
setelah beberapa Minggu di rawat di rumah sakit akhirnya selepas subuh Tante Rita menghembuskan nafas terakhirnya di rumah sakit.
Eza yang dikabari Rehan langsung pergi ke rumah sakit, begitu juga dengan Nadira. terlihat di depan ruangan Tante Rita sudah banyak keluarga yang menunggu nya.
Santi terlihat begitu marah kenapa keluarga nya baru datang ketika mama nya sudah tidak ada lagi. Eza yang baru saja tiba langsung mendekati Santi dan memeluk nya.
"Santi istighfar kan Abang udah bilang kemarin san, kamu harus kuat."
"kenapa mereka harus datang bang, kemana aja mereka saat mama sekarat."teriak santi
"Santi maafin Tante."ucap Tante Mirna sembari menangis dan mendekati Santi
"jangan sentuh aku, aku tidak sudi di sentuh oleh orang-orang jahat seperti kalian."
"san, istighfar nggak boleh kayak gitu."ucap Nadira
"mama aku udah nggak ada mbak, Sekarang aku harus kemana."rintih Santi
"Santu disini masih ada mbak, ada Abang. kamu harus kuat ya kasihan mama kalau kamu kayak gini."
Santi menangis di pelukan nadira.
"sudah ya jangan nangis lagi kita do'akan mama kita urus mama,ya."
"iya mbak."
Eza pun membantu Rehan untuk melepaskan semua alat-alat yang ada pada tubuh Tante Rita.
"Tante pergi lah dengan tenang, Eza dan Nadira sudah memaafkan Tante."bisik Eza pada telinga Tante Rita sembari menangis
"sudah za kamu harus kuat, ins syaa Allah Tante Rita juga sudah tenang disana."ucap Rehan
setelah semua alat di lepas Tante Rita dimandikan di rumah sakit, Santi pun ikut memandikan nya, kemudian Tante Rita dikafani dan dimasukkan ke dalam peti karena jenazah nya akan di bawa ke Makassar.
"mama."teriak santi
"san, ingat apa kata Abang."
"mama, nanti Santi sama siapa ma?"ucap Santi
"san udah ya."ucap Nadira sedih
setelah mengurus segalanya akhirnya jenazah Tante Rita di bawa ke Makassar dengan menggunakan pesawat karena jarak yang begitu jauh.
"sayang di rumah aja ya."
"tapi mas."
"kamu harus pikirkan juga kesehatan kamu dan anak kita sayang, aku nggak mau kalian kenapa-kenapa."
"iya mas, tapi aku harus ngomong dulu sama Santi ya."
__ADS_1
"san, maaf ya mbak nggak bisa ikut kesana, karena kandungan mbak juga belum begitu kuat. Santi yang kuat ya nanti kalau Abang pulang kesini Santi ikut saja dulu ya."
"iya mbak."jawab Santi lirih
mereka langsung pergi ke bandara, Eza memang sengaja untuk menyewa pesawat untuk membawa keluarga nya.
sementara Nadira langsung pulang dengan di jemput mang Karyo.
****
setelah beberapa jam akhirnya mereka sampai di Makassar, jenazah tante Rita langsung di bawa ke pemakaman, air mata Santi kembali jatuh ketika orang-orang ingin memasukkan jenazah mama nya ke dalam liang lahat.
"tunggu sebentar saya mau cium mama saya dulu."ucap Santi sedih
Eza selalu berada disampingnya karena Santi tidak ingin keluarga nya yang lain mendekati nya.
ustadz pun membuka kain penutup wajah Tante Rita
"air mata nya jangan sampe jatuh ya nak."ucap ustadz
"mama meli ikhlas ma, mama yang tenang disana ya titip salam buat papa."ucap Santi
setelah selesai ustadz kembali menutup nya, kemudian tubuh Tante Rita mulai di angkat dan dimasukkan kedalam liang lahat.
dikit demi sedikit tanah sudah mulai menutupi tubuh Tante Rita. sementara pandangan Santi sudah mulai gelap dalam hitungan detik Santi sudah tidak sadarkan diri. Eza langsung mengangkat tubuh Santi untuk di bawa ke dalam mobil, Tante Mirna yang melihat itu langsung mengikuti Eza
"ya Allah san bangun."ucap Tante Mirna panik
"mama."panggil Santi dengan linangan air mata
"Santi, ini Tante nak."ucap Tante Mirna yang juga sudah ikut menangis
"Santi kamu harus dengerin Abang, kamu harus tetap kuat. kamu harus tetap lanjutkan hidup kamu. Tante sama om sudah bahagia disana."
"Santi nggak sanggup bang."
"harus sanggup disini masih banyak orang-orang yang sayang sama kamu."
"nggak bang, nggak ada lagi yang menyayangi Santi, siapa yang akan menyayangi anak dari seorang pembunuh seperti mama."ucap Santi sembari tersenyum getir
"Santi cukup ya kalau kamu seperti ini, Abang nggak akan mempedulikan kamu lagi, mau kamu? atau kamu memang nggak mau kalau Abang peduli sama kamu?"ucap Eza yang sedikit emosi
"iya Bang maafin santi."jawab meli lemah
Eza memeluk Santi dengan erat karena ia tau bagaimana perasaan sepupu nya itu sekarang. nasib mereka sama-sama sudah ditinggal kan seseorang yang sangat berharga dalam hidup mereka.
"kita pulang sekarang ya, kamu harus istirahat."
Santi pun mengangguk. setelah selesai pemakaman Tante Rita mereka pun pulang ke rumah. terlihat rumah Santi terlihat begitu ramai dengan para pelayat. teman-teman kuliah nya sudah menunggu Santi dengan perasaan sedih.
"san, turut berduka cita ya."ucap mereka sembari memeluk Santi
__ADS_1
"terima kasih ya teman-teman sudah pada datang."ucap Santi sembari tersenyum getir
"sama-sama san, lebih baik kamu istirahat aja dulu san."
"iya aku istirahat dulu ya."
saat Santi masuk ke dalam rumah, para pelayat begitu sangat sedih melihat kondisi Santi, mereka mencoba untuk memberikan semangat untuk Santi.
"Bu, tolong kasih makan dulu ya."ucap Eza
"oh baik mas Eza, Santi makan dulu ya."
"saya tidak mau makan Bu, mama saya disana nggak makan."ucap meli
"san istighfar, kamu harus ikhlas ya."ucap ibu-ibu yang ada di dalam
Santi berjalan menuju kamar nya tanpa bicara apapun.
"kemana Santi nya Bu?"
"ke kamar, mas Eza, santi nggak mau makan."
"biar saya aja Bu."
Eza pun pergi ke ke kamar Santi, terlihat Santi sedang duduk termenung dengan mata yang terus menangis.
"san, ayo makan dulu ya."
"nggak mau bang, Santi belum lapar."
"makan dikit aja, nanti kalau kamu sakit tante pasti sedih."
"makan dulu ya dikit aja, Abang makan juga kok. kalau Santi ngelawan apa kata Abang ya udah Abang pulang aja, Abang udah rela lho ninggalin mbak disana."
"iya bang Santi makan, Abang juga ya.
"iya Abang makan juga kok."
"terima kasih ya bang, karena udah peduli sama Santi."
"iya sama-sama, nanti kalau kamu belum mau disini kamu ikut Abang aja dulu sampai perasaan kamu cukup membaik karena terus terang aja Abang nggak bisa terlalu lama disini karena Abang juga harus jagain mbak karena sekarang itu perut mbak sering kram jadi Abang khawatir sama mbak."
"iya bang, Santi ngerti semoga mbak baik-baik saja ya bang, nanti kalau Abang mau pulang nggak apa-apa, kalau Santi mau ikut abang nanti Santi susul aja."
"baik kalau begitu, kamu jangan lupa sholat, ngaji doain mama sama papa ya, karena sekarang yang bikin mereka bahagia bukan harta lagi tapi hanya doa dari anak nya."
"iya bang."
"udah sekarang kamu istirahat ya kalau ada apa-apa panggil Abang aja."
Santi pun mengangguk, kemudian Eza pun keluar dari kamar Santi.
__ADS_1
*****