
POVAndre
"Vallen, bangun. Tumben, kamu belum bangun jam segini? Kamu lagi nggak enak badan?" Aku membangunkan Vallen yang tidak biasanya bangun siang. Sampai aku selesai mandi, istriku itu masih tertidur di dalam selimut.
Dia tidak menjawab. Aku penasaran, dan ku buka selimutnya. Aku terkejut saat mendapatinya pucat pasi. Ia seperti menahan sakit sampai tidak bisa berkata-kata.
"Vallen.. kamu kenapa? Apa yang kamu rasakan? Mana yang sakit? Katakan padaku," Aku sangat Panik, dia tidak mampu menjawab. Keadaannya sangat lemah. Hanya airmatanya yang meleleh di kedua sudut matanya.
Aku mengangkat tubuh Vallen dan membawanya keluar kamar. Tidak perduli dengan tampilanku yang baru pakai kemeja dengan rambut acak-acakan tanpa disisir.
Dia sakit Apa? Dia tidak pernah bilang kalau dia sakit. Aku hanya melihat dia selalu ceria dan bahagia. Tapi kenapa sekarang keadaannya sampai seperti ini?
"Pak, kita ke rumah sakit sekarang, istri saya drop," Aku menyuruh sopirnya untuk merubah tujuan. Hari ini aku tidak perduli lagi dengan kantor, rapat atau pertemuan penting. Hanya Vallen yang aku perdulikan. Bagaimana mungkin wanita yang biasanya selalu membuatkan kopi dan sandwich untukku sedang tidak berdaya dan aku meninggalkannya begitu saja?
"Baik, Tuan. Kenapa Nyonya, Tuan?" Tanya pak Ryadi padaku, bagaimana aku bisa menjawabnya? aku sendiri juga tidak tahu, mengapa Vallen bisa jadi seperti ini.
"Saya juga tidak tahu, Pak. Tolong kecepatan di tingkatkan, kita harus sesegera mungkin sampai rumah sakit," Aku membawa Vallen masuk ke dalam mobil. Wanita yang biasanya selalu cantik, hari ini ia tampak sangat berantakan, dengan wajah pucat pasi dan rambut yang berantakan.
Aku tidak bisa menahan airmataku. Bagaimana mungkin aku sampai tidak tahu kalau ia sakit separah ini? Apa aku kurang perhatian padanya? Apa aku terlalu sibuk kerja? Vallen, maafkan aku.
Beberapa menit kemudian, kami sampai di rumah sakit. Aku segera membopong tubuh Vallen yang semakin melemah memasuki area Rumah Sakit. Vallen, bertahanlah, aku tahu, kamu wanita yang kuat. Kamu pasti bisa melewati sakitmu sekarang.
Beberapa perawat membantuku menaikkan Vallen ke atas tempat tidur khusus pasien dan mendorongnya ke ruang ICU.
" Bukankah ini mbak Vallen?" Tanya deorang perawat kepada sesama perawat, rekan kerjanya. Aku merasa heran, mengapa ia mengenali Vallen?
"Betul, dia mbak Vallen, pasien dokter Hendra," Sahut teman si perawat itu.
"Maaf, Kalian mengenal istri saya?" Tanyaku penasaran. Aku menatap mereka dengan tatapan penuh tanya.
"Betul, Pak. Istri bapak adalah pasien dokter Hendra. Bapak tidak tahu, kalau Mbak Vallen ini mengidap kanker rahim stadium akhir?" Jawaban Sang perawat membuat perasaanku seperti tersambar petir. Jadi, selama ini Vallen selalu sakit perut karena dia mengidap kanker rahim? Aku sebagai suaminya tidak tahu, suami macam apa aku?!
Aku menatap wajah pucat Vallen. Aku hanya berharap dia selamat. Aku memegang rambulnya, baru aku sadari, rambut Vallen tidaklah asli. Aku memberanikan diri menarik rambut palsunya, dan ternyata, rambut Vallen hanya tinggal sedikit, hampir botak.
Rasanya sangat menyakitkan, saat orang yang sangat aku cintai harus mempunyai penyakit separah ini. Tuhan, aku mohon jangan engkau ambil Vallen. Aku akan menerimanya apa adanya, izinkan aku merawatnya sebaga bentuk rasa sayang dan balasan semua kebaikannya padaku.
Perawat-perawat itu melarangku untuk ikut masuk. Keadaan Vallen memang sangat kritis. Aku menghubungi Mama, papa, Anita, Andra dan Sila untuk datang ke rumah sakit, meskipun aku tidak tahu, apakah mereka semua bisa datang atau tidak. Mengingat Sila baru saja melahirkan.
Aku duduk pasrah di kursi tunggu. Sesekali aku memandang ke arah pintu berharap ada keajaiban. Vallen, tolong, bertahanlah sayang. Tetaplah hidup untukku. Jangan takut, aku akan tetap menerima kamu, meskipun kamu sakit. Rasa cintaku padamu tidak akan berubah, sedikitpun.
__ADS_1
"Kakak, bagaimana keadaan Vallen?" Sila dan Andra datang, tapi tidak dengan Mama. Mungkin mama menjaga si kembar, mereka belum punya pengasuh.
"Kritis," Aku tidak bisa mengatakan apa-apa lagi, bahkan saat itu, aku lebih cengeng dari seorang wanita. Airmataku seperti terus mengalir.
"Vallen sakit apa, Kak?" Gantian Andra yeng mengajukan pertanyaan padaku.
"Kanker. Vallen terkena kanker rahim stadium akhir," Aku semakin trenyuh. Andra merangkulku untuk memberikan dukungan. Aku melihat Sila menangis tersedu-sedu di bangku yang bersebrangan denganku. Aku paham, Vallen adalah sahabatnya, dia juga pasti merasa hancur karena ini.
"Sejak kapan, kak? Kamu tidak pernah cerita padaku," Andra pasti tidak menyangka, kalau aku tidak tahu sejak kapan Vallen mengalami sakit ini. Aku memang suami yang tidak peka. Aku kurang memperhatikan istriku sendiri.
"Aku tidak tahu, Ndra. Aku baru tahu hari ini, kalau Vallen pasien tetap di sini. Dia tidak pernah bilang apapun. Hanya sekali mengeluh sakit perut, tapi dia bilang itu terjadi karena datang bulan. Aku sempat tanya sama pembantu di rumah, dia bilang memang sering sakit perut, tapi dengan berbagai penyebab yang berbeda. Aku sempat curiga, tapi akhirnya aku malah berhenti curiga," Aku kesal jika mengingat saat itu. Ku seharusnya mencurigai Vallen. Apalagi dengan banyaknya obat yang ada di dalam laci.
"Sabar, kak.Vallen pasti akan bertahan untuk kakak.Doakan yang terbaik untuknya, Kak."Andra memberiku dukungan.
"Kak Sila, bagaimana keadaan Kak Vallen?" Aku melihat Anita datang bersama Bian. Ia mendekati Sila, sementara Bian bergabung bersama kami.
"Kata Kak Andra, keadaan Vallen kritis sekarang. Aku tidak menyangka dia sakit kanker dan merahasiakannya dari kita semua," Sila kembali terisak. Anita memeluk wanita itu.
"Kita berdo'a yang terbaik, Kak. Semoga Kak Vallen berhasil melewati masa kritisnya," Anita menguatkan Sila.
"Suami nyonya Vallen, silahkan masuk, pasien ingin bertemu," Dokter memanggilku. Aku segera masuk ke dalam ruangan tempat Vallen di rawat. Istriku itu memakai kembali rambut palsunya, entah meminta pda siapa, ia mengoleskan lipkrim berwarna merah muda ke bibirnya supaya tidak terlihat pucat. Ia menyambutku dengan senyuman, seolah tidak terjadi apa-apa.
"Sampai kapan kamu berpura-pura? Aku tidak butuh pasangan sok kuat. Aku juga ingin berguna untuk pasanganku. Kamu pikir kamu hebat, hingga menyembunyikan hal besar seperti ini dariku?" Aku marah. Aku maeah karena dia tidak mau berbagi rasa sakitnya padaku, padahal aku adalah suaminya, tapi aku tidak tahu, apa fungsinya aku untuknya.
"Kamu sudah tahu, kalau aku ini wanita yang penyakitan? Apa pendapatmu? Apa aku masih pantas untuk kamu cintai?" Vallen mengajukan pertanyaan yang menurutku bodoh.
"Aku tidak perduli, meskipun kamu penyakitan sekalipun aku masih tetap mencintai kamu. Kamu tahu, aku hancur karena kamu tidak mau berbagi cerita tentang penyakitmu ini padaku? Apa aku tidak pantas mengetahui semuanya?" Aku memegang erat tangan Vallen. Aku tidak perduli menunjukkan kelemahanku di hadapannya. Airmataku tak terbendung.
"Bukan, bukan itu alasannya aku merahasiakan ini darimu. Aku hanya ingin kamu selalu bahagia. Aku ingin kamu selalu tersemyum, aku mau..."
"Menukar seluruh kebahagiaanmu untukku? itu maksudmu? Vallen, aku ini suamimu, aku tempatmu berbagi. Di mana aku saat kamu kesakitan, kamu pikir aku tidak terluka karena kamu mengacuhkan aku?" Aku terus memprotes keputusan Vallen merahasiakan ini dariku.
"Andre, menemukanmu dalam hidupku yang singkat adalah sebuah keajaiban. Aku bisa menghabiskan sisa umurku untuk mencintai dan membuatmu mencintaiku adalah anugerah terindah. Jangan pernah merasa aku tidak menganggapmu, aku melakukan ini semua untuk kebaikanmu," Meskipun wajahnya nampak biasa saja, aku menangkap tangan Vallen meremas perutnya. Dia pasti kesakitan saat ini.
"Kalau nanti sku meninggal, Aku berharap, kamu bisa membuka hatimu untuk wanita lain. Kamu tidak perlu memperlakukanku sama seperti Sila. Aku tidak suka. Jika aku sudah tidak bisa membuatkanmu sarapan kesukaanmu, aku sudah menuliskan resepnya di notes kecilku." Vallen mulai menitikkan airmata. Wajah pucatnya sangat terlihat meskipun ia berusaha tegar.
"Tidak. Kamu tidak akan pergi kemanapun. Kamu akan tetap di sampingku, menemani aku sampai kita tua bersama. Berjanjilah Vallen, ku mohon..." Aku menciumi tangan istriku berulang-ulang. Aku tidak ingin kehilangannya, aku ingin merawatnya, aku inguin membalas semua kebaikannya dan juga kasih sayangnya.
"Aku mencintaimu, Sayang... Andre, tolong izinkan aku bertemu dengan Sila sekarang," Vallen mengabaikanku, dia justru menginginkan Sila menemuinya. Aku langsung bergegas memanggil Sila, dan membawanya bertemu dengan Vallen.
__ADS_1
Sila mengecup kening Vallen berulang, sangat terlihat ia begitu mencintai sahabatnya. Mungkin ini juga alasan kenapa Sila memilih Vallen untuk menjadi istriku. Dia pasti mengenal Vallen dengan sangat baik.
"Bagaimana keadaanmu?" Sila memulai obrolan pada Vallen.
"Sudah baikan, kok," Jawab Vallen yang sebenarnya adalah bohong.
"Sejak kapan?" Sila mulai menangis. Ia ingin tahu sejak kapan Vallen sakit.
"Sudah lama, jauh sebelum kita bahas soal Andre hari itu," Jawabnya lemah.
"Sila, aku sangat berterima kasih karena kamu telah memberiku kesempatan untuk mencintai Andre. Dia lelaki yang sangat luar biasa, aku bahagia pernah menjadi bagian hidupnya. Jika aku meninggal nanti, carikan seseorang yang pantas untuknya, sifatnya haruslah sepertimu. "
"Jangan biarkan fia merana, karena di saat itu terjadi, dia sangat jelek. Jauhkan dia dari perempuan matre, karena dia terlalu royal. Jagakan dia dan hatinya, jangan sampai jatuh pada orang yang salah," Vallen berpesan semua itu pada Sila. Dia bahkan menitipkan hatiku kembali pada wanita yang pernah aku cintai.
"Vallen, jangan bicara seperti itu. Kita masih akan sama-sama. Kamu bilang, kamu ingin menggendong si kembar, kan? jadi kamu harus bertahan," Sila berusaha tersenyum, saat menguatkan Vallen. Mati-matian Wanita itu menahan tangisannya yang pecah.
Vallen tidak menjawab, matanya terpejam. Ia lemah, sama seperti saat aku bawa ke Rumah Sakit ini. Alat penghitung detak jantung sudah berbunyi. Detak jantung Vallen telah hilang.
Aku memegang pergelangan tangannya, berharap masih ada denyut nadi di sana. Tapi nihil. Vallen telah benar-benar meninggalkan aku.
"Vallen...!" Aku berteriak sekuat tenaga. Suaraku mengisi seluruh ruangan. dua orang perawat mencopot alat yang terhubung ke badan Vallen. Ia tersenyum bagaikan putri tidur.
Baru sebentar aku memilikimu, sekarang kamu pergi meninggalkan aku, Vallen. Kenapa? Aku baru saja mulai mencintai kamu, tapi kamu mengabaikan perasaanku.
"Vallen, kenapa kamu tidak memberiku kesempatan untuk merawatmu sekali saja. Aku ingin menjadi bagian hidupmu saat kamu berjuang menahan rasa sakit yang kamu rasakan. Kenapa kamu lakukan ini padaku?" Aku hanya bisa meratapi jasad Vallen yang terbujur di hadapanku.
"Sabar, Kak. Mungkin kepergian Vallen, adalah jalan yang terbaik untuk kita dan untuknya. Kita harus mendoakan padanya yang terbaik," Sila menepuk-nepuk pundakku. Mentransfer kekuatan untukku yang rapuh. Selamat jalan sayang, do'a terbaikku untukmu. Aku bahagia, telah kamu cintai sedalam ini.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Halo PH lovers terus berikan dukungan kalian ya dengan cara like, comment, dan Fav. Dukung juga PH dengan cara membagikan tips berupa koin, setiap dukungan kalian akan sangat berarti untuk autor.
Dukung juga karya terbaruku:
My Workaholic Husband
Follow IG-ku @Ratuasmara_06
Terimakasih
__ADS_1