
Waktu menunjukkan pukul 19.00 wib. Setelah melewati berbagai rutinitas tadi siang sekarang saatnya bersantai. Aku dan Andra duduk berdua di depan tv di ruang keluarga. Aku sengaja membeli berbagai macam camilan sebagai stok. Lalu membuka salah satu bungkusnya dan memakannya berdua.
Andra sedang memilih siaran apa yang akan ia pilih untuk di tonton. Kesana kemari aku sampai jenuh melihatnya mengganti siaran berulang-ulang.
"Mas, udah ih, di ganti melulu. Mana yang mau mas tonton sebenarnya?"Omelku sedikit kesal.
"Aku mau cari siaran olahraga sayang. males nonton sinetron. Terlalu banyak drama. Harusnya kan simpel aja, ga usah ada konflik, langsung tamat," Protesnya. Aku sebagai penggemar sinetron tentu saja tidak terima.
"Kalau pengen begitu, bikin aja sendiri mas, tonton sendiri. Mau sinetron, novel atau komik sekalipun, semuanya harus ada konflik. Karena konflik itu yang bisa bikin dia jadi greget. Kalau lempeng aja malah bosen. Monoton." Sahutku penuh semangat. Aku sangat tidak suka kepada orang yang tidak menghargai karya orang lain. Sementara dirinya belum tentu bisa membuat karya yang lebih baik dari orang yang ia hinakan itu.
"Iya, maaf. Mas yang salah. Nggak akan lagi kritik karya orang. Mas juga ga bisa bikin sinetron. Bisanya cuma nonton," Andra mengalah.
"Maaf juga ya, mas. Mungkin kata-kataku ada yang kasar. Aku memang tidak suka pada orang yang suka menghina karya orang lain," Kataku jujur. Akhirnya kami berdua sepakat untuk melihat ajang menyanyi yang di adakan oleh salah satu stasiun tv.
"Ting..tong.." Bel rumah kami berbunyi. Aku dan Andra saling pandang. Penasaran siapa yang datang.
"Biar mas aja," Katanya seraya bangkit dari duduknya. Aku mengikutinya dari belakang. Andra menarik gagang pintu dan membukanya. Kami berdua syok. Di balik pintu itu Ada kakek dan empat orang pengawal pilihan dan tentu saja ada chatrine. Aku bersembunyi di punggung Andra, sementara suamiku melindungiku.
"Kakek, jangan apa-apakan Sila. Dia sedang mengandung anakku. Bawalah aku saja kek, asal jangan dia," Andra memohon. Kali ini ia terlihat sangat rela menghamba pada kakeknya agar melepaskan aku. Sang kakek hanya tertawa terbahak-bahak. Lalu berjalan masuk mengabaikan kami berdua.
Kakek bahkan duduk tanpa di persilahkan. Sepertinya kakek sudah lama menyelidiki kehidupan kami. Aku dan Andra hanya menatap aneh Si Kakek. Apa sebenarnya tujuannya kemari? atau dia akan benar-benar mencelakaiku karena Andra menolak Chatrine dengan kasar?
"Andra, duduk di samping kakek. Kakek mau bicara padamu,"Kata kakek tua itu dengan tatapan sedikit aneh.
"Aku tidak mau,"Jawab Andra tegas. Ia menolak untuk berdekatan dengan kakek bar-bar itu. Ia berusaha untuk tetap melindungi aku. Kakek malah semakin tertawa dengan keras hingga memekakkan telinga.
"Apa Kakekmu ini sudah membuatmu ketakutan?" Kakek menatap ke arah kamu dengan serius. Aku merinding melihatnya.
"Kakek tidak bosan menggangguku? Aku sudah menikah Kek, aku sudah punya keluarga dan sudah dewasa. aku ingin Kakek membebaskan aku," Andra memberanikan diri untuk bicara dengan Sang Kakek. Tapi lagi-lagi Si Tua itu terkekeh. Aku lama-lama muak melihat tingkahnya. Kemudia ia berjalan ke arah kami. Aku semakin menyembunyikan diriku.
"Kakek merindukanmu, Nak," Tanpa di sangka, kakek memeluk Andra dan menyeka airmata yang mulai merembes di bawah kacamata bulatnya.
"Maafkan cara Kakek yang sangat menakuti kamu dan juga istrimu. Kakek juga minta maaf atas semua kesalahan Kakek," Lelaki tua itu tampak tulus. Mungkin dia benar-benar merindukan cucu kesayangannya itu. Tapi aku tidak suka dengan caranya mengirim wanita itu. Aku menatap Chatrine tajam.
"Chatrine ini sepupumu, Andra. Apa kamu sama sekali tidak mengenalinya?" Andra berpikir sebentar, untuk mengingat siapa Chatrine.
"Anak Om Bimo?" Tanyanya kemudian.
"Ingatanmu bagus nak, ayo sekarang kita duduk. Ada yang harus kakek bicarakan padamu," Kali ini barulah Andra mau mengikuti langkah Kakek untuk duduk di sofa kami.
__ADS_1
"kakek mau menyerahkan ini," Kakek menyodorkan beberapa berkas pada Andra.
"Lima puluh persen kekayaan kakek untukmu. Empat puluh persen sudah kakek berikan pada Andre dan sepuluh persennya untuk biaya hidup Kakek. Sekarang aku akan tinggal selamanya di indonesia ikut orangtua kalian. Aku sudah melepas bisnis-bisnisku dan ingin menikmati hidup di masa tua dengan nyaman," Kakek menyandarkan Punggungnya pada dinding sofa. Aku lega pada akhirnya permasalahan yang mencuat sudah teratasi. Aku juga bisa kembali menikmati hidupku tanpa harus di kawal.
"Kakek, jangan membohongiku dengan tipuanmu. Aku tidak ingin bermain-main denganmu," Andra tetap tidak percaya dengan perubahan yang ada dalam diri kakeknya. Ia merasa kalau kakek hanya sedang mempermainkannya saja seperti biasanya.
"Jangan berfikir buruk padaku, Andra. Memang benar aku di masa lalu pernah melakukan berbagai kesalahan dan juga kejahatan, tapi kakekmu ini pada akhirnya juga ingin hidup yang sama seperti orang lain. Damai dengan anak dan cucu serta cicit nanti yang akan aku dapatkan darimu. Aku benar-benar sudah berubah Andra," Kakek coba meyakinkan Andra. Tapi ia tetap tidak percaya.
"Pergilah kek. Bawa hartamu ini. Aku tidak membutuhkannya. Apa yang kumiliki sekarang sudah lebih dari cukup. Aku tidak ingin terlibat dengan masalahmu lagi." Andra justru mengusir Kakek dan tidak mau membuka hatinya untuk memaafkan tua renta itu. Aku paham, mungkin di masalalu, Kakek pernah melakukan sebuah kesalahan besar yang membuat Andra tidak bisa melupakannya hingga sekarang.
"Andra, apa kamu benar-benar membenciku sekarang? Ku bahkan sudah minta maaf padamu, tapi kami juga tidak memperdulikan aku?" Kakek tampak memelas. Andra tetap kekeh dengan pendiriannya. Ia menolak Kakek dan juga pemberiannya.
"Sudahlah Kek, pergilah. Aku sudah cukup puas kau permainkan. Bahkan puncaknya kamu sudah merusak rumah tanggaku, membunuh anakku, apa kau belum puas?!" Hardiknya kesal. Kakek hanya diam. Mungkin ia juga menyadari kesalahannya di masa lalu hingga cucunya kini tidak bisa menerima kehadirannya.
"Maafkan kesalahan kakek yang begitu banyak padamu, Andra. Aku fikir, selama ini aku melakukan semuanya untuk kebaikanmu. Tapi kini aku sadar, aku hanya menyiksa dan memanfaatkanmu sebagai penghasil dolarku. Aku tidak pantas di akui sebagai seorang Kakek. Aku minta maaf Andra. Kakek pamit..." Kakek melangkah dengan gontai dengan tongkatnya keluar dari rumah kami. Aku sebenarnya tidak tega, tapi aku tidak bisa berbuat apapun. Mungkin Andra juga butuh waktu untuk bisa menerima Kakeknya kembali.Aku sendiri masih belum mengerti, apa yang terjadi di masalalu antara Andra dan kakek.
"Mas, ayo masuk," Aku menggamit lengan Andra dan membawanya masuk kembali setelah melihat Kakek benar-benar pergi.
Andra duduk dengan gusar. Ia masih tampak marah pada Kakek. Emosinya tampak belum padam. Aku hanya bisa diam dan menemaninya. Aku tidak berani berkata apapun. Takut salah dan menyinggung perasaannya.
"Aku belum bisa menerima Kakek. Aku takut dia hanya menjebakku." Andra berkata dengan nada sedikit kasar. Masih dikuasai oleh emosinya yang membara.
"Setiap orang kan bisa saja berubah, mas.Tanpa terkecuali kakek.Mungkin dia benar-benar berubah, mana kita tau? iya kan?" Aku berkata dengan sangat hati-hati, takut menyinggung perasaan Andra yang tampak sangat sensitif malam ini.
"Mas, aku paham sekarang. Kenapa mas tidak bisa menerima kakek dengan mudah. Semoga suatu saat mas bisa membuka hati mas untuk kakek. Sesakit apapun perasaan mas di masalalu, kakek tetaplah orang yang berjasa dalam hidup, mas.Merawat mas hingga tumbuh dewasa. Bisakah mas anggap itu sebagai balas budi?" Tanyaku padanya. Dengan nada suara yang tetap lembut. Aku tahu hatinya saat ini sddang terluka. Luka lamanya terbuka kembali.
"Butuh waktu yang panjang untuk melupakan trauma ini, sayang. Sentuhan tante-tante kesepian, para gadis yang butuh belaian, membuatku merinding. Aku susah payah untuk mempertahankan keperjakaanku. Makanya saat aku diminta Kakak untuk menikahimu, aku segera melakukannya. Terlebih, aku memang menyukaimu saat pertama mengintaimu sebelum pertemuan itu. Aku tidak ingin sampai malam berhargaku berakhir di kamar hotel bersama wanita-wanita itu." Curhatnya padaku. Aku sedih mendengarnya.
"Kamu tahu, jika aku menolak untuk pergi bersama wanita yang mem-booking-ku, maka malam itu juga,aku menerima hukum cambuk. Seluruh tubuhku terluka. Hanya wajahku yang aman, karena wajahku ini aset yang dimiliki oleh kakek.Aku memilih tidak menceritakannya padamu, karena aku ingin menyimpan rahasia itu sendiri." Ceritanya lagi.Aku ingat, memang ada beberapa bekas luka yang ada di beberapa bagian tubuh Andra. Aku tidak menyangka sekejam itu Kakek pada cucunya sendiri.
"Kenapa, mas tidak melawan? Mas bisa kabur meninggalkan kakek, kan?" Tanyaku. Andra tersenyum kecut.
"Sekali aku berani keluar dari rumah kakek, aku akan melewati berhari-hari di kurung dalam ruangan bawah tanah sampai aku memohon padanya untuk di lepaskan. Lebih cepat memohon, akan lebih cepat pula aku keluar dari sana." Andra meneruskan ceritanya. Matanya bahkan memerah menceritakan semua itu. Aku sendiri sampai tidak bisa membayangkan seberapa besar menderitaannya dia di masalalu.
Aku memeluknya erat. Aku tidak sanggup lagi mendengarkan cerita kekejaman kakek lagi darinya. Aku ingin membalut luka yang ada di hatinya saat ini. Aku ingin menjadi obat atas rasa sakit yang dia alami sekarang.
"Cukup mas, jangan bicara lagi. Aku tidak ingin mas semakin terluka jika terus menceritakan kisah masalalumu itu. Aku tidak akan memaksamu, mas. Biarlah waktu yang akan memperbaiki hubungan kalian di masa mendatang." Kataku sambil memeluk lengan suamiku itu.
"Kamu lihat bekas-bekas luka ini, sayang. Bagaimana aku bisa melupakannya begitu saja?" Andra menyingkap bajunya dan menunjukkan perutnya yang kotak-kotak tapi terdapat banyak bekas luka cambuk di sana-sini.
__ADS_1
"Kalau bekasnya saja sampai seperti ini, berarti kakek mencambukmu sampai berdarah-darah dong, mas?" Aku kembali penasaran dengan cerita Andra yang tadinya aku ingin akhiri.
"Tentu saja, sayang. Rasa perihnya bahkan sampai berhari-hari, makanya aku lebih memilih menurut daripada di siksa seperti ini, sayang.." Aku mengelus bekas luka itu. Aku bahkan bisa membayangkan kepedihan yang dia rasakan saat ini.
Aku pikir, dengan merawatnya dari bayi, Kakek akan sangat menyayangi Andra. Tapi yang terjadi justru sebaliknya. Andra hanya di siksa dan menjadi mesin uang Sang Kakek. Terlebih lagi, ia harus di jual untuk menemani wanita-wanita kesepian.
"Mas, yuk, kita pindah ngobrol ke kamar aja. Kamu harus menenangkan perasaanmu, mas. Aku mau mengobati luka hatimu," Kataku dengan nada genit. Andra yang tadinya cemberut kini tersenyum. Kami berdua bergandengan naik ke atas menuju kamar.
"Mas, gimana trik kamu bisa menghindar saat di goda wanita kesepian itu? " Aku kembali bertanya padanya saat kami berdua sudah ada di atas ranjang.
"Aku kasih mereka minuman yang sudah aku campur obat tidur. Aku sudah menyiapkannya sebelum aku di bawa kencan oleh mereka."Jawab Andra dengam bangga menceritakan taktiknya lepas dari terkaman para wanita penggoda.
"Hebat banget mas pertahananmu, nggak bereaksi saat di belai-belai mereka," Ledekku.
"Reaksi sih, tapi aku kan masih waras, sayang. Mana mungkin aku berhubungan dengan wanita yang lebih pas jadi mamaku?" Celotehnya sambil tertawa geli.
"Oh, jadi kalau yang nggoda seumuran, kamu mau juga mas?!" Aku pura-pura ngambek.
"Mau lah, buktinya mas mau kan sama kamu? Soal wanita yang begituan, mas sih nggak selera. Mau dia seumuran atau apapun itu," Andra malah meledekku.
"Mas..."
"Hmm..."
"Aku merasa beruntung, bisa memiliki suami sepertimu mas. Kamu udah limit banget, mungkin udah nggak ada lagi yang bisa sepertimu,"
"Benarkah?" Sahutnya singkat, seperti sedang mengabaikan aku.
"Bener nih, aku di cuekin?" Aku memandang wajah suamiku itu dalam-dalam. Ia masih saja pura-pura cuek tanpa ekspresi. Aku jadi mempunyai sebuah ide jahil dan sedikit nakal.
Aku pura-pura tidur setengah miring dan memeluknya. Menjadikan dadanya sebagai bantal. tanganku memeluknya di perutnya. Lalu secepat kilat aku memindah posisi tanganku dari perut ke gundukan celananya dan memberikan pijatan yang membuat Andra tidak bisa mengabaikanku.
"Sayang.. berani ya," Protes Andra berbalik menghadapku.
"Makanya, jangan coba-coba mengabaikan aku, kena kan?" Aku tertawa, sementara Andra mendelik jengkel dengan keisenganku. Justru wajahnya menjadi semakim imut.
"Tanggung jawab," Andra pura-pura memarahiku.
"Nggak. Aku mau tidur," Aku masuk ke dalam selimut.
__ADS_1
"Jadi sekarang berani menolakku? Baiklah... Coba, masih mau menolak atau nggak," Andra menggelitiki seluruh badanku sampai aku kaku. Ini kelemahanku. Terpaksa akupun menyerah dan bertanggung jawab karena telah membuat Andra gelisah.
Aku senang, malam itu aku dapat menghapuskan kesedihan dan luka yang tadi membayang di pelupuk matanya. Aku juga bersyukur karena ia sudah terbebas dari cengkraman kekuasaan Kakek.