Perfect Husband

Perfect Husband
87. Pasien Manja


__ADS_3

Karena sangat lelah setelah mandi hujan bersama Andra dan berteriak sepuasnya di ladang teh. aku sampai tertidur pulas di sofa yang terletak di dalam kamar Andre. Padahal, biasanya mataku sama sekali tidak bisa terpejam jika belum memeluk Andra. Tapi kali ini aku langsung terlelap saat merebahkan diri. Aku terkejut dan terbangun karena nada getar pesan di ponselku.


Andra memintaku segera menemuinya di kamar, katanya dia sedang tidak enak badan. Aku melihat Andre telah pulas. Sejak aku pulang, ia memang telah tertidur atau mungkin efek obat bius itu masih bekerja aku pun tidak tahu. Aku bergegas menuju kamar Andra. Mungkin dia masuk angin karena mandi hujan denganku tadi sore. Selama menikah denganku, Andra belum pernah mandi hujan. Ini untuk kali pertama kalinya, wajar saja kalau tubuhnya tidak merespon dengan baik.


"Cklek.."Aku membuka pintu kamar Andra pelan. Khawatir suaranya terlalu keras dan membangunkan Andre. Aku melihat dia menggigil di dalam selimut. Ku tarik sedikit selimutnya dan memegang dahi suamiku itu. Suhu badannya sangat tinggi. Sepertinya dia demam.


"Sayang, kepala mas sakit banget nih, pijitin," Pintanya dengan nada manja. Aku mengikuti apa maunya, aku pijit kepalanya dengan lembut. Dari kedua sudut matanya mengalir airmata. Pasti karena terlalu panas suhu badannya dan juga kepalanya yang mungkin nyut-nyutan sekarang.


Aku mengambil baskom berukuran kecil dan ku isi dengan air dingin dari kamar mandi. Lalu aku memakai handuk kecil untuk mengompres Andra. Ia tampak sedikit tenang, tapi aku lumayan panik juga, panas tubuhnya tidak juga menurun.


Aku segera mencari kotak obat yang ku bawa di dalam koperku. Untung saja ada obat penurun panas dan demam untuk dewasa di sana. Aku segera mengambil air minum untuk meminumkan obat itu pada Andra.


"Kamu sudah makan, Mas?" Tanyaku penasaran. Firasatku mengatakan dia belum makan sampai selarut ini. Lagi pula aku tidak memperhatikan jadwal makannya karena harus mengurus Andre.


"Belum sayang, bisakah kamu memasakkan aku sesuatu?" Lagi-lagi ia menunjukkan mimik manja yang menggemaskan.Tentu saja aku tidak akan menolak permintaan suamiku tersayang ini.


"Ya sudah, Mas tunggu di sini, aku akan memasakkanmu sesuatu," Aku bergegas menuju dapur. Aku akan membuatkan Andra sup ayam, merica bisa meringankan demam yang menyerangnya.


Aku memotong sedikit kentang dan Wortel untuk sumber karbohidrat pengganti nasi. Merendam ayam yang beku dengan Air biasa. Di villa ini, aku senang karena bisa memasak sesuka hati, beda dengan di rumah, segalanya di selesaikan oleh Minah.


Setelah menumis bumbu halus yang sudah kusiapkan, aku memasukkan air ke dalamnya dan menunggu sampai air itu mendidih. Setelah air mendidih potongan daging ayam juga masuk, lalu di tutup agar ayamnya empuk.


"Grep..." Andra memelukku dari belakang. Aku bisa merasakan tubuhnya sangat lemah. Suhu tubuhnya juga belum menurun. Dia pasti kesepian, makanya dia menyusulku ke dapur. Ia menyandarkan kepalanya di pundakku. Hawa panasnya menjalar juga ke tubuhku. Selama menikah, baru kali ini Andra sakit, ternyata saat sakit dia sangat manja seperti balita.


"Tadi kan aku sudah bilang, tunggu di kamar," Aku menghadiahkan ciuman kecil di pipinya. Ia semakin mengeratkan pelukannya.


"Hatcih...Hatcih..hatcihh!" Andra bersin-bersin, dia pasti akan segera terkena flu berat. Hidungnya keligahatannya juga mulai tersumbat.


"Kepalaku sakit sayang, maunya di pijitin terus. Buatin teh juga..." Suara Andra tampak berbeda dari biasanya. Aku berbalik dan memeluknya erat. Karena menemaniku hujan-hujanan Andra sakit.


"Duduk di sini, ya. Biar aku buatkan tehnya, mau manis atau sedikit pahit?" Tawarku padanya. Andra menurut dan duduk di kursi makan. Membiarkanku berusaha memenuhi apa yang dia inginkan.


"Sedeng aja sayang. Jangan terlalu manis, karena aku sudah sangat manis," Gombal Andra. Sambil mengetukkan jarinya di meja berulang kali, bosan menunggu.


"Ini supnya, terus ini tehnya, sekarang mas makan ya, aku temenin," Aku duduk di samping Andra. Memperhatikan matanya yang memerah, juga hidungnya serta wajahnya yang sedikit pucat.


"Maunya, di suap sama kamu, sayang..." Aku tersenyum mendengar permintaan Andra. Aku suka sikap manjanya. Membuat aku semakin sayang sama dia.


Dia memakan setiap suap makanan yang aku sodorkan, sampai habis tak bersisa. Begitu juga tehnya, aku senang dia menyukai semua buatanku. Ku bereakan semua peralatan masak dan makan Andra, lalu mengajaknya untuk kembali ke kamar.


"Sayang, dingin.." Keluhnya, aku menyelimuti seluruh tubuhnya agar tidak ada lagi angin yang masuk. Menaikkan suhu Ac agar sedikit hangat. Tidak lupa aku pakaikan Andra sebuah jaket tebal miliknya. Aku juga memakaikannya kaos kaki, supaya rasa dinginnya berkurang, tidak lupa aku melilitkan syalku di lehernya, setelah itu semua aku lakukan, aku tertawa sendirian, Andra sudah seperti boneka salju. Lagipula pria itu diam saja aku dandani seperti itu.


"Masih dingin, Mas?" Aku mendekatkan diriku padanya. Nafas dan suhu tubuhnya masih saja panas. Apa aku perlu memanggilkan dia dokter? Mana ada dokter tengah malam begini, mau tidak mau harus menunggu esok pagi.


"Aku sudah sedikit baikan, Sayang. Temani mas ya, jangan tinggalin mas malam ini. Mas mohon..." Tanpa dia memohon, aku juga tidak akan meninggalkannya dalam keadaan seperti ini. Kalau aku tidak ada di dekatnya, justru pikiranku tidak akan tenang.


Aku mendekapnya erat. berharap dekapanku ini mampu untuk mengurangi rasa dingin yang menyerang tubuhnya. Cepat sembuh sayang, lain kali kita mandi hukan lagi. Aku tersenyum saat teringat kami berdua saling teriak dan mengungkapkan perasaan kami masing-masing.


Aku melihat jam di ponselku, menunjukkan pukul satu dinihari. Ada peaan masuk dari Andra yang mengiraku ada di kamar Vallen dan menyuruhku segera kembali ke kamarnya. Aku jadi bingung, Andra masih sakit, bagaimana aku bisa meninggalkannya dengan tenang?


Ku kecup kening suamiku, dengan berat hati aku harus meninggalkannya. Aku berharap dia akan tidur pulas sampai pagi. Kulangkahkan kakiku pelan tapi pasti, memandangnya lama sebwlum aku benar-benar menutup pintu kamarnya dan kembali ke kamar Andre.

__ADS_1


"Darimana Bee?" Andre menatapku dengan tatapan yang wajar. Dia tidak sedang marah. justru tatapannya cenderung lembut.


"Aku ke dapur, Kakak. Tiba-tiba merasa lapar. Jadi aku mengisi perutku sebentar. Ada yang harus aku lakukan untukmu?" Aku berinisiatif untuk menanyakan apa yang di inginkan Andre. Siapa tahu ada sesuatu hal yang dia inginkan.


"Tolong pijit badanku, aku sangat lelah karena kegiatan kita tadi," Aku hampir saja tertawa saat mendengar kalimat akhir yang di ucapkan oleh Andre. Benar-benar keren, efek lipstik bius halusinasi itu. Aku jadi tidak takut lagi sekarang.


"Apa Kakak merasa puas?" Aku coba mengetes, seberapa dahsyat efeknya pada Andre.


"Tentu saja, Bee. Terimakasih ya," Andre berterimakasih padaku yang tidak melakukan apa-apa untuknya, bagus sekali efeknya, dengan begini penyamaranku semakin sempurna.


"Sama-sama, Kakak. Itu sudah menjadi kewajibanku sebagai seorang istri bukan?" Kataku sambil memijit punggungnya. Hari ini aku merasa berperan menjadi tukang pijat. Tidak di kamar Andra atau di kamar Andre, aku harus memijat mereka berdua.


"Kamu selalu jadi yang terbaik, Sila. Aku tadi mimpi aneh, seperti kenyataan, sampai aku kira aku pernah mengalaminya." Aku tertarik dengan kalimat Andre yang terakhir. Kira-kira apa mimpinya itu?


"Memangnya, Kakak mimpi apa? kok sampai bisa seperti nyata?" Aku sangat antusias mendengarkan cerita Andre.


"Aku mimpi, menikah dengan Vallen


Aneh kan? Jelas-jelas istriku itu kamu.Bee, tapi aku memimpikannya, saat terbangun tadi, kepalaku sangat sakit," Curhatnya dengan sangat semangat. Berarti benar kata Dokter itu, Andra akan mengalami fase penuh mimpi dengan hal-hal yang belum lama di laluinya. Aku senang, Andra sudah memasuki fase masa penyembuhan.


"Namanya bunga tidur, Kak. Terkadang, suatu hal yang belum pernah kita lakukan pun bisa menjadi mimpi. Kakak tidak perlu mengambil pusing hanya soal mimpi. Jangan terlalu di pikirkan, Kak." Aku pura-pura tidak tahu apapun. Saat ini kondisi Andra ada di masa detik-detik ingatannya kembali. Kata Dokter, saat ia ingat semuanya, maka apa yang kami lakukan di saat dia sakit juga akan terhapus secara otomatis.


"Aku paham itu, Bee. Tapi saat melihat Vallen di dunia nyata, aku juga merasa ada sesuatu yang pernah terjadi di antara kami, tapi kamu jangan salah paham ya, aku hanya takut ada poin penting yang aku lupakan,"Andre mulai merasakan keanehan dalam dirinya. Dia tidak hanya melupakan satu poin, tapi juga banyak poin lainnya. Termasuk aku, yang telah menjadi adik iparnya.


Keesokan paginya....


Aku panik saat mendapati aku tidur di bawah selimut yang sama dengan Andre. Apa yang terjadi semalam? Seingatku aku hanya memijat punggungnya, lalu apa lagi? Apa aku melupakan sesuatu?


"Ada apa? pagi-pagi sudah bicara dengan nada seperti itu," Andre mengucek matanya yang belum sepenuhnya terbuka.


"Kenapa aku bisa tidur di sini? Lalu kakak tidak melakukan apapun padaku kan?!" Aku menatapnya curiga. Andre malah tertawa geli melihat tingkahku yang menurutnya aneh.


"Kamu semalam ketiduran saat memijatku. Aku hanya memindahkanmu tidur di sampingku, sambil sedikit mencium dan memelukmu," Andra melanjutkan tawanya yang sempat terhenti.


Hanya memindah dan sedikit peluk dan cium? Argh! Aku merasa ternodai. Keterlaluan! aku kecewa pada Andre. Tapi... aku kan memang sedang berperan jadi istrinya, bukankah itu hanya menjadi wajar?


"Kakak! Beraninya kau menciumku tanpa izin!" Aku memikuli Andre dengan bantal. Andra diam saja sambil tertawa dan tidak menghindar.


"Sudah, sudah, aku cuma bercanda. Aku tidak menyentuhmu. Aku takut malah tidak bisa menahan diri kalau melakukan itu," Pernyatasn Andre membuatku lega. Semoga ia benar-benar tidak menyentuhku.


"Serius, Kak?" Aku masih belum yakin. Bisa saja ia hanya menenangkanku. Kalau sampai iya, aku juga tidak bisa melakukan apapun.


"Sangat rugi ya, kalau tubuhmu di sentuh oleh suamimu sendiri?" Andre mengintrogasiku. Tentu saja tidak jika dia benar-benar suamiku. Tapi situasinya sekarang kan berbeda, aku bukan istrinya yang asli. Tentu saja aku sangat bermasalah dengan ini.


"Bu-bukan begitu, Kak. Kita tidak tidur berdua dg lumayan lama, aku cuma syok dan kaget saja kok. Tentu saja itu tak masalah," Aku kembali bersikap normal. Aku tidak ingin ia terus mencurigaiku. Sebaliknya Andre malah menertawakanku. Entah apa yang membuatnya tertawa sampai seperti ini.


"Aku hanya bercanda, jangan di anggap serius. Sudah, aku mandi dulu ,Bee. Masaklah seauatu untukku," Andre bangkit dan pergi ke kamar mandi. Aku memanfaatkan momen ini untuk menjenguk Andra. Apa dia bisa bangun ya pagi ini?


Aku menyelinap masuk ke dalam kamar Andra. Sedikit tenang saat ku cek suhu tubuhnya sudah menurun. Harusnya di saat dia sakit seperti ini aku bisa merawatnya, tetapi tugasku yang membuatku tidak bisa melaksanakan kewajibanku sebagai seorang istri.


"Bangun, Sayang..." Panggilku lembut sambil memainkan rambutnya yang lurus dan halus. Ia mwnggeliat, lalu mengerjapkan matanya berulang kali.

__ADS_1


"Pagi, Permaisuriku yang paling cantik.." Andra menyapaku dengan kata gombal. Tapi sukses membuatku tersenyum karenanya.


"Pagi... Mas udah baikan?" Tanyaku dengan rasa khawatir. Apalagi semalam aku harus pergi meninggalkan dia di saat dia kesakitan.


"Aku sudah jauh lebih baik, Sayang.." Jawabnya penuh kelembutan. Membuat aku semakin merasa bersalah padanya. Aku lebih memilih merawat orang lain di bandingkan dengan suamiku sendiri.


"Maafkan aku mas, aku semalam pergi meninggalkanmu. Seharusnya aku merawatmu dengan baik, Aku tidak pantas di sebut istri yang baik. kalau aku memang baik seharusnya aku..." Andra meletakkan jari telunjuknya di atas bibirku agar aku diam.


"Jangan katakan itu lagi, Sayang. Justru kamu malah lebih dari istri yang baik, kamu tidak hanya peduli dengan aku tapi juga keluargaku. Bagiku, tidak ada wanita lain lagi yang sebaik dirimu." Andra menata kedua bola mataku lekat-lekat.


"Aku hanya merasa belum..." Andra menaruh jari telunjuknya lagi di bibirku.


"Bukan kamu yang merasakan, tapi aku. Aku lebih mengenalmu, Sayang. Jadi jangan lagi berkata seperti itu. Kamu milikku yang paling sempurna. Jangan pernah merasa kamu bukan yang terbaik, karena kamu adalah yang terbaik, yang paling aku sayangi," Andra terus berbicara dengan bawelnya. Padahal semalam dia tampak sangat tidak berdaya.


"Terimakasih, mas. Ketika dunia ini hanya melihat kekuranganku, maka kamulas satu-satunya orang yang akan tetap mengakui kelebihanku. Aku sangat beruntung memiliki suami sepertimu, Suami terbaik dan teristimewa. Jangan pernah berubah ya, mas. Aku mau kamu tetap seperti ini terus," Ada yang bilang, kehilangan raga itu sangat menyakitkan, tapi kehilangan cinta, nyatanya jauh lebih menyakitkan lagi.


💕*I wrote your name in the sky,


but clouds remove it.


I wrote your name on the beach,


but the waver remove it.


So, I wrote your name in my heart,


So that nothing will be delete.💕


(Dikutip dari Google.com)


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Hallo PH lovers...


Aku mau kasih pengumuman nih..


Nanti di eps 100, PH akan adakan Give Away.


Caranya mengikuti kuis yang akan di adakan di grup fans PH.


Jadi, buat kalian yang belum masuh dalam grup, bisa tulis no wa kalian di kolom komentar.


Dukung juga karyaku yang lain:


Di goda Berondong


Si Tampan Pemikat


Follow IG-ku @Ekayunn_15


Terimakasih*..

__ADS_1


__ADS_2