PENGGANTI DARI ALLAH

PENGGANTI DARI ALLAH
PART 17. Rencana Lamaran


__ADS_3

lima hari setelah malam itu, rumah Nadira sudah mulai ramai dengan keluarga atau tetangga. Nadira merasa bersyukur dan bahagia. kedua adik nya sudah kembali dua hari yang lalu.


rumah Nadira pun sudah mulai di dekorasi, Nadira memilih dekorasi bernuansa gold dan putih serta bunga-bunga yang indah.



"Masya Allah cantik sekali."ucap Nadira


"cie calon manten."goda ayu


"cantik nggak ay?"tanya Nadira


"cantik banget mbak."


"mbak Mira nggak datang mbak?"tanya ayu tiba-tiba


"hmm untuk lamaran kayak nya belum ay kan mereka masih pengantin baru ntar kalau udah hari H baru aku ajak."jawab Nadira datar


"hehehe mbak bisa aja."


"iya dong, mbak ke kamar dulu ya."


"iya mbak."


Nadira sedang duduk di samping kasur nya. tiba-tiba kedua adik nya masuk dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


"lho kalian kenapa kok sedih?"


bukan nya menjawab malah kedua nya langsung memeluk Nadira.


"hei kalian kenapa?"tanya Nadira bingung


"mbak beneran mau nikah mbak."tanya Viko


"iya, kalian kenapa kok sedih gitu bukan nya bahagia."


"nanti kalau mbak udah nikah kita bakalan jarang ketemu mbak."


"nggak kok adek-adek mbak sayang, kita masih bisa ketemu kok."


"kalau suami mbak nggak ngizinin gimana?"


"ins syaa Allah suami mbak nggak kayak gitu sayang percaya dech sama mbak. udah dong jangan nangis ntar mbak nangis juga lho."


air mata Nadira juga sudah tidak terbendung lagi. tiba-tiba pak Ahmad dan Bu Alya masuk kedua nya langsung memeluk ketiga anak nya itu.


"sudah ya bang, adek. mbak itu bukan ninggalin kita lho cuma mbak mau nambah teman buat kalian, Abang Eza baik kok mama udah ketemu sama bang Eza."


"tapi nanti kalau dia nyakitin mbak gimana ma?"ucap vino


"ins syaa Allah nggak sayang kalaupun bang Eza nyakitin mbak ntar kita ambil aja mbak Nadira nya kan mama punya tiga jagoan lho."


"udah ya sayang kata nya kalian mau punya ponak'an ya kan."


mereka pun tertawa mendengar kata Bu Alya.


"ya udah gimana kalau kalian temani mbak buat ambil seragam kita sekalian kita jalan-jalan, mau nggak?"tanya Nadira


"mau mbak."


"giliran jalan-jalan aja kamu semangat Vin."ucap Viko


"biarin bang."


"udah nggak usah berantem ayo kita jalan sekarang ntar keburu sore."


mereka pun pergi menuju butik tempat dimana Nadira memesan baju untuk acara pertunangan nya. selama diperjalanan mereka bercanda dan bercerita. sesampainya di butik Nadira langsung mengambil seragam nya kemudian ia melanjutkan perjalanan nya ke sebuah mall yang ada di kota tersebut.


"mbak kita makan steak yuk."

__ADS_1


"boleh, udah Ayuk."


ketiga nya pun masuk ke dalam sebuah restoran, tak sengaja Nadira bertemu dengan Mira dan Rangga.


"hei, Ra apa kabar."


"hai mir, Alhamdulillah baik, kamu sendiri apa kabar?"tanya Nadira


"Alhamdulillah baik juga ra, kamu kenapa sih ra kok kayak ngejauh gitu. aku ada salah ya."tanya Mira heran


"nggak dong mir, kamu kan udah nikah pasti lah beda suasana nya aku nggak mau ganggu kamu lho."goda Nadira


"kamu mah kayak dengan siapa aja Ra."


"nggak usah khawatir mir aku nggak marah kok, oh ya kebetulan ketemu kamu disini lusa aku mau lamaran."


"hah serius kok aku baru tau sih ra."


"hehe iya maaf mir sengaja belum dikasih tau."


"datang ya mas Rangga."ucap Nadira sembari tersenyum dengan mata yang sulit di artikan


"iya Ra, ins syaa Allah."jawab Rangga gugup


masih ada rasa belum ikhlas di hati Rangga, tapi ia juga sadar bahwa Nadira memang pantas untuk mendapatkan yang lebih baik dari nya.


"ya udah kalau gitu aku masuk dulu ya mau nemanin para bocil makan dulu."


"oh iya Ra, eh orang mana?"


"Indonesia lah mir."


"ih kamu mah."


"hahaha lihat aja nanti ya."


"wa'alaikumussalam take care ya."


Nadira pun duduk bersama kedua adiknya.


"kalian udah pesan makanan?"


"sudah mbak."


"okay.


tak lama kemudian makanan pun datang. namun perut Nadira terasa sangat perih dan mual.


"mbak ke toilet dulu sebentar ya."


"mbak kenapa bang?"tanya vino


"nggak tau, semoga aja nggak apa-apa."


setelah beberapa menit Nadira kembali lagi. wajah nya terlihat sedikit pucat.


"mbak kenapa?, mbak sakit kok wajah nya pucat gitu."tanya Viko


"mbak nggak apa-apa kok, cuma perih aja perut nya kayak nya asam lambung mbak kambuh."


"ya udah makan aja dulu dikit mbak, mbak mah udah tau nggak bisa telat makan."ucap vino kesal


"iya maaf tadi mbak nggak sempat, ya udah kalian lanjut makan nya ya udah itu kita pulang."ucap Nadira


belum sempat makanan habis viko yang melihat Nadira sudah keringat dingin memutuskan kan untuk pulang.


"kita pulang sekarang aja mbak."


"nanti aja kalian habisin dulu makan nya, mubazir lho nanti."

__ADS_1


"udah mbak, yang penting sekarang itu kesehatan mbak lho, Lusa lho mbak."


"iya udah dech iya-iya."


sesampainya di rumah Bu Alya panik saat melihat Nadira dengan wajah yang sudah pucat.


"mbak kok bisa kayak gini?"


"seperti nya asam lambung mbak kambuh ma."


"ayo nak kita ke kamar dulu."


pak Ahmad yang melihat Nadira sudah gemetar tanpa pikir panjang pak Ahmad menggendong Nadira.


"papa kan udah bilang jangan telat makan masih aja ngeyel."


"maafin nadira pa."


Nadira pun sudah terbaring di kasur nya, obat pun sudah diminum nya.


"gimana nak?"


"Alhamdulillah udah enak'an kok ma."


"bener?"


"iya ma."


"kamu tu kan udah tau nggak bisa telat makan."


"iya maaf ma."


"iya jangan diulangi lagi, sekarang kamu istirahat ya."


"iya ma."


Nadira memejamkan mata nya. sedangkan Bu Alya sudah keluar dari kamar Nadira.


"ma, ada Eza."panggil pak Ahmad


"eh nak Eza. ada apa nak?."


"nggak apa-apa kok Tan tadi kebetulan Eza lewat sini jadi mampir dulu. gimana keadaan Nadira, Tan?"tanya Eza karena pak Ahmad sudah cerita saat Eza datang.


"Alhamdulillah udah mendingan, itulah kalau dia telat makan jadi nya kayak gitu."


"mau minum apa?"tanya Bu Alya


"air putih aja Tante."


"sebentar ya."


Bu Alya kembali membawa segelas air putih.


"silahkan diminum za, makan dulu."


"sudah Tan."


terdengar suara orang muntah dari arah kamar Nadira, hal itu membuat Bu Alya panik dan segera lari ke kamar Nadira. dan benar saja Nadira sudah memuntahkan isi perutnya nya di kamar mandi. keringat dingin sudah mengucur di kening nya.


"astaghfirullahaladzim nak. kita ke rumah sakit aja ya."ucap Bu Alya sembari memegang tubuh Nadira


"nggak usah ma, Nadira udah mendingan kok."


"mendingan kayak gimana? keadaan kamu aja masih lemah kayak gini."


saat nadira ingin keluar dari kamar mandi Nadira jatuh pingsan. Bu Nadira semakin panik ia memanggil pak Ahmad.


***

__ADS_1


__ADS_2