
tak terasa usia kehamilan Nadira sudah memasuki bulan ke sembilan , dokter pun mengatakan kalau Nadira akan melahirkan beberapa hari lagi. pak Ahmad dan Bu Alya sudah berada di kota B. Nadira begitu sangat bersyukur karena ia akan di temani oleh orang tua nya.
pagi ini Nadira sedang berada di kamar, setelah Eza berangkat ke rumah sakit Nadira kembali ke kamar untuk beristirahat.sementara Bu Alya sedang masak di dapur.
namun tiba-tiba Nadira merasa mulas dan ia pun pergi ke kamar mandi. tapi tidak hanya itu Nadira juga merasakan sakit di bagian bawah perut nya.
"astaghfirullahaladzim. mama."panggil Nadira yang membuat Bu Alya kaget
Bu Alya pun langsung ke kamar Nadira, ia terkejut melihat Nadira yang sudah kesakitan
"astaghfirullahaladzim nak,papa."panggil Bu Alya panik
"aduh ma sakit."ucap Nadira lirih sembari memegang tangan mama nya
"ya Allah nak, ini belum waktu nya kamu buat lahiran."ucap Bu Alya semakin panik
"aduh ma, Nadira udah nggak sanggup lagi, ini sakit banget ma."
"ada apa ma, astaghfirullahaladzim."ucap pak Ahmad dan vino
pak Ahmad dan vino langsung mengangkat tubuh Nadira dan membawa nya ke rumah sakit.
"sabar nak."ucap Bu Alya khawatir
"astaghfirullahaladzim ma, perut Nadira sangat sakit ma."ucap Nadira dengan keringat yang sudah membasahi keningnya
"sabar sayang sebentar lagi kita sampai di rumah sakit nak."
"mama kalau Nadira nggak selamat, tolong maafin Nadira ya ma."
"kamu nggak boleh ngomong kayak gitu nak, kamu akan selamat.bertahalah sayang."
tiba-tiba pandangan Nadira menjadi gelap, keringat dingin telah menyelimuti tubuh nya
"astaghfirullahaladzim Nadira bangun nak, cepetan pa."teriak Bu Alya
tak lama kemudian mereka pun sampai di rumah sakit,para perawat langsung membawa brankar dan membawa Nadira ke ruang UGD.
sementara vino langsung menghubungi kedua Abang nya yang masih bekerja.
"permisi Bu."ucap suster
"iya sus, gimana keadaan anak saya sus."
"maaf Bu, dokter meminta ibu sama bapak untuk ke ruangan dokter."
__ADS_1
"baik sus."
pak Ahmad dan Bu Alya langsung menemui dokter.
"silahkan duduk Bu."ucap dokter Rina
"terima kasih dok, bagaimana keadaan anak saya dok?"tanya Bu Alya sedih
"jadi begini Bu, pak setelah saya periksa ternyata di rahim mbak Nadira terdapat tumor ganas.dan kita harus segera melakukan tindakan, namun."ucap dokter Rina terhenti
"kenapa dok?"
"kita hanya bisa menyelamatkan satu di antara kedua nya Bu, karena tumor itu sudah menyebar di rahim nya."
"astaghfirullahaladzim apa tidak bisa untuk menyelamatkan kedua nya dok?"
"bisa saja Bu, tapi itu sangat kecil kemungkinan."
"ya Allah, Anak kita pa."teriak Bu Alya dengan tangisan yang tidak bisa digambarkan lagi
pak Ahmad memeluk istri nya itu, perasaan nya juga hancur tapi dia tidak bisa melakukan apa-apa.
"sabar pak, Bu. silahkan bapak dan ibu putus kan karena kita harus segera melakukan tindakan operasi."
"apa tidak bisa untuk menunggu suami nya dulu dok?"tanya pak Ahmad
"baik selamat kan cucu saya dok."ucap pak Ahmad sembari menutup mata nya
"baik pak, kalau begitu kami akan segera melakukan operasi."ucap dokter Rani sembari meninggalkan kedua nya
sementara Bu Alya terdiam mendengar keputusan suaminya
"papa nggak sayang lagi sama Nadira ya pa?"tanya Bu Alya lirih sembari tersenyum getir
sementara pak Ahmad hanya menangis
"maaf kan papa ma, semua ini papa lakukan karena permintaan putri kita.beberapa hari yang lalu Nadira ngobrol sama papa. dia bilang kalau papa nanti diberikan pilihan untuk menyelamatkan Nadira atau anak Nadira maka selamatkan lah anak Nadira."jelas pak Ahmad
"ya Allah pa, mama nggak mau kehilangan anak mama."teriak Bu Alya histeris
pak Ahmad mencoba untuk menenangkan istri nya itu, kemudian kedua nya pergi ke ruang operasi.ternyata disana sudah ada Eza dan Viko. eza yang melihat mertua nya langsung berlari ke arah mereka
"ma,gimana keadaan istri Eza ma,pa?"tanya Eza yang sudah menangis
"maafkan papa za, dokter mengatakan kalau mereka hanya bisa menyelamatkan satu di antara kedua nya karena di rahim Nadira terdapat tumor ganas."ucap pak Ahmad lirih
__ADS_1
"nggak mungkin pa, lalu siapa yang papa pilih pa?"tanya Eza
"papa memilih untuk menyelamatkan anak kalian."
"astaghfirullahaladzim pa,gimana mungkin Eza akan membesarkan anak-anak Eza tanpa Nadira pa."ucap Eza yang sudah jatuh ke lantai
kedua adik Nadira pun sudah tak tahan untuk menahan air mata nya, mereka juga ikut menangis.
"kita berdoa saja nak, semoga Nadira selamat."ucap Bu Alya
mereka pun duduk di kursi tunggu depan ruang operasi, Eza tak henti-hentinya berdoa dan menangis. ia tak pernah membayangkan betapa hancur hidup nya tanpa Nadira disampingnya.
Rehan serta teman-teman lain nya sudah datang ke rumah sakit, mereka berusaha untuk menguatkan Eza dan keluarga Nadira.
setelah beberapa jam di ruang operasi, akhirnya dokter pun keluar dari ruang operasi.eza tidak beranjak dari tempat duduk nya karena ia tidak mampu mendengar suara dari dokter Rina.
"keluarga pasien."
"bagaimana keadaan anak dan cucu saya dok?"ucap Bu Alya
"Alhamdulillah Bu, kedua bayi kembar nya selamat, kedua nya sehat.tapi."ucap dokter Rina yang tiba-tiba terhenti
"tapi apa dok?anak saya baik-baik saja kan."
"tapi maaf kami sudah berusaha semaksimal mungkin namun Allah berkata lain mbak Nadira tidak bisa diselamatkan."
bagaikan disambar petir di siang hari,Bu Alya sudah tak dapat menahan kesedihannya,tak lama kemudian Bu Alya pun sudah tidak sadarkan diri. suara tangis, marah menjadi campur aduk di depan ruang operasi itu.
Eza yang mendengar ucapan dokter Rani tidak bisa berkata apa-apa lagi, nafas nya terasa terhenti, perasaan nya benar-benar hancur.
"za, istighfar kamu harus sabar."ucap Rehan yang sudah ikut menangis
"kamu harus lihat anak-anak kamu za."ucap Rehan lagi
Eza menatap Rehan dengan tatapan yang sulit di artikan.
"bagaimana mungkin aku bisa melihat anak-anak aku sementara istri aku udah pergi."ucap Eza
"za istighfar, kamu harus sabar za."
"sabar kata mu Han?kamu bisa ngomong sabar karena kamu nggak di posisi aku."ucap Eza
"za aku tau perasaan kamu, tapi kamu juga harus tetap kuat karena anak-anak kamu butuh kamu za."
terdengar suara bayi menangis di dalam ruang operasi, membuat eza tersadar bahwa sekarang ia benar-benar sudah menjadi ayah.
__ADS_1
"permisi pak, anak nya sudah boleh untuk di adzan kan karena kami akan segera mengurus jenazah Bu Nadira."ucap perawat
****