
setelah beberapa hari Nadira tak pernah merasakan mual lagi namun hal ini berpindah dengan Eza. pagi-pagi eza selalu merasa mual dan lemas. Nadira kebingungan dengan kondisi Eza.
"mas kita ke dokter aja ya."ucap Nadira
"nggak mau sayang."
"ayo lah mas kalau ada apa-apa gimana?atau aku telpon Rehan aja ya."
"iya suruh Rehan aja kesini."
Nadira pun menelpon Rehan, tak lama kemudian Rehan pun datang karena jarak rumah mereka tidak terlalu jauh.
"kenapa kamu za?"
"ntah Han, beberapa hari ini aku sering mual dan lemas."
"hmm, seperti nya kamu ada gejala morning Sick Ness dech za, bukti nya sekarang Nadira tidak mual lagi malah berpindah dengan mu. hmm anak mu memang adil za mereka nggak mau kalau bunda nya aja yang susah, tapi mereka mau ayah nya juga."ucap Rehan tertawa
"dasar kamu Han, bahagia banget kayak nya."gerutu Eza sembari mengurut kening nya
"sabar dong pak, ini nggak akan lama kok hanya di awal kehamilan aja."
"iya han, mending kamu pulang aja dech daripada kamu terus mengejek aku."
"hahaha oke fine. aku akan pulang."
Rehan pun keluar dari kamar Eza, setelah mengantarkan Rehan ke depan Nadira kembali ke kamar.
"masih mual mas?"
"nggak sayang cuma lemes aja."
"kamu makan dulu ya, sebentar aku ambilkan."
"sayang nggak usah kamu jangan capek-capek."
"nggak apa-apa kok mas lagian cuma ngambil makan aja kok."
Nadira pergi menuju dapur untuk mengambil makanan untuk Eza. setelah itu Nadira kembali ke kamar dan menyuapi Eza.
****
drrrrtttt bunyi ponsel Nadira. ternyata itu telpon dari adik nya Viko
"hallo Assalamu'alaikum vik."
"wa'alaikumussalam mbak, mbak apa kabar?"
"Alhamdulillah baik, kenapa nih tumben nelpon."
"hehehe, nggak apa-apa mbak cuma kangen aja."
"eleh pasti ada mau nya ni."
"nggak mbak.hahaha."
"Yo wes, mama mana?"
"ada nih, kami lagi ngobrol di taman mbak."
"hidupkan speaker nya dong ada yang mau mbak sampai kan."
"oke, udah mbak."
"assalamu'alaikum mama, papa."
"wa'alaikumussalam nak, kenapa sayang?"
__ADS_1
"hehehe mama, Nadira ada kabar baik nih."
"apa tuh?"
"aku hamil ma."
"hah, apa mbak?"
"mbak hamil. Alhamdulillah."
pak Ahmad dan Bu Alya serta adik-adiknya mengucapkan syukur dan menangis haru.
"mama jangan nangis, Alhamdulillah ma. sebentar lagi mama sama papa akan jadi kakek dan nenek."
"iya nak Alhamdulillah, semoga kamu selalu sehat ya nak. Eza mana?"
"ada ma, mas Eza mabuk. hahaha."
"lho kenapa?"
"nggak tau ma, kata Rehan sih morning sick ness jadi dia gantiin aku mual pagi-pagi hahaha."
"ya Allah sabar ya bang."ucap Viko mereka pun tertawa
"hahaha siap vik."
mereka pun tertawa bersama, setelah cukup lama telpon pun terputus.
"mau kemana sayang?"
"mau sholat mas, kan udah zhuhur."
"oh iya ya, aku juga mau sholat sayang."
kedua nya pun segera mengambil wudhu dan melaksanakan sholat zhuhur.
"mas masih mual nggak?"
"nggak sayang, kenapa?"
"nggak apa-apa, aku cuma kasihan aja sama kamu."
"nggak usah kasihan sayang aku ikhlas kok Nerima nya, daripada aku harus lihat kamu yang sakit lebih baik aku aja."
"hmmm, so sweet dech.hahaha."
"hehehe mulai dech."
"mas nanti pas tujuh bulan, aku mau pengajian sama adat gitu kan, sudah itu aku juga mau pake baby shower."
"iya sayang semua nya boleh."
"mas, nanti setelah anak kita lahir apa kamu akan tetap sayang sama aku?"
"lho kok ngomong nya gitu, masih lah sayang kapan pun aku akan tetap sayang."
"tapi kan biasa nya seorang suami itu akan berubah kalau udah punya anak."
"ins syaa Allah nggak sama aku sayang, aku akan menyayangi dan mencintai kamu dan anak-anak kita."
"hmm, iya mas."
"udah nggak usah mikir yang aneh-aneh ya sayang."ucap Eza sembari mencium ubun-ubun Nadira
"mas."
"iya sayang."
__ADS_1
"nanti kalau aku di suruh memilih untuk lahiran normal dan Cesar aku akan memilih lahiran normal mas."
"tapi itu kan lebih beresiko sayang apalagi baby nya kembar."
"nggak apa-apa mas, tapi aku mau lahiran normal ya."
"iya sayang, tapi tetap harus dengerin kata dokter dulu."
"iya mas, mas kalau misal nya nanti kami berdua ibarat nya sudah sama-sama di penghujung nyawa, siapa yang akan lebih dulu kamu selamat kan? anak apa aku?"
"sayang itu adalah pilihan yang berat lho."
"ayo jawab aja mas."
"hmm, aku akan lebih dulu selamatkan kamu."
"hah? kenapa?"
"ya sebenarnya aku nggak bisa milih, keduanya penting bagi aku tapi jika memang Allah berikan pilihan maka aku akan selamatkan kamu dulu karena kasar nya gini aku nggak bisa membesarkan anak-anak kita tanpa kamu dan aku juga nggak mau cari bunda lain untuk mereka, kalau anak ketika dia di ambil lagi sama Allah tapi nanti ins syaa Allah pasti Allah ganti lagi tapi kalau aku harus kehilangan kamu aku nggak bisa sayang dan aku menyadari itu. tapi ini cuma kalau diberi pilihan ya. aku akan selalu mendoakan kalian semoga selalu sehat dan lancar sampai lahiran."
Nadira hanya terdiam dengan penjelasan Eza, ada rasa haru di hati nya namun jika yang di suruh memilih maka dia akan lebih dulu untuk menyelamatkan anak nya.
"sayang, kok diem"
"hehehe, nggak apa-apa mas."
saat mereka lagi mengobrol tiba-tiba terdengar suara keributan di depan.
"apa itu mas?"
"nggak tau sayang, kita lihat ke depan yuk."
mereka pun turun ke lantai bawah.
"kenapa mbok?"
"diam den, lebih baik non sama Aden jangan keluar bahaya."
"bahaya kenapa mbok?"
"di luar lagi ada keributan den, bahaya mereka membawa senjata tajam tadi mang Karyo lihat sendiri mereka bawa pisau den."
"gara-gara apa sih mbok?"
"cerita nya ada anak tetangga kita nabrak orang na terus sih anak tetangga ini kabur maka nya di kejar orang sampe sini."
"astaghfirullahaladzim, terus mang Karyo mana?"
"ada non, udah pergi ke belakang."
"ya udah kunci aja pintu nya mbok"
"sudah non."
terdengar suara mobil polisi datang, tembakan demi tembakan peringatan sudah mengangkasa semua orang disana terdiam.
"mas mau kemana?"
"mau keluar sayang."
"nggak boleh, kalau kamu keluar aku juga akan keluar."
"iya iya nggak sayang."
Nadira dan Eza serta mbok Atun dan mang Karyo hanya mengintip di jendela, mereka takut untuk keluar ternyata diluar memang begitu ramai.
*******
__ADS_1