
sesampainya di rumah, Nadira membuka pintu mobil dan mencoba untuk berjalan sendiri namun ia menginjakkan kaki nya di lantai, Nadira langsung berpegang di sisi mobil.
Eza pun membantu nya untuk masuk ke dalam rumah, mbok Atun yang melihat kedua nya langsung menghampiri.
"astaghfirullahaladzim non kenapa den?"tanya mbok Atun
"cepat panggil tukang urut di depan mbok."
"baik den."
di depan gang komplek perumahan mereka memang ada seorang tukang urut, nama nya Mak Ijah.
tak lama kemudian mbok Atun dan Mak Ijah pun datang. terlihat Nadira sudah berbaring di atas sofa.
"astaghfirullahaladzim neng kenapa bisa seperti ini?"tanya Mak Ijah
"tadi saya jatuh Mak."
"Oalah, Mak urut dulu ya ditahan tapi ya ini pasti sakit sekali."ucap Mak Ijah karena kaki Nadira memang sudah biru.
Mak Ijah mulai mengurut kaki Nadira dengan pelan namun saat Mak Ijah menekan bagian yang biru Nadira langsung berteriak kesakitan. Eza yang lagi dikamar langsung turun ke bawah. terlihat Nadira sudah menangis.
Eza langsung duduk disamping Nadira dan memeluk nya. Nadira kaget ia pun memandang wajah Eza yang sedang memperhatikan Mak Ijah.
"astaghfirullahaladzim, pelan-pelan Mak."ucap Nadira sembari memegang lengan eza
"iya ini Mak udah pelan neng tapi kaki neng ini memang udah bengkak jadi sakit nya dua kali lipat."ucap Mak Ijah
"ya Allah Astaghfirullahaladzim."rintih Nadira sembari menghapus air mata nya
"tahan aja dulu ya, nanti kalau nggak di urut kaki nya tambah sakit."ucap Eza lembut sembari menatap wajah Nadira
setelah beberapa lama, Mak Ijah menghentikan untuk mengurut kaki Nadira karena Nadira benar-benar sudah tidak tahan.
"ya udah malam besok di urut lagi yang neng."
"iya Mak."jawab Nadira
Mak Ijah pun pamit pulang, sementara Nadira dan Eza masih di ruang tamu.
"udah mau tidur?"tanya Eza datar
"belum mas."jawab Nadira sembari menunduk
"istirahat di kamar aja ya."ucap Eza
"tapi aku nggak kuat jalan nya mas, tunggu mbok aja dulu."jawab Nadira pelan
"ayo."ucap Eza sembari mengulurkan tangannya
__ADS_1
"tapi mas."
"udah ayo, disini juga dingin."
Nadira pun menjabat tangan Eza, kaki Nadira benar-benar sangat sakit namun ia mencoba untuk tetap kuat di hadapan Eza.
"kuat nggak?"tanya Eza
Nadira hanya terdiam mendengar pertanyaan Eza.
"kuat kok mas.
baru satu langkah Nadira sudah merintih kesakitan sembari memegang lengan Eza
"hmm, kalau nggak kuat ngomong."ucap Eza
Eza pun menggendong Nadira tanpa bicara apapun. sesampainya di kamar Eza menidurkan Nadira kemudian ia pergi ke kamar mandi.
setelah eza keluar dari kamar mandi terlihat Nadira sedang membelakanginya. Eza pun membaringkan tubuhnya di samping nadira dengan posisi membelakangi Nadira.
kedua nya sama-sama merenung, sebenarnya kedua nya sama-sama tidak tahan dengan keadaan yang sekarang.
"Nadira."panggil Eza datar
Nadira yang mendengar Eza memanggil nama nya ada rasa tak enak di hati nya.
"iya, ada apa?"tanya Nadira
"hmm, aku minta maaf ya."
"aku yang seharusnya minta maaf sama kamu."
"kalau kamu memang belum mau bicara sama aku, nggak apa-apa biar aku tidur di kamar lain dulu. aku tau bagaimana perasaan kamu tapi aku juga merasakan nya. aku tau Tante Rita adalah Tante aku tapi aku nggak salah disini, aku juga korban dari nya. aku nggak marah sama kamu sedikit pun aku nggak marah, aku tak mau bicara bukan berarti aku nggak mau tapi jika itu bisa membuat kamu lebih baik maka aku ikhlas."ucap Eza
"kamu mau kemana terserah, tapi kamu harus tetap pulang ke rumah ini. aku nggak mau kita terus berada dalam permasalahan dan juga kesedihan. aku sangat merindukan mu walaupun ya baru beberapa hari kita nggak ngobrol."
"aku juga mau minta maaf karena aku belum bisa jadi istri yang baik untuk kamu, maaf mungkin aku sering ngelawan kamu, marah-marah nggak jelas. ya aku tau aku salah."
"aku juga minta maaf karena udah mendiamkan kamu beberapa hari ini, aku tau kamu memang nggak salah dalam hal itu tapi saat aku mengingat wajah mereka ada kesal di dalam hati ketika aku melihat kamu. aku minta maaf."
"iya i know, maka dari itu aku berikan waktu untuk kamu menenangkan diri, aku harap kamu nggak butuh waktu yang banyak untuk menenangkan diri mu. karena terus terang saja lebih baik aku pergi dari rumah ini dibandingkan harus di rumah sementara istri aku nggak mau bicara sama aku."
"aku minta maaf ya mas, aku tau aku salah, aku udah egois seharusnya aku nggak marah sama kamu karena semua yang terjadi bukan kamu yang melakukan nya. maafin aku ya."
"iya, aku udah maafin kamu dan ngerti itu."
"terima kasih ya mas."ucap Nadira
mereka masih saling membelakangi satu sama lain. mereka sama-sama diam dan sibuk dengan pikirannya sendiri.
__ADS_1
tiba-tiba Eza mendekat dan memeluk Nadira lalu mencium ubun-ubun Nadira.
"sayang aku benar-benar nggak sanggup kalau kita harus seperti ini."
"maafin aku ya mas."
"iya sayang, aku juga minta ya."
"iya mas."
kedua nya pun kembali damai, Nadira menyadari bahwa suami nya memang tidak bersalah dalam hal ini, yang salah itu Tante nya tante Rita. Tante Rita di dalam keluarga nya pun ia tidak lah disukai karena sikap sombong dan angkuh yang ia miliki membuat keluarga pun enggan untuk mendekati nya. hal ini bukan tanpa alasan karena nenek dan kakek Eza memang tidak terlalu memperdulikan nya karena sikap nya yang berbeda hingga membuat Tante Rita berambisi untuk berkuasa di keluarga nya.
namun takdir berkata lain ia tetap saja dijauhi dan dikucilkan dalam keluarga nya karena mereka sangat tidak menyukai sikap dan sifat Tante Rita.
"kaki nya masih sakit sayang?"
"masih mas, gimana ya aku mau sholat."ucap Nadira pelan
"sayang mau sholat?"
"iya mas."
"ya udah ayo aku bantu ke kamar mandi untuk ambil wudhu."
"baik mas."
Nadira pun berjalan menuju kamar mandi dengan di bantu suami nya. setelah mengambil wudhu Eza mendekatkan kursi pada Nadira agar mereka tidak bersentuhan.
"mau sholat dimana?"
"di tempat tidur aja mas, nggak kuat kalau berdiri."
"ya udah sini, bentar ya aku ambil mukenah dulu."
setelah memakai mukenah, Nadira mulai melakukan kegiatan sholat nya. Eza tersenyum melihat ketaatan istri nya.
"ya Allah kuatkan selalu iman nya, mampukan lah ia untuk senantiasa bersujud kepada mu. hamba sangat bersyukur karena memiliki nya ya Robb."batin Nadira sembari tersenyum
tak lama kemudian Nadira pun sudah selesai sholat, Eza membuka mukenah yang Nadira kenakan.
"biar aku aja mas, tadi kan aku pasang sendiri."ucap Nadira
"nggak apa-apa sayang biar aku aja Sekalian aku kembalikan."
"ya udah dech makasih ya mas."
"iya sayang."
setelah itu mereka membaringkan tubuhnya, tak lama kemudian mereka sudah memejamkan mata hingga akhirnya mereka terlelap. eza membawa Nadira ke dalam pelukan nya.
__ADS_1
*****