
"Kak, jika memang kamu harus pergi sekarang, pergilah, terimakasih atas semua pengorbanan dan rasa cintamu padaku. Terimakasih telah memilihkan pasangan yang tepat untukku, Aku sayang padamu, sebagai seorang kakak Selamat jalan..." Aku berusaha setegar mungkin, sambil menahan airmataku yang hampir tumpah.
Tanganku yang terletak di dadanya merasakan sesuatu yang bergerak. Aku perlahan pun mendengar detak jantung Andra berbunyi. Apa dia mendengar apa yang aku ucapkan? Atau dia merasakan kehadiranku saat ini?
"Dokter, tolong periksa kembali. Saya mendengar detak jantung Kakak saya ada lagi," Aku menggoyangkan tangan Dokter yang sejak tadi masih ada di sampingku.
"Nona, anda jangan coba-coba mempermainkan kami, jelas-jelas pasien ini sudah tidak bernafas dan detak jantungnya sudah tidak ada," Dokter itu tidak mempercayai apa yang barusan aku dengar.
"Sekali saja, tolong dengarkan saya, Dok. Saya tidak mungkin membohongi anda," Aku coba tetap meyakinkan Dokter itu.
"Nona, saya tahu. Kehilangan kakak anda memang sebuah guncangan yang berat. Tapi saya harap, anda jangan berhalusinasi, Perawat, tutup kembali wajah pasien ini," Perintah Dokter itu. Aku yakin, aku tidak berhalusinasi. Tanganku merasakan ada gerakan di dada Andre.
Sebelum perawat itu menutup wajah Andre, kembaran suamiku itu memuntahkan darah segar yang mengalir di sudul bibirnya. Tangannya sedikit melakukan pergerakan.
"Dokter, ajaib. Denyut nadi pasien kembali!" Seru perawat itu dengan gembira. Tentu saja Sang Dokter segera mengarahkan stetoskopnya ke dada Andre. Kemudian ia tersenyum kepadaku.
"Maafkan kelalaian saya, Nona. Ternyata detak jantung pasien memang kembali." Arrgh, rasanya aku ingin mencubit Dokter itu. Dia tidak mempercayaiku sampai mengatakan bahwa aku berhalusinasi. Sungguh keterlaluan.
Andre di bawa masuk kembali ke ruang rawat. Andra, papa dan yang lainnya mengurus Mama, Vallen dan Anita yang tidak sadarkan diri. Seandainya mereka tahu kenyataan ini, pasti mereka akan sangat bahagia.
Aku sedikit lega, karena Andre masih ada kemungkinan untuk hidup. Rasa sesak dan sakit di dalam hatiku perlahan memudar. Perasaanku jauh lebih ringan sekarang. Aku kembali mengintipnya dari celah kaca di pintu.
Jarum infus kembali di pasang. Tidak ada alat lain yang di pasang. Mungkinkah keadaan Andre sekuat itu dalam waktu singkat? Aku melihat dia perlahan membuka mata. Dokter tampak bercakap-cakap dengannya meskipun responnya sangat lambat.
Beberapa saat kemudian Dokter itu ke arah pintu. Aku merasa dia akan menemuiku. Benar saja, Dokter itu menghampiriku.
"Maaf, apakah nama nona, Sila?" Tanya dokter itu dengan serius.
"Benar, Dok. Nama saya Sila. Ada apa?" Aku balik bertanya pada dokter itu.
"Dengan berat hati, saya beritahukan bahwa pasien yang anda sebut sebagai kakak anda itu, mengalami amnesia. Satu-satunya nama yang dia ingat hanya nama anda, Nona. Sesuai dengan hasil pemeriksaan saya, ia tidak hanya amnesia, tapi juga mengalami depresi yang lumayan parah, mau tidak mau, semua keluarga harus bertindak sesuai dengan ingatan pasien," Dokter itu menjelaskan panjang lebar padaku. Jadi Andre mengalami Amnesia dan hanya mengingat namaku? Kenapa tidak Vallen saja? Bukankah ia lebih pantas di ingat oleh Andre selain aku? Tapi baguslah, aku lebih bersyukur dia hidup Amnesia daripada ia harus mati mengenaskan. Setidaknya masih ada harapan untuk kami semua mengingatkan semuanya pada Andre, meskipun butuh waktu yang lama.
"Jadi, Maksud dokter tidak ada satupun yang dia ingat selain saya? Dokter yakin?" Aku bahkan balik meragukan Dokter yang juga baru saja meragukannya.
"Apakah Nona baru saja balik tidak mempercayai saya?" Dokter itu setengah menghardikku. Aku meresponnya dengan senyum tipis.
"Anda fikir, saya orang yang seperti itu? Saya hanya mengklarifikasi ulang bahwa apa yang saya dengar itu benar, Pak Dokter," Aku berusaha meyakinkan dokter itu bahwa aku sama sekali tidak bermaksud membalas apa yang baru saja terjadi di antara kami.
__ADS_1
"Baiklah. Maaf Nona, saya sedikit emosional hari ini. Betul sekali, yang di ingat oleh pasien hanya nama Anda. Bahkan nama orangtuanya pun dia tidak tahu. Saya merasa Aneh, seharusnya dengan keadaan separah itu, pasien akan kehilangan seluruh ingatannya." Ungkapan Dokter itu menimbulkan banyak dugaan di dalam otakku. Apakah perasaan cintanya padaku berpengaruh pada ingatannya? atau penyebab depresi beratlah yang membuatnya ingat padaku?
"Lalu apa yang harus saya lakukan sekarang?" Aku berkonsultasi tentang langkah terbaik yang harus aku ambil sekarang untuk menghadapinya.,
"Temui pasien sekarang juga, dia sangat membutuhkan dukungan anda, Nona," Dokter itu memberiku saran. Harusnya aku memberitahu Andra dulu tentang ini, tapi aku tidak punya pilihan. Aku mengikuti Dokter itu melangkah masuk ke dalam ruangan. Andre menatapku seperti biasanya. Saat dulu, sebelum kami sama-sama memiliki pasangan.
"Sila, sejak kapan aku disini? aku kenapa?" Tanyanya bingung dan menatapku dengan penuh rasa penasaran. Aku bingung harus bersikap seperti apa, kalau aku cuek, itu artinya aku menentang apa yang ada di pikiran Andre. Mungkin aku harus berpura-pura manis saja.
"Kakak baru saja kecelakaan, harus banyak istirahat, biar keadaan Kakak cepat pulih. Apa Kak Andre perlu sesuatu?" Aku berinisiatif mencari tahu apa yang dia inginkan saat ini. Semoga permintaannya masih di batas wajar.
"Aku kecelakaan? Pantas saja seluruh badanku terasa sangat sakit. Aku tidak perlu apapun, Sila. Aku hanya ingin kamu disini, menemaniku." Menemaninya? Baiklah, itu hanya permintaan yang sangat sederhana, aku harus memenuhinya, setidaknya aku harus mengirim pesan pada Andra bahwa Andre sudah siuman dengan keadaan amnesia dan hanya mengingatku. Setelah meminta izin pada Andre untuk mengirim pesan, aku segera kirim chat pada Andra.
"Di jarimu ada cincin pernikahan, apa kita sudah menikah?" Cecar Andre saat tanpa sengaja menyentuh cincin perkawinanku dengan Andra. Jika aku menjawab tidak, pasti itu akan menyulut emosinya, dan kalau aku bilang iya, tentu saja itu adalah kebohongan besar. Aku harus bagaimana.
"Ehm, Nona..." Dokter itu yanh sejak tadi masih mengawasi kami memberiku kode untuk berbohong. Maaf Andra dan Andre, aku terpaksa melakukan ini.
"I-iya kak, kita sudah menikah," Aku menjawab pertanyaan Andre dengan gugup. Semoga ia tidak menyadari kegugupanku ini. Bagaimanapun tujuanku hanyalah kesembuhannya.
" Sudah ku duga, pasti pernikahan kita sangat bahagia. Sayang sekali aku sama sekali tidak ingat. Di mana kita bulan madu?" Aduh, aku harus jawab apa? Bahkan aku dan Andra juga belum sempat melakukannya. Hah, baiklah, sepertinya aku harus menjadi ratu drama hari in
" Kita bulan madu di paris, kak." Jawabku singkat. Aku berbohong lagi. Andra tersenyum mendengar jawabanku. Ia tampak sangat bahagia. Semoga pertanyaannya cukup sampai di sini. jangan merembet kemanapun.
"Sekarang aku sedang mengandung. Lihatlah, janinku berusia empat bulan." Aku berdiri memamerkan perutku yang mulai buncit pada Andre.
"Sehat-sehat, Nak. Ayah menantimu lahir," Andre mengelua perutku. Sejujurnya aku ingin sekali menghindar, tapi, ini konsekuensi dari sebuah kebohongan.
"Iya, Ayah. Ayah jangan banyak bergerak dulu ya, masih sakit kan," Aku menaruh kembali tangan Andre ke sisinya. Dengan berkata lembut seperti itu, tentu saja Andre tidak akan curiga aku sedang menghentikannya.
Aku menerima pesan dari Andra kalau ia dan yang lainnya sudah ada di depan ruangan. Aku harus segera keluar untuk membicarakan ini pada Andra dan Vallen secara khusus, baru seluruh keluarga.
Aku meminta izin keluar pada Andre dengan alasan ingin pergi ke toilet. Untungnya dia mengizinkanku untuk pergi keluar. Aku segera melangkah keluar senatural mungkin agar dia tidak merasa curiga padaku.
"Mas, aku harus bicara padamu dan juga kamu, Vall, ayu kita ke taman," Aku berjalan mendahului mereka berjalan menuju taman rumah sakit. Aku mengatur nafasku dan hatiku. Ada kemungkinan, apa yang aku utarakan ini akan menuai kontra dari mereka berdua. Tapi disini aku juga bukan sedang mengambil keuntungan, aku hanya ingin membantu penyembuhan Andre.
Setelah menemukan tempat yang tepat untuk kami bicara, aku mengungkapkan semua yang telah aku lakukan pada mereka berdua. Awalnya mereka syok mendengarkan ceritaku, tapi akhirnya mereka berbalik mendukungku setelah aku memberitahukan apa yang Dokter itu katakan. Kesembuhan Andre tergantung seberapa bagus permainan peranku sebagai seseorang yang ada di dalam imajinasinya, lebih tepatnya aku yang dulu.
"Menurutku lebih baik kita tinggal berempat dalam satu rumah. Jadi kita bersandiwara dengan bertukar pasangan. Tapi ingat sayang, jangan sampai macam-macam," Andra memberiku peringatan, lebih tepatnya ia cemburu dan takut aku melakukan hal yang melenceng dengan kakak iparku sendiri.
__ADS_1
"Ya, aku setuju dengan Andra. Sebaiknya kita tinggal berempat sampai Andre kembali mengingat semuanya. Aku nggak akan sedih atau cemburu sama kamu, Sil. Aku tahu kamu pasti profesional dalam hal ini," Aku tahu Vallen juga akqn setuju. Tapi yang keberatan sebenarnya disini adalah aku. Aku harus berpura-pura menjadi istri orang lain di depan suami dan sahabat sekaligus istri asli orang tersebut.
"Baiklah, kita semua sudah sepakat. Jadi jangan sampai ada salah paham di antara kita. Kita berjuang bersama untuk kesembuhan Kak Andre. Sebelumnya, jika mungkin ada adegan yang sedikit aneh, seperti pegang tangan atau apa, plis, jangan pada marah. Aku hanya ekting." Aku sengaja mengatakan semuanya pada mereka supaya gamblang. Sebisa mungkin aku akan jaga jarak dengan Andre. Aku tidak ingin cari keuntungan dari kejadian ini. Aku juga bukan wanita tipe yang seperti itu.
"Iya, Sil. Nggak apa-apa, kok. Aku percaya kamu bisa melakukan tugas ini dengan baik. Aku berharap banyak padamu, Sil." Vallen memegang tanganku erat. Ia tampak pasrah dengan keadaan ini. jika ada pilihan lain, aku juga tidak ingin melakukan ini. Aku merasa seperti seorang penghianat sekarang ini.
"Aku juga, Sayang. Aku percaya padamu. Bantulah kakak, kesembuhannya tergantung dari kemurahan hatimu. Aku akan jauh merasa sakit saat Kak Andre benar-benar meninggal dan mama tampak sehancur tadi." Andra juga sudah pasrah. Mau tidak mau atau suka tidak suka, aku tetap harus menjalankan misi ini untuk keluarga besarku. Andra, Vallen, aku tidak akan mengecewakan kalian berdua. Aku akan melakukan yang terbaik untuk semuanya.
"Baik, Mas, Vall, aku akan melakukan semuanya untuk kebaikan bersama. Aku juga tidak ingin kalau sampai Kak Andre meninggal. Masih ada jalan untuk kita menyadarkannya kembali," Kataku dengan begitu yakin. Semuanya ini hanya sementara, sampai Andre sembuh, aku akan bisa bebas kembali.
"Sudah, ayo kita kembali ke dalam. Siapa tahu Kakak membutuhkanmu sekarang. Kamu harus jaga perasaannya, jangan sampai keadaannya memburuk lagi, sayang." Andra berkata dengan lembut padaku. Ia sangat berharap aku bisa membantu penyembuhan Andre. Yah, sebelumnya aku juga sudah pernah melakukan ini saat Andre buta dan lumpuh saat itu. Tapi ini sedikit berbeda. Aku harus bermain peran segala.
Kami bertiga bergegas kembali ke tempat semula, di depan ruang rawat Andre. Andra langsung menyuruhku untuk menemui Andre. Aku tidak bisa menolaknya, mungkin saja obat Andre perantaranya adalah aku.
Pernah dengar keajaiban cinta? ini yang sedang terjadi pada Andre. Cintanya yang sangat besar padaku menjadikannya terikat dengan jiwaku. Maka di saat ia tidak bisa mendengarkan siapapun, hanya orang yang di cintainyalah yang mampu menembus alam sadarnya.
Aku merasa beruntung, di kelilingi oleh orang-orang yang mencintai dan menyayangiku. Di dalam hatiku, telah tercatat bahwa, aku akan berusaha melakukan apapun yang terbaik untuk mereka, orang-orang yang mencintaiku, menyayangiku, siapapun itu. Termasuk Andre. Dia adalah orang yang pertama aku cintai dan yang mencintaiku dengan tulus tanpa pernah membuatku menangis sekalipun.
Kakak, cepatlah kembali seperti dulu. Kamu adalah pria yang kuat, tegar dan berlapang dada. Aku ingin kamu segera mengingat semuanya dan kembali kepada pasanganmu yang sebenarnya, yaitu Vallen.
Aku ingin kamu membuka kuncimu sendiri untuk bebas dari belenggu cintamu padaku. Aku sangat berterimakasih karena kamu telah mencintaiku sepenuh jiwa dan juga raga, tapi ingatlah bahwa tidak semua cinta itu bisa saling memiliki.
"Cklek.." Aku membuka pintu kamar rawat Andre. Ia tersenyum senang saat melihat aku datang.
"Darimana? Aku sampai rindu menantimu," Gombalan khas Andre. Baru dengar lagi setelah sekian lama.
"Ngantri, Kak. Makanya lama. Mau aku suapin makan?" Andre menggelengkan kepalanya pelan.
"Aku nggak mau makan sekarang, seluruh wajahku rasanya sakit," keluhnya, tentu saja, banyak luka goresan yang tertoreh di wajahnya.
"Kakak tahu tidak, walaupun wajahmu tergores, tetap saja tampan," Aku menggodanya, aku ingin Andre memiliki semangat untuk sembuh. Keadaannya memang cukup parah. Wajar saja kalau Dokter itu bilang, seharusnya ia lupa ingatan secara total.
"Pasti bohong, kan?Jangan-jangan nanti kamu cari suami lain yang lebih tampan dariku karena wajahku tidak setampan dulu," Celotehnya, aku hanya tersenyum. Seandainya dia suamiku, aku tidak akan meninggalkannya hanya karena dia cacat.
"Nggak akan, cuma kakak pria paling tampan di bumi ini," Aku membalas gombalannya, ia tertawa, sejurus kemudian ia meringis karena rasa nyeri yang terasa di pipinya.
"Terimakasih, Sila. Kamu memang wanita yang sangat baik dan tulus. Aku sangat beruntung memilikimu," Andre menatapku dengan susah payah karena penyangga lehernya yang masih terpasang.
__ADS_1
Baik Andra ataupun Andre, mereka berdua punya selera yang sama, cara mencintai yang sama, kata gombalan yang hampir sama. Rasanya tidak ada bedanya saat bicara dengan kalian di tempat yang berbeda.