
ke esokan hari nya, selepas sholat subuh Nadira membantu mbok Atun di dapur.
"nggak usah non."
"nggak apa-apa mbok, gimana Sifa?"
"Alhamdulillah non badan nya udah nggak panas lagi."
"syukurlah, mungkin dia sakit itu karena rindu sama mbok dech."
"bisa jadi non."
"nanti kalau misalnya mbok kangen atau Sifa yang kangen sama mbok, nggak apa-apa mbok pulang aja mbok."ucap Nadira
"iya non."
setelah selesai masak Nadira pun keluar untuk melihat suasana kampung ketika pagi hari. udara terasa sangat sejuk dan menenangkan.
"sayang, ngapain?"
"eh mas, udara disini sejuk ya mas."
"iya sayang."
"non, den ini mbok buatkan teh hangat di minum ya."
"iya mbok, terimakasih?"
"sama-sama."
"mbok, mau kemana?"tanya Nadira
"mau kesawah non."
"kesawah? ikut dong mbok."
uhuk...uhuk...Eza tersedak mendengar perkataan Nadira
"hati-hati dong mas."
"kamu mau kemana?"
"mau ikut mbok ke sawah."
"no, nggak boleh."
"ayo lah mas, boleh ya."ucap Nadira memohon
"nggak boleh sayang."
"boleh pokok nya."
"permisi, kapan pulang nya mbok?"tanya tetangga
"tadi malam Bu, mau kemana?"
"biasa Bu ke sawah. Siapa mbok?"
"lho ini dokter Eza yang waktu itu dikampung kita."ucap mbok
"Oalah mas Eza toh, perempuan disampingnya siapa?"
"oh ini istri nya nama nya non Nadira."
"oh iya, ya udah saya jalan dulu."ucap ibu itu sembari tersenyum
mbok Atun juga sudah mau berangkat, Nadira terus saja merayu Eza agar boleh ikut.
"tunggu dulu mbok, ayo lah boleh ya bentar aja kok."
"iya iya."
"ye terima kasih mas."
"Yo wes mbok duluan dikit ya, nanti susul aja. sawah yang kemarin den"
"iya pak."
"kamu nggak ikut mas?"tanya Nadira yang melihat Eza masih santai duduk di kursi
"ikut lah masa iya aku biarin kamu sama para pak petani, enak aja."
"hehehe, aku kira nggak apa-apa tadi."
__ADS_1
"ngawur, ayo. lagian ngapain kamu mau ke sawah sayang disana panas ntar kalau sakit lagi gimana?"
"ins syaa Allah nggak kok mas."
"ya udah ayo."
mereka pun menyusul mbok Atun, terlihat tanaman padi terbentang luas ada yang sudah hijau bahkan yang baru ditanam pun ada.
"Masya Allah enak banget disini ya."ucap Nadira
"mau tinggal disini?"
"hehehe nggak mas, nanti kalau kita tinggal disini terus kamu ke rumah sakit tiap hari terus aku sama siapa?"
"hahaha, iya juga ya. jangan lama-lama ya sayang."
"siap bos."
tak lama kemudian mereka sampai di pondok Atun, terlihat mbok Atun sedang mencabut benih yang akan ia tanam.
"aku bantuin ya mbok."
"nggak usah non, kotor."
"aduh nggak apa-apa mbok, aku juga pernah kayak gini dulu waktu masih kecil sering ikut nenek ke sawah. boleh kan mas?"
"terserah kamu sayang, aku larang pun akan tetap kalah."
"hahaha, ayo sini bantuin."ucap Nadira yang sudah berkubang dengan lumpur.
Eza hanya tersenyum ketika melihat Nadira begitu bahagia. saat nadira ingin melangkah tiba-tiba ia jatuh dan wajah nya sudah kena lumpur semua. seolah-olah dia memakai masker
"astaghfirullahaladzim."ucap Eza yang duduk di pinggir sawah
"hahahaha, ya Allah sayang."
"non."teriak mbok Atun
"awas kamu ya mas."ucap Nadira kemudian ia melempar lumpur itu ke arah Eza
Dan plaaak lumpur itu sudah berada di wajah Eza. Nadira tertawa dengan puas. orang-orang yang berada disana juga ikut tertawa melihat kelakuan mereka berdua.
"rasain, hahahaha bukan nya bantuin malah ketawa."ucap Nadira puas
Eza pun terpaksa ikut turun ke sawah karena ia ingin membalas kelakuan istri nya.
mbok Atun hanya menggelengkan kepalanya sembari menepuk keningnya.
"dasar ya."
"hahaha, ya Allah lucu nya suami ku."ucap Nadira
"udah sini bantuin mbok dulu, baru pulang."
"iya-iya gimana cara nya?"
"hah, ini pun kamu nggak bisa mas?"
"ya mau gimana?"
"lihat nih ya."ucap Nadira sembari menanam padi dengan kelihaian nya
Eza pun menurut dan akhirnya tanpa mereka sadari sudah cukup banyak yang mereka tanami.
"sudah lah non, Aden lebih baik kalian pulang aja. mandi dan istirahat."ucap mbok Atun
"iya mbok "jawab kedua nya
"duluan ya ibu-ibu."ucap Nadira ramah
"iya neng."
mereka pun pulang, saat mereka sampai di rumah mbok Atun.
"astaghfirullahaladzim teteh, Abang kalian kenapa?"
"hahahaha biasa lah fa, mengenang masa kecil."Jawab Nadira
"ya Allah mandi dulu teteh, Abang."
"iya Sifa."jawab kedua nya terkekeh
mereka pun masuk ke rumah mbok Atun dari pintu belakang.
__ADS_1
"mandi duluan sayang, dingin nanti masuk angin."ucap eza lembut
"iya mas."
setelah selesai mereka duduk di halaman depan rumah mbok Atun, disana ada Sifa yang lagi main dengan boneka yang dibelikan Nadira.
"hallo Sifa."
"teteh, Abang."
"Sifa lagi ngapain?"
"main boneka teh."
"hmm, Sifa umur nya berapa?"
"13 tahun teh."
"nanti kalau udah besar cita-cita nya mau jadi apa?"
"dokter kayak Abang."
"kenapa mau jadi dokter?"
"biar bisa bantu orang sakit teh."
"Masya Allah, Sifa sekolah nya harus pinter ya biar bisa jadi dokter nanti."
"iya teteh. teteh kapan pulang?"
"sore nanti teteh pulang karena Abang nanti malam mau jaga di rumah sakit. Sifa mau ikut nggak."
"nggak, Sifa kan sekolah. bude pulang juga teh?"
"bude biar disini aja dulu buat jagain Sifa, nanti kalau Sifa benar-benar udah sembuh baru bude pulang."
"terima kasih teteh."
"sama-sama sayang."
"ih gemes dech sama istri ku ini udah cantik, baik, ramah, Sholehah lagi semoga kamu adalah bidadari dunia dan akhirat ku ya sayang."
"Aamiin, jangan kayak gitu dong mas nanti aku terbang lho."
"hahaha, orang serius kok."
"hehehe."
tak terasa jam sudah menunjukkan pukul empat sore, setelah sholat ashar. Eza dan Nadira pamit untuk pulang.
"mbok, kami pamit dulu ya."ucap Eza
"iya den, hati-hati."
"pamit ya mbok."ucap Nadira
"iya non hati-hati."
"Sifa teteh pulang dulu ya, kamu cepat sembuh ya."
"iya teteh, hati-hati ya."
"iya sayang."ucap Nadira sembari mengelus pipi Sifa
setelah berpamitan mereka pun pergi meninggalkan kampung mbok Atun. Nadira langsung mengirim pesan pada mbok Atun
"mbok, di dalam kamar kami ada sebuah amplop, mohon diterima ya mbok. semoga itu bisa bermanfaat untuk Sifa."
#Flashback on
"gimana ya fa, bude juga belum gajian. nggak mungkin bude minta sama Abang Eza."ucap mbok Atun dari dalam kamar nya
"iya Bude, nggak apa-apa nanti Sifa bilang sama ibu guru nya ya."jawab Sifa
"tapi Sifa gimana? kalau belum bayar uang nya, sifa nggak bisa ikut ulangan dong."
"ins syaa Allah bisa Bude."
Nadira dan Eza tak sengaja mendengar percakapan mereka, Eza dan Nadira saling bertatapan kemudian kedua nya tersenyum. mereka tau apa yang harus mereka lakukan
#Flashback off
"ya Allah non, Aden."ucap mbok Atun sembari menangis
__ADS_1
mbok Atun tidak tau lagi harus seperti apa membalas kebaikan Eza dan Nadira, karena ia hanya punya tenaga yang bisa digunakan untuk membantu mereka.
******