
ke esokan hari nya Eza dan Viko pergi ke rumah sakit C. namun sebelum mereka kesana Viko menjemput putri terlebih dahulu. putri tidak tau kalau Viko pergi dengan Eza bahkan putri tidak tau bahwa Viko akan melakukan tes DNA. yang putri tau adalah bahwa ia akan memeriksa kondisi kandungan nya.
setelah menjemput putri, mereka langsung menuju ke rumah sakit
"kenapa put, kok diem aja?"tanya Eza
"nggak apa-apa bang, putri nggak tau kalau Abang juga ikut."
"oh iya kebetulan disana ada teman saya jadi sekalian aja bareng sama kalian."
"oh iya bang."
setelah beberapa menit di perjalanan akhirnya mereka sampai di rumah sakit C. dokter Ranti sudah menunggu Eza di koridor rumah sakit.
Eza memberi kode melalui mata, karena Eza sudah memberi tahu dokter Ranti sebelum mereka pergi ke rumah sakit.
"ayo mbak, ikut saya."
"baik dok."
Viko hanya diam saja di samping Eza, hati nya tak henti-hentinya berdoa kepada sang khalik agar Allah menunjukkan kebenaran nya, Viko tak sanggup jika harus melihat kedua orangtuanya serta kakak perempuan nya kecewa.
"tenang saja vik, ins syaa Allah semua nya akan baik-baik saja."
"iya bang."
tak lama kemudian Viko pun dipanggil untuk dilakukan pengecekan mulai dari darah dan lain sebagainya. setelah beberapa jam di dalam ruangan dokter Ranti akhirnya putri pun keluar. ia tidak tau kalau dokter Ranti sudah melakukan tes DNA.
"ini hasil nya."ucap dokter Ranti sembari memberikan sebuah amplop pada Eza
Eza pun membuka nya, dan benar kalau anak yang dikandung putri bukan lah anak Viko. Eza menutup kembali kertas yang sudah ia buka lalu memberikan nya pada Viko.
"sebaik nya kita buka nya dihadapan mama sama papa aja, biar mereka tau kondisi kandungan kamu."ucap Eza
"baik bang."
"oke ran, thank you."ucap Eza sembari tersenyum puas
"oke za."
mereka pun pergi meninggalkan rumah sakit dan langsung kembali ke rumah sakit dimana pak Ahmad di rawat. Nadira sudah tidak sabar lagi dengan hasil tes yang dilakukan oleh putri.
"sabar nak, tenang lah."ucap Bu Alya
"iya ma."
tak lama kemudian mereka pun sampai di rumah sakit, Eza langsung masuk ke ruangan pak Ahmad dengan diikuti oleh Viko dan putri.
Eza tersenyum kepada Nadira, sementara Nadira merasa bingung dengan Eza.
"putri, Viko kalian duduk disini."
__ADS_1
"putri sebelum kita buka hasil dari dokter, mbak mau tanya apa benar anak yang ada dalam kandungan kamu itu anak nya Viko?"
putri terkejut ia bingung harus menjawab apa.
"i..iya mbak.
"kapan kalian melakukan nya?"
putri kembali terdiam
"lima bulan yang lalu mbak."
"gila kamu ya putri, bisa-bisa nya kamu fitnah aku."ucap Viko emosi
"sabar Viko."ucap Eza
"oke, sekarang kandungan kamu berusia berapa bulan?"
"tiga bulan mbak."
"oke, sekarang kita buka hasil dari dokter tadi ya semoga kandungan kamu baik-baik saja."
Nadira membuka amplop dari dokter Ranti, Nadira berharap bahwa itu bukan lah anak dari adik nya
ketika Nadira membuka nya, Nadira tersenyum. bahwa jelas di surat itu tertulis bahwa tidak ada kecocokan antara Viko dan anak yang dikandung putri.
Viko menutup mata nya, rasa nya ia ingin hilang dari dunia ini.
"hasil dari surat ini bahwa benar kamu..."ucap Nadira terhenti. nadira menatap putri dengan tatapan yang sulit di artikan
"apa mbak?"tanya Viko
"bahwa benar kamu bukan ayah dari anak yang putri kandung."
"Alhamdulillah."ucap Bu Alya sembari menangis
putri dan Viko yang tadi nya sama-sama menunduk akhirnya mereka melihat ke arah Nadira.
"mbak, maksud mbak apa?"tanya putri yang sudah menangis
"kenapa kamu harus jebak adik saya?"
"saya nggak pernah jebak bang Viko mbak, tapi kami memang pernah melakukan nya."
"tapi disini jelas-jelas itu bukan anak Viko."
"mungkin dokter nya yang salah mbak, lagian kenapa harus tes DNA."
"harus, karena gara-gara kamu papa saya sampai masuk rumah sakit, kenapa kamu tidak minta tanggung jawab sama laki-laki yang sudah menghamili kamu put?"
"mbak saya minta maaf, tapi saya tidak tau harus minta tanggung jawab sama siapa mbak."
__ADS_1
"kamu cari dia, bukan malah mendatangi adik saya."
"saya tidak tau siapa orang itu mbak."
"masa iya kamu nggak tau."ucap Eza
"bener bang, malam itu saya pergi bersama teman-teman perempuan saya, kami pergi ke sebuah kafe. tapi saya tidak tau ketika saya bangun ternyata saya sudah berada di sebuah kamar yang gelap , tubuh saya sudah tidak memakai apa-apa lagi mbak."jelas putri dengan linangan air mata di pipi nya. putri tak pernah membayangkan betapa malang diri nya
Nadira yang mendengar penjelasan putri merasa kasihan, ia mendekati putri.
"masa depan putri sudah hancur mbak, bahkan dengan bang Viko pun putri malu."
"maaf kan putri mbak, Tante, om dan bang Viko. saya tidak ada maksud untuk membuat keluarga kalian kecewa. tapi saya mohon tolong jangan jauhi saya. saya janji saya akan pergi jauh dari kehidupan kalian. saya akan membesarkan anak saya. Abang, putri minta maaf karena putri udah mengecewakan bang Viko. tapi ini semua bukan kehendak putri. cari lah wanita yang masih suci yang jauh lebih baik dari putri, putri pamit ya doa kan putri bisa melewati ini semua. Putri harap suatu hari nanti kita bisa bertemu lagi ya bang."ucap putri terisak-isak
Viko pun memeluk putri.
"maaf put, aku nggak bisa bantu kamu untuk masalah ini walaupun aku tau ini bukan kehendak kamu."ucap Viko
"iya bang, putri ngerti. nggak mungkin juga Abang mempertanggungjawabkan sesuatu yang Abang tidak melakukan nya.putri pamit ya."
putri pun berdiri dan berlahan meninggalkan ruangan pak Ahmad
"putri."panggil Nadira
Nadira langsung mendekati putri dan memeluk nya.
"maaf ya, mbak nggak bisa bantu apa-apa, mbak harap semoga kamu bisa melewati ini semua dan Allah membalas semua kejahatan yang mereka lakukan untuk mu."ucap Nadira
"iya mbak. terima kasih."ucap putri sembari tersenyum getir
putri pun meninggalkan ruangan itu, air mata nya terus mengalir..ia tak pernah membayangkan betapa hancur hidup nya sekarang.
"ya Allah kuatkan putri, putri mohon ampun."ucap putri sembari menghapus air mata nya.
"kasihan putri ya,tapi mbak nggak mau kamu mempertanggungjawabkan perbuatan yang tidak kamu lakukan..berterima kasih lah kepada Allah karena Allah sudah menunjukkan kebenaran kepada kita."
"iya mbak. mama, papa maafin Viko ya."
"Abang terima kasih juga sudah membantu Viko."
"sama-sama."
Bu Alya pun memeluk Viko. begitu juga dengan vino.
"masih mau pacaran?"
"nggak mbak."jawab Viko
Nadira sangat bersyukur karena Allah sudah menunjukkan kebenaran nya. ia tak membayangkan betapa hancur nya dia, jika adik-adik nya melakukan perbuatan yang dibenci oleh Allah. itulah alasan mengapa Nadira tak pernah mengizinkan adik-adik nya untuk menjalin sebuah hubungan.
****
__ADS_1