Perfect Husband

Perfect Husband
Chapter 34. Pembuktian (2)


__ADS_3

Cerita ini hanya fiksi, banyak adegan kekerasan. Bagi pembaca di bawah umur, harap bijak dalam memilih bahan bacaan. Terima Kasih



“Bu Alaia... Silahkan duduk, ada yang bisa saya bantu?.”


Alaia tersenyum dan duduk di sofa, sebelum mengutarakan keinginannya yang sebenarnya, Alaia memberikan sebuah amplop pada direktur panti tersebut. Bukan ajang sogok menyogok, tapi memang Alaia rutin memberikan uang untuk perawatan salah satu keluarganya yang dirawat di panti tersebut.


“Terimakasih.”


“Bagaimana kabar nenek?.”


“Beliau sangat sehat, hanya saja masih sama seperti sebelumnya.”


“Aku tidak ingin berharap lebih jauh karena memang keadaan nenek sudah tua. Aku akan menemuinya nanti, tapi apa aku bisa bertemu salah satu relawan baru disini? Namanya Dexon.”


“Tentu, aku akan mengantarkan bu Alaia bertemu dengannya.”


“Terimakasih.”


Mereka berdua keluar dari ruangan, Alaia mengikuti langkah direktur panti tersebut menuju ke gedung kedua, sudah terlihat seorang pria mengenakan rompi relawan yang tengah bergurau dengan seorang kakek-kakek duduk di atas kursi roda.


“Kakek kita ke taman belakang dulu ya...” Ucap direktur sambil mendorong kursi roda sang kakek tersebut, menyisakan Alaia yang hanya bersama Dexon. Wajah dingin Dexon membuat Alaia merasa tidak nyaman.


“Bisa bicara sebentar?.” Tanya Alaia.


“Bukannya sudah jelas kalau saya tidak membunuhnya?.”


“Saya tau, saya hanya ingin bertanya sedikit saja tentang korban, saya mohon...”


“Baiklah.”


Mereka berdua duduk bangku taman tengah di bawah rindangnya pohon mangga, Alaia menarik nafasnya dalam-dalam dan mulai membuka mulut.


“Anda sangat mengenal korban, mengenai pekerjaannya...”

__ADS_1


“Dia sangat menyukai pekerjaannya, setiap detik dia tersenyum setelah mendapatkan pekerjaan di A Group. Itu membuatku sangat kesal, tapi impiannya adalah bekerja di perusahaan besar, dan dia berhasil, saya senang. Tapi setelah beberapa hari berlalu, semuanya nampak sangat cepat berubah, saya hanyalah seorang pekerja fisik yang selalu telat pulang, tidak banyak mengerjakan pekerjaan rumah karena cepat lelah. Hingga puncaknya, dia minta putus, saya tidak terima karena kami membangun semuanya dari bawah, belum sampai di puncak tapi dia memiliki masa depan yang bagus.” Dexon melihat kearah Alaia “Jika semua orang berpikir saya yang membunuhnya, saya anggap wajar karena saya tidak rela dia bahagia, sedangkan saya tidak. Tapi, seperti yang dikatakan. Saya kehilangan orang yang paling berjasa dan berharga dalam hidup saya malam itu, saya tidak akan melakukan hal bodoh lainnya.”


“Apa anda mencurigai seseorang?.”


“Tidak, dia orang yang sangat baik, saya yakin semua orang menyukainya.”


“Teman kerja?.”


Dexon menggeleng “Tidak ada.”


“Tapi ada yang saya temukan di apartemen saya malam itu.”


“Apa?.”


“Sebentar.” Dexon masuk kedalam gedung dan kembali menghampiri Alaia setelah mendapatkan apa yang akan ditunjukkan pada Alaia. “Ini.” Dexon mengeluarkan sebuah kancing pakaian pada Alaia.


“Ini apa maksudnya.”


“Saya menemukan ini di bawah laci dapur apartemen saya. Ini kancing pakaian bukan milik saya, kemungkinan milik seseorang yang mengambil pisau di apartemen saya malam itu.”


Alaia mengambil kancing pakaian berwarna hitam tersebut dan melihatnya dengan seksama.


“Saya harap, anda bisa menemukan pelaku sebenarnya.”


Alaia mengangguk.



Agam keluar dari mobilnya dengan wajah dingin, dia mengambil kunci gudang sekaligus kunci kecil yang dia telakkan di tempat yang sama. Saat membuka pintu gudang, pandangannya langsung tertuju pada sofa yang sedikit bergeser dari terakhir kali dia meletakkan sofa tersebut. Agam buru-buru menggesernya dan membuka pintu lain di bawah sofa, sebuah tempat penyimpanan barang miliknya, terlihat juga darah di sekitar sana yang tidak Agam sadari sebelumnya.


“SIALAN!.” Agam memasukkan semua barang miliknya dari pakaian dan lain-lain kedalam kantong plastik hitam, dia juga membersihkan lantai yang terkena bercak darah kemudian keluar dari gudang menuju ke halaman belakang untuk membakar barang-barang miliknya yang sudah dikemasi.


Pikirannya tertuju pada sikap Alaia kemarin malam, Agam sangat yakin kalau Alaia berubah karena dia mengetahui apa yang Agam sembunyikan di gudang.


Mobil Alaia memasuki gerbang rumahnya, wajahnya tampak terkejut saat melihat mobil Agam di depan garasi. Tidak biasanya Agam pulang lebih pagi, Alaia keluar dari dalam mobilnya dan masuk kedalam rumah, dia menemukan Agam yang duduk di sofa sambil membuka laptop.

__ADS_1


“Sayang... kamu sudah pulang?.”


“Mas Agam tumben udah dirumah.”


“Memastikan beberapa hal.”


“Ada yang ketinggalan?.” Tanya Alaia was-was.


“Bukan.” Agam menutup laptopnya dan melihat ke arah Alaia dengan tatapan dingin “Aku sudah tau kenapa kamu berubah sayang...” Kalimat Agam membuat detak jantung Alaia seakan berhenti tiba-tiba. Agam meletakkan laptopnya di meja, gerakannya sangat pelan namun berhasil membangun rasa takut Alaia, pria itu berjalan menghampiri Alaia yang masih mematung di tempatnya.


“Maksud mas Agam?.”


“Apa yang kamu pikirkan dengan barang-barang di gudang?.”


“Aku tidak masuk gudang.”


“Kamu berbohong.”


Alaia menghembuskan nafasnya dan mulai bersikap lebih baik dari sebelumnya, melawan rasa takut yang tidak berdasar. “Kita menikah sudah hampir 2 tahun lebih mas, aku bahkan tidak banyak tahu tentangmu. Aku hanya tau kamu mencintaiku, bersikap sangat baik, bahkan memperlakukanku bagaikan seorang ratu melebihi apapun.”


“Apa yang ingin kamu ketahui? Bukannya sejauh ini sudah cukup kita hidup bahagia.”


“Aku bahagia, aku tidak bilang bahwa aku tidak bahagia, tapi sepertinya ada rahasia besar yang kamu sembunyikan. Aku ingin mencari tau sendiri, tapi sepertinya kamu sudah menyadari, jadi aku ingin bertanya padamu.”


Alaia mengeluarkan sebuah kancing pakaian dari dalam sakunya dan menunjukkan pada Agam “Aku mendapatkan ini dari pelaku yang dinyatakan tidak bersalah atas kasus pembunuhan salah satu karyawanmu. Dia memberikan ini padaku karena dia merasa tidak pernah membeli pakaian dengan kancing seperti ini. Dan kamu tau mas, aku melihat kancing seperti ini di pakaian yang ada di gudang, aku ingin berpikir positif tentangmu, tapi apa aku bisa berpikir positif setelah menemukan bercak darah disana?.” Jelas Alaia kembali.


Agam terdiam, dia tidak bisa mengatakan apapun walaupun Agam tau kalau cepat atau lambat Alaia akan mengetahui semuanya. Agam semakin berjalan mendekati Alaia, tapi Alaia menghentikan langkah Agam dengan mengacungkan telapak tangan kanannya ke depan.


“Sayang... aku bisa menjelaskannya, kematian itu sudah ditakdirkan dan kematiannya di takdirkan seperti itu.”


“Mas! Jadi benar kamu membunuhnya? Kamu pelaku pembunuhan itu?.” Hati Alaia seakan di pukul palu yang sangat besar, menghantamkan matanya dengan ketidakpercayaan yang kuat.


“Aku bisa menjelaskan semuanya sayang...”


Alaia menyentuh kepalanya yang pening, semuanya menjadi gelap dan kabur. Pandangannya buram dan dia tidak ingat apapun setelah itu. Bangun-bangun Alaia berada di ranjangnya dengan Agam yang duduk di sebelahnya menyentuh tangan Alaia dengan wajah khawatir.

__ADS_1


Saat Alaia melihat Agam, air matanya jatuh “Kenapa mas? Kenapa kamu melakukan itu semua.” Alaia tidak ingin menerima kenyataan bahwa dia harus menangkap suaminya sendiri sebagai pelaku kejahatan, mengingat bagaimana korban menjemput kematiannya dengan sangat sadis.



__ADS_2