
Sepasang mata cantik itu terus menatap ke jam dinding yang cukup besar di hadapannya. Dia tidak sabar menunggu pukul 17.00 hingga dia bisa pulang saat itu juga. Tinggal 10 menit lagi sebelum dia benar-benar bisa pulang, Hani langsung bergegas ke ruangannya untuk berganti pakaian dari pakaian kerjanya di rumah sakit menjadi pakaian santai.
Saat ia masuk ke ruangannya, Aldo sudah menunggu di dalam ruangannya dengan senyuman manis menyambut kedatangannya. Pria tampan itu berdiri dari posisi duduknya lalu menghampiri Hani yang melipat tangan di depan dada. Hani masih marah kepada sahabatnya itu perihal Aldo memberitahu ke rekan kerja mereka di rumah sakit jika dia pergi ke Paris karena terlalu bucin dengan calon suaminya sehingga seharian dia mendengar cibiran dari teman-temannya seprofesi dokter meskipun Hani tahu mereka hanya bercanda tapi dia masih kesal dengan Aldo.
"Masih marah?" tanya Aldo menyengir, "yakin bisa marah lama-lama ke pria tampan sepertiku?"
Hani berdecak sebal dan kakinya dihentakkan kuat ke lantai tanda dia masih marah. Tanpa menjawab, ia berjalan melewati Aldo dan langsung ke ruang ganti. Dia sungguh tidak mau bicara dulu dengan Aldo.
Melihat tingkah Hani, Aldo hanya bisa menyungging senyum tipis. Sebenarnya dia tidak ada niatan untuk memberitahu itu ke yang lain, tapi karena kesal dengan keputusan Hani yang mendadak ke Paris hanya demi Alex, dia tidak bisa mengontrol diri dan berakhir dengan keceplosan mengatakan hal itu saat sedang makan malam bersama rekan dokternya. Tapi Hani sudah salah paham lebih dulu sehingga dia harus meluruskan semua kesalahpahaman agar tidak menjadi masalah di antara mereka berdua kelak.
Beberapa menit menunggu, Hani keluar dari ruang ganti. Aldo menaikkan satu alisnya dan melangkah maju mendekati Hani. "Mau kemana? Tumben make-up?" celetuknya sambil memperhatikan wajah Hani dengan seksama dari jarak sangat dekat. Biasanya seusai kerja, Hani tidak akan berdandan serapi itu ataupun memperbaiki make-up nya. Toh, biasanya langsung pulang ke rumah tanpa mampir ke manapun, jadi tidak ada gunanya merapikan penampilan.
"Kepo banget!" dengus Hani menatap mata Aldo tajam.
Aldo mundur beberapa langkah lalu menggeleng kecil, "Nggak kepo kok. Palingan mau kencan sama Alex, kan? Udah ketebak," tukasnya yang langsung mendapat respon kaget dari Hani. Sepertinya tebakannya benar.
"Kentara banget, ya?" kekehnya. Sekejab dia melupakan rasa kesalnya kepada pria itu. Dia menggerakkan jari telunjuknya mengisyaratkan Aldo untuk mendekatinya. Aldo pun langsung menurut dan mendekat.
"Aku mau beli gaun nikah bareng Alex," bisik Hani antusias, "kita bakal nikah lebih cepat dari rencana, tapi karena acaranya tertutup, yang diundang cuma sedikit. Kalo aku undang, kau mau datang kan, Al?" tambahnya dengan suara pelan, takut ada yang mendengar padahal hanya mereka yang ada di ruangan itu sekarang.
"Pasti dong!" jawab Aldo lantang sambil menjauhkan wajahnya dari Hani, "Kalo kau tidak mengundangku, aku bakalan tetap datang bagaimana pun caranya, Han. Harusnya kau bangga punya sahabat kaya aku." Aldo menepuk dadanya berulang kali dengan wajah angkuh tanda dia sedang membanggakan dirinya.
"Iya, iya." Hani mengangguk pelan, "tapi aku masih ngambek lho. Jangan pikir masalah kita udah selesai," ketusnya kembali memasang ekspresi marah.
Aldo mendecih lalu merogoh saku jas dokternya, mengeluarkan dua kertas persegi dari sana lalu menyodorkannya pada Hani, "Masih marah kalo aku kasih ini?" katanya dengan satu alisnya dibuat naik.
Hani menerima kertas itu dan sedetik kemudian dia menutup mulutnya karena tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Itu tiket konser idola favoritnya. Sebulan yang lalu tiket itu langsung habis begitu saja dan dia tidak mendapat kesempatan namun kali ini Aldo membawakannya dua tiket berharga itu.
__ADS_1
"Kok bisa? Dapat dari mana, Al?" seru Hani sumringah dengan mata memancarkan kebahagiaan. Memang definisi bahagia seorang Hani segampang itu.
Aldo menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Nggak tau. Aku salah beli, rencana kemarin mau beli tiket konser lain tapi malah kebeli yang itu," kilahnya berbohong. Sebenarnya dia memang membelikannya untuk Hani karena saat itu gadis itu terus membahas jika dia ingin melihat konser idola kesukaannya.
"Beneran? Lucu ya, aku yang pengin tapi kau yang mendapatkannya. Jadi ini buat aku?" tanya penuh harap.
"Iya, asal nggak drama ngambek lagi," ucap Aldo bernegosiasi.
"Aman," kekeh Hani, "terus kita nonton bareng, kan?"
Aldo tersenyum miring kemudian mengusap puncak kepala Hani lembut, "Nggaklah, Han. Kau pergi saja dengan Alex. Nggak lucu kalo aku pergi bareng calon istri orang," kekehnya mendusta.
***
"Mau yang mana, Sayang?" Alex mengedar pandangannya sebentar lalu kembali fokus ke Hani yang tampak masih kebingungan. Perempuan itu menatap semua gaun indah di sana dengan mata menampakkan kekaguman namun kadang berganti menjadi merengut.
"Alex, aku bingung," rengeknya menatap Alex mencoba meminta saran, "aku suka semuanya."
Hani mendecak kesal melihat Alex yang tidak menanggapinya dengan serius, "Emang aku nikah berapa kali sampai beli semua? Kalau kau mengizinkanku menikah lebih dari 10 kali, mungkin aku setuju untuk membeli semua gaun cantik ini," tukasnya sembari melangkah menyusuri semua sisi tempat itu.
"Selama aku yang jadi pasanganmu, seratus kali pun aku rela menggelar acara pernikahan, Sayang. Kalau kau mau kau bisa setiap hari menggunakan semua gaun ini secara bergantian," canda Alex kemudian tertawa kecil melihat Hani menatapnya tajam dengan bibir mengerucut.
"Aku sedang serius, Alex!" decak Hani kesal.
Alex terpaksa mengakhiri acara tertawanya sebelum suasana hati Hani berubah. Dia mendekati salah satu pekerja di toko itu lalu membisikkan sesuatu. Melihat itu, Hani hanya bisa menatap kebingungan.
Karyawan toko itu melenggang pergi dan tidak lama kemudian dia kembali dengan seorang pria bersamanya. "Dia pemilik sekaligus designer di toko ini. Beruntung sekali dia belum pulang," ucap perempuan itu ramah.
__ADS_1
"Eh, Julius?!" Hani membulatkan matanya melihat sosok pria yang muncul dari belakang perumpuan itu.
Pria itu juga ikut kaget melihat siapa yang ada di hadapannya, "Hani?!"
"Jadi kau yang punya toko ini? Designer-nya juga? Wah, sepertinya kau sudah sangat sukses, Jul. Lihat semua gaun indah ini," seru Hani takjub lalu memeluk Julius hangat.
Tak segan-segan Julius balas memeluk Hani, "Lama tak jumpa, Hani. Kau masih secantik dulu," kekehnya lalu melerai pelukan mereka.
"Wah..." Hani masih menggeleng tidak percaya, "Kau sudah sesukses ini ternyata."
"Kau terlalu memuji, Han. Aku masih merintis, kok," kekeh Julius. "Kau juga pasti sudah sukses sebagai dokter muda, kan?"
"Aku tidak sebanding denganmu, Jul. Kau pasti sudah kaya dengan membuat semua gaun ini. Kalau diingat-ingat kita sudah lama tidak bertemu, kan? Kurasa kita terakhir bertemu saat aku sumpah dokter, kan?" tukas Hani bernostalgia.
Julius mengangguk setuju, "Iya, iya. Sebelum aku lanjut studi ke London, kan?"
"Ah, iya. Tapi aku masih kesal karena kau pergi tanpa mengabariku." Hani menyipitkan matanya dan bibirnya mengerucut.
"Jangan dong. Udah lewat juga, Han," tawa Julius ceria, "Ngomong-ngomong kau sedang apa di sini?"
"Ehemm.." dehem Alex membuat Julius dan Hani menoleh secara bersamaan. Melihat dua orang itu kompak menatapnya membuat Alex menajamkan tatapannya ke pria itu. Berani-beraninya karena kedatangan pria tidak dikenal itu, Hani bisa melupakan keberadaannya lalu mengobrol akrab dengan pria itu.
"Oh." Hani yang sadar dengan ekspresi wajah tidak bersahabat dari Alex langsung menggandeng pria itu, "Kenalkan, calon suamiku, Jul."
Julius mengangguk kecil dengan wajah kaget, "Kau mau menikah?"
Alex tersenyum miring lalu menarik pinggang Hani dan memeluknya mesra, "Ya, kami akan menikah," tukasnya dengan dagu sedikit dinaikkan menampakkan keangkuhannya.
__ADS_1
"Oh, oke. Aku kecewa mendengarnya," desah Julius.
***