Perfect Husband

Perfect Husband
PH | 56


__ADS_3

Alex terdiam, mencoba mencerna ucapan Chris yang baru saja dia dengar. Dia menatap Chris datar, "Apa yang kau katakan?" tanyanya mengisyaratkan sahabatnya itu untuk mengulang ucapannya.


"Chelsa berusaha bunuh diri di hadapan Ayahmu. Sekarang dia ada di rumah sakit." Chris mengulang ucapannya persis seperti sebelumnya.


Hani menatap Alex dan Chris bergantian. Jujur dia kaget mendengar ucapan Chris. Dia tidak menyangka jika perempuan secantik Chelsa bisa melakukan hal gila seperti itu. Dia tidak tahu apa yang membuatnya nekat seperti itu, namun Hani yakin masalah Chelsa adalah masalah yang rumit.


"Ayo pergi." Alex terlihat tegas dengan rahang mengeras dan alis berkerut.


"Kemana?" tanya Chris dan Hani bersamaan.


Alex menatap Hani lalu tersenyum manis, "Aku akan mengantarmu dulu pulang ke rumah, Sayang."


"Lalu kalian ke mana? Ke rumah sakit? Aku ikut," ucap Hani.


Alex menggeleng kecil sembari mengusap lembut puncak kepala Hani, "Enggak, Sayang. Aku akan pergi menemui Ayah. Ada yang harus kubicarakan dengannya. Kau pulang saja dan beristirahat, nanti aku akan menghubungimu."


Dengan berat hati, Hani akhirnya menurut dan mengalah. Dia bisa melihat wajah Alex yang tampak kelelahan dan dia tidak mau menambah beban pria itu lagi. "Baiklah. Jangan memaksakan diri, Alex. Kau juga butuh istirahat," pesan Hani yang dijawab Alex dengan anggukan kepala serta senyum manis seperti biasanya.


***


"Kupikir kau akan melihat Chelsa ke rumah sakit," tukas Chris seraya fokus berkemudi. Dia bisa melihat Alex berpikir keras dan terlihat ragu di waktu bersamaan.


Kini mereka sedang dalam perjalanan menuju kediaman keluarga Alex. Setelah mengantar Hani dengan selamat, mereka langsung melaju ke tempat di mana ayah Alex berada. Alex ingin mengatakan sesuatu pada ayahnya dan dia juga ingin menegaskan sesuatu yang selama ini dia pendam sendirian. Dia sudah benar-benar capek dan dia mau mengakhirinya sekarang juga.

__ADS_1


Tidak membutuhkan waktu yang lama, mereka akhirnya tiba di kediaman keluarga Alex itu. Di sana mereka langsung di sapa ramah oleh para pelayan yang bekerja di sana. Tanpa basa-basi, Alex dan Chris langsung masuk untuk mencari keberadaan ayahnya. Seperti yang diharapkan, ayahnya ada di sana, terduduk santai di meja kerjanya seperti biasa.


Chris memilih menunggu di luar ruangan kerja ayah Alex sebab rasanya itu terlalu privasi sedangkan Alex langsung masuk setelah menundukkan kepalanya, tanda hormat.


"Apa yang kau inginkan sampai datang ke sini?" tanya ayah dengan nada datar. Pria tua itu terus membaca buku yang ada di tangannya.


"Ayah pasti tahu maksud kedatanganku kali ini," ucap Alex tegas. Dia mendekati ayahnya itu.


"Tentang kau pergi ke Paris tanpa seizinku atau tentang Chelsa?" Ayah melepaskan kacamatanya dan meletakkan bukunya di atas meja.


Alex tersenyum miring. Dia tidak tahu bagaimana ayahnya bisa tahu tentang kepergiannya ke Paris. Tapi itu bukanlah hal yang ingin dia bicarakan saat ini. Persetan dengan ayahnya akan memarahinya karena pergi tanpa izin, dia sungguh tidak peduli. Yang ingin dia selesaikan sekarang adalah masalahnya dengan Chelsa sebab dia sudah muak berurusan dengan wanita gila itu.


"Aku ingin membahas tentang Chelsa," ujar Alex lalu duduk di sofa di dalam ruangan itu, diikuti ayah yang juga bergabung duduk dengannya, "aku tidak ingin berurusan dengannya lagi, Ayah."


"Bagaimana bisa? Kau yang bertanggung jawab tentangnya. Kurasa dia sudah gila karena sangat mencintaimu," kata Ayah.


"Lalu kau mau Ayah yang menyelesaikan semua masalahnya, begitu?"


Alex menggeleng, "Biarkan saja dia, Ayah. Toh, keluarganya saja sudah lama membuangnya dan tidak menganggapnya lagi. Terserah dia mau berbuat apa."


"Bagaimana jika dia mengakhiri hidupnya? Tadi saja dia berani mengiris tangannya di depan Ayah lalu mengancam Ayah jika dia akan terus mengganggu keluarga kita jika kau tidak menikahinya," ujar Ayah tak kalah serius. Jujur dia juga sudah capek menghadapi setiap masalah yang Chelsa perbuat. Setiap wanita itu berulah, maka keluarganya yang selalu kena imbasnya.


"Apa peduli kita, Ayah? Bahkan kita selama ini sudah cukup bersabar menghadapi semua masalah yang dibuat. Aku tidak mau berurusan dengannya lagi, Ayah. Aku mau menjalani hidupku dengan tenang tanpa gangguan lagi. Aku harap Ayah mengerti keinginanku," pinta Alex dengan binar mata memohon pada ayahnya itu.

__ADS_1


"Baiklah. Terserah kau saja, Alex. Tapi aku baru dengar dia sudah sadar setelah pingsan karena kehabisan darah. Apa kau tidak ingin menjenguknya?" tanya ayah.


Alex menggeleng kecil, "Tidak. Aku benar-benar tidak ingin menemuinya lagi sebisa mungkin, Ayah."


Ayah menghela napas panjang. Dia mengerti kegelisahan putranya itu. Jika bukan karena perbuatannya di masa lalu dan memaksa Alex mengikuti perjodohan yang direncanakannya, mungkin putranya itu tidak akan mengidap masalah mental. Sebagai ayah dia merasa gagal membahagiakan putra tunggalnya itu. "Bagaimana keadaanmu? Apa kau baik-baik saja?"


Alex mengerti maksud pertanyaan ayahnya itu yang pasti mengenai gangguan kecemasannya. "Aku sudah baikan, Ayah. Aku harus memberitahu psikiater pribadiku jika keadaanku akhir-akhir ini membaik," jawabnya dengan senyum manis.


"Syukurlah," ucap ayah ikut senang. Dia sudah lama tidak lama melihat putranya itu tersenyjm semanis itu. Dia turut senang dengan kebahagiaan putra tunggalnya itu.


"Dan lagi Ayah, aku ingin mempercepat pernikahanku dengan Hani," dia kembali terlihat serius, "pernikahan tertutup saja Ayah, tidak perlu mengundang banyak orang."


Ayah tersenyum kecil, "Sepertinya kau sangat mencintainya sampai kau tidak sabar untuk menikahinya. Ternyata putraku sudah menjadi pria dewasa sekarang."


Alex tertawa kecil mendengar ucapan ayahnya itu. "Bagaimana Ayah, apa Ayah tidak ingin cepat punya cucu. Aku bisa memberi cucu kepada Ayah secepat mungkin," kekehnya yang membuat ayah ikut tertawa lantang.


"Baiklah. Ayah jadi tidak sabar punya cucu. Kita tunggu Ibumu pulang, nanti kita bicarakan lagi. Ini rahasia, tapi Ibumu sangat menyukai Hani, katanya calon istrimu itu terlihat seperti wanita baik-baik dan dia suka kau menikahi perempuan seperti dia," ucap ayah.


"Memang aku tidak pernah salah membawa perempuan untuk dikenalkan kepada Ayah dan Ibu," tukas Alex bangga.


"Jika kau membawa perempuan aneh, pasti Ayah sudah mengusirmu. Jangan lupa jika kau ini pria nakal yang suka bermain wanita sebelum bertemu Hani," kekeh ayah dengan nada mengejek.


"Yah, jangan sampai Hani tahu itu," ujarnya membuat keduanya kembali tertawa lantang.

__ADS_1


***


Sudah hampir sebulan, aku nggak update cerita ini. Bukannya tanpa alasan aku nggak update tapi kemaren mulai tanggal 9 Juni lalu tiba-tiba akun aku ke log-out dan waktu mau log-in, aku lupa kemaren daftar pake apa, setelah coba satu per satu dari Facebook, E-mail, dll, satu pun nggak berhasil. Nah, pas dua hari yang lalu setelah ulang log-in terus dengan semua e-mail yang aku punya, akhirnya salah satunya bisa dan inilah alasannya aku bisa update hari ini. Semoga kalian suka.


__ADS_2