
Seminggu kemudian...
Sesuai kesepakatan, aku dan Andra pergi ke pantai. Pantai yang sama seperti dulu saat Andra memberikan sebuah kalung yang sampai hari ini masih melingkar di leherku.
Aku ingin sekali menikmati masa-masa berdua bersama dengan Andra di sini. Membangun kenangan yang sudah jarang kami lakukan, semenjak tinggal di rumah baru, aku hamil, dan Andra yang lebih sibuk sekarang.
Aku ingin saat si kembar lahir nanti, mereka juga akan merasakan bagian dari kenangan tempat ini. Kenangan yang terukir indah, meskipun tak berbekas.
Saat dulu.. Ayah dan ibu masih ada, aku sering di ajaknya kemari. Menikmati suasana pantai yang indah, bernyanyi bersama dengan iringan gitar dari Andre.
Aku juga suka, main istana pasir bersama Andre, biasanya, dia selalu tidak mau mengalah dan ingin.menjadi pangerannya. Sayang, saat itu Andra tidak ada di antara kami. Mungkin kalau kami bertiga bersama, akan lebih seru. Bisa jadi mereka rival seperti sekarang.
"Sayang, coba lihat ini.." Teriak Andra yang berjarak tidak jauh dariku. Aku melihat dia menuliskan nama kami berdua di atas pasir pantai yang basah. Dia juga menggambar empat kepala yang menggambarkan aku, dia dan si kembar, di bingkai dengan garis yang di bentuk love.
Aku menggunakan baju santai, berbentuk seperti daster dengan bahan kaos dingin bercorak bunga dengam warna dasar merah. Di kepalaku bertengger topi dengan bentuk melebar, untuk menahan terpaan sinar matahari secara langsung.
"Bagus, mas. Aku suka," Komentarku singkat sambil terus melihat ke arah tulisan buatan Andra. Aku semakin tidak sabar menanti kelahiran si kembar. Mungkin Andra juga merasakan hal yang sama.
__ADS_1
"Ayo, main air. Pegang tangan, mas terus ya..." Andra menggandengku erat, ia membawaku berjalan mendekati air. Dia tahu, aku mempunyai trauma terhadap air laut karena pernah hampir tenggelam, makanya dia menyuruhku untuk memegang tangannya erat.
Perlahan, kami menyentuh dinginnya air laut. Aku tidak berani memandang ke laut lepas. Aku menempelkan sebelah telingaku ke dada Andra. Mendengarkan detak jantungnya yang normal, sambil berusaha menenangkan diriku dari gejala trauma yang sepertinya masih terasa dengan jelas.
"Sayang, kamu harus lupakan kejadian burukmu di masalalu. Sekarang ada mas, yang selalu jagain kamu. Coba, buka mata kamu pelan-pelan, terus lihat ke lautan luas sana, indah kan?" Aku mengikuti instruksi Andra. Meskipun bayangan tenggelam itu masih terbayang, tapi aku memaksakan diri dan berusaha.
"Kak Andre...!" Aku berteriak. Aku tidak bisa melupakan saat itu. Dimana aku hampir saja tenggelam dan Andre menyelamatkanku. Aku menutup kedua telingaku dalam dekapan Andra.
"Maaf, mas.. Aku nggak bisa, aku kita keluar dari air mas, aku takut..." Aku memeluk Andra erat. Tubuhku gemetar, begitulah reaksiku saat melihat air dalam jumlah banyak dan luas.
"Ayo, sini.. biar mas bantu..." Andra membawaku keluar dari air. membawaku ke tikar awal kami duduk di pinggir sana.
"Jadi, waktu itu, aku dan kakak sedang bermain pasir, saat itu, jarakku dengan bibir pantai sangat dekat, mas. Lalu, ada ombak besar yang menggulungku ke tengah, untung saja, kak Andre berhasil menarikku, setelah suaraku hampir habis memanggil namanya," Aku Menceritakan kejadian di masalalu, memang seperti itu kejadiannya, hanya saja bagian Andre hampir memberiku nafas buatan, aku hilangkan.
"Pantas saja, kamu tidak bisa melupakan kejadian itu. Kalau mas jadi kamu juga pasti akan merasakan hal yang sama, untung saja kak Andre berhasil menyelamatkan kamu, Sayang.." Andra tampak simpati dengan hal yang baru saja ku ceritakan. Di masalalu, memang aku sangat dekat dengan Andre, bahkan Andra sudah tahu itu.
"Susah, mas. Aku sudah berusaha untuk melupakan kejadian itu, tapi aku masih tetap inget sampai sekarang. yang selalu terbayang adalah saat aku tergulung ombak, itu yang paling aku takutkan," Aku masih mengingat dengan jelas semuanya tanpa lupa sedikitpun.
__ADS_1
"Gimana kalau kita ke penginapan dulu, biar kamu sedikit tenang? Maaf, Sayang, mas sudah memaksakan kamu untuk rileks. Perutmu nggak ada terasa sakit atau kram, kan?"Andra mengkhawatirkan kandunganku, untungnya aku tidak merasakan apapun. Perutku baik-baik saja.
"Ya sudah, mas. Ayo kita ke penginapan dulu," Aku dan Andra bergandengan tangan menuju penginapan yang letaknya sedikit lebih jauh dari bibir pantai.
" Sayang.." Andra memanggilku pelan.
"Ada apa, mas?" Aku bertanya padanya dengan serius.
"Serius, mas pengen tau, Kamu dulu sama kakak beneran belum pernah jadian?" Andra tampak serius, aku malah tertawa kecil menanggapinya.
"Dulu, kan aku masih anak-anak, jadi kakak lebih memendam perasaannya, kalau perhatian, memang dari dulu perhatian, mas. Aku tahu dia suka sama aku ya, waktu udah nikah sama kamu , waktu itu." Aku mwnjawab dwngan santai pertanyaan dari Andra. Aku merasa sedikit bertanya-tanya, kenapa dia ingin tahu tentang Andre?
"Pantas saja, kakak tidak berhasil melupakanmu, pasti dia sudah memendam perasaan padamu dengan sangat lama. Saat itu, mas juga kaget, saat dia menelepon untuk menggantikannya menikah denganmu, dia berpesan supaya aku menjagamu dengan sebaik-baiknya. Makanya, pas ada skandal Siska itu, dia sampai tonjok aku. Mas lihat, kakak memang sangat tulus sama kamu, sampai rela sakit hati separah itu untuk kebahagiaan kamu. Bisa di bilang, mas egois. Seharusnya saat itu mas balikin kamu sama dia di awal, tapi gimana ya, udah terlanjur cinta," Andra sedikit malu mengungkapkan kalimat terakhirnya.
Hidupku memang ajaib. Aku berada di antara dua orang yang sama-sama mencintaiku. Baru beberapa saat ini aku sedikit lega karena telah mencarikan tambatan hati untuk Andre.
"Aku tahu itu, Mas. Tapi mau atau tidak, aku harus memilih kan? Saat itu aku memang sempat meragukanmu, tapi melihatmu yang tidak mau menceraikanku, aku sedikit sadar, bahwa kamu juga butuh aku, terlebih kamu adalah suami sahku." Aku merangkul lengan suamiku itu mesra. Aku berharap, tidak akan pernah terpisah lagi darinya. Selalu bahagia sepanjang masa.
__ADS_1
"Saat itu, aku dudah sangat takut, kamu meninggalkan aku. Aku tidak ingin kembali kehilangan kebebasan dengan hidup sebagai gigolo. Bersamamu, aku jadi punya keberanian untuk menentang kakek, membawaku dalam kehidupan normal yang bahagia," Aku memandang wajah Andra saat mengatakan ini.Dia begitu bahagia.
Sampai saat ini, hubungan Andra dan kakek belum juga ada kemajuan. Keinginan kakek untuk minta maaf dan menjalin hubungan baik dengannya juga di tolak. Sepertinya, luka di hati Andra tidak akan terobati dalam waktu yang tidak bisa ditentukan.