
Cerita ini hanya fiksi, banyak adegan kekerasan. Bagi pembaca di bawah umur, harap bijak dalam memilih bahan bacaan. Terima Kasih
Alaia membuka matanya, rasanya tidurnya sangat lama tapi dia sekaligus merasakan nyenyak dan ketidaksadaran bersamaan. Dilihatnya Agam yang masih tertidur di sebelahnya, entah sejak kapan pria itu terlelap tapi Alaia yakin baru beberapa jam mengingat Agam yang memiliki insomnia parah.
Alaia turun dari ranjang menuju ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya serta menggosok gigi, matanya sedikit bengkak di bawah, dia harus mengoleskan krim di sekitar mata agar mendingan bekasnya. Setelah selesai dengan kegiatannya di kamar mandi, Alaia keluar, dilihatnya Agam yang berdiri didepan pintu kamar mandi, entah apa yang pria itu lakukan.
“Kenapa mas?.” Tanya Alaia bingung.
Tiba-tiba Agam memeluknya sangat erat, Alaia menepuk punggung Agam pelan. “Good Morning sayang...” suara berat khas bangun tidur Agam terdengar di telinga Alaia. Pelukan mereka kemudian terleap, Agam menatap istrinya lekat. “Maaf untuk semalam, aku janji tidak akan terulang lagi.” Ucap Agam tulus.
“Aku yang harusnya minta maaf, aku nggak biasa kayak gitu tapi entah kenapa semalam aku terlalu kekanakan, aku minta maaf.”
“Tidak salah sayang...” Agam tersenyum menyentuh pipi Alaia lembut.
Suara ponsel menghentikan kegiatan romantis mereka di pagi hari, Agam mengambil ponselnya di nakas kemudian menerima panggilan tersebut dari Liana.
“Pak Agam, salah satu karyawan kita ditemukan tak bernyawa di kamar hotelnya.”
Suara yang cukup keras dari ponsel Agam membuat Alaia menoleh ke arah suaminya.
“Saya akan kesana setelah menyelesaikan beberapa hal.”
“Baik pak.”
Panggilan tersebut berakhir, Agam meletakkan kembali ponselnya di meja.
“Kenapa mas? Siapa yang meninggal?.”
“Salah satu karyawan.”
“Aku ikut kesana.”
“Sayang...”
“Mas please...”
“Ya sudah, tapi hanya ikut dan tidak boleh ikut campur, karena ini bukan pekerjaanmu.”
Alaia mengangguk mengerti, mereka berdua mengganti pakaiannya dengan pakaian rapi, Alaia mengenakan celana jeans dipadukan dengan atasan hitam serta blazer senada. Sedangkan Agam mengenakan celana pandang di padukan dengan kaos navy dan juga jaket coklat. Keduanya keluar dari kamar hotel menuju ke resort.
__ADS_1
Area resort sudah dipenuhi dengan polisi, terutama kamar hotel tempat kejadian perkara yang sudah penuh dengan garis kuning, karena kejadian ini semua karyawan lainnya di pindah ke resort lain. Disana sudah ada Liana, kaki tangan Agam yang bertanggung jawab atas kasus ini.
“Selamat pagi pak.”
“Bagaimana keadaan yang lain?.”
“Semua sudah di pindah ke resort lain sesuai yang bapak perintahkan.”
“Kamu sudah menghubungi keluarganya?.”
“Dia anak yatim piatu dan tinggal sendiri, tidak ada keluarga lainnya pak.”
Selama berbincang dengan Liana, seorang polisi yang sepertinya detektif dalam kasus ini menghampiri Agam.
“Selamat pagi pak Agam, saya detektif yang bertanggung jawab atas kasus ini.”
“Selamat pagi, ada yang bisa saya bantu?.”
“Bisa bicara sebentar pak?.”
“Tentu.”
Agam membacanya hingga selesai dan memberikan kembali pada detektif tersebut.
“Dari lukanya, korban tidak bunuh diri, tapi surat ini mengatakan kalau korban bunuh diri. Namun ini benar tulisan tangannya bahkan korban juga menyimpan ini di dalam koper pribadinya.”
“Tolong di cek apakah dia benar-benar tengah mengandung.”
“Kami sedang dalam pemeriksaan lebih lanjut, jika bapak berkenan saya memohon bantuan Pak Agam sebagai penanggung jawab atas acara ini untuk ikut menjadi saksi.”
“Tentu, apapun itu saya akan membantu.”
“Terimakasih banyak pak.”
Agam tersenyum sambil mengangguk menjabat tangan detektif tersebut, lalu kembali menemui Alaia yang berbincang dengan Liana.
“Apa ada masalah mas?.” Tanya Alaia antusias.
“Tidak, hanya saja ada sedikit kecurigaan dari kepolisian antara bunuh diri atau pembunuhan.”
__ADS_1
“Tapi dari lukanya itu pembunuhan mas.”
“Ada surat bunuh diri sayang, jangan di pikirkan, biarkan mereka yang mengusut kasus ini hingga selesai.”
Alaia mengangguk, toh dia kesini juga untuk liburan, bukan untuk bekerja sebagai detektif kepolisian seperti biasanya. Mereka berdua meninggalkan resort untuk sarapan pagi, tidak jauh dari resort ada sebuah restaurant yang bisa di nikmati makanannya di pagi hari.
Masih dalam posisi yang sama, Cassandra datang bersama dengan manajernya, posisi tempat sudah penuh hanya ada dua kursi kosong di meja Agam dan Alaia. Mereka berdua, lebih tepatnya Cassandra yang lebih dahulu menghampiri meja Agam dan Alaia.
“Selamat pagi pak Agam.” Sapa Cassandra dengan manis, tanpa menyapa Alaia yang juga duduk meja itu.
“Pagi.” Jawab Agam sangat dingin.
“Pak, boleh gabung sama meja nya nggak? Soalnya semua sudah penuh.”
Agam melihat kearah Alaia yang nampak sangat tidak nyaman karena kehadiran Cassandra, namun Alaia berusaha menutupinya, dia masih tenang walaupun mengabaikan kehadiran Cassandra yang hanya menyapa Agam saja.
“Silakan.” Ucap Agam sambil tersenyum, namun detik berikutnya pria itu beranjak dari duduknya dan mengajak Alaia untuk pindah tempat makan, Alaia masih menyelesaikan setengah makanan tapi Agam yakin Alaia akan ikut dengannya.
Alaia juga beranjak dari duduknya menerima uluran tangan Agam yang mengajaknya meninggalkan resto tersebut, mereka mungkin tidak tau akan pergi ke tempat makan mana lagi, hingga dalam perjalanan Alaia melihat penjual makanan gerobakan di pinggir jalan bertuliskan bubur ayam.
“Mas, itu ada bubur ayam.” Alaia menunjuk makanan di luar mobil yang sudah kelewat.
“Pak berhenti sebentar.”
“Baik tuan.”
Mobil mereka berhenti dan Agam menoleh ke belakang, ada sebuah gerobak penjual bubur ayam di pinggir jalan sejujurnya Agam tidak ingin, karena menganggap makanan itu sangat tidak sehat dan banyak kuman karena lokasinya yang di pinggir jalan dengan tempat yang tidak bersih.
“Aku mau bubur ayam mas.” Ucap Alaia seakan Alaia tau bagaimana reaksi Agam.
“Baiklah.” Agam melihat kearah sopirnya yang ada di posisi depan “Tunggu di tempat yang tidak jauh pak, kita mau makan disana.”
“Baik tuan.”
Alaia dan Agam keluar dari mobil berjalan menuju tukang bubur yang ada di pinggir jalan tersebut, sebenarnya bukan hanya mereka saja yang beli, tapi banyak pembeli lainnya yang tengah mengantri. Buktinya mereka menunggu lumayan lama sekitar 15 menit hingga mendapatkan mangkuk bubur ayam di depannya.
Agam menarik mangkuk milik Alaia dan menyendok makanan di atasnya, memastikan kalau makanan itu baik-baik saja dimakan.
“Kenapa sih mas? Dulu aku sering makan makanan pinggir jalan juga kok, lagian aku pernah beliin kamu makanan di pinggir jalan.”
“Nggak papa sayang, memastikan aja kalau aman.”
Alaia hanya mengulas senyuman, dia bukannya tidak nyaman, malah sebaliknya, memiliki Agam adalah sebuah keberuntungan sekali seumur hidup bagi Alaia. Dia bukan hanya sebagai seorang suami dan teman hidup, tapi juga berperan sebagai orang tua yang melindungi Alaia kapanpun dan dari apapun.
__ADS_1