PENGGANTI DARI ALLAH

PENGGANTI DARI ALLAH
PART 50. Kecelakaan


__ADS_3

beberapa hari kemudian pagi ini Eza akan berangkat ke luar kota karena ia diminta untuk menemani pasien yang di rujuk kesana, mau tidak mau Eza harus tetap profesional sebagai seorang dokter.


"sayang aku hari ini berangkat ya, kamu baik-baik di rumah."


"iya mas."


"ins syaa Allah sebelum kita umrah aku udah bisa ngambil cuti."


"aamiin, semoga Allah mudahkan ya mas."


"aamiin sayang, ya udah aku berangkat ya nanti kalau aku udah sampe aku telpon. ingat nggak usah ngerjain yang berat-berat ya."


"iya mas, tapi nanti aku pamit ke butik ya. kan di antar mang Karyo."


"hmmm, boleh nggak ya."


"boleh lah mas, aku kangen sama ayu sama butik nya juga."


"ya udah dech boleh, tapi hati-hati ya sayang."


"iya mas, terima kasih."ucap Nadira manja


setelah itu Nadira mengantarkan Eza ke depan rumah.


"aku berangkat ya sayang, ayah pergi dulu ya nak kamu jaga bunda ya."ucap Eza sembari mengelus perut Nadira


"hati-hati ya mas."


"iya sayang. nanti kalau mau ke butik hati-hati ya. Assalamu'alaikum."


"wa'alaikumussalam."


mobil pun sudah mulai keluar dari halaman rumah, namun ternyata di depan rumah Eza ada seseorang yang sedang memperhatikan Nadira. dia adalah Tante Rita dan juga Anita.


"kali ini kita harus berhasil menyingkirkan wanita itu."ucap Tante Rita


ntah apa yang membuat Tante Rita sangat tidak menyukai Nadira, padahal Nadira selalu berbuat baik pada nya.


"iya Tante, kita tunggu aja disini."


mereka mendengar percakapan antara Eza dan Nadira.


setelah beberapa jam kemudian mang Karyo sudah kembali dari mengantar Eza.


"sudah pulang mang?"


"iya non, non sudah mau berangkat?"


"iya mang, biar nanti nggak terlalu sore pulang nya."


"baik non, mari saya antar."


Nadira pun melaju ke arah butik tanpa Nadira sadari ada mobil yang mengikuti nya dari belakang.

__ADS_1


sesampainya di butik mang Karyo langsung pamit pulang dengan Nadira karena nanti sore dia akan menjemput Nadira kembali. sementara Anita dan Tante Rita masih berada di dalam mobil, mereka menunggu waktu yang tepat untuk mencelakai Nadira.


jam sudah menunjukkan pukul setengah satu siang, setelah selesai sholat Nadira mengajak ayu dan karyawan lain nya untuk makan siang bersama di warung makan depan butik.


"kalian duluan kesana ya, nanti mbak nyusul."


"bareng aja mbak."ucap ayu


"kalian duluan aja, biar bisa pesan makanan nya."


"baik lah mbak, nanti mbak hati-hati ya soal nya jalan lagi rame banget."


"hehe, iya iya kamu kira mbak ini anak kecil apa."ucap Nadira sembari tertawa


ayu dan yang lain nya sudah pergi ke warung makan sementara Nadira mengambil dompet dan ponsel nya di dalam ruangan nya. setelah itu Nadira keluar dari butik.


"ayo an tabrak dia."perintah Tante Rita dengan senyum licik nya.


dan benar saja saat Nadira ingin menyebrang, tanpa aba-aba mobil itu sudah menghantam tubuh kecil Nadira.


braaakkkk


sontak semua orang kaget dengan suara benturan itu, begitu juga dengan ayu ia langsung melihat ke arah suara. sementara mobil Anita sudah pergi ntah kemana. suara riuh orang-orang menambah suasana semakin mencekam. ayu berlari ke tempat kejadian betapa terkejut nya ayu ketika ia melihat Nadira sudah tidak berdaya dengan darah yang sudah mengalir di tubuhnya.


"astaghfirullahaladzim mbak."teriak ayu


"ya Allah mbak bangun mbak, kenapa kalian hanya diam saja."teriak ayu


tak lama kemudian mobil ambulans datang, Nadira di bawa ke rumah sakit. darah segar mengalir di kepala dan kaki Nadira.


"dokter, tolong dok ada pasien gawat darurat."ucap suster panik


Rehan yang mendengar itu langsung berlari ke ruang UGD. sontak Rehan merasa lemah karena pasien yang akan ia tangani adalah istri dari sahabat nya.


"astaghfirullahaladzim Nadira. cepat panggil dokter Nina."teriak Rehan


"ya Allah Ra, kenapa bisa sampai seperti ini."ucap Rehan panik


semua dokter sudah turun tangan untuk membantu Nadira, dan akibat kecelakaan itu Nadira harus kehilangan bayi kembar nya tapi masih bersyukur rahim nya tak sampai diangkat.


setelah beberapa jam di ruang operasi, akhirnya Nadira di bawa ke ruang rawat, terlihat wajah Nadira begitu sangat pucat serta selang oksigen di hidung nya. Nadira masih dalam keadaan kritis.


Rehan dan ayu menemani Nadira, ayu hanya menangis melihat Nadira yang tidak berdaya


"kenapa ini bisa terjadi?"tanya Rehan


"saya juga tidak tau dok."jawab ayu kemudian ia menceritakan sebelum kejadian.


"apa disana ada cctv?"tanya Rehan


"ada dok, sebentar saya akan menghubungi satpam yang ada disana."


ayu pun menelepon satpam yang ada disekitaran butik. tak lama kemudian satpam itu mengirimkan sebuah video kepada ayu dan benar saja memang ada sebuah mobil yang sengaja menabrak Nadira. namun Rehan tidak mengenali mobil itu.

__ADS_1


"oke kamu simpan saja dulu video itu, apa kamu ada nomer ibu nya Nadira."tanya Rehan


Rehan tidak tau harus berbicara apa lagi, ia tidak membayangkan bagaimana perasaan Eza ketika ia tau keadaan Nadira, maka dari itu Rehan memilih untuk menghubungi keluarga Nadira terlebih dahulu.


"ada dok."jawab ayu


"tolong telpon biar saya yang bicara."ucap Rehan


"hallo Assalamu'alaikum ay."ucap suara di seberang sana


"wa'alaikumussalam Bu, maaf ini saya Rehan."


"Rehan? Rehan yang mana ya?"tanya Bu Alya bingung


"teman nya Eza Bu."


"oh nak Rehan, iya kenapa nak?"


"Bu ada yang ingin Rehan sampaikan tapi Rehan mohon sama ibu untuk tetap tenang dan banyak-banyak berdoa."ucap Rehan


"ada apa emang nya Han?"tanya Bu Alya khawatir


"jadi begini bu, Nadira."ucap Rehan terhenti


"kenapa Nadira Han?"tanya Bu Alya yang semakin panik


"Nadira mengalami kecelakaan Bu, dan keadaan nya sekarang masih kritis."


"astaghfirullahaladzim."teriak Bu Alya yang membuat pak Ahmad dan kedua anak laki-laki nya berhamburan keluar dari kamar


"kenapa ma?"tanya pak Ahmad


"Nadira, pa."ucap Bu Alya terisak-isak


"hallo. ada apa dengan mbak saya?" tanya Viko


"Nadira mengalami kecelakaan dan sekarang keadaan nya masih kritis."


Viko terdiam sejenak ia sangat mengkhawatirkan mbak nya itu.


"baik dok, kami akan segera kesana."ucap Viko


tanpa pikir panjang Viko langsung memesan tiket pesawat dan syukurlah mereka mendapatkan jadwal pesawat siang ini.


"mama sama papa tenang ya kita berangkat kesana." ucap Viko yang berusaha untuk menenangkan kedua orang tua nya


setelah siap-siap mereka langsung pergi ke kota B. sesampainya di rumah sakit Viko menopang tubuh Bu Alya yang sudah begitu lemah begitu juga dengan vino ia memegang pak Ahmad.


"Bu, pak."ucap Rehan yang sudah menunggu mereka di depan


"mana anak saya."ucap pak Ahmad


"sabar pak, mari saya antar ke ruangan Nadira."ucap Rehan

__ADS_1


*****


__ADS_2