
satu Minggu kemudian, kehamilan Nadira sudah masuk bulan ke tiga. kesehatan nya sudah membaik dari sebelumnya. seperti biasa selepas sholat subuh Nadira selalu menyiapkan sarapan untuk Eza. walaupun sebenarnya Eza tidak mengizinkan nya.
setelah selesai masak, Nadira pergi ke kamar nya untuk memanggil Eza
tok...tok...tok
"iya sayang."ucap Eza
"sudah siap mas?"
"sebentar lagi kenapa sayang?"
"nggak apa-apa mas, kalau udah langsung sarapan dulu ya."
"oke sayang, sebentar lagi aku turun."
Nadira kembali ke dapur tak lama kemudian Eza pun mengikuti Nadira. namun saat Eza sedang menyantap makanan nya tiba-tiba ponsel Eza bunyi. dilayar ponsel terlihat nama mama, ya itu adalah telpon dari Bu Irma.
"hallo Assalamu'alaikum ma."ucap Eza
"wa'alaikumussalam den. Aden mbok mau ngomong"ucap sih mbok sambil nangis
"ngomong apa mbok? kok mbok nangis, mama mana?tanya Eza khawatir
"Aden anu den, ibu."ucap sih mbok terbata-bata
"mama kenapa mbok?"tanya Eza panik
Eza sudah berdiri dari tempat duduknya, ia sangat mengkhawatirkan mama nya. Nadira yang melihat Eza seperti orang ketakutan langsung mendekati nya.
"ada apa mas?"tanya nadira namun tak ada jawaban dari eza
"hallo mbok, mama kenapa?"bentak Eza
"ibu meninggal den."ucap sih mbok
bagaikan disambar petir di siang hari, Eza langsung terjatuh ke lantai.
"mas kenapa?"tanya nadira panik
"mama."
"mama kenapa mas?"
"mama meninggal."ucap Eza
"innalilahi wa innalilahi rojiun."ucap Nadira dengan air mata yang sudah membasahi pipi nya
"aku harus ke Makassar saat ini juga."ucap Eza
"iya mas kita kesana, mbok tolong bilang sama mang Karyo tolong pesanin tiket ke Makassar."
"ba.baik non."
__ADS_1
Nadira langsung berlari ke kamar nya seolah-olah ia lupa kalau dia sedang hamil, Nadira memasukkan beberapa baju ke dalam koper sedangkan Eza sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi. perasaan nya benar-benar hancur.
setelah selesai Nadira langsung turun ke bawah dengan membawa koper.
"sudah mang?"tanya Nadira
"sudah non, biar mang Karyo aja bawa koper nya."
"ayo mas."ucap nadira yang mencoba untuk menguatkan Eza
di sepanjang perjalanan ke bandara Eza tak berkata apa-apa. Nadira langsung menelpon kedua orang tua nya
"assalamu'alaikum ma."
"wa'alaikumussalam, kamu kenapa nak kok nangis?"tanya Bu Alya khawatir
"ma, mama Irma meninggal."jawab Nadira
"innalilahi wa innalilahi rojiun, kapan nak?"
"subuh tadi ma, sekarang Nadira sama mas Eza akan berangkat kesana."
"ya Allah iya nak kalian hati-hati,.mama sama papa juga akan segera kesana."
"iya ma."
"kamu yang sabar ya nak, kamu harus pikirkan juga kesehatan kamu."
sambungan telepon pun terputus,. kemudian Nadira mengirimkan pesan pada Rehan bahwa Eza belum bisa datang karena harus ke Makassar.
setelah sampai di Makassar, air mata Eza tak ada henti-hentinya.
"mas, istighfar."ucap nadira
namun tak ada jawaban dari Eza, Nadira memilih untuk diam.
setelah beberapa jam akhirnya mereka sampai di rumah Bu Irma, terlihat sudah banyak pelayat yang datang serta keluarga Eza. Eza langsung berlari dan ia berhenti ketika melihat seseorang sedang tertidur di atas kasur dengan tubuh yang sudah kaku.
"ma, mama bangun ini Eza ma."ucap Eza
"istighfar za."ucap Tante Eza
Eza terus menciumi wajah Bu Irma, dada nya benar-benar terasa sesak. Eza tak henti-hentinya memeluk tubuh Bu Irma yang sudah terbaring kaku. Nadira pun mencoba mendekati Eza.
"mas, istighfar kasihan mama."ucap Nadira dengan air mata yang terus membasahi pipi nya
Eza memeluk Nadira.
namun ada seseorang yang datang dan berteriak mengatakan bahwa kematian Bu Irma disebabkan oleh Nadira. semua orang terkejut terutama Nadira. rupa nya itu adalah Tante nya Eza yang tidak menyukai Nadira.
"gara-gara kamu mbak saya meninggal."teriak nya
Nadira benar-benar merasa bingung dengan tuduhan yang dilontarkan Tante nya Eza.
__ADS_1
"gara-gara dia yang tidak mengizinkan ponak'an saya untuk menemui mbak saya."
"Tante, Nadira tidak pernah melarang mas Eza untuk ketemu sama mama."jawab Nadira
"cukup ya nggak usah kamu menghindar, semua nya salah kamu."
tak ada pembelaan dari Eza karena pikiran nya hanya tertuju pada Bu Irma.
"sudah Ra nggak usah kamu dengarkan."ucap Tante Mirna
"coba saja kalau kamu menikah dengan Anita mungkin Mama kamu masih hidup Eza."
"cukup Rita."teriak Tante Mirna
Nadira yang mendengar ucapan itu benar-benar merasa sakit hati.
"kalian bisa diam nggak, mama saya meninggal kalian malah ribut."bentak Eza
semua orang disana terdiam mendengar bentakan Eza.
"sudah sayang kamu ikut Tante ya, kamu juga harus pikirkan kandungan kamu."ucap Tante Mirna
Nadira pun duduk di samping Tante Mirna, tak lama kemudian pak Ahmad dan Bu Alya datang. pak Ahmad langsung menghampiri Eza. Eza langsung memeluk pak Ahmad sementara Bu Alya mendekati Nadira.
"sayang istighfar nak. kamu juga harus pikirkan kesehatan kamu."ucap Bu Alya sambil memeluk Nadira
Bu Alya belum tau apa yang sudah terjadi sebelumnya. setelah beberapa jam tibalah waktu nya untuk memandikan Bu Irma.
setelah dimandikan Bu Irma pun dikafani tersisa hanya wajah nya saja. Eza pun mencium wajah Bu Irma untuk terakhir kalinya begitu juga dengan keluarga yang lain nya.
tak Lama kemudian wajah Bu Irma ditutup.
"mama, maafin Eza ma."teriak Eza
"sudah nak, kita sholat ya."ucap pak Ahmad
setelah disholatkan jenazah Bu Irma di bawa ke tempat pemakaman umum yang ada di kota Makassar. jenazah Bu Irma dimasukkan ke dalam liang, Eza pun menyambut nya. kemudian Eza mengadzan kan bu Irma.
"mama ins syaa Allah Eza ikhlas, sekarang mama sudah bisa ketemu sama papa."ucap Eza
dikit demi sedikit tanah sudah mulai menutupi tubuh bu Irma. selepas itu semua orang mendoakan Bu Irma. setelah selesai berdoa, satu per satu pelayat sudah meninggalkan tempat pemakaman. tinggal lah Eza dan Nadira.
"mas ayo pulang."ucap Nadira
"kamu pulang saja sendiri, aku mau nemani mama disini."
"mas istighfar."ucap Nadira
"kalau kamu mau pulang, pulang saja sendiri."bentak Eza
Nadira yang mendengar bentakan Eza langsung terdiam, selama ini Eza tak pernah membentak nya sedikit pun.
namun bukan nya pergi Nadira malah berdiri di belakang Eza dengan air mata yang tak henti-hentinya. ada rasa bersalah di hati Eza karena sudah membentak Nadira.
__ADS_1
****