Perfect Husband

Perfect Husband
67. Fitting


__ADS_3

#POVAndre


Hari ini aku dan Vallen pergi ke toko butik langganan mama untuk fitting baju pertunangan kami. Acaranya satu minggu lagi. Kemarin aku juga sudah sempat mengunjungi Andra dan Sila untuk memberitahu kabar pertunangan kami.


Aku ikut bahagia, sekarang hubungan Andra dan Sila membaik bahkan terlihat begitu romantis saat aku tanpa sengaja menangkap keberadaan mereka di balkon. Aku sekarang juga belajar untuk menata hidupku. Aku dan Vallen sepakat memulai bersama mulai dari nol dan tidak saling memaksakan.


Beberapa hari lalu, aku juga sudah membeli sebuah rumah yang akan kami tempati berdua setelah menikah nanti. Aku sengaja mempercepat pernikahan kami, agar kami lebih cepat memulai saling mencintai. Vallen juga sangat pengertian padaku, saat aku memberitahukan tentang perasaanku yanh sebenarnya, dia tetap menerimaku. Bahkan saat aku meminta syarat untuk butuh waktu mencintainya, diapun tidak keberatan. Itulah yang semakin membuatku yakin untuk menikahinya. Aku memang merasa tidak normal. Mungkin aku juga butuh theraphy, Vallen bilang, dia akan membantuku untuk sembuh.


Aku merasa beruntung bertemu orang sebaik Vallen. Sila benar-benar memilihkan orang yang tepat untukku. Meski dengan perasaanku yang seperti ini gadis itu bisa membuat aku tenang. Sejujurnya, aku juga ingin bahagiq, aku ingin berhenti mencintai Sila. Tapi tetap saja sulit. Mungkin orang akan mudah bicara, lupakan saja, masih banyak wanita lain. Tapi kenyataannya, aku belum menemukan wanita yang seperti Sila.


"Sayang, aku mendadak punya ide, gimana kalau temanya putih, bagus loh, kelihatan elegan. Coba lihat foto ini," Vallen menunjukkan foto tema pertunangan dengan tema putih. Baik tempat ataupun baju. Aku tertarik.


"Boleh, itu bagus, Val," Kataku semangat. Meskipun rasanya, kami berdua seperti sedang mencari alat untuk acara ulangtahun, di hatiku tidak ada yang spesial. Bahkan getaran di hatiku pun tidak ada.


"Berarti kamu pakqi jas ini," Vallen menunjukkan setelan jas berwarna serba putih, bagiku pilihannya tidak terlalu buruklah, malah cukup bagus. Dulu saat masih Sila SMA, dia yang suka pilih bajuku saat aku beli dan seleranya pas denganku.


"Kalau gaun ini cocok denganku?" Vallen menunjuk gaun putih yang banyak aksen bunga dan manik di mana-mana. Gaun yang sangat indah, cocok untuk tubuh vallen yang ideal.


"Bagus, bagus. Baju ini cocok untukmu," Aku berusaha menyenangkan hatinya dan membuatnya bahagia.Sebenarnyq aku kasihan pada Vallen yang terpaksa harus seperti ini.

__ADS_1


"Sayang, ayo kita pilih cincin," Vallen menarikku ke tempat perhiasan. Aku berusaha untuk menuruti keinginannya dengan mengikutinya dari belakang.


"Kamu pilih mana yang kamu suka, aku pasti akan suka," Aku menyerahkan semuanya pada Vallen. Aku akan ikuti apa yang dia mau, karena hanya ini yang aku bisa lakukan. Karena hatiku belum bisa dimilikinya.


"Oke, jadi aku pilih yang... ini, Coba deh pake, sayang," Aku menyodorkan jariku, dan dia mencobakan cincin di jari manisku, ternyata pas.


"Manis banget kan sayang. Kita ambil yang ini ya..." Vallen tampak ceria, sedikit kesedihanpun tak tampak.


"Oke, aku setuju," Aku menyetujui semua pilihannya. Setelah menyelesaikan transaksi, kami berdua pergi makan ke resto yang ada di dekat sana.


Selama makan, kami berdua saling diam. Aku bingung mau membahas apa dengannya. Aku menunggu dia yang memulainya.


"Maafkan aku ya, Vall. Seharusnya kita bisa seromantis pasangan lain. Aku akan terus belajar kok," Kataku merasa bersalah padanya. Pasangan lain tidak ada yang sedingin kami berdua.


"Aku paham kok, Sila sudah cerita semuanya sama aku. Aku tidak akan menjauhimu Ndre, meskipun kamu orang teraneh dan terdingin di dunia, karena suatu saat, batu yang keraspun dapat berlubang hanya karena tetesan. Aku yakin suatu hari hatimu akan berubah," Vallen dengan percaya diri memberikan harapan kepada dirinya sendiri. Sementara aku? Aku sendiri tidak sebegitu yakin dapat terlepas dari perasaan ini.


"Terimakasih, atas semua pengertianmu. Sekali lagi, untuk semua yang terjadi hari ini, aku minta maaf," Aku kembali mengakui kesalahanku di depan Vallen.


"Kalau kamu belum siap menikah denganku, kita undur saja rencana pernikahannya, Ndre," Vallen berkata tegas, sqmbil menyeruput pelan minumannya.

__ADS_1


"Aku siap menikah denganmu, lagipula kanu sudah menandatangani kesepakatan yang telah kita buat bersama kan? Tolong bantu aku Vallen. Aku ingin seluruh keluargaku yakin, aku sudah baik-baik saja," Aku memohon pada gadis itu. Walaupun aku tahu, semua ini sulit untuk di jalani olehnya.


"Tentu saja aku akan membantumu, semoga suatu hari kamu berbalik mencintaiku perlahan. Semuanya memang butuh waktu kan?" Vallen tersenyum kepadaku dengan sangat lembut.


"Berusahalah, gadis. Aku akan sangat berterimakasih jika kamu berhasil merebut hatiku," Aku tahu, aku sudah memberinya harapan yang terlalu besar, tapi aku sendiripun akan berusaha untuk mencintainya sebisaku. Setidaknya, dengan menikah, aku akan membuat Sila merasa lebih baik.


Mungkin jika Vallen tahu, dia akan memprotesku. Aku hanya selalu mempertimbangkan perasaan Sila, bukan perasaan siapapun. Bahkan aku tidak perduli jika diriku yang harus menderita.


Aku seperti hidup dalam kutukan cinta abadi, yang membuatku merasakan senuah rasa sakit yang mungkin tidak akan bisa terobati. Jika luka hatiku bisa dilihat secara fisik, mungkin orang lainpun tak ingin melihatnya.


Aku hanya berusaha tahu diri, bahwa gadis yang sangat aku cintai, kini sudah menjadi istri adikku sendiri, dengan alasan itulah, aku memilih untuk begini.


"Andre..." Vallen menyentuh tanganku, aku sedikit tersentak. semua yang sedang kupikirkan berceceran


"Y-ya... ada apa?" Aku tergagap. Pasti sekarang Vallen menyadari kalau aku sedang memikirkan Sila. Argh! aku kesal pada diriku sendiri, aku tidak bisa mengontrol perasaanku.


"Mikirin Sila? ada aku lo, disini. Deket sama kamu," Vallen meraih tanganku. meyakinkan aku kalau dia ada di hadapanku. Entah sampai kapan, aku akan seperti ini terus. Aku seperti sedang mengukir luka secara perlahan di hati gadis yang ada di hadapanku. Aku tidak yakin, dia akan bertahan lama dalam situasi ini. Menghadapiku yang tidak normal seperti seorang laki-laki pada umumnya.


"Maafkan aku, Vallen. Aku belum bisa mengendalikan perasaanku dengan baik. maafkan aku. Itulah kenapa aku selalu menyarankan kamu untuk tidak menjalankan semua ini, aku takut menyakitimu," Kataku jujur. Aku menatap wajah polos wanita yang ada di hadapanku itu. Ia sama sekali tidak terlihat sedih. Bahkan ia sangat ceria. Rasanya aku semakin merasa berdosa melakukan ini padanya.

__ADS_1


"Aku tidak akan menyerah, sedikitpun. Aku akan berjuang membuatmu kembali normal," Ia balas menatapku penuh keyakinan


__ADS_2