Perfect Husband

Perfect Husband
PH | 45


__ADS_3

Alex terbangun dari tidurnya. Selalu saja setiap malam dia memimpikan kejadian yang ingin sekali dia lupakan itu. Setiap tidurnya selalu dihantui oleh perasaan bersalah dan itu lah alasan mengapa Alex selalu kurang tidur karena dia tidak ingin melihat mimpi yang sama setiap malamnya.


Setelah perjalanan kurang lebih 16 jam, Alex akhirnya tiba di Paris. Kota cinta itu di mana dia meninggalkan cinta lamanya dan menemukan cinta barunya juga. Di saat seperti ini, dia tiba-tiba merindukan Hani. Padahal sebelumnya dia yang bersikeras untuk tidak dihubungi, namun mendadak ia ingin mendengarkan suara calon istrinya itu. Namun dia menahan diri karena dia harus mengurus peminjaman mobil dahulu sebab selama di Paris dia hanya sendirian, tidak ditemani Chris yang biasanya sudah mengatur semuanya. Beruntungnya dia pernah kepikiran untuk membuat SIM Internasional sehingga dia tidak perlu kewalahan tanpa kehadiran Chris.


Begitu selesai mengurus semuanya, Alex segera melaju menuju pusat kota. Dia ingin pergi ke hotel yang sudah dipesan oleh Chris sebelum dia memikirkan rencana selama di Paris. Sembari mengemudi menuju hotel, Alex mencoba menelepon Hani, berharap gadis itu tidak sedang sibuk sehingga mengabaikan ponselnya.


Senyum Alex merekah saat mendengar suara Hani menyapa meski pun sapaan Hani terdengar kasar namun itu membuat Alex tertawa kecil.


"Hei, kau bilang kita tidak boleh berhubungan selama kau di Paris. Lalu apa maksudmu ini? Kau ini seperti tentara yang kalah sebelum berperang tahu," ketus Hani dari seberang sana.


"Apa kau benar-benar tidak ingin berhubungan denganku, Sayang?" kekeh Alex.


Hani mendehem, "Tidak juga. Tapi ini bahkan belum sehari sesuai janji kita," tukas Hani lagi.


Alex tersenyum manis, "Aku hanya merindukanmu, Sayang. Apa salah jika aku merindukanmu?"


"Ah, jangan membuatku sedih Alex. Kita bahkan baru bertemu kemarin. Jangan membuatku ingin menghampirimu ke sana," Hani mendecak.


"Datanglah. Aku menunggumu di sini. Ayo kita mengulang kenangan saat kita pertama kali bertemu di sini, Sayang."


"Apa? Kau serius Alex?" Hani terdengar bersemangat.


"Tidak," sanggah Alex cepat, "aku hanya bercanda Sayang, jangan dianggap serius."


Hani mendecak kesal, "Ih, kirain serius."


Alex terkekeh kecil, "Tapi rasanya akan menyenangkan jika kau ada di sini, Sayang. Terlalu menyedihkan menghabiskan hari di kota cinta ini sendirian. Pasti akan berbeda saat kau di sini."


"Jangan salahkan jika aku tiba-tiba datang, Alex. Maka kau akan habis di tanganku," ancam Hani.


"Kau tidak mungkin datang. Kau kan sibuk dengan pekerjaanmu," ejek Alex lalu tertawa lantang.

__ADS_1


*"Aku bisa saja mengambil cutiku lagi, menggantikannya dengan cuti menikah kita nanti*. Itu berarti kita tidak bisa menikah, Alex." Hani balik mengancam.


"Wah, tidak bisa begitu Sayang. Pernikahan kita tidak bisa diganggu gugat, aku harus menikahimu bahkan jika kita menikah di rumah sakit sekali pun."


Hani terdengar tertawa renyah di seberang, "Apa kau sangat ingin menikahiku? Aku merasa tersanjung."


"Iya, Sayang," ucap Alex lembut. "Sayang, kita bicara lagi nanti, aku harus check-in hotel dulu."


"Apa aku boleh meneleponmu lagi nanti, Alex?"


"Tentu, Sayang."


"Baiklah. Love you, Alex," ucap Hani lalu segera memutuskan sambungan mereka.


Alex hanya bisa terkekeh geli melihat tingkah lucu calon istrinya itu.


***


Hani menatap Chris lekat, sedang menunggu jawaban dari pria itu.


"Ayolah, Chris. Ayo kite pergi ke Paris bersama lalu menemui Alex di sana," ajak Hani dengan senyum manisnya.


Chris tetap bersikeras dan menggeleng cepat, "Tidak. Aku tidak bisa. Kau harus bekerja."


"Masalah pekerjaanku itu urusanku, Chris. Toh, sebentar lagi juga aku akan mengambil spesialisku," ucap Hani berusaha meyakinkan.


"Jangan bersikap seperti ini kepadaku Hani. Jika kau seperti ini, aku yang repot dibuat calon suamimu itu," pinta Chris.


Hani menggeleng kecil lalu menatap Chris tajam, "Jangan buat aku melakukan hal yang akan membuatmu bahaya," ancamnya dengan senyum miring yang membuatnya terlihat menyeramkan di mata Chris.


"Apa itu?" tanya Chris gugup.

__ADS_1


"Aku akan mengatakan pada Alex jika kau menggodaku selama dia tidak ada di sini," kata Hani dengan senyum yang memperlihatkan kemenangannya.


Chris terbelalak, "Apa kau gila? Kaulah yang menggodaku Hani. Itulah yang kau lakukan sekarang kepadaku. Harusnya aku yang melaporkanmu kepada Alex," tukasnya sembari menatap Hani tidak percaya. Dia tidak menyangka Hani yang awalnya dia kira polos ternyata lumayan licik juga.


"Apa kau pikir Alex akan percaya jika aku yang menggodamu?" senyum penuh rasa kemenangan tidak juga luntur dari wajah Hani, "sudahlah, Chris. Menyerah saja."


"Memangnya apa yang akan kau lakukan di sana? Hm?" Chris mencoba mengalihkan pembicaraan.


Hani berpikir sejenak. Dia bahkan tidak memikirkan apa yang akan dia lakukan di Paris. Namun karena percakapannya dengan Alex terakhir kali, Hani jadi ingin pergi ke Paris. Jika ditanya untuk apa, dia sendiri bahkan tidak tahu. Yang dia tahu dia hanya merindukan Alex, sang kekasih.


"Aku hanya merindukan Alex. Aku rasa itu alasan yang tepat," kata Hani dengan wajah tidak berdosa.


Mata Chris membulat sempurna. Dia tidak menyangka dengan jawaban yang baru saja Hani lontarkan. "Jadi kau menyiksaku seperti ini hanya karena kau merindukan Alex? Apa kau manusia purba yang tidak mengerti bagaimana cara menelepon orang lain menggunakan ponsel? Apakah aku harus mengajarimu? Dia hanya pergi tiga hari. Apa kau tidak bisa menahan rindu selama tiga hari?" cerocosnya tanpa henti.


"Kau tidak akan mengerti karena kau single," ejek Hani seraya menyeruput jus jeruknya.


Chris mengaku kalah. Dia tidak sanggup melawan Hani lagi. Kini dia tahu kenapa Alex yakin ingin menikahi perempuan ini. Jawabannya adalah mereka berdua berasal dari spesies yang sama. Ya, sama-sama aneh dan keras kepala.


Menghadapi Alex saja sudah membuat Chris kewalahan. Nantinya setelah Alex menikah, dia harus berhadapan dengan Hani lagi. Membayangkannya saja sudah membuat Chris sia mengundurkan diri kapan saja.


"Bagaimana? Apa kau setuju?" tanya Hani dengan mata yang penuh rasa semangat.


"Iya, terserah kau saja Han," ucap Chris pelan.


Hani menjerit pelan. Dia senang karena akhirnya dia bisa menemui Alex di Paris dan itu berarti mereka bisa mengenang pertemuan pertama mereka di sana.


Chris menatap Hani datar. Dia tidak yakin apakah Hani tetap bisa sesenang itu saat melihat keadaan yang sebenarnya di mana dia akan melihat masa lalu dan keadaan Alex yang tidak pernah dia ketahui sebelumnya.


"Hani, kau harus siap-siap menerima kenyataan," peringat Chris serius.


"Apa maksudmu?" tanya Hani dengan alis bertaut.

__ADS_1


Chris menggeleng, "Tidak apa-apa," dustanya.


***


__ADS_2