
POVAndre
Hancur perasaanku, setelah Vallen pergi untuk selamanya. Di depan mataku, Vallen mengembalikanku pada Sila, seolah-olah aku adalah barang yang telah Sila pinjamkan untuk istriku itu .
Dia meminta Sila untuk mencarikannya penggantiku, tapi aku merasa itu tidak perlu. Mencintai dua wanita selain ibuku sudah cukup, aku tidak ingin lagi. Aku tidak akan jatuh cinta ketiga kalinya.
Aku sengaja menyimpan semua kenangan bersama Vallen.Aku ingin memulai hidupku yang baru. Meskipun terlalu cepat, tapi ini keputusanku. Aku tidak akan terlarut dalam kesedihan yang mendalam.Apq yang sudah terjadi dalam hidupku adalah takdir, aku menyadari itu.
Rasa sakit saat kehilangan Sila, lebih dari sakit saat kehilangan Vallen, mungkin karena Sila lebih lama mengisi hariku di banding Vallen. Meskipun Vallen telah menjadi istriku, rasa kehilangannya tidak terlalu besar. Karena apa, aku tidak tahu.
Jika sebelumnya hatiku beku, dan telah di cairkan oleh Vallen, kali ini hatiku membatu. Aku tidak akan mengenal cinta lagi. Fokus pada hidupku sendiri. Aku tidak perduli dengan pendapat orang terhadapku.
Aku lelaki normal, dengan status duda. Jika aku rindu kehangatan wanita, aku bisa menyewa, tidak perlu menikah. Aku tidak akan menggunakan hatiku lagi, aku lelah sakit hati, aku lelah kehilangan. Cukup sudah semuanya terjadi dalam hidupku.
Satu minggu sudah Vallen meninggal, aku pergi ke kantor seperti biasa. Banyak yang berkomentar, setelah menjadi duda aku lebih fresh, jika di bandingkan saat masih lajang. Tentu saja, masa lajangku aku gunakan untuk meratapi seseorang yang jelas-jelas bukan milikku.
"Kopinya, Pak..." Suara lembut Mira, sekertarisku yang baru, sengaja aku seleksi beberapa hari sebelum masuk kembali ke kantor. Aku memilihnya karena dia wanita yang seksi dan bertubuh ideal. Dia juga bukan wanita baik-baik.
"Terima kasih, Mira. Berikan morning kiss padaku," Mira tidak akan kaget dengan permintaanku, karena sebelumnya aku sudah memberitahunya via telepon, apa saja yang harus dia kerjakan sebagai sekertaris pribadiku.
"Baik, Pak bos ganteng," Tepat seperti dugaanku, Mira memang tipe wanita penggoda. Dari caranya menciumku, aku bisa tahu, dia sangat ahli melakukannya.
Mira sangat nakal. Penampilannya juga sangat menggoda. Setiap laki-laki yang melihatnya pasti akan tergoda. Ia sangat lihai dalam hal menggoda hasrat lelaki. Bahkan, dia hampir menelanjangiku, tapi aku menolaknya dengan halus.
__ADS_1
"Jangan Mira, ini di kantor. Terlalu beresiko untuk melakukannya di sini. Lain kali, kita pergi ke rumahku, atau kemana saja, yang penting jangan di kantor," Pintaku dengan lembut. Meskipun ia tampak kecewa, tapi Mira menghargai keputusanku.
"Pak Bos, bapak duda, kaya, dan sangat tampan. Kenapa bapak tidak mrncari calon pengganti istri bapak yang sudah meninggal? Aku juga tidak menolak jika bapak bersedia," Mira menanyakan hal yang tentu saja sangat tidak penting bagiku.
"Mira, aku belum ingin menikah. Kuburan istriku masih basah, lagipula dengan kekayaan yang ku punya, aku bisa kencan dengan siapa saja. Bukankah kamu juga suka dengan uangku?" Aku menatapnya dengan tatapan remeh. Aku suka diriku yang sekarang. Aku bebas, tidak terjerat perasaan dengan siapapun.
"Wanita sangat suka uang, Pak Bos, begitu pula aku, aku sangat mencintai uangmu. Berikan padaku yang banyak, Pak." Mira menarik dasiku dengan gaya menggoda dan tatapan genit. Sungguh wanita yang sangat menyenangkan.
"Selain di depan orang lain, panggil aku baby, dan lagi, jika ingin ku beri banyal uang, bekerjalah yang baik untukku," Aku menyentil BH bagian luar baju wanita itu. Menyenangkan sekali mempermainkannya.
"Kamu genit, Baby, baiklah, aku akan kerja sekarang. Jangan ganggu aku, Baby..." Mira melangkah meninggalkanku. Aku menjambak pelan rambutku sendiri. Aku akui, aku telah menjadi pria nakal sekarang. Andre yang baru, sama sekali tidak manis. Aku ingin menggoda siapapun, tanpa perduli.lagi dengan cinta. Cinta hanya selalu menghukumku, membuat aku terpuruk dan menjadikanku pria yang menyedihkan.
Tok...Tok..
"Andre," Suara papa menarik perhatianku. Aku bangkit dari kursiku dan menyambut kedatangan papa. Ini pertama kalinya kami bertemu setelah Vallen meninggal.
"Duduk, pa." Aku mempersilahkan papa duduk di tempat yang sudah di sediakan di dalam ruanganku.
"Kenapa kamu tiba-tiba memecat sekertaris lama dan menggantinya dengan yang baru tanpa sepengetahuan papa?" Aku sudah menduga pasti papa akan memprotes keputusanku mengangkat Mira sebagai sekertaris baruku.
"Aku butuh suasana baru, Pa. Aku lebih suka Mira yang jadi sekertarisku," Jawabku enteng. Aku tidak ingin berdebat dengan papa. Baru kali ini sebenarnya. Mungkin karena sikapku yang berubah mengesalkan menurutnya.
"Mana Andre anak papa? Ini bukan kamu, Ndre. Sejak kapan kamu jadi pria playboy dan mata keranjang seperti itu?" Papa menunjukkan sikap tidak sukanya terhadap tabiat baruku. Ya, aku memang berbeda sekarang. Aku bukan seperti Andre yang biasanya.
__ADS_1
"Itu urusan pribadiku, Pa. Aku ingin menjadi seperti apa, yang terpenting aku tidak merugikan papa," Semua perubahan yang ada pada diriku, menurutku memberikan dampak positif pada perasaanku. Aku tidak ingin ada yang menentangnya. Aku tidak ingin menjadi Andre yang dulu, Si Tukang Bucin.
"Kamu pikir itu tidak berefek? Kalau sampai kamu buat skandal, perusahaan kita akan kehilangan banyak relasi, dan karirmu akan tamat, kamu mengerti?" Papa memberitahuku dengan sabar. Papa memang dingin, tapi dia perduli padaku. tapi maaf pa, kali ini aku tetap pada prinsipku sendiri.
"Aku sudah mempertimbangkannya, Pa. Aku tidak akan merugikan perusahaan karena kenakalanku." Itu bukan janjiku, tapi aku akan membuktikan bahwa perubahanku tidak akan merubah apapun di perusahaan.
"Papa pegang kata-katamu. Jangan sampai papa dengar ada skandal di kantor ini, atau dengan berat hati papa akan melemparmu keluar,"Dalam seumur hidupku, baru kali ini papa mengancamku. Mungkin aku memang sangat pantas untuk di ancam sekarang.
"Siap, Pa. Jangan khawatir. Perusahaan kita akan tetap aman. Percayakan pada Andre." Sekali lagi aku meyakinkan papa. Segala keputusan memang ada konsekuensinya, begitu pula dengan keputusanku saat ini. Di awal, mungkin hanya papa, tapi kelamaan, Mama, Anita, Andra,Sila, mereka semua juga akan memprotes gaya hidupku yang baru.
Aku bangga menjadi diriku yang baru. Apapun menurut orang, aku terima. Aku membiasakan diri dengan gelar playboy, brengsek, tukang tebar pesona atau apalah itu, yang pasti aku nyaman dengan pilihanku sendiri.
Dengan tidak adanya orang yang aku cintai, tidak akan ada patah hati, terluka, dan keperihan yang tercipta. Sudah cukup bagiku menghabiskan waktuku untuk mencintai Sila dan Vallen. Tidak akan ada lagi wanita yang aku cintai setelah mereka. Aku telah mati rasa.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Halo PH lovers terus berikan dukungan kalian ya dengan cara like, comment, dan Fav. Dukung juga PH dengan cara membagikan tips berupa koin, setiap dukungan kalian akan sangat berarti untuk autor.
Dukung juga karya terbaruku:
My Workaholic Husband
Follow IG-ku @Ratuasmara_06
__ADS_1
Terimakasih