
"Wah, mantap banget, nih bakso bapak jawa,"Seruku mengomentari bakso yang baru saja kami beli.
"Iya, nih. Aku keinget Kak Andre, dia suka banget makan bakso, maksudku suruh ajak kak Vallen juga ke sini, kok aku telpon nggak di angkat ya, pas aku telpon lagi nggak aktif," Aku melihat Anita tampak cemas.
"Batrenya lemah kali, makanya nggak bisa di telepon lagi,"Sahut Andra, masih menikmati baksonya.
Tapi perasaanku mendadak tidak enak. Rasanya hatiku sakit dan sesak. Aku merasa ada sesuatu yang terjadi pada Andre. Tapi apa? Semoga ini hanya sekedar perasaanku saja.
Tak berapa lama ponselku berbunyi. Tertulis nama Vallen di sana. Ada apa ya? Semenjak menikah, baru ini kali pertama dia menelepon.
"Hallo, Vallen, Ada apa? Kenapa kamu menangis? Apa?! Kak Andre kecelakaan?!" Ponselku terjatuh. Badanku mendadak lemas.
"Kak Andre kecelakaan, Kak?" Anita bertanya padaku dengan airmata yang menggantung di matanya, aku hanya mengangguk. Sementara itu, Andra mengambil ponselku dan bertanya secara detail tentang keadaan Andre dan di rawat di mana.
Entah mengapa airmataku menetes deras. Rasanya hatiku semakin sakit. Aku takut terjadi apa-apa pada Andre. Aku berharap Andre bisa bahagia bersama Vallen, Aku baru merasa lega karena aku sudah menemukan seseorang yang bisa menerima Andre apa adanya, baru saja aku merasa perasaan bersalahku berkurang padanya, mengapa dia harus mengalami kecelakaan ini?
Apakah belum cukup penderitaan Andre? Dia sudah tidak bisa memilikiku, depresi karena perasaannya yang tidak bisa terkontrol, buta dan lumpuh karena menolongku, semua itu apakah masih harus di teruskan penderitaannya?
"Kita ke rumah sakit sekarang. Kakak butuh donor darah. Aku akan mendonorkan darahku." Andra tampak panik. Segera naik ke atas berganti baju dan segera turun lagi sambil membawakan tasku.
Kami bertiga bergegas berangkat di antar oleh Pak Budi. Sepanjang perjalanan Andra hanya diam membisu. Wajahnya tampak gusar. Di sampingku lagi Anita tidak berhenti menangis. Aku hanya memeluknya sambil ikut meneteskan airmata. Aku juga merasa terluka dengan kejadian ini.
Aku kembali teringat saat Andre kritis beberapa bulan lalu karena penyakit ginjalnya. Bahkan saat itu aku tidak tega melihatnya. Apakah kali ini keadaannya lebih parah? Apakah kali ini dia akan kembali selamat? Semua itu berkecamuk di dalam pikiranku.
Kami sampai di rumah sakit. Aku dan Anita mengikuti langkah Andra yang super cepat. Sampai di ruang ICU, Anita berhambur ke pelukan mama. Mata mama aku lihat begitu bengkak, papa tampak pucat. Vallen hanya duduk diam dengan airmata yang terus mengalir. Aku mendekatinya. Sahabatku itu lalu menangis di dalam pelukanku. Ia terlihat sangat rapuh kali ini. Dia sangat terpukul atas kecelakaan yang menimpa Andre. Aku tidak bisa melakukan apa- apa selain memeluknya erat. Aku sendiri juga merasa sangat sedih dengan musibah yang menimpa Andre.
"Padahal dia hari ini baik sama aku, Sil. Dia bolehin aku memeluk dan menciumnya setelah beberapa hari menikah. Bahkan, nanti malam kami akan makan malam di luar, tapi dia mengalami semua ini hanya karena ingin membeli bunga untukku," Cerita Vallen di tengah tangisnya.
"Sabar, Vall. Mungkin akan ada hikmah di balik semua ini. Aku juga merasa prihatin dengan apa yang Kak Andre alami," Lidahku terasa kelu, bahkan aku sampai bingung untuk berkata-kata.
"Baru saja tadi aku memeluknya, sekarang ia berbaring di dalam sana, berjuang antara hidup dan mati. Aku takut, Sil. Aku takut kehilangan dia," Vallen semakin tersedu-sedu. Jika hal ini terjadi pada Andra, aku juga pasti akan merasakan kepedihan yang sama.
__ADS_1
"Terkadang, apa yang terjadi tidak bisa sesuai dengan apa yang kita inginkan, Vall. Tapi Tuhan lebih tahu, apa yang terbaik buat kita," Aku terus merengkuh sahabatku itu dalam pelukanku. Aku tahu, dia pasti butuh dukungan penuh saat ini.
Setelah Vallen sedikit lebih tenang, aku meminta izin untuk melihat keadaan Andre dari Kaca pintu ruang rawatnya. Kakiku bergetar saat melangkah ke sana. Aku takut, melihat kenyataan yang sedang di hadapi Andre saat ini.
Aku sampai di depan pintu. Kukumpulkan keberanianku untuk melihat keadaan Andre di dalam sana. Ia seperti tidak bernyawa lagi, Wajahnya pucat dengan lebam di sana sini, luka goresan, di kepalanya ada balutan perban. Matanya pun lebam. Di lehernya di pasang penyangga. Selang dan berbagai macam alat menempel di tubuhnya. Dia yang terbaring di sana dengan sangat lemah. Bahkan lebih lemah dari saat Andre sakit ginjal dulu.
Dia orang baik, bahkan sangat baik. Sejak awal bertemu, dia tidak pernah melukai hatiku sekecil apapun. Meskipun aku melakukan sesuatu yang tidak disukainya, ia hanya diam dan mengingatkanku dengan baik-baik jika memang perlu. Ia juga selalu menuruti banyak keinginanku, meskipun itu konyol. Tapi kenapa, dia harus selalu menderita? Kapan aku bisa melihatnya bahagia? Airmataku berlinang. Aku merasa hancur melihat Andre dalam keadaan seperti sekarang. Bahkan membuka matapun dia tidak bisa.
Baru saja ia akan bahagia bersama Vallen, Semuanya seperti menguap begitu saja. Kak, kakak harus kuat, kasihan Vallen yang mencintai kakak, dia takut kehilangan kakak. Cepat sembuh, kak. Ayo buka matamu.
"Jeng, gimana keadaan anak kita ..." Terdengar suara tangisan yang pecah. Itu ibunya Vallen, aku sangat mengenal suaranya, karena dulu sering kerja kelompok di rumahnya.
Entah kenapa, aku ingin sekali masuk ke dalam sana. Aku ingin menemani Andre, walaupun aku sadar itu tidak akan pernah mungkin terjadi. Aku dan dia, kini terhalang oleh tembok yang semakin menebal. Meskipun aku hanya menganggapnya kakak, tentu saja tidak berlaku bagi mereka yang memahami kisah masalalu kami berdua. Seseorang memegang pundakku, aku menoleh kepadanya.
"Mas.." Andra menarikku dalam pelukannya. Ia paham dengan perasaanku yang sedih saat ini.
"Meskipun kamu tidak mengatakannya, mas tahu, kamu pasti sangat terluka melihat keadaan Kak Andre yang seperti itu, kan?" Andra berkata sangat pelan, ia ingin aku mengerti kalau dia perduli dengan apa yang aku rasakan.
"Bagaimanapun, Kak Andre adalah orang yang sangat baik padaku di masa lalu, Mas. Aku tidak bisa melihat dia seperti ini. Bahkan ia sudah seperti orang mati. Bagaimana kalau terjadi sesuatu pada Kak Andre, Mas?" Tanyaku sambil berurai airmata. Andra mengecup ujung kepalaku, mencoba untuk menenangkanku. Aku senang, ternyata suamiku cukup peka dengan apa yang aku rasakan saat ini. Sungguh, aku mengkhawatirkan Andre, hanya sebatas perasaan khawatir terhadap seorang kakak, tidak lebih dari itu.
Aku melangkah gontai menemui mama yang sudah seperti mamaku sendiri sejak orangtuaku masih ada. Perempuan paruh baya itu terlihat sangat kacau. Ia seperti tidak berhenti menangis sejak aku datang. Hatinya paati sangat hancur mendapati kenyataan bahwa putranya di ambang maut.
"Ma, yang kuat ya... Do'akan yang terbaik untuk kesembuhan kakak. Aku tahu, kakak adalah salah satu yang terpenting dalam hidup mama, makanya, mama harus lebih kuat darinya. Mama tahu, saat kakak sadar nanti, ia akan senang mama menghadiahkan sebuah senyuman untuknya, ia akan bangga mempunyai mama yang tegar. Lihat Sila, mama punya Sila juga, kita sama-sama mendo'akan kakak, ya?" Aku memegang kedua pundak mama lembut dan memandang mata teduhnya dalam-dalam. Dulu mama sering melakukan ini saat awal-awal orangtuaku meninggal. Mama yang menguatkan aku tentunya juga papa dan Andre. Mereka bertiga selalu mencoba membuatku tegar menghadapi kenyataan terpahit dalam hidupku itu.
"Terimakasih, sayang. Kamu tahu, mama merasa hancur setiap kali melihat kakakmu terluka seperti ini, entah itu terluka fisiknya atau terluka batinnya. Ia selalu menjadi anak yang tegar,dan menyembunyikan segala yang ia rasakan jauh di dalam hatinya yang terdalam. Tidak pernah sekalipun dalam hidupnya, ia membuat mama marah atau membuat papamu emosi. Dia anak yang sangat baik. Harapan mama saat ini adalah, dia bisa selamat dan kembali menjadi anak mama yang manis, hanya itu..." Tangis Mama kembali pecah. Aku memeluknya dengan lembut. Aku juga tidak bisa menahan airmataku. Mama benar, Andre anak yang sangat manis, tidak pernah marah dan berulah. Meskipun ia sering bercanda, mengeluarkan kata rayuan, tapi sama sekali tidak pernah marah. Kecuali saat itu, ketika ia salah paham tentang Andra menghamili Siska, saat itu pertama kalinya aku melihat dia sangat marah.
"Sila, maafkan Andre jika ia pernah bersalah padamu, mama tidak tahu apa yang terjadi diantara kalian sekarang, tapi mama tahu, Andre sangat mencintaimu dan sangat terobsesi padamu. Bisa jadi ia melakukan hal buruk padamu," Mama justru meminta maaf untuk Andre. Jika ada yang melakukannya, seharusnya itu aku.Aku yang selalu menjadi akar dari permasalahan kedua saudara kembar ini.
"Tidak, Ma. Kakak tidak pernah punya salah apapun padaku. Dia selalu baik dan mengerti perasaanku. Aku justru yang membuat kakak menderita, Ma," Aku mengakui segala kesalahanku di depan Mama. Aku tidak bisa menyembunyikannya. Kenyataan bahwa, akulah asal mula kehancuran di dalam hidupnya.
"Drap..drap..drap" Langkah kaki cepat para dokter dan suster seketika menarik perhatian kami. Semuanya tampak begitu panik masuk ke dalam ruangan Andre.
__ADS_1
Suasana semakin ricuh. Anita, Mama,Vallen, dan Mama Vallen tampak semakin ketakutan dan histeris. Mereka saling berpelukan. Papa, Andra, Papa Vallen, mereka bertiga bersandar pasrah. Hanya aku yang memberanikan diri melihat kondisi Andra dari celah kaca di pintu perawatan.
"Aku melihat dengan jelas bagaimana alat penghitung detak jantung Andre bekerja. Detak jantung kembaran suamiku itu naik turun dengan drastis. Aku ingin berlalu, tapi tubuhku seperti kaku. Hanya airmata yang bisa mengatakan semua isi hati dan pikiranku saat itu.
Kak, aku mohon, jangan pergi dulu. Setidaknya, berikan aku kesempatan untuk mengucapkan sesuatu, izinkan aku untuk mengatakan segala yang ingin ku katakan. Izinkan aku meminta maaf atas semua kesalahan yang mungkin tidak sengaja aku lalukan padamu.
Kak, bertahanlah. Bukankah kamu bilang, kamu akan terus menjagaku? Kamu tidak akan meninggalkanku apapun keadaannya. Jika sekarang kamu pergi, aku akan membencimu kak, aku tidak akan memaafkanmu. Bertahanlah, kumohon...
Jariku hanya bisa menyentuh kaca, seandainya bisa tembus, aku ingin jariku memberikan kekuatan pada Andre. Ia tidak bereaksi lagi setelah berulang kali alat pembangkit detak jantung di tempelkan ke dadanya. Tidak. Tidak mungkin. Aku tidak ingin ini terjadi Tuhan. Jangan ambil dulu kakakku. Aku tahu, aku bukan hambamu yang terbaik, tapi bolehkah sekali ini aku memohon kepadamu, jangan ambil Andre sekarang? Berikanlah uluran tanganmu untuk memberikan dia kesempatan untuk bahagia. Aku mohon.
Aku melihat dokter menyerah. Kegiatan memompa detak jantungnya di hentikan. Satu persatu alat yang menempel di tubuhnya di lepas. Aku menggenggamkan tanganku erat. Aku tidak bisa menerima kenyataan ini. Aku menatapnya seorang diri saat dia menyerah akan hidupnya sendiri.
Kenapa kamu lakukan ini, Kak? kamu mau meninggalkan kami semua? Kamu tidak ingin melihat kami lagi kak? Tidak ingatkah kamu dengan istrimu? Bangun, Kak. Meskipun malam ini kalian tidak jadi makan malam, setidaknya biarkan Vallen menemani di sampingmu. Kak, ayolah, kamu bercanda kan ? Jangan pura-pura mati, aku tidak akan memaafkanmu nanti... Batinku terus berkecamuk. Hatiku semakin sakit. Inikah akhir semuanya? Andre hanya akan menyerah dan pergi begitu saja?
Dadaku sangat sesak. Aku terisak semakin mendalam. Tersedu-sedu sampai menarik perhatian Andra untuk datang menenangkanku. Aku memeluknya erat sambil melepaskan tangisanku sekencang-kencangnya.
"Kakak menyerah, mas. Dia meninggalkan kita untuk selamanya. Lihat dia, dia sudah tidak ingin bersama kita lagi," Aku kembali melirik ke dalam ruangan. Tubuh Andre sudah di tutup kain putih. Semua alat sudah di rapikan. Suster dan perawat sudah siap mendorong jasad Andre keluar dari ruangan dan akan di pindahkan ke kamar mayat.
Andra menangis sejadinya dan membawaku menjauh dari pintu ruangan, karena mereka akan segera keluar. Aku menatap Andra untuk meminta satu permintaan yang aku harap dia mengabulkannya.
"Mas..."
"Ya.."
"Aku ingin meminta sesuatu, tapi aku mohon, kabulkan permintaanku ini,"
"Apa?"
"Izinkan aku memeluk jasad Kakak untuk terakhir kalinya," Aku hampir saja kehabisan nafas saat mengucapkan kalimat ini karena sambil menangis tersedu.
"Aku izinkan," Jawaban Andra membuatku lega. Pintu ruangan terbuka. Semua histeris saat melihat Andre telah ditutup dengan kain. Vallen dan Mama pingsan, Papa dan yang lainnya sibuk mengurus mereka.
__ADS_1
Aku memohon pada para perawat untuk mengizinkanku melihat wajah Andre untuk terakhir kali, dan mereka mengizinkannya. Aku berusaha setegar mungkin untuk tidak menangis. Kupandangi wajah orang yang pernah ku cintai itu. Rasa bersalahku kembali hadir. Ia pergi membawa rasa cintanya padaku. Aku memeluk jasad itu erat.
"Kak, jika memang kamu harus pergi sekarang, pergilah, terimakasih atas semua pengorbanan dan rasa cintamu padaku. Terimakasih telah memilihkan pasangan yang tepat untukku, Aku sayang padamu, sebagai seorang kakak.Selamat jalan..." Aku berusaha setegar mungkin, sambil menahan airmataku yang hampir tumpah.