PENGGANTI DARI ALLAH

PENGGANTI DARI ALLAH
PART 52. Sadar


__ADS_3

satu Minggu telah berlalu namun Nadira belum juga sadarkan diri, rasa khawatir dan ketakutan tak bisa digambarkan lagi dengan kata-kata. terlihat Nadira tertidur begitu nyenyak dengan selang oksigen yang masih menempel di hidung nya. pak Ahmad dan Bu Alya disuruh Eza untuk istirahat di rumah walaupun sebenarnya mereka menolak namun Eza berhasil memberikan pengertian kepada kedua nya. sementara viko dan vino terpaksa kembali ke Semarang karena mereka juga harus tetap kuliah dan sekolah.


selepas sholat zhuhur Eza kembali duduk di samping nadira, ia mengelap tangan dan kaki Nadira menggunakan tisu basah tanpa ia sadari ia sudah menitikkan air mata.


"sayang bangun dong, mau sampai kapan kamu diemin aku kayak gini."ucap Eza lirih


tok...tok...tok


"assalamu'alaikum za."ucap Rehan serta dibelakang nya ada Rani dan baby arsha


"wa'alaikumussalam."jawab eza sembari menghapus air mata nya


"eh ada baby arsha, apa kabar sayang."ucap Eza sembari mengambil baby arsha dari tangan Rani


Eza dan Rehan duduk di sofa, sementara Rani duduk disamping Nadira .


"assalamu'alaikum ra, kamu bangun dong. disini ada arsha dia kangen sama kamu."ucap Rani sembari mengelus pundak Nadira


namun masih saja tak ada jawaban dari Nadira, mata nya terpejam seolah-olah tak ingin bangun.


"kamu harus selalu sabar ya za, kita akan melakukan yang terbaik untuk Nadira. aku tau bagaimana hancurnya hati kamu sekarang tapi kita punya Allah, hanya dia lah yang bisa membantu kita."ucap Rehan


"iya han, terima kasih banyak karena udah jadi sahabat yang baik untuk aku."ucap Eza


*****


hari semakin sore, Eza tak sedikit pun meninggalkan Nadira. mata nya terus memperhatikan Nadira.


"sayang jika aku bisa menggantikan mu tentu sudah aku gantikan, hati aku terasa sakit ketika aku harus melihat kamu seperti ini, dunia ku terasa hancur."batin Eza dengan linangan air mata


"permisi dok, ada yang mau bertemu dengan dokter."ucap seorang suster dari arah depan


"siapa dok?


"kata nya Tante dokter."


"suruh masuk saja."


Eza memang membatasi siapa yang boleh masuk ke dalam ruangan nya kecuali mertua, adik-adik nya serta Rehan dan Rani.


ternyata itu adalah Tante Mirna, Eza langsung memeluk dan menangis di pelukan Tante Mirna. karena ketika Eza melihat Tante Mirna Eza merasa bahwa ia sedang melihat mama nya.


"sabar nak, sabar?"ucap Tante Mirna


eza pun melepaskan pelukannya, Tante Mirna memandang wajah sendu Eza dengan lekat.


"kamu harus sabar, Tante yakin Nadira bisa melewati ini semua."

__ADS_1


"iya Tante."


"bagaimana dengan kasus ini za?"


"polisi sedang berusaha Tan, semoga Allah mudahkan. Eza tidak akan pernah memaafkan orang itu."ucap Eza emosi


"istighfar nak."


suara adzan Maghrib sudah berkumandang, Eza dan dan Tante Mirna sholat berjamaah. tak henti-hentinya Eza melangit kan doa untuk kesembuhan istri nya.


selepas sholat kedua nya pun duduk kembali di sofa.


"Tante malam ini tidur di rumah aja ya, disana ada mama dan papa. lagian disini juga nggak boleh terlalu banyak yang jaga."


"emang nya kamu nggak apa-apa sendirian disini?"


"nggak kok Tante."


"hmm ya udah nanti Tante pulang ya."


*****


malam semakin larut Tante Mirna sudah pulang dari beberapa jam yang lalu. Eza menundukkan kepala nya di tepi brankar Nadira.


atas kehendak Allah, akhirnya Nadira berlahan membuka mata nya. tangan nya juga bergerak dalam genggaman Eza. Eza terkejut ia mengangkat kepalanya dan benar saja Nadira sudah membuka mata nya.


"sayang."panggil Eza terharu


"sayang jangan banyak gerak dulu ya."ucap Eza lembut


Nadira memandang wajah Eza yang sendu, seolah-olah ia lupa dengan yang sudah terjadi. Eza pergi keluar untuk memanggil dokter karena Rehan lagi tidak jaga di rumah sakit.


tak lama kemudian dokter pun masuk, dokter langsung memeriksa Nadira.


"bagaimana keadaan istri saya dok?" tanya Eza serius


"Alhamdulillah mbak Nadira sudah melewati masa kritis nya dan keadaan nya sudah berangsur stabil."ucap dokter


"Alhamdulillah ya Allah."ucap Eza bersyukur


Nadira mencoba untuk mengingat peristiwa yang sudah terjadi, seingat Nadira ia sedang hamil.


"mas, anak aku mana?"tanya Nadira tiba-tiba


"sayang tenang ya."ucap Eza


"mas jawab anak aku kemana? dok anak saya kemana dok."tanya Nadira yang memberontak

__ADS_1


"mas jawab aku, kenapa kamu diam aja mas."teriak Nadira


"sayang sabar ya, kita harus ikhlas."ucap Eza langsung memeluk Nadira


"nggak, nggak mungkin kan dokter."teriak Nadira sambil memberontak di pelukan Eza


"mas, anak kita."ucap Nadira lemah


"iya sayang, kita harus ikhlas."ucap Eza sembari mencium ubun-ubun Nadira


setelah beberapa lama, akhirnya Nadira bisa tenang namun pandangan nya terlihat kosong.


"nak."panggil Bu Alya yang baru saja datang karena di beri kabar oleh pihak rumah sakit.


"ma, anak Nadira."ucap Nadira lirih


"sabar ya nak, Nadira harus ikhlas."ucap pak Ahmad


"sekarang Nadira istirahat dulu ya, mama temani disini ya nak."


"kenapa Nadira bisa kehilangan anak Nadira ma?"


"Nadira kecelakaan nak."


Nadira mencoba mengingat kembali kejadian itu.


"sudah ya sayang nggak usah banyak pikiran dulu, kamu harus banyak-banyak istirahat."ucap Bu Alya lembut


"ya Ra kamu istirahat dulu ya."ucap Tante mirna


Nadira pun membaringkan tubuhnya, air mata nya terus saja mengalir. tak pernah terbayangkan oleh Nadira bahwa dia akan kehilangan anak-anak nya.


"ya Allah, kenapa engkau ambil anak ku, tapi Nadira akan mencoba untuk ikhlas ya Robb. Nadira yakin engkau pasti akan memberi Pengganti untuk Nadira. bunda kangen nak."batin Nadira


"ma, mama sama Tante duduk disini aja ya, biar Eza duduk disana."ucap Eza sembari menghapus air mata nya


"tidur ya sayang, kamu harus banyak-banyak istirahat."ucap Eza sembari mencium tangan Nadira


Nadira tak menjawab apa-apa, ia mencoba untuk memejamkan mata nya.


"sayang aku janji dengan diri aku sendiri, aku akan mencari orang yang sudah mencelakai kamu dan anak kita."batin Eza


kemudian Eza pun membaringkan kepalanya di tepi brankar, tangan nya pun tak pernah lepas untuk menggenggam tangan Nadira.


tak lama kemudian kedua nya pun terlelap, jam sudah menunjukkan pukul setengah lima subuh, dalam hitungan menit terdengar suara adzan subuh dari musholah, Eza langsung bangun dan melaksanakan sholat subuh di mushola bersama pak Ahmad.


"kamu harus tetap sabar ya za. mungkin kita butuh waktu yang cukup lama untuk mengembalikan keceriaan Nadira."ucap pak Ahmad sembari menepuk pundak Eza

__ADS_1


"iya pa, ins syaa Allah Eza akan selalu ada disampingnya."jawab eza


******


__ADS_2