
POVAnita
Pagi yang cerah, aku menjalani rutinitasku seperti biasa. Ke kampus, sekarang aku utamakan, karena telah memasuki semester akhir. Ada juga fakor penyemangatku sekarang, siapa lagi kalau bukan Bian. Si cowok tampan yang baru tiga hari kenal lalu melamarku itu.
Pria yang terlihat galak dan acuh itu ternyata punya sisi hangat dan romantis. Setiap berada di dekatnya, selalu terasa nyaman. Ia memang lebih banyak diam tapi ternyata setelah dekat beberapa saat dia juga tipe orang yang banyak bicara.
Rencananya, hari ini aku ingin memberikan jawaban atas pertanyaan Bian waktu itu. Aku ingin dia menerima jawaban yang sudah seharusnya ia dengar. Aku tidak ingin menggantungkan perasaannya terlalu lama. Bisa saja dia sudah sangat berharap mendapatkan jawaban ini dariku.
Bian juga cowok yang baik. Dia tidak ingin berpacaran, tapi langsung menikah. Memang tampak terlalu terburu-buru, tapi aku melihat orang2 yang seperti itu, contohnya kak Sila dan Andra, mereka hanya bertemu sekali, langsung bertemu di pelaminan. Seiring waktu, cinta di antara mereka pun tumbuh. Sekarang mereka sudah saling mencintai dan menjalani kehidupan rumah tangga yang romantis.
Tentang perasaanku, aku belum terlalu menyukai Bian, tapi aku yakin, aku bisa mencintai Bian seiring waktu nanti. Tidak akan sulit, karena aku memang telah mulai menyukainya meski hanya sedikit. Setidaknya tidak akan ada kesulitan untuk memupuk dan membesarkan benih cintaku pada Bian ini. Karena pada dasarnya, dia sosok pria yang menarik.
Aku melihat Bian di ujung koridor. Ia termangu dengan tampang sok cool nya yang seperti sedang mengatakan kalau, aku tidak butuh kalian. Padahal, hatinya sebenarnya selembut kapas.
"Heii..." Aku menepuk bahunya pelan. Ia sedikit terkejut. Tak lama kemudian ia tersenyum padaku dengan senyuman khasnya. Membuat perasaanku meleleh karenanya. Sepagi ini mendapatkan senyuman dari orang yang kusuka membuat moodku meningkat.
"Anita, Baru datang? Aku sudah menunggumu sejak tadi, sengaja berangkat pagi supaya cepat dengar jawabanmu." Kata Bian semangat. Terniat sekali dia, betangkat kepagian terencana hanya untuk mendengarkan apa jawaban aku.
"Kamu nggak takut kecewa di pagi hari?" Tanyaku padanya sambil terkekeh.
"Aku lelaki, Anita. Setidaknya kalau aku di tolak, aku tidak akan menangis," Jawabnya sederhana. Dia tampak sudah sangat siap dengan apapun jawabanku.
"Baguslah, kalau gitu. aku memang ingin memberimu jawaban sekarang. Siapkan telinga, hati dan pikiranmu..." Aku mengubah suaraku menjadi selembut mungkin. Bian menatapku penuh tanda tanya .
"Jadi apa jawabannya, katakanlah..." Ia tampak.sangat pasrah dengan jawaban apapun yang akan ia terima saat ini.
"Jadi.. aku.. mau jadi istri kamu,"Setelah bicara itu aku sengaja diam. Secepat kilat Bian menghadapku mendengar jawabanku itu.
"Kamu serius, Nita? Jangan bercanda dan buat aku senang sementara, plis.." Dia masih tidak percaya dengan kata-kataku.
"Aku serius, Bian. Aku ingin memulai segalanya bersamamu. Meskipun, perasaanku padamu belum besar, seiring waktu, aku pasti akan dapat mencintaimu dengan begitu besar. Aku yang minta kamu, yakinkan hatimu sekali lagi, apakah kamu benar, memilihku jadi istrimu?" Ku tatap Bian penuh arti. Tatapan teduhnya seketika membuatku tenang.
"Aku tidak perlu berulang untuk berpikir menikahimu, Anita. Aku sudah merasa sangat cocok denganmu. Baiklah, lusa aku dan keluargaku akan datang.ke rumahmu. Kita resmikan pertunangan kita. Lebih cepat lebih baik. Aku takut kamu nanti keburu di ambil orang," Bian mengakui ketakutannya apa. Sangat tampak sekali dia memang menginginkan aku.
"Siapa memang yang mau merebutku darimu?" Cibirku.
"Bisa jadi mantanmu yang gagal move on itu. Dia pasti diam-diam masih ingin kembali padamu. Tampak dari tatapannya, dia masih mencintaimu."Bian mengutarakan hasil analisisnya tentang perasaan Beno.
"Mana mungkin aku balikan sama dia, Beno sudah tidak ada di hatiku. Aku sudah niat banget dari hati buat memulai semuanya denganmu. Kamu tuh, nanti masih menyimpan rasa pada seseorang," Godaku, Bian tersenyum kecil.
"Saat mendekatimu aku sudah tidak memiliki hubungan dengan siapapun, jadi rasa kepada siapa yang akan ku pendam?" Bian terkekeh.
"Siapa tahu, tiba-tiba kamu merasa ingin kembali lagi sama mantanmu di tengah hubungan kita nanti," Kataku perlahan sambil mengecek ponselku.
"Tak akan memgkin. Setelah menikahimu, aku akan sibuk bagaimana caranya mencintaimu lebih besar lagi setiap harinya. Tidak ada waktu untuk memikirkan yang lain." Ucapnya tanpa keraguan.
"Manisnya.. Nanti aku semakin mencintaimu bagimana? Aku bahagia, karena kamu pilih aku sebagai calon istri kamu." Aku mencubit gemas lengan Bian.
"Kalau semakin jatuh cinta padaku, aku malah senang. Terimakasih sudah bahagia jadi pilihanku, aku lebih bahagia menerima kabar gembira ini."
Cinta memang selalu punya caranya sendiri untuk menemukan tempat di mana ia akan hinggap. Ia paling tahu di mana ia akan berlabuh. Tidak butuh waktu lama untuk memulainya.
Bian mungkin bukan pria yang pertama mampir ke hatiku, tapi aku berharap Bian adalah yang terakhir singgah di sana. Menemaniku di sisa waktu yang ku punya. Aku ingin belajar mencintainya.
__ADS_1
Sebaliknya, aku mungkin juga bukan wanita yang pertama hadir dan tinggal di hati Bian, tapi aku akan berusaha menjadi yang terbaik dan membuat Bian benar-benar melupakan gadis-gadis yang pernah hadir di dalam hidupnya.
"Sepulang ngampus, ikut aku," Celetuk Bian singkat.
"Kemana?" Kataku tak kalah singkat.
"Beli cincin. Aku merasa cincin yang kemarin terlalu biasa. Aku ingin kamu yang memilihnya sendiri." Ucap Bian Mantap. Aku sebenarnya tidak mempermasalahkan soal cincin. Ia hanya pemanis di sebuah ikatan. paling inti dari sebuah hubungan adalah hati masing-masing orang yang menjalaninya.
"Aku tidak masalah dengan cincin yang kemarin, Bian Itu juga sudah bagus kok, aku suka," Aku berusaha meyakinkan Bian agar tidak membeli cincin baru.
"Aku sudah berniat untuk membelinya ulang, Anita. Cincin yang kemarin juga nanti buatmu kalau kau memang suka. Jadi pakai dua cincin," Anita semakin tidak mengerti dengan keputusan Bian. Tapi terserah calon suaminya saja, mau ganti cincin atau apa, yang jelas cinta mereka tidak akan terganti.
"Baiklah, terserahmu sajalah, aku ngikut aja apa maumu," Aku akhirnya menyerah untuk protes pada Bian.
"Dih, menyerah dan sok ngikut," Bian terkekeh.
"Latihan, buat nurut sama kepala keluarga, eh, padahal belum jadi ya," Aku tertawa sendiri memikirkan kata-kataku yang sedikit aneh.
"Wow, bagus. Aku suka istri yang penurut. Tapi kalau ada usul, jangan ragu ya, buat utarakan. Aku nggak akan membatasi ruang gerak kamu kok," Bian memberiku ruang untuk menjadi diriku sendiri. Makin bertambah nilai positifnya di mataku.
"Terimakasih Bian, kamu suami moderen deh. Aku suka caramu memperlakukanku," Sahutku gembira.
"Ini tahun berapa? masih aja kaya jaman dulu, wanita harus sepenuhnya tunduk sama laki-laki? Bagiku itu nggak berlaku dan aku tahu, kamu bukan tipe wanita yang berandalan. Meskipun di beri kebebasan, kami pasti ga akan aneh-aneh," Kata Bian yakin. Aku tertegun. Mengapa bisa seyakin itu pada orang yang baru di kenalnya? Ia benar-benar seperti tidak ada ketakutan aku menghianati dia.
"Terimakasih, Bian atas pujian kamu. Serius aku tersanjung banget. Caramu menghargai wanita membuat aku juga yakin, kamu bisa jadi pemimpin yang terbaik dalam keluarga kita nanti," Aku menatapnya sambil tersenyum, begitu pula sebaliknya, Bian tersenyum manis padaku.
"Ayo ke kelas..." Bian mengulurkan tangannya. Menawarkan diri untuk menggandengku. Aku mengulurkan tanganku dan di genggamnya dengan erat.
Kami berdua berjalan dengan langkah pasti. Aku merasa tenang dan nyaman saat di samping Bian seperti ini. Sebuah kenyamanan yang berbeda ku rasakan dari pria-pria sebelum Bian. Apa mungkin karena dia akan jadi suamiku?
"Udah terbiasa ya, masuk kelas di gandeng sama aku? Udah pede banget hari ini," Puji Bian padaku yang tidak sekaku kemarin.
"Aku harus terbiasa dengan Tuan Bian yang suka menggandeng," Sahutku sambil tertawa kecil.
"Aku cuma mau menunjukkan pada seisi kampus, kalau kamu milikku. Tidak ada yang boleh merebutnya," Bisik Bian, aku hanya tertawa mendengarnya yang mulai protektif padaku.
"Sekali lagi aku ingatkan, nggak akan ada yang rebut aku darimu. Lagipula, kamu laki-laki yang paling perduli padaku, dan aku juga telah memilihmu, jadi apalah artinya mereka semua bagiku?" Aku menenangkan Bian. Aku ingin dia yakin kalau hanya dia satu-satunya lelaki yang ada di dalam hatiku.
"Baiklah. Aku yakin kamu pasti akan lakukan yang terbaik untukku. Sekarang kita masuk kelas. Belajar yang baik. Aku mau kehadiranku tidak mengganggu kegiatan belajarmu. Kalau bisa berikan nilai terbaikmu untuk membuatku lebih bangga," Bian memberiku support. Aku menjadi lebih termotivasi. Aku tertantang untuk keluar dari zona nyamanku dan menjadi Anita yang lebih baik dari kemarin.
"Terimakasih, Bian. Kamu terbaik,"
Kami berdua berjalan terpisah saat masuk ke dalam kelas. Aku duduk dengan tenang, tapi sekali-sekali aku mencuri pandang pada Bian yang terlalu serius menangkap materi dari dosen.
Sepulang kuliah...
Bian benar-benar membawaku ke mobilnya. Dia tidak merubah keinginannya untuk membeli cincin. Baru kali ini aku melihat mobil Bian, tampaknya dia memang bukan cowok biasa. Di balik gelarnya sebagai mahasiswa, ia mungkin mempunyai suatu jabatan penting lainnya.
Aku segera masuk ke dalam mobilnya. Kecepatan Bian dalam menyetir sedikit ugal-ugala menurutku. Tapi melihat caranya mengemudi dengan sangat serius aku jadi tidak takut sama sekali. Malah justru nyaman, dan ini bukan aku yang biasanya. Aku biasanya akan panik saat naik kendaraan yang terlalu kencang.
Tapi perlahan ia memelankan laju kendaraannya. Meskipun tadi aku tenang, aku merasa lebih nyaman dengan kecepatan normal seperti ini.
"Kalau tidak nyaman, bilang saja. Aku kan sudah bilang padamu, jangan takut untuk menonjolkan diri, aku juga mau mendengarkan keluhanmu, Anita." Bian berkat dengan lembut. Sepertinya, ia memang menyadari kalau aku sedang ketakutan tadi, hanya saja sedikit teredam oleh sikap santai Bian dalam berkendara.
__ADS_1
"Melihatmu konsen, aku jadi sedikit tenang dan tidak merasa ketakutan yang berlebihan. Terimakasih Bian, kamu sudah memperhatikanku seteliti itu," Ungkapku kagum pada kepribadian Bian. Salah satu sikapnya ini yang aku paling suka. Terlihat cuek tapi aslinya tidak, malah terlihat super perhatian.
"Tadi itu, bukan aku yang biasanya. Aku hanya mengetesmu, seberapa nyaman kamu ada di sampingku saat melaju kencang. Ternyata efek cinta memang luar biasa ya, yang panikan seperti kamu saja bisa sangat tenang berada di sampingku." Ledek Bian.
"Begitulah Bian, kalau dengan orang lain, aku pasti sudah heboh dan berteriak berulang kali. Hanya di sampingmu, aku merasa terlindungi," Aku jujur dengan apa yang aku rasakan saat ini.
Akhirnya kami sampai di sebuah toko perhiasan pilihan Bian. Aku dam dia turun dari mobil dengan santai. Tidak ku sangka, Bian menghampiriku dan menggandengku dengam mesra.
"Coba, sekarang kamu pilih, cincin mana yang kamu mau," Bian memberiku kebebasan untuk memilih cincin mana yang aku pilih. Aku sedikit takjub memandang sederet perhiasan yang ada di etalase.
Setelah beberapa saat memilih, kami menemukan sepasang cincin yang cocok dan membelinya. Setelahnya, kami memutuskan untuk makan siang di sebuah resto cepat saji.
"Anita, terimakasih untuk hari ini. Kamu tahu, hatiku sangat berbunga-bunga saat kamu menerima aku sebagai calon suamimu," Ungkap Bian jujur. Bagaimana ia sangat bahagia ketika Anita bersedia untuk menikah dengannya.
"Sebenarnya aku sudah punya jawaban sejak kamu mengungkapkan perasaanmu, Bian. Tapi aku tidak bisa mengabaikan keluargaku, makanya aku minta waktu untuk mendengar reaksi mereka terlebih dahulu," Untung saja reaksi mama sangat baik dan mau menerima Bian jadi calon menantunya meskipun Mereka belum pernah bertemu.
"Aku menunggu jawabanmu sampai susah tidur. Aku takut kamu menolakku, Anita. Secara aku ini hanya orang yang tiba-tiba hadir dalam hidupmu dan sekonyong-konyong mengajakmu menikah," Bian sadar dengan apa yang ia lakukan. Kekonyolan seseorang yang sedang jatuh cinta.
"Segitunya kamu menunggu? Pantas saja ada mata panda di area matamu," Ledek Anita, padahal itu sebenarnya tidak ada.
"Benarkah? apa aku perlu perawatan ke salon supaya kembali tampan?" Reaksi Bian di luar dugaan membuatku tertawa.
"Buat apa perawatan, nanti kamu semakin tampan Bian. Jangan di anggap serius. Aku hanya bercanda," Aku tidak bisa menyembunyikan senyum lebarku. Bian merengut mengetahui aku hanya mengejeknya.
"Aku pikir kamu serius. Setiap hari aku berusaha tampil maksimal di hadapanmu, supaya hanya aku yang kamu lihat," Omel Bian. Aku semakin tersenyum lebar mendengar pengakuannya. Wajahnya yang tampan itu ternyata masih membuat Bian tidak percaya diri di hadapanku.
"Bian, kamu terlalu berlebihan, kamu tidak sadar kalau wajahmu sangat tampan? Tidak perlu minder begitu. Kalau ada yang minder harusnya itu aku, kan?" Aku menatap Bian serius. Pipinya memerah, apa dia malu? Ternyata Bian bisa seimut ini?
"Kamu buat aku malu, memang iya aku tampan? Baru kamu yang bilang aku tampan, jangan coba membuatku senang," Bian tidak mempercayai ucapanku, dia merasa aku hanya sedang menyenangkan hatinya. Aku merasa senang, baru kali ini ada pria keren yang merasa jelek di hadapanku.
Ketika aku sudah memilikimu, aku merasa sudah tidak membutuhkan apapun lagi. Ketika aku sudah mencintaimu, aku sudah tidak bisa mencintai siapapun lagi. Ketika aku sudah menyayangimu, hanya kamulah yang aku mau, untuk menemani sisa hidupku.
(Dikutip dari Google.com)
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Hallo PH lovers...
Aku banyak mengucapkan terimakasih buat kalian yang sudah vote Perfect Husband di noveltoon dan mangatoon baik dengan poin ataupun koin. Aku mohon dukungan kalian selalu untuk Perfect Husband ya...
Aku juga mau kasih pengumuman nih..
Nanti di eps 100, PH akan adakan Give Away.
Caranya mengikuti kuis yang akan di adakan di grup fans PH.
Jadi, buat kalian yang belum masuk dalam grup, bisa tulis no wa kalian di kolom komentar.
Dukung juga karyaku yang lain:
Di goda Berondong
Si Tampan Pemikat
__ADS_1
Follow IG-ku @Ekayunn_15
Terimakasih