
POVAndre
Setelah cahaya putih dengan sangat terang memancar, aku membuka mataku. Tidak ada siapapun, selain seorang Dokter laki-laki yang tengah mengamatiku.
"Pak Andre,apa yang anda rasakan?" Tanya Dokter muda itu, yang aku perkirakan masih seumuran denganku.
"Tidak ada, Dok. Hanya sedikit pusing," Aku menjawab sesuai apa yang aku rasakan saat ini. Rasa pusing dan nyeri memang masih samar-samar terasa.
Aku hanya ingat, sore itu aku mengalami kecelakaan hebat. Tapi kenapa sudah tidak ada luka di badanku, hanya beberapa luka gores yang aku rasakan saat mengusap sebagian wajahku. Vallen, bagaimana keadaannya? Aku rindu sekali pada istriku itu.
"Apakah anda dapat mengingat semua anggota keluarga dan orang terdekat anda?" Pertanyaan Dokter itu membuatku mengernyitkan dahi.
"Tentu saja, Dok. Mengapa anda menanyakan hal itu?" Aku penasaran. Apa yang aku alami sebelum ini? Apakah aku mengalami sesuatu?
"Sebelumnya, Anda mengalami amnesia singkat yang parah. Tidak ada satupun keluarga dan kerabat dekat yang anda kenali, kecuali seorang wanita," Dokter itu seperti hanya memberikan puzzle yang mengundangku untuk penasaran pada apa yang dia katakan.
"Siapa wanita yang saya ingat itu, Dok?" Aku tidak sabar ingin mengetahui siapa yang aku ingat saat aku amnesia.
"Seorang wanita muda, bernama Sila. Dia mengaku sebagai adik anda," Dokter itu memberikan informasi yang aku inginkan. Sila? Dalam keadaan tidak sadar pun aku masih mengingatnya?
"Dia, dia memang adik iparku Dok," Aku menjelaskan hubungan antara aku dan Sila.
"Dia sangat membawa keberuntungan terhadap anda, Pak. Saya sangat terkejut, saat anda yang sudah tidak bernyawa dan siap di masukkan ke ruang mayat, ada kembali degup jantungnya setelah di peluk oleh Nona Sila," Keterangan dokter itu membuatku sedikit merinding. Benarkah aku sudah mati lalu hidup kembali? Pelukan Sila? Apakah sosok hangat yang ada dalam mimpiku itu? Aku harus mengesampingkan masalah Sila. Aku harus bertemu dengan Vallen. Pasti saat ini dia sedang sedih, menungguku sadar.
"Dokter, tolong panggilkan Vallen istri saya. Terimakasih atas info yang sudah dokter berikan untuk saya," Aku ingin segera bertemu dengan Vallen, dia wanita yang baik dan seseorang yang membuatku nyaman beberapa waktu ini.
"Baik," Dokter muda itu berjalan menjauh menuju pintu keluar. Lalu ia menghilang di sana. Seperti apa Wajah Vallen? apakah dia tetap cantik seperti saat itu? Atau hari ini dia natural tanpa make-up? Sejak kapan aku memikirkannya?
"Andre...!" Vallen berjalan cepat ke arahku. Di tubruknya tubuhku, memelukku erat sambil menangis. Aku tahu, ini adalah bentuk rasa rindu yang dia rasakan.
"Kamu jahat, mengabaikanku terlalu lama, baru sekarang kamu ingat aku? Aku takut kehilanganmu seperti saat itu, Jangan meninggalkan aku terlalu cepat, aku masih ingin bersamamu, jelek..." Vallen mengumpatku sambil menangis. Lucu sekali. Dia tampak sangat merindukan aku.
"Jangan takut, Vall. Sekarang aku ada di sini, aku akan menjagamu, pukul aku, aku memang jahat, aku sudah membuat kamu sedih, ayo..." Aku menggoda gadis cantik yang sudah menjadi istriku ini.
"Aku kesal. Bukan aku yang ada dalam ingatanmu, saat kamu lupa ingatan. Kamu hanya ingat Sila, hingga dia harus mengurus segala keperluanmu 24 jam, buat aku cemburu," Gerutunya, masih memelukku erat. Aku mengelus rambutnya pelan.
"Sebagai gantinya, setelah aku pulang dari rumah sakit, kamu tidur di kamarku, ya. Kita sekamar. Tidak ada lagi kamarmu atau kamarku, adanya.. kamar kita," Semoga keputusanku ini membuat gadisku itu mau tersenyum kembali. Aku tahu aku terlalu dingin padanya. Bagaimana cinta akan hadir, jika aku tidak memberinya kesempatan untuk mendekatiku.
"Kenapa kamu tiba-tiba ingin tidur bersamaku? Aku tidak akan mau jika kamu melakukannya karena kasihan padaku," Seperti dugaanku, Vallen tidak percaya, kalau aku tulus menginginkannya tidur bersamaku. Meskipun aku belum siap melakukan 'itu' dengannya, tapi setidaknya aku bisa memberikannya kenyamanan dengan tidur memelukku.
"Itu... itu... karena...." Aku seperti kelu untuk mengucapkannya. Aku sedikit grogi, aku ingin menyatakan perasaanku. Setidaknya, aku ingin jujur dengan apa yang aku rasakan saat ini.
"Karena apa? ayo bilang..." Vallen menantangku. Ia menatapku tajam. Rasanya lidahku jadi semakin kelu.
"Sebenarnya.. aku.. mulai menyukaimu," Aku memalingkan wajahku ke arah lain. Aku malu. Mungkin saat ini wajahku memerah.
"Serius? Kamu nggak lagi gombalin aku kan,Ndre?" Vallen benar-benar tidak dapat menganggapku serius. Apa aku kelihatan sedang bercanda? Aku padahal mengungkapkannya dengan susah payah.
"Apa aku kelihatan sedang bercanda?" Aku balik menatapnya serius.
"Tidak, tentu saja tidak. Aku hanya sedikit terkejut. Setelah hampir sebulan kita menikah, akhirnya kamu mau membuka hatimu untukku. Terimakasih, Andre," Vallen bangkit dan mengecup pipiku berulang. Aku merasa sangat nyaman. Tidak ada penolakan yang timbul di dalam hati dan pikiranku.
"Kata Sila, depresimu sudah sembuh. Ia sudah banyak membantumu saat kamu amnesia kemarin. Ia rela mengurusmu dan mengesampingkan Andra. ia sangat baik dan sabar merawatmu. Sampai ingatanmu kembali seperti sekarang. Pantas saja, kamu sangat mencintainya dulu, dia wanita berhati malaikat. Daripada cemburu, aku lebih simpati padanya." Sila lagi? dia yang membantuku sembuh? Dia selalu membantuku, padahal aku pernah berbuat jahat padanya. Menciumnya dengan paksa dan hampir saja menidurinya. Arrgh, aku kecewa pada diriku sendiri.
"Dia memang gadis yang baik. Itu memang salah satu alasanku menyukainya dulu. Tapi sekarang aku juga memilikimu, kamu sama baiknya dengannya. Izinkan aku untuk belajar mencintaimu, Vall," Akhirnya aku bisa mengatalan ini. Entah karena depresiku yang hilang, atau karena Vallen yang selalu membuatku nyaman, aku merasakan hatiku yang beku mulai mencair.
"Aku tidak sedang bermimpi kan? Serius apa yang kamu bilang?" Lagi-lagi dia tidak mempercayaiku, aku iseng mencubit pipinya.
__ADS_1
"Aauuw... sakit tau, sembarangan nih, main cubit aja," Gerutu Vallen, aku tertawa kecil melihat tingkahnya yang terlihat sangat lucu dan imut.
"Terasa kan cubitanku? itu tandanya, kamu nggak lagi mimpi, aku serius mau belajar mencintai kamu. Jadi, kamu izinkan atau nggak?" Aku memberikan tawaran pada Vallen.
"Tentu saja boleh, aku akan mengajarimu, bagaimana cara mencintaiku dengan baik dan benar," Gaya Vallen seperti seorang tutor pelajaran tambahan di website.
"Siap guru!" aku meletakkan tanganku di jidat seperti orang yang sedang hormat.
"Guru apa?" Vallen mencibirku dengan mencebikkan bibirnya. Membuatku gemas.
"Guru cinta," Ku terkekeh. Vallen merengut, pura-pura kesal.
"Dih, sejak kapan Andra jadi tukang gombal?" Celoteh Vallen seperti sedang menyindirku.
"Sejak aku mulai menyukai gadis mungil, berambut pendek tapi lurus, yang selalu cerewet tapi perhatian.."Aku sengaja menggodanya. Dia pasti gemas saat ini.
Kami menghabiskan waktu berdua dengan penuh canda tawa. Aku senang, pada akhirnya aku bisa sedikit bebas tanpa gangguan jiwaku. Aku bisa kembali menata hidupku dengan normal.
Setelah kembali ke rumah...
"Bi, tolong pindahkan barang-barang Vallen ke kamar Saya," Aku menyuruh asisten rumah tangga kami untuk memindahkan seluruh barang-barang Vallen ke kamarku.
"Baik, Tuan..."
"Mau makan apa? yuk, aku temenin makan,"Vallen menggandengku ke meja makan. Ini makan siang bersama yang pertama kali kami lakukan.
Vallen menyiapkan makanan yang akan ku makan, mulai dari nasi, sayur dan lauk. Dia juga menyiapkan segelas air putih untukku. Aku suka perlakuannya ini. Tampak sekali dia perhatian padaku.
"Kamu nggak makan juga?" Tanyaku pada Vallen yang tampak hanya diam sambil terus memperhatikan aku yang mulai melahap makanan yang telah ia siapkan.
"Aku sudah kenyang karena menatapmu seperti ini," Gombalnya. Aku menahan senyumku. Semakin aku terbuka padanya, ia mulai jadi sedikit genit.
"Sudah sejak lama aku tergoda padamu," kalimatnya di ucapkan seperti sedang bersya'ir.
"Serius?" Kini gantian aku yang mengintrogasinya..
"Serius Andre. Sejak pertama kali aku bertemu kamu di resto waktu itu, aku mulai jatuh cinta sama kamu. Cara kamu menghargai kehadiranku meskipun kamu tidak suka, itu sangat membuatku terkesan,"
Vallen tampak sangat jujur mengatakan ini. Saar itu, sebenarnya aku hanya menghargainya karena dia pilihan Sila. Aku hanya ingin menyenangkan hatinya karena sudah memilihkan seseorang untukku.
"Jadi dari itu, kamu mulai suka sama aku? Itu yang membuatmu bertahan meskipun aku bersikap dingin padamu?" Aku ingin mengetahui perasaan Vallen lebih dalam lagi.
"Bukan, Aku selalu bertahan karena aku merasa kamu memang butuh seseorang yang bisa memeluk dan menghangatkan hatimu, agar hatimu yang beku itu bisa meleleh perlahan. Aku sangat simpati padamu saat pertama kali Sila menceritakan tentangmu." Vallen mengisahkan asal muasal tumbuhnya perasaan dalam hatinya untukku.
"Keadaanku saat itu perlu di kasihani banget, ya? Aku tahu, saat itu aku sedang dalam fase patah hati akut. Aku aama sekali tidak bisa berfikir jernih. Seakan-akan hidupku sudah berakhir di Sila. Sekarang aku baru bisa berpikir, kalau aku butuh seseorang yang bisa menghangatkan jiwaku kembali. Aku harus melanjutkan hidupku dengan memulai cinta yang baru, itulah kenapa, aku ingin memulai semuanya bersamamu dari awal," Aku mengutarakan segala isi hatiku saat ini. Aku ingin Vallen tahu kalau aku yang sekarang ada di hadapannya bukanlah Andre yang dulu. Aku yang sekarang sudah siap untuk memulai hubungan baru dengannya, sebagai sepasang suani istri tlyang sebenarnya.
Malam harinya...
Vallen sudah bersiap tidur dengan baju tidurnya yang lumayan seksi. Berbentuk kimono, bermotif sedikit bunga dan berwarna merah menyala. Ia tengah duduk di depan cermin menyisir rambutnya berulang-ulang, seperti sedang gelisah.
Sementara aku, setengah tiduran di ranjang dengan memegang ponsel, iseng mencari berita yang sedang viral hari ini. Sesekali aku melihat ke arah Vallen, gadia itu tetap saja melakukan hal yang sama.
"Sampai kapan mau terus menyisir begitu?" Sindirku dengan halus. Aku tahu, mungkin saja saat ini Vallen sedang grogi, karena untuk pertama kalinya akan tidur dengan seorang pria.
Aku berusaha mendekatinya, mungkin dengan menjemputnya begini, dia akan lebih nyaman untuk tidur di sampingku.
"Jangan malu, rileks. Aku tidak akan melakukan apapun padamu. Mungkin hanya memeluk saja, jadi jangan salah tingkah seperti itu," Bisikku di telinganya, aku melihat bayangannya di cermin, ia tampak sangat malu-malu.
__ADS_1
Aku menuntun Vallen untuk naik ke atas ranjang. Aku mencium wewangian yang ia pakai. Mengundang hasratku perlahan memuncak, tapi sejurus kemudian mereda. Aku tidak akan melakukan sesuatu dengan Vallen. Aku hanya ingin lebih dekat dengannya.
Vallen masuk ke dalam selimut, aku juga menyusulnya. Ku matikan lampu, hingga suasana jadi gelap. Aku mendekati Vallen, gadis itu tampak sangat kaku. Ia seperti benar-benar canggung. Aku memeluknya dari belakang.
"Vall, apa kamu nyaman kalau aku memelukmu seperti ini?" Vallen hanya mengangguk mereapon pertanyaanku.
"Kenapa hanya mengangguk? Kenapa tidak mengatakan sesuatu?"Tanyaku lagi, berharap Vallen meresponku dengan kata-kata.
"A.. aku bingung harus bi..ca..ra apa," Vallen tampak gugup. Kalau saja lampunya tidak aku matikan, aku pastikan akan melihat ekspresinya yang lucu.
"Ngobrol, biasa aja. Kenapa kamu grogi seperti ini?" Aku meledeknya yang tidak bisa cerewet seperti biasa.
"Ini, pertama kalinya aku tidur dengan seorang pria. makanya aku grogi dan salah tingkah, aku bingung harus berbuat apa," Kata Vallen pelan. Aku sudah menduga semuanya. Pasti dia grogi akan tidur bersamaku.
"Imutnya... aku suka. Wanita yang malu-malu ini pasti sebenarnya mau..." Godaku.
"Apa sih, mau apa?" Kalimat yang terucap dari bibir Vallen menambah kesan salah tingkahnya.
"Mau tidur, mau apa lagi..." Godaku lagi, kali ini dia mencubit perutku lumayan keras.
"Terus saja bikin aku salah tingkah, aku ngambek nih..." Ancamnya. Aku semakin gemas dengan sikapnya ini.
"Cup" Aku menciumnya sekenanya. Sepertinya bahian pipi. Vallen berbalik menghadapku seketika dan tanpa sengaja bibir kami bertemu. Vallen memilih diam daripada menghindar.
Sudah terlanjur posisi begitu, sekalian saja aku mendaratkan ciumanku padanya. Aku menikmati ciuman itu. Aku melakukannya begitu pelan. Jujur aku tidak berpengalaman dalam berciuman. Hanya saja pernah melihat adegan di dalam film.
Beberapa menit kemudian, kami baru menyudahi aktivitas itu. Bibirnya sangat manis. Aku suka, apalagi dia mengikuti permainanku dengan sangat baik.
"Vall, kalau malam ini aku belum bisa melakukan 'Itu' padamu, apakah kamu akan marah?" Tanyaku perlahan. Aku hanya takut membuatnya kecewa. Jika dia menginginkannya malam ini, aku akan memberikannya.
"Jujur, aku juga belum siap melakukannya. Kita lakukan lain kali . Malam ini kita melewati malam yang romantis ala anak sekolahan saja." Usulnya. Ternyata dia juga belum siap, jadi aku tidak begitu merasa berdosa, tidak melakukan kewajibanku padanya. Aku merasakan tangan Vallen menempel di pipiku.
"Andre, kamu tahu, malam ini aku sangat bahagia. Akhirnya aku merasa benar-benar memiliki suami. Aku senang biaa tidur sedekat ini denganmu. Bisa menyentuhmu, bisa memelukmu. Itu sudah lebih dari cukup." Ungkap Vallen. Memang sederhana cara membuatnya bahagia. Bahkan hal sepele seperti ini saja sudah membuatnya senang.
"Sekarang peluk aku. Rasakan baik-baik, aku adalah milikmu. Jangan takut. Aku selalu ada di sisimu untuk melindungimu, aku menyayangimu, Vallen." Aku mengecup kening istriku ini dengam sangat lwmbut. Aku ingin dia merasakan perasaanku yang tulus untuknya. Perlahan, Vallen menyusupkan tangannya ke balik tanganku. Ia memelukku erat. Hingga kami berdua terlelap.
If you ask me how much I love you, I won't say anything. I'll just take your hand, Fill the gaps between your fingers and hold on to you until all your doubts are gone.
(Dikutip dari Google.com)
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Hallo PH lovers...
Aku mau kasih pengumuman nih..
Nanti di eps 100, PH akan adakan Give Away.
Caranya mengikuti kuis yang akan di adakan di grup fans PH.
Jadi, buat kalian yang belum masuk dalam grup, bisa tulis no wa kalian di kolom komentar.
Dukung juga karyaku yang lain:
Di goda Berondong
Si Tampan Pemikat
__ADS_1
Follow IG-ku @Ekayunn_15
Terimakasih*..