
Aku terus berlari keluar dari kamar Andre tanpa perduli lagi, bagaimana keadaannya setelah aku pergi. Aku mengejar Andra yang sudah menuruni tangga dengan langkah panjang dan begitu cepat. Aku juga menuruni tangga secepat mungkin. Mengikuti arah kemana Andra berjalan, menelusup dan melewati beberapa tamu yang masih ada di sana.
"Andra! tunggu aku..." Aku mengejarnya sampai ke halaman di mana mobil kami terparkir.Nafasku tersengal dan sedikit berat. Perutku terasa sedikit kram, tapi aku tidak perduli. Rumah tanggaku sedang terancam sekarang. Andra sedang salah paham padaku, juga perubahan sikap Andre yang brutal membuatku sedikit syok.
"Lanjutkan! Lanjutkan acara melepas rindu kalian! Aku memberikan kalian waktu untuk berdua. Jadi aku sebaiknya pulang saja," Katanya dengan nada dingin. Aku tahu, kali Ini Andra marah padaku. Apalagi apa yang dia lihat tadi tidak bisa di sanggah dengan alasan apapun. Aku dan Andre memang seperti sedang akan memulai hubungan percintaan. Aku akan tetap salah di mata Andra. Dia tidak akan menerima alasanku begitu saja.
Aku segera berlari memeluk Andra, dan laki-laki itu tidak membalas pelukanku untuk pertama kali. Tangannya tetap berada di kanan kiri tubuhnya. Tapi aku menyadari, semua itu karena aku yang sedang bersalah. Dia berfikir, aku telah menghianatinya.
"Mas, maafkan atas kelancanganku, aku tidak bohong. Apa yang kamu lihat tidak sama dengan apa yang kamu pikirkan, mas" Aku mulai menangis, tapi sikapnya masih tetap dingin. Dia sepertinya tidak perduli dengan apa yang aku katakan.
"Aku bawa kamu ke pesta ini, bukan untuk meniduri kakakku, kamu membuatku kecewa, Sila. Aku pikir kamu bukan wanita seperti itu, tapi ternyata dugaanku, salah." Andra menghujatku. Ia mengira aku adalah wanita semacam itu. Secepat kilat aku melepaskan diri darinya. Aku tidak menyangka dia memiliki pemikiran sepicik itu kepadaku.
"Mas, Aku tidak seburuk yang kamu pikirkan. Aku bukan wanita murahan. Semuanya hanya salah paham. Kamu tidak bisa mengira-ngira hanya dengan modal penglihatan, mas. Aku tidak pernah mengkhianati pernikahan kita," Aku terus menangis, hatiku sangat pedih dengan perkataan Andra yang memojokkanku. Ia seperti sama sekaki tidak ingin tahu apa yang sedang aku rasakan saat ini.
"Tapi yang aku lihat jelas. Faktanya, kamu sedang berciuman dengan kakakku. Jadi, apa aku masih butuh penjelasan yang lain?! " Andra bertanya dengan tatapan yang sangat tajam padaku. Setajam mata elang yang sedang mengincar mangsanya. Wajahnya yang putih berubah kemerahan, matanya pun tampak memerah. Aku belum pernah melihat Andra seseram ini.
"Mas, dia memaksaku, aku sedang merawat lukanya tadi. Dia kambuh depresinya dan melukai dirinya sendiri. Aku sama sekali tidak berniat untuk selingkuh darimu," Aku mencoba menjelaskan semampuku. Semoga saja Andra kali ini mau mendengar perkataanku. Dia berhenti memusuhiku seperti sekarang.
"Kamu tidak perlu perdulikan dia lagi, dia sudah punya tunangan. Tunjukkan usahamu kalau kamu memang masih ingin menjadi istriku. Beraninya kamu masuk ke kamar laki-laki lain dan berbuat seperti itu!" Andra menarik tanganku kasar, memasukkanku ke dalam mobil dan menutup pintunya dengan sangat keras, sampai aku kaget. Ia masuk ke dalam mobil menyusulku dengan arrogant. Lalu membawa mobil itu berlalu, pulang ke rumah kami dengan sangat cepat.
"Mas, kamu boleh marah padaku, tapi jangan pada bayi kita. Dengan kamu ngebut seperti itu, kamu sudah membahayakan dia," Aku coba mengingatkan. Ternyata Andra begitu perhatian pada anaknya. Dia dengan segera menurunkan kecepatan mobil yang sedang kami tumpangi. Aku sedikit bernafas lebih tenang.
"Bagus, masih ingat sudah punya bayi dariku," Andra tetap judes. Aku sungguh tidak bisa melihat orang yang aku cintai marah seperti ini. Rasanya sangat menyiksaku. Sesampainya di rumah, aku ingin segera memeluknya, aku sudah sangat rindu dengan kebiasaanku saar hamil. Tapi aku tidak yakin hari ini aku bisa mendapatkannya.
Kami sampai di rumah. Ia tidak memperdulikanku. Langsung masuk ke dalam rumah dan menuju kamar. Aku tetap mengikutinya. Tidak perduli, ia menganggapku atau tidak.
Ia melepas jasnya beserta celananya. Memakai kaos santai dan hanya memakai celana pendek lalu naik ke tempat tidur. Ia sama sekali tidak berbicara apapun. Ia sengaja menyiksaku dalam diam.
Aku juga segera mengganti pakaianku dengan baju santai. Sebuah daster pendek yang sekarang mulai jadi favoritku. Aku merebahkan diri di dekat Andra. Lelaki itu terpejam, tapi aku yakin dia tidak sedang benar-benar tidur.
Aku mendekatinya dan dia tetap memejamkan matanya. Dia pasti masih marah. Bayangan aku berciuman dengan Andre pasti sangat membekas dalam ingatannya. Aku sendiripun jijik untuk mengingatnya.
"Mas, maafkan aku. Aku kangen kamu mas..."
"..." Andra tidak mengatakan apapun.
"Mas, aku sungguh-sungguh tidak pernah mengkhianati mas, aku hanya mau mas, aku hanya cinta sama mas. Percayalah padaku mas." Aku mulai memohon. Kali ini Andra menggeser tidurnya, memelukku dan melingkarkan tangannya ke pinggulku. Ia memandangku penuh arti, amarahnya yang tadi menyala, kini telah padam.
"Kamu tahu, aku sudah sangat mencintaimu kan? Kamu juga tahu, aku sudah tidak mau kehilanganmu, Aku juga tidak ingin ada orang ketiga di antara kita, tapi kenapa kamu masih menemuinya? kenapa?" Andra menanyakan itu padaku dengan mata berkaca-kaca. Aku tahu, aku melukai perasaannya.
"Mas, maafkan aku. Aku sama sekali tidak berniat untuk menggoda kakak, atau mendatangi kakak. Aku hanya ingin menyelidiki kata-kata mas benar atau tidak dengan perasaan kak Andre, cuma itu mas tujuanku," Aku menjelaskannya lagi, aku ingin dia percaya bahwa perasaanku begitu dalam padanya dan tidak mungkin semudah itu aku mengkhianatinya dengan cara konyol seperti itu.
"Cup" Andra mengecup bibirku sekilas, lalu memelukku erat, ia mengelus rambutku pelan.
"Maafkan mas juga ya, sudah terlalu kasar padamu, seharusnya mas dengarkan dulu alasanmu, baru marah dan cemburu," Andra tampak begitu menyesal telah memperlakukan aku seperti tadi.
"Kamu nggak apa-apa kan sayang? maafkan papa ya, tadi papa nakal..."Andra mengelus perutku. Aku merasa lega, dia bisa memaafkan aku dan mau menerima kehadiranku lagi. Tadinya aku merasa sangat takut dia akan marah sampai mengusirku. Aku memeluknya erat dan menangis tersedu-sedu. Aku sangat ketakutan saat tadi dia marah.
"Maafin aku, mas... aku sayang sama kamu. Aku mau kita bertiga selalu bersama dan bahagia. Aku tidak mau sampai kita berpisah. Aku sangat mencintai mas," Aku sampai sesenggukan di pelukannya. Airmataku sudah membasahi kaosnya. Aku lega, kami sudah bisa bermesraan seperti kemarin.
Andra menjauhkanku dari tubuhnya, menghapus airmata yang masih mengalir deras. ia tampak sangar mengkhawatirkan aku. Ia bahkan sampai tidak tega melihatku seperti sekarang.
"Sayang, kamu pasti belum makan, kan? Belum minum susu? Wajahmu pucat sekali, sayang," Andra tampak begitu panik. Aku memang lemas sekarang dan badanku tidak bertenaga.
__ADS_1
"Aku nggak apa-apa, mas. Istirahat sebentar nanti juga sembuh kok," Aku menahan rasa tidak enak di badanku. Mungkin aku masuk angin karena belum makan siang. Tapi perlahan kepalaku pusing, dadaku sedikit sesak. Pandanganku sedikit kabur.
"Sayang! Sila! Sila! kamu kenapa sayang?! Sila...!" Aku hanya bisa mendengar Andra memanggil namaku. Pandanganku semakin kabur, akhirnya aku tak ingat apa-apa lagi.
Saat terbangun, aku terbaring di kamarku dengan jarum infus yang terpasang di punggung tangan kananku. Andra terlelap di sampingku, setengah memeluk sambil memegang tangan kirikuku erat. Aku balas menggenggam tangannya erat. Tiba-tiba aku teringat dengan bayiku yang dulu gugur.
"Mas.. mas... bayi kita nggak kenapa-napa kan?" Aku membangunkan Andra.
"Sayang, tenang ya... bayi kita baik-baik saja kok. Kamu tadi pingsan hanya karena kurang cairan dan nutrisi juga karena terlalu panik, sekarang kamu makan dulu, ya..." Andra mengambil mangkuk yang ada si meja berisi bubur dan menyuapkan ke mulutku perlahan. Aku menitikkan airmata mengingat kejadian tadi. Andra dengan sigap menghapus airmataku dengan tisu yang ada di dekatku.
"Jangan menangis lagi, sayang. Mas minta maaf ya.. mas terlalu kasar sama kamu, nuduh kamu yang bukan-bukan. mas bentak kamu, maaf sayang. Mas khilaf.." Andra mengelus rambutku dengan lembut. Ia tetlihat sangat menyesali perbuatannya tadi. Tidak perlu meminta maaf, aku pun sudah memaafkan kesalahannya itu. Aku disini juga salah. Seharusnya aku tidak pernah datang ke kamar Andre.
"Mas nggak akan ulangi ini lagi, mas nggak akan bentak kamu lagi, nggak akan kasar sama kamu lagi, nggak akan nuduh kamu sembarangan lagi, maafin ya.."Andra terus memohon. Aku tersenyum melihat tingkahnya yang seperti anak-anak. Dia imut. Kalau aku tidak sedang lemah begini, aku pasti sudah menjahilinya.
"Mas, udah minta maafnya. nggak usah di ulangi terus. Aku udah maafin mas kok. Kesayanganku ini jangan takut, di hatiku cuma ada kamu, serius," Aku merayunya. Andraku yang manis tersenyum lagi seperti biasanya. Ketakutanku kehilangannya sirna saat itu juga.
"Beneran sayang? Serius? Aku nggak salah denger kan, ya? Mas kira, kamu akan ngambek dan nggak mau bicara sama mas. Mas nggak mau terjadi apapun padamu, sayang. Pukul aja mas, udah naik mobil ugal-ugalan tadi, sampai kamu ketakutan," sesalnya sambil memaki dirinya sendiri. Dia sangat menggemaskan. Meskipun sudah dewasa, tapi wajahnya masih menipuku. Bahkan dia tidak pantas menjadi direktur, lebih pantas jadi mahasiswa.
"Mas, jangan bersikap imut gitu, ah. Aku jadi gemes mau jailin kamu, tau. Aku nggak bisa ngambek sama suami kesayanganku ini," Aku menarik hidung Andra gemas. Dia tersenyum senang, karena aku sudah memaafkan dan menerimanya.
"Ehmm..." Anita mendehem memberi kode kepada kami kalau dia datang. Lama sekali sejak di taman itu. Aku baru bertemu dengannya sekarang.
"Anita! Sini.. sini.." Aku sedikit histeris menyambut kedatangannya. Ia mendekatiku.
"Sama siapa? kok tahu aku di rawat?" Aku langsung mencecarnya dengan pertanyaan. Rindu sekali dengan sahabat sekaligus adik iparku itu.
"Sama mama dan papa, kak. Eh, gapapa kan ya aku manggil kamu kak, kan kamu udah lama jadi istri kak Andra," Anita mengulas senyum. Memang semenjak aku menikah dengan Andra, dia selalu memanggilku denga sebutan seperti biasa kami lakukan.
"Sila, gimana keadaan kamu? kandungan kamu baik-baik aja kan?" Mama tampak sangat khawatir dengan keadaanku dan cucunya.
"Baik, ma. Kandunganku juga baik," Aku tersenyum kepada kedua orangtua kami yang baru saja datang.
"Andra! kata satpam rumah, kamu menarik kasar Sila tadi siang, kenapa?!" Papa marah pada Andra. Ternyata satpam rumah papa mengadukan pertengkaran kami padanya.
"Itu salah paham pa," Jawab Andra tegas.
"Kamu tahu kan, Sila sedang hamil?! Untung saja kandungannya kuat. Coba kalau seperti anakmu yang pertama, apa kamu tidak menyesal?!" Papa terus saja mengomel. Ia kesal dengan tingkah Andra yang menurutnya terlalu kasar.
"Maaf pa, Andra benar-benar khilaf,"Andra coba membela diri. Aku jadi tidak tega melihatnya terpojok.
"Kami sudah baikan kok, pa, ma. Tadi yang terjadi hanya salah paham," Aku berusaha membelanya.
"Sudahlah, pa. Maafkan Andra. Lihat kan... sekarang mereka baik-baik saja. Kandungannya juga baik." Mama membelaku. wanita paruh baya itu menepuk-nepuk bahu suaminya dengan sabar.
"Kalau begitu, ayo.. mama dan papa, kita ngobrol di ruang tamu. Biar Anita yang menemani Sila di sini,"
Andra mengajak mereka berdua keluar kamar.
Saatnya aku membahas hal pribadi bersama Anita. Setelah menikah aku dan dia memang tidak sedekat dulu. kami bahkan jarang saling sapa meskipun di dalam sosmed.
"Nit, gimana hubungan kamu sama Beno?" Tanyaku penasaran.
"Aku dan Beno kayaknya nggak ada harapan deh, Sil," Keluhnya padaku. Sepertinya dia sedang ada masalah.
__ADS_1
"Kenapa? Ayo cerita..." Aku membujuknya untuk menceritakan kegelisahan hatinya padaku.
"Beno katanya mau ikut papanya dinas ke tokyo. Dia minta kita tetap jalani hubungan jarak jauh. Tapi aku nggak bisa, Sil. aku butuh pacar dunia nyata bukan pacar dunia maya," Curhatnya. Aku bisa mengerti, kenapa dia tidak ingin melakukan hubungan jarak jauh. Dulu, Anita dan Leon mantan pacarnya juga seperti itu. Karena terpisah jarak, akhirnya hubungan mereka kandas di tengah jalan.
"Jadi kamu putus dengan Beno?" Aku semakin penasaran. Anita hanya mengangguk pelan mengiyakan pernyataan aku. Sayang sekali, padahal mereka pasangan serasi.
"Jangan galau...Eh, kamu ingat Affandi?" Tanyaku, berharap anita ingat pada dokter muda itu.
"Affandi teman sekelas kita?!" Anita ternyata masih ingat dengan Affandi. Mungkin aku ada peluang untuk menjodohkan mereka berdua.
"Betul. Beberapa saat yang lalu, aku bertemu dengannya, dia sekarang jadi dokter muda, loh." Aku menabgkap keterkejutan Anita saat tahu Affandi adalah seorang dokter.
"Dokter? wah.. keren dong. Dokter apa?" Anita tampak penasaran dengan profesi Affandi.
"Dokter kandungan. Dia punya klinik sendiri. Tadinya aku nggak percaya, Affandi bisa dengan sangat singkat mendapat gelar dokter.Dia memang cerdas sih, meskipun buruk di beberapa pelajaran." Celotehku mengenang masa sekolah dulu bersa mereka.
"Keren ya.. gimana wajahnya? makin tampan kah?" Anita langsung heboh. Dia selalu tergoda jika ada lelaki mapan.
"Makin ganteng tau nggak. keren lah pokoknya. Kalau kamu bertemu dia pasti langsung jatuh cinta pada pandangan pertama." Aku sengaja membumbui agar Anita semakin penasaran dengan sosok Affandi.
"Serius? Penasaran aku, asli. Ada kontaknya nggak?" Anita sepertinya akan segera melancarkan aksinya mendekati Affandi.
"Ada, ntar aku kasih. gimana kalau kita reunian bertiga?" Aku mencetuskan sebuah ide yang mungkin bisa menjadi momen pendekatan Anita dan Affandi.
"Memangnya di izinin sama kakak?" Anita khawatir tidak akan di izinkan oleh Andra. Secara ada Affandi di sana.
"Soal kakakmu, serahkan saja padaku.." Kataku dengan begitu yakin. Setidaknya aku punya kesempatan untuk menjodohkan sahabat-sahabatku dengan orang yang tepat.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Hallo PH lovers, terimakasih sudah mampir.
jangan lupa klik love dan rate bintang 5 nya ya..
Tulis komentar kalian di bawah ini 👇👇👇
jangan lupa mampir ke novelku yang lain
judulnya
-Si Tampan Pemikat
-Digoda Berondong
Follow ig ku @Ekayunn_15
Buat yang mau gabung grup fans PH juga boleh banget. Caranya:
Tulis nomor WA kalian
di kolom komentar.
terimakasih..
__ADS_1