
Minggu telah berganti tak terasa hari pernikahan Eza dan Nadira tinggal satu hari lagi hampir semua persiapan sudah dilakukan. keduanya akan melangsungkan pernikahan di sebuah gedung yang ada di kota itu.
hari ini Nadira dan Eza akan pergi ke gedung dimana tempat mereka akan melangsungkan pesta pernikahan. sesampainya di gedung Nadira begitu terpukau dengan dekorasi yang ada di gedung itu.
"Masya Allah cantik banget mas."
"kamu suka?"
"suka banget."
namun sebelum ke gedung Nadira akan melangsungkan akad nikah di rumah nya. begini dekorasi di rumah Nadira. semua nya serba putih dengan hiasan bunga-bunga yang cantik.
setelah dari gedung kedua nya mampir ke rumah Rehan dan juga Rani.
"Assalamu'alaikum Han."
"wa'alaikumussalam za. eh ada Nadira juga ayo masuk."
"terima kasih mas, mbak Rani nya ada?"
"ada, sebentar ya aku panggilkan silahkan duduk."
Rehan memanggil Rani di kamar nya.
"hai mbak Rani, apa kabar?"
"baik Ra, kamu sendiri apa kabar?"
"Alhamdulillah baik juga mbak."
"cie calon manten udah nggak sabar lagi dech buat lihat kalian lusa."
"hehehe Dateng ya mbak kemarin pas kami lamaran mbak nggak Dateng."
"heheh iya maaf Ra, kemarin mbak sakit."
"iya mbak nggak apa-apa. gimana mbak udah isi?"
"Alhamdulillah Ra."
"Masya Allah selamat ya mbak semoga baby nya sehat dan tentunya mbak juga sehat."
"aamiin terima kasih ya Ra."
Eza dan Rehan melihat kedekatan kedua nya hanya tersenyum.
"jadi kan kita besanan za?"
"apaan sih Han, anak juga belum lahir kok."
"iya nggak apa-apa, orang tua nya kan udah dekat nih tinggal anak nya lagi."
Nadira dan Rani hanya tertawa mendengar ocehan Eza dan Rehan. setelah cukup lama mereka di rumah Rehan dan Rani kedua nya pun pamit pulang.
sesampainya di rumah Nadira, Eza tidak mampir lagi karena ia mau ke rumah sakit dulu untuk mengajukan surat cuti.
di rumah sakit, Eza membawa beberapa undangan lalu membagikan nya dengan teman-teman nya.
__ADS_1
"selamat ya dok, ins syaa Allah kami pasti datang kok."
"terima kasih awas aja kalian nggak datang."
"hehehe siap dok."
****
di tempat lain Mira sedang menyusun baju di lemari namun tiba-tiba Mira menemukan sebuah buku yang menurut nya begitu aneh. Mira langsung mengunci pintu dan kemudian ia membuka buku itu. betapa terkejut nya Mira ketika ia melihat isi buku tersebut. buku itu berisi tentang curahan hati Rangga terhadap Nadira yang tak lain adalah sahabat nya sendiri.
"ya Allah tega kamu mas."teriak Mira dengan air mata yang sudah membasahi pipi nya.
"kamu juga Ra, aku benar-benar nggak habis pikir kalau kamu akan mengkhianati aku seperti ini."
terdengar dari luar suara Rangga memanggil Mira. mendengar suara itu Mira langsung membuka pintu, Rangga yang melihat Mira menangis merasa heran.
"sayang kamu kenapa nangis.?"tanya Rangga sambil memegang tangan mira
namun Mira langsung menepis tangan Rangga
"hei sayang, kamu kenapa hmm?cerita sama aku?"
"hebat kamu ya mas, kamu udah bohongi aku selama ini."
"astaghfirullahaladzim, bohongin apa sayang?"
"kamu masih ngelak mas, ini apa mas?"bentak Mira dengan memperlihatkan sebuah buku diary
"astaghfirullahaladzim aku bisa jelasin sayang."
"apa yang kamu mau kamu jelasin mas, semua nya sudah aku baca. pantas saja setiap kamu bertemu dengan Nadira sikap kamu langsung berubah ternyata kamu mencintai dia? kenapa kamu nggak bilang dari awal mas."teriak Mira
"bukan cuma kamu tapi Nadira juga adalah pengkhianat."teriak Mira
"astaghfirullahaladzim Mira istighfar."bentak Rangga
"oh kamu sudah berani bentak aku demi membela perempuan itu?"ucap Mira dengan senyum getir di bibir nya
"aku bisa jelasin semua nya, maka nya kamu dengarin aku dulu."
"nggak, aku nggak mau dengar penjelasan apapun dari mulut kamu mas semua nya sudah jelas dengan buku ini."
"Mira jangan langsung emosi seperti ini."
"terus aja kamu bela perempuan itu, lihat apa yang akan aku lakukan dengan nya."teriak Mira
emosi Mira benar-benar sudah memuncak seolah-olah itu bukan lah diri nya. Rangga yang melihat itu berusaha untuk menenangkan Mira.
argh argh teriak Mira
perut nya terasa keram dan darah pun sudah mengalir di sela-sela kaki nya.
"astaghfirullahaladzim sayang."
"sakit."ucap lirih Mira yang sudah jatuh di lantai
tanpa pikir panjang Rangga langsung menggendong Mira dan membawanya ke rumah sakit. sesampainya di rumah sakit Mira langsung diperiksa oleh dokter.
setelah beberapa menit kemudian dokter pun keluar menemui Rangga.
"dok, bagaimana keadaan istri saya?"
__ADS_1
"maaf mas untuk saat ini istri anda masih kritis dan bayi di kandungan nya tidak bisa kami selamatkan."ucap dokter
bak disambar petir di tengah hari perasaan Rangga benar-benar hancur ada rasa penyesalan di hati nya.
"yang sabar ya mas."ucap dokter
Rangga masih terdiam di tempatnya, kaki nya gemetar.
"ya Allah apa yang harus aku katakan dengan nya."ucap Rangga
Rangga pun masuk ke dalam ruangan Mira, Mira terlihat begitu pucat. Rangga duduk di samping Mira dengan air mata yang terus mengalir.
tak lama kemudian Mira membuka mata nya, kepala nya terasa pusing.
"aku dimana?"tanya Mira lirih
"sayang Alhamdulillah kamu sudah sadar."
"ngapain kamu disini hah."teriak Mira
"anak aku."ucap Mira sambil memegang perutnya
"anak aku mana hah, jawab."teriak Mira
"sayang sabar istighfar."ucap Rangga sambil berusaha untuk memeluk Mira
namun Mira memberontak terhadap pelukan rangga hingga akhirnya Mira mengalah dan menangis di pelukan rangga.
"sayang maafin aku ya."ucap Rangga lirih
"anak aku mas."
"iya sayang, ikhlasin ya."ucap Rangga
"wanita itu harus merasakan apa yang aku rasakan mas."
"sayang istighfar nggak boleh kayak gitu."
"dia sudah membunuh anak aku mas."
"sayang kamu harus ingat dia itu sahabat kamu."
"nggak dia bukan sahabat aku tapi dia tak lebih dari seorang pengkhianat."
"ya Allah, sayang jangan emosi jangan mengambil keputusan yang nanti nya bisa membuat kamu menyesal."
"nggak aku nggak akan menyesal dia harus merasakan rasa sakit yang aku alami mas."
Rangga memilih untuk diam dulu, karena ia tau Mira masih dalam emosi yang tinggi. Rangga akan berbicara lagi setelah Mira merasa tenang.
"udah ya sayang kamu istirahat dulu ya." ucap Rangga sembari membaringkan tubuh Mira
"mau minum nggak?"tanya Rangga lembut
Mira menggeleng kan kepala nya.
"ya udah kalau gitu kamu tidur aja dulu ya, aku mau sholat dulu."
Mira pun menurut dengan ucapan Rangga.
*****
__ADS_1