomer Nadira
"hallo Assalamu'alaikum ma."
"wa'alaikumussalam, apa kabar nak?"
"Alhamdulillah baik ma, mama sama papa apa kabar?"
__ADS_1
"syukurlah, ada apa ma?"
"begini nak, mama sama papa mau bilang sama kamu. mama sama papa akan tinggal disini, apa kamu keberatan nak?"
"kalau ditanya keberatan pasti aku keberatan ma, tapi kalau memang mama sama papa mau disana, Nadira juga nggak larang tapi gimana sama sekolah nya vino?"
"untuk sekolah nya vino nanti mama sama papa serta vino akan pulang dulu ke sana untuk ngurus surat pindah sekolah."
"hmmm ya nggak apa-apa ma."
"kamu nggak apa-apa sendirian disana?"
"ins syaa Allah nggak apa-apa ma."
"ya udah kalau gitu, ins syaa Allah mama sama papa akan pulang Minggu depan."
"iya ma, Nadira tunggu ya."
"iya sayang, Assalamu'alaikum."
"wa'alaikumussalam."
****
setelah dari rumah Mira, Nadira langsung pulang ke rumah karena ia merasa capek.
Ting
suara pesan masuk di ponsel Nadira
"assalamu'alaikum, saya rasa sudah cukup waktu yang sudah saya berikan. saya tidak ingin lagi seperti ini. apakah saya sudah boleh untuk menemui kedua orang tua mu?." pesan dari Eza
Nadira terdiam sejenak ia bingung pada saat itu sebenarnya bukan karena dia belum ikhlas dengan kehilangan seseorang yang ia cintai namun Nadira tidak ingin terburu-buru karena masih ada rasa takut di hati nya.
"baik, malam ini aku tunggu kamu di restoran kemarin."
"baik lah."
setelah selesai membalas pesan dari Eza, Nadira pergi ke dapur ia memasak sebuah puding kesukaan nya.
"ya Allah, tolong berikan Nadira petunjuk kalau memang mas Eza ini lah yang terbaik berikan lah kemudahan."ucap Nadira sembari mengaduk puding
setelah beberapa menit puding nya sudah masak, Nadira memasukkan nya ke dalam wadah kemudian mendinginkan nya.
kemudian Nadira kembali ke kamar karena ia ingin mandi dan siap-siap untuk bertemu dengan Eza.
suara adzan Maghrib sudah berkumandang, Nadira segera mengambil wudhu dan melaksanakan sholat Maghrib. setelah selesai, Nadira bersiap kemudian pergi ke restoran. setelah lama dalam perjalanan akhirnya Nadira tiba di restoran itu kemudian ia langsung menemui Eza. namun Nadira terkejut karena bukan hanya Eza melainkan ada ibu nya juga disana.
"assalamu'alaikum mas, ibu."
"wa'alaikumussalam."
"masya Allah, jadi ini calon mantu ibu."
"ma."ucap Eza
Nadira yang mendengar itu hanya tersipu malu.
"eh maaf ya nak."ucap Bu Irma
"nggak apa-apa Bu,"jawab Nadira sembari tersenyum
"nama nya siapa?"
__ADS_1
"Nadira."
"nama yang cantik seperti orang nya."
"Ibu bisa aja."ucap Nadira malu
"silahkan duduk nak."
"terima kasih bu."
"maafin mama ya."
"Iya, nggak apa-apa kok mas."
pesanan pun datang, mereka menikmati makan terlebih dahulu sebelum mereka membicarakan tentang sesuatu.
setelah selesai makan baru lah Eza membuka suara sementara Bu Irma pergi ke toilet.
"jadi gimana?"
"mas aku tidak tau apa yang harus aku jawab sekarang karena jujur itu bukan kuasa aku. maaf sebelumnya apa yang membuat mas begitu yakin untuk memilih ku? bahkan kita baru bertemu beberapa kali dan mas pun belum tau bagaimana sifat ku dan lain sebagainya begitu juga sebaliknya."
"karena akhlak dan kebaikan yang ada pada mu."
"bagaimana mungkin mas bisa melihat dari sana mas?"
"aku bisa membedakan mana yang tulus dan hanya berpura-pura."
"apakah kamu sudah meminta petunjuk dari Allah?" sehingga kamu yakin seperti ini. aku tidak ingin kita saling menyakiti nanti nya mas."
"sudah, aku sudah melakukan rangkaian ibadah yang membuat aku semakin yakin untuk memilihmu."
Nadira terdiam ia bingung apakah dia harus menangis atau bahagia dengan sikap laki-laki yang ada di hadapannya.
"bagaimana dengan mama mu, apa kah dia bisa menerima ku?"
"mama sangat menerima mu tidak perlu khawatir."jawab Bu Irma tiba-tiba muncul dari belakang Nadira karena ia memang sedari tadi ke kamar mandi
"tidak usah khawatir, kamu anak yang baik mama bisa merasakan itu."
air mata Nadira sudah tidak tertahankan lagi, air mata itu sudah membasahi pipi nya.
"lho sayang kok nangis, kenapa?"tanya Bu Irma kemudian mendekati Nadira
"nggak apa-apa bu."jawab Nadira sembari menghapus air mata nya.
Eza yang melihat itu juga merasa bingung apakah dia ada salah ngomong atau apa.
"mas, Minggu depan mama sama papa akan pulang kesini. kalau kamu memang yakin temui lah mereka."
"baik, nanti saya akan menemui orang tua mu."
"ini alamat rumah ku."ucap Nadira sembari memberikan sebuah kertas
"baik, terima kasih."
"sama-sama."
"ya udah, kita pulang dulu hari sudah semakin larut."ucap Bu Irma
mereka pun berpisah dan pulang ke rumah masing-masing.
****
__ADS_1