
Hani mengusap air matanya yang terus saja mengalir tanpa henti dari pelupuk matanya. Awalnya dia tidak bisa menahan rasa sedihnya saat melihat Alex menatap perempuan lain dengan tatapan penuh kerinduan seperti itu dan ditambah lagi ia melihat Alex dan perempuan itu berpelukan beberapa menit setelah dia meninggalkan ruangan itu, rasanya seperti dikhianati padahal ia tidak ingin bertingkah kekanakan seperti itu makanya dia hendak kembali masuk ke ruangan itu, namun kenyataannya dia melihat pemandangan yang sangat menusuk hatinya. Tentu saja dia bukan orang dengan hati sekuat baja yang bisa tetap tenang melihat calon suaminya memeluk perempuan lain yang tidak lain adalah mantan kekasih Alex sendiri. Itulah fakta yang membuat Hani semakin sakit hati.
Kini di benak Hani hanya ada pertanyaan tentang apa alasan sebenarnya Alex datang ke Paris, apakah hanya untuk menemui mantan kekasihnya itu atau ada alasan lain? Lalu kenapa pria itu sebelumnya tidak mengizinkannya untuk menghubunginya selama di Paris? Apakah dia sesibuk itu di Paris? Awalnya itulah pertanyaan yang muncul di benak Hani, tapi kali ini semua pertanyaan itu seolah-olah terganti dengan pertanyaan, apakah Alex ingin rujuk dengan mantan kekasihnya itu? Memikirkannya saja sudah membuat rasa nyeri di dada Hani bertambah berkali-kali lipat, bahkan sebelum dia mengetahui kebenarannya.
Tanpa disadari karena terlalu sibuk menangis, Hani baru tersadar jika dia sudah beradai di jalan yang entah di mana karena dia hanya terus berjalan tak tentu arah karena tadinya dia hanya kepikiran untuk pergi dan menenangkan diri. Kenyataanya dia malah panik karena tidak tahudia berada di mana. Di saat seperti ini dia takut membuat Alex khawatir dan hanya menyusahkan pria itu. Tapi dengan cepat Hani membuang semua pikiran itu karena dibandingkan mencari dirinya, palingan Alexmasih bersama mantan kekasihnya itu tanpa memerdulikannya.
Tidak tahu apa yang harus dilakukan, Hani memutuskan masuk ke kafe estetik yang dia lihat secara random di sekitar jalan di mana dia sedang berada. Daripada memikirkan Alex yang jahat itu, lebih baik dia mengisi tenaga setelah lelah menangis dan berjalan. Di otaknya hanya ada kata 'abaikan saja Alex seakan-akan sedang berlibur sendiri saja'.
Namun di hati terdalamnya, Hani tidak bisa menyembunyikan perasaan bersalahnya karena meninggalkan Alex begitu saja tanpa tahu apa yang sedang terjadi dan dia ragu apakah Alex mengkhawatirkannya atau tidak. Jika saja di tangannya sekarang ada pasport-nya, mungkin sejak tadi Hani sudah kembali ke Indonesia sendiri.Tapi memang semesta dengan bermain dengan hidupnya hari ini.
***
Alex mendesis pelan begitu selesai menanyai Chris tentang keberadaan Hani. Hasilnya nihil karena Chris nyatanya tidak tahu apa-apa. Ia juga sudah bertanya pada ibu Irene namun beliau bilang Hani pergi begitu saja denganmata berkaca-kaca. Itu semakin membuat Alex merasa bersalah karena dengan bodohnya dia bisa melupakan keberadaan Hani dan tidak menyadari kepergian gadis itu. Dia yakin Hani merasa kecewa kepadanya karena perlakuannya yang memang tidak masuk akal. Memang sejak awal seharusnya dia jujur dan meminta Hani untuk tidak ikut bersamanya agar tidak menoreh masalah seperti ini, namun dia bodoh saat berpikir bahwa tidak akan terjadi apa-apa padahal jelas ia tidak akan bisa menahan emosinya jika bertemu dengan Irene setelah sekian lama ditambah kecemasannya akibat rasa bersalahnya.
Melihat Hani tidak juga menjawab panggilan dan menjawab pesannya membuat Alex kehabisan akal untuk mencari calon istrinya itu. Dia bahkan tidak tahu harus mulai mencari di mana karena Paris terlalu luas untuk ditelusuri. Merasa sedikit putus asa, Alex melajukan mobilnya pelan menelusuri jalanan di sekitar toko bunga ibu Irene karena menurutnya Hani tidak akan pergi jauh. Dengan serius Alex menatap setiap sisi jalan namun nayatanya tidak semudah itu menemukan satu orang di tengah ramainya orang yang berlalu lalang. Tidak terasa langit mulai berubah menjadi mendung, sepertinya sebentar lagi akan turun hujan. Jam saja sudah menunjukkan pukul 15.00 waktu setempat dan itu artinya sudah tiga jam Alex mengitari daerah itu dan dia tidak mendapat hasil apapun.
__ADS_1
"Di mana kau, Hani?" lirih Alex, "maafkan aku yang brengsek ini."
***
Chelsa menatap pria tua di hadapannya kaget. Dia tidak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan papanya itu. Papanya bilang jika perjodohannya dengan Alex sudah dibatalkan. Mendengar hal mengejutkan itu tentu membuat Chelsa marah. "Apa Papa hanya bisa melakukan ini padaku? Aku sudah rela Papa menyerahkan perusahaan pada anak haram Papa itu, tapi kenapa satu permintaanku yang ini saja tidak bisa dikabulkan oleh Papa?" teriaknya tidak peduli dengan wajah terkejut papanya.
"Papa tidak bisa berbuat apa-apa. Alex sudah menemui Papa dan meminta perjodohan itu dibatalkan karena dia mengancam akan mencuri investor perusahaan kita. Kau sendiri tahu jika keadaan perusahaan kita sedang tidak baik dan itu artinya kita harus mengikuti permainan pihak yang lebih besar dari kita. Mengertilah, Chelsa."
"Papa selalu menuntutku untuk mengerti tapi Papa tidak pernah mengerti aku. Apa Papa mau melihatku gila?!" jerit Chelsa emosi.
"Jadi maksud Papa aku ini gila?" tanya Chelsa.
"Seharusnya kau tahu sejak kau mencoba mengakhiri hidupmu dulu," jawab papa lalu berlalu pergi meninggalkan Chelsa yang mematung.
Aku gila? Hah, dia bercanda, batin Chelsa lalu tertawa lantang.
__ADS_1
***
Hani menatap ponselnya yang terus bergetar sejak tadi. Ys, psnggilan dari Alex tentunya. Tapi Hani tidak berniat menerimanya dan memilih mengabaikannya karena dia ingin bersifat kekanakan kali ini denga balas dendam pada pria itu agar merasakan bagaimana rasanya diabaikan dan tidak dianggap. Meskipun sulit untuknya menahan diri agar tidak menekan tombol hijau di sana, namun kali ini dia ingin mengalahkan egonya sendiri untuk tidak selalu bersikap baik.
Karena hari mulai sore dan dikarenakan tidak ada tujuan, Hani memutuskan untuk pergi shopping karena hanya itulah satu-satunya cara agar dia bisa melupakah kegundahannya untuk sementara. Perihal apa yang akan dia lakukan nanti, biarlah itu menjadi urusan nanti. Dia harus menjadi keras kali ini agar Alex tidak bisa berbuat semena-mena padanya karena pada dasarnya dia adalah orang yang dominan dan itu artinya orang-orang harus melakukan apapun sesuai keinginannya, termasuk Alex juga.
Sembari memilih pakaian lucu di toko baju, fokus Hani terdistraksi saat mendengar notifikasi pesan. Di bisa menebak itu dari Alex.
**Alex** : Maafkan aku, Sayang. Aku mencintaimu.
Seketika hati Hani yang dia rancang agar menjadi keras pada pria itu seketika melemah karena dia bisa merasakan perasaan bersalah pria itu. Kini ia bimbang antara mengalah dan menemui pria itu atau tetap dengan tujuan awalnya menjadi keras pada Alex. Sungguh dia bingung sekarang.
***
[nah, besok aku berencana crazy up sebanyak 5 chapter, menurut kalian gimana?]
__ADS_1