Perfect Husband

Perfect Husband
PH | 47


__ADS_3

"Apa kau sudah menemui Irene?" tanya Chris pada Alex dengan suara pelan, takut Hani yang sedang mandi mendengar percakapan mereka.


Alex menggeleng, "Tadinya aku berencana menemuinya, namun aku hanya bertemu dengan ibunya. Dia sedang tidak di rumah saat itu," jawabnya santai.


Chris mendesis pelan, "Kecilkan suaramu! Bagaimana jika Hani tahu? Lalu apa yang akan kau lakukan jika Hani di sini?" tanyanya lagi masih dengan suara pelan sembari menatap pintu toilet di kamar itu.


Mereka bertiga sedang berada di kamar hotel Alex karena berniat makan malam bersama di dalam kamar saja berhubung di luar sedang hujan sehingga keadaan Paris cukup dingin saat itu.


"Hani sudah tahu tentang Irene," kata Alex seraya menghela napas, "seharusnya kau menghentikan Hani saat dia ingin ikut."


"Kau tahu sendiri jika calon istrimu itu tidak bisa ditolak keinginannya. Kurasa kau akan jadi suami takut istri saat menikah nanti. Dia sangat dominan," komentar Chris.


"Aku suka wanita yang dominan. Mereka sangat menggoda," senyum Alex penuh arti.


Chris terkekeh karena mengerti dengan senyuman sahabatnya itu, salahkan saja otak mereka yang terlalu mesum.


Tak lama terdengar suara langkah Hani. Chris langsung menjauh dari Alex lalu duduk dengan canggungnya. Hani menatap mereka heran, "Apa yang kalian lakukan? Kenapa kalian tiba-tiba canggung?" tanyanya sembari menginterogasi. Tangan kanannya terus menggosok rambutnya yang masih setengah basah.


"Keringkan rambutmu dengan hair-dryer Sayang, nanti kau sakit," pesan Alex.


Hani menggeleng kecil lalu mengambil pakaiannya dari dalam koper kecil miliknya, "Biarkan kering sendiri saja, toh kita masih makan malam juga."


"Apa kau yakin kau bisa menahan diri sekamar dengan Hani?" bisik Chris pada Alex. "Aku tidak yakin kau bisa menahan diri," tukasnya.


Alex terdiam, tidak menjawab pertanyaan Chris. Dia sendiri ragu pada dirinya. Entahlah, lihat saja nanti.


Suara bel terdengar, sepertinya makanan mereka tiba. Alex bergegas berdiri hingga Hani muncul lalu menghentikannya.


"Biar aku saja yang ambil," ucap Hani seraya berlari kecil menuju pintu kamar.


"Selamat malam, Nyonya. Ini makanan Anda," ucap bellboy ramah.


Hani tersenyum kecil, "Terima kasih."

__ADS_1


"Ini tiga porsi besar? Apa ini untuk Anda sendiri?" tanya bellboy itu penasaran.


"Ah, aku tidak sendiri. Dua pria di dalam perlu banyak makan," jawabnya lembut.


"D-dua pria?" Bellboy itu terlihat bingung.


Hani mengangguk.


*Bellboy* itu mengintip sedikit, melihat dua sosok pria gagah yang berdiri agak jauh di belakang Hani dengan wajah sangat, seolah mengusirnya melalui tatapan sinis mereka. Karena merasa terusik, bellboy itu langsung pamit pergi.


Hani mendecak kesal, "Pasti bellboy itu menganggap aku perempuan nakal karena berada di kamar yang sama dengan dua pria," dengusnya.


"Sudahlah Sayang, harusnya kau bersyukur karena dikelilingi pria tampan seperti kami," ucap Alex narsis membuat Hani langsung mencubit perut pria itu hingga Alex meringis kesakitan yang malah memancing tawa riang Chris.


Setelah makan malam, mereka memilih langsung tidur karena kelelahan dengan perjalanan ke mari. Chris kembali ke kamarnya, Hani tidur di ranjang, lalu Alex terpaksa tidur di sofa—sesuai perjanjian.


***


Paginya, sebelum memulai memulai hal yang harus mereka selesaikan, Alex, Hani dan Chris memilih sarapan dulu sembari membahas rencana mereka.


"Baiklah, aku akan pergi mencari Chelsa," ucap Chris akhirnya setelah mempertimbangkan rencananya dengan Alex.


Alex mengangguk kecil, "Aku akan pergi menemui Irene sesuai rencana," katanya lalu melirik ke Hani yang tampak kebingungan.


"Sayang, kau ingin ikut denganku atau dengan Chris?" tanya Alex sembari merapikan anak rambut Hani yang tampak sedikit berantakan.


"Tentu saja denganmu Alex. Kenapa aku harus bersama Chris?" jawab Hani cepat dengan tatapan tajam ke Chris. Dia masih dendam pada pria itu karena tadi pagi Chris memecahkan parfum barunya yang bahkan belum ia gunakan sekali pun, padahal parfum itu limited edition.


Chris hanya cengengesan karena dia sadar akan kesalahannya dan tidak berniat membela diri. Memang sifat teledornya sudah mendarah daging sejak dulu.


"Baiklah." Alex berdiri dari duduknya lalu mengulurkan tangan kanannya pada Hani, mengisyaratkan gadis itu untuk membalas uluran tangannya, "ayo kita pergi."


Hani dengan senang hati membalas uluran tangan itu bersamaan senyumnya merekah.

__ADS_1


"Apa kau serius membawanya untuk menemui Irene?" bisik Chris ragu.


"Apa boleh buat. Tidak ada pilihan. Kau urus saja Chelsa, nanti akan kutanya pada Irene apakah Chelsa sudah menemuinya," balas Alex kemudian berlalu pergi meninggalkan Chris yang mematung dengan wajah datar.


***


"Kenapa kita ke sini, Alex?" Hani bertanya sembari mengedar pandangannya. Alex tidak menjawab dan terus menggenggam tangannya erat lalu berjalan menuju ke arah toko bunga klasik di seberang jalan. Karena tidak tahu apa yang terjadi, Hani hanya terdiam.


Saat mereka masuk, terlihat toko itu cukup banyak pengunjung dan seorang wanita cukup tua yang tidak lain adalah ibu Irene sedang sibuk melayani pelanggannya.


"Kami datang Tante," sapa Alex ramah dan lembut.


"Oh, masuklah Alex. Aku sedang sibuk, Irene ada di dalam," ucap ibu Irene masih mengurus buket bunga yang ada di tangannya, tidak menatap Alex dan Hani sekali pun.


"Baiklah, Tan. Aku masuk dulu, selamat bekerja."


Alex langsung menarik Hani masuk ke bagian belakang toko itu. Saat mereka melangkah masuk ke dalam rumah itu, seorang sosok perempuan cantik langsung menoleh dan menatap mereka ramah. Saat itu juga Hani langsung jatuh cinta pada senyum manis perempuan berlesung pipi itu.


"Wah, dia sangat manis," cicit Hani memuji. Apa dia mantan kekasihnya Alex? tanyanya dalam hati.


Alex melepas genggaman tangannya dari Hani lalu menatap perempuan berambut pirang yang sedang duduk di atas kursi roda itu. Seketika tubuhnya bergetar namun dia masih dalam posisinya, mematung.


Hani bisa merasakan suasana aneh yang tercipta antara Alex dan perempuan itu. Keadaan yang tidak bisa dia mengerti. Rasanya seperti adanya kerinduan di balik manik mata dua orang itu, namun di saat bersamaan, terasa juga kesedihan yang sangat mendalam. Melihat itu sungguh membuat Hani merasa bingung dan terkucilkan. Seakan-akan dia hanya penonton di tempat itu yang sedang menunggu kejelasan cerita dari dua pemeran utama. Tanpa sadar Hani melangkah mundur dari posisinya. Dia menjauh dari Alex dan perempuan itu, pergi meninggalkan ruangan itu sebab dia tahu bahwa di sana tidak ada ruang baginya. Dia hanya orang asing.


Hani memegang dadanya yang tiba-tiba terasa nyeri. Dia marah pada dirinya tanpa sebab dan dia juga sedih karena untuk pertama kalinya dia melihat Alex—calon suaminya itu menatap perenpuan lain dengan tatapan penuh cinta selain dirinya. Sungguh itu sangat menyakitkan hatinya.


Saat ingin berlari meninggalkan tempat itu, langkah Hani terhenti ketika wanita tua yang terlihat baik itu menahan tubuhnya.


"Ada apa? Apa kau baik-baik saja?" tanyanya.


Hani menggeleng kecil. Air matanya terjun dari pelupuk matanya, "Tidak. Aku tidak baik-baik saja."


***

__ADS_1


[maaf ya late update, semoga kalian suka. jangan lupa like dan komentarnya]


__ADS_2