
Setelah beberapa hari tinggal di rumah mama, akhirnya aku dan Vallen menempati rumah kami sendiri. Kemarin semua keluarga berkunjung ke rumah untuk bantu-bantu.
Di suasana sepagi ini aku duduk seorang diri di balkon. Seluruh anggota keluarga sudah kembali kerumah. Ternyata tinggal berdua di rumah sebesar ini bukanlah hal yang menyenangkan.
Aku duduk santai di kursi yang sengaja di desain untuk menikmati suasana di luar rumah. Di temani majalah otomotif favoritku. Aku merasa seperti liburan tinggal di rumah baru. Jika pasangan lain, mungkin sudah mempersiapkan honeymoon, tapi kami tidak.
Dengan alasan sama-sama sibuk aku dan Vallen bisa beralasan untuk tidak pergi Honeymoon. Lagipula buat apa pergi, mau kemanapun, kami tidak akan melakukan apapun. Hanya buang-buang biaya saja.
Saat ini, aku sedang fokus, bagaimana caranya membuat hatiku mencintai gadis baik hati itu. Aku merasa mempunyai kewajiban untuk membuatnya bahagia, meskipun saat ini satu pasirpun sama sekali tidak ada rasa cinta untuknya. Meskipun aku mengutuk hati dan diriku sendiri, percuma. Perasaanku masih tetap beku dengan angkuh.
"Pagi, Ndre.. Ini kopi untukmu dan sedikit makanan kecil untukmu sarapan," Aku melirik apa yang di bawa Vallen, Secangkir kopi dan sandwich hasil karyanya. Begini rasanya punya istri? Seketika aku merasa di istimewakan.
Aku menghampirinya dan segera menyeruput kopi buatan Vallen. Gadis itu cepat belajar, dalam beberapa hari ia sudah hafal takaran kopi kesukaanku.
"Ini kamu buat sendiri?" Kataku sambil mengambil makanan buatan Vallen itu satu potong dan mulai melahapnya. Ini, enak. Aku suka. Aku belum pernah merasakan rasa makanan seeenak ini.
"Ya, itu buatanku. Bagaimana? Enak?" Tanyanya penuh antusias. Dan aku harus mengakuinya, agar gadis di depanku ini merasa senang.
"Ini, enak. Sangat enak. Kalau tidak keberatan, aku ingin di buatkan makanan ini setiap hari," Kataku jujur. Mungkin dengan ini dia akan sangat senang dan semakin bersemangat untuk menemani hidupku yang hampa ini.
"Tentu saja, aku akan buatkan untukmu setiap hari. Aku senang kamu suka makanan buatanku," Katanya dengan senyum yang ceria. Langkahku memuji masakannya ternyata tidak salah. Dia sangat menyukai itu. Aku tidak percaya, begitu mudah membuatnya bahagia. Gadis yang sederhana.
"Apa kamu ingin aku biarkan sendiri?" Tanyanya kemudian, sepertinya dia sungkan dan takut menggangguku.
"Tidak. Jika tidak ada kesibukan lain, tetaplah disini. Aku ingin kamu menemaniku," Aku menahannya. Tentu saja karena aku tidak ingin sendirian dengan kesunyian dan kehampaan ini.
"Baiklah, dengan senang hati Tuan Andre, eh.. tidak.. tidak.. aku hanya bercanda. Aku senang, Ndre. Beberapa hari ini kamu tampak sangat ceria. Walaupun aku tidak tahu karena apa, tapi itu sangat membuatku bahagia," Katanya dengan nada yang sangat manis. Akhir-akhir ini aku memang merasa bahagia karena punya tempat berbagi. Dia seperti seorang teman yang mampu menenangkan aku.
"Semuanya berkat kamu, Vall. Aku merasa lebih baik sekarang. Aku bisa berbagi segala yang ku rasakan denganmu," Ungkapku jujur. Ya, sekarang aku bisa berbagi segala kesedihan ataupun kesenangan dengannya, hanya saja untuk berbagi cinta aku belum mampu melakukannya.
"Syukurlah. Aku senang kehadiranku bermanfaat untuk menyembuhkan depresimu. Bagaimana kalau hari ini kita ke psikiater lagi? Aku ingin tahu, bagaimana perkembanganmu, Ndre." Usul Vallen.Aku setuju tentu saja dengan usulannya. Gadis itu sedikit membuatku terharu, dia selalu memperhatikanku. kapan aku bisa melakukan hal yang sama untuknya? apakah saat ini dia tidak terluka? Tidak kecewa?
"Boleh. Temani aku, ya..." Aku menatapnya. Tidak ada yang cacat di wajahnya. Pipinya halus, hidungnya yang sempurna, bibir yang merah merona, dia cantik bahkan satu level dengan Sila. Tapi itu semua ternyata tidak cukup untuk menarik perhatianku.
"Tentu saja, Andre. Di mana pun, saat kamu membutuhkan aku, aku akan selalu ada untukmu. Sekarang kamu tidak sendiri," Katanya. Sungguh membuatku tenang. Aku mendekat padanya dan berinisiatif memeluknya. Entah apa maksudku memeluknya, hanya saja mungkin pelukanku akan membuatnya merasa di hargai.
."Terimakasih, Vall. Semua perjuanganmu.. tidak akan sia-sia. Aku akan berjuang keras untuk sembuh," Aku masih memeluknya cukup lama. Gadis itu hanya diam. Aku menangkap dia ragu untuk membalas pelukanku.
"Peluklah aku, aku tahu kamu butuh ketenangan. Jangan takut, di sini ada aku, tempatmu berbagi juga, Vall. Meskipun aku belum bisa di anggap sebagai suami yang baik, setidaknya anggaplah aku sebagai seorang teman atau orang yang penting untukmu," Ungkapku panjang lebar. Aku juga ingin menempatkan diri sebagai orang yang juga bisa untuk dia bersandar. Aku tidak ingin hanya aku saja yang bersandar padanya.
"Kamu tahu, Sejak kita mengucap janji di depan penghulu, aku menganggapmu adalah suamiku, imam dalam hidupku. Aku tidak menuntut apapun darimu. Aku hanya ingin, biarkan aku berbakti padamu layaknya seorang istri," Ucapnya tenang. Ia tidak menangis. Ia berkata dengan jelas. Aku merasa berdosa, menempatkannya dalam situasi seperti ini. Aku menyeka mataku yang sedikit berair.
"Lakukanlah apa yang kamu mau, Vallen. Aku memberimu izin. Maafkan aku, Vall. Aku tidak layak kamu anggap sebagai suami," Dadaku sesak melihatnya terlalu baik seperti sekarang. Aku hanya takut akan semakin menyakitinya di masa depan kalau dia terus seperti ini dan aku tidak bisa membalas perasaannya.
"Tidak. Jangan bicara seperti itu, Andre. Kamu adalah suamiku, tidak ada yang bisa menyangkalnya," Vallen tetap bersikeras. Gadis manis ini ternyata juga keras kepala. Aku melepaskan pelukanku darinya. Ia tersenyum padaku dan aku melakukan hal yang sama.
"Vall, aku boleh bertanya sesuatu?"
"Apa? Tentu saja boleh..."
"Apa kamu mencintaiku?" Aku bertanya serius pada gadis itu. Aku menyusuri setiap sudut matanya agar dia tidak membohongi perasaannya. Ia lalu berjalan mendekat ke bibir balkon.
__ADS_1
"Ya. Aku mencintaimu. Tapi tenang saja, aku bisa mengontrol perasaanku. Kamu tidak perlu takut. Aku tidak akan menuntut apapun padamu, ndre," Terlalu baik. Dia bahkan seperti malaikat. Seperti buta dan tidak perduli meskipun aku mengacuhkan perasaannya.Mungkin, saat ini pun aku telah melukai perasaannya.
"Terimakasih, Vall. Aku sangat menghargai perasaanmu, meskipun aku tidak bisa membalasnya," Gadis itu mengangguk paham. Dia memang tidak pernah menuntutku. Dia begitu tulus dan menyayangiku tanpa pamrih.
"Aku siap-siap dulu, Kita jalan-jalan dulu sebelum ke psikiater. Aku ingin menyenangkan hatimu. Sabar ya, semua akan indah pada waktunya," Aku menepuk kepalanya pelan berulang-ulang. Ia hanya tersenyum dan membiarkanku pergi untuk membersihkan diri.
Semua ini adalah beban di hatiku. Beban di mana saat ingin melakukan sesuatu tapi tidak mampu melakukannya. Hanya tertahan dan tersimpan di dalam hati, entah sampai kapan.
Setelah siap, aku segera keluar untuk menemuinya. Ternyata gadis itu sudah menungguku di depan pintu kamar. Kali ini aku terpesona. Vallen mengganti pakaian dan dandanannya sedemikian rupa hingga ia tampak begitu cantik.
"Kamu.. Cantik..." Kataku begitu saja, lalu aku memutuskan untuk jalan terlebih dahulu menuruni tangga. Tetapi tidak dengan Vallen. Gadis itu terpaku. Mungkin ia mwmikirkan kata-kataku barusan.
"Tunggu apa lagi? Ayo turun," Kataku lagi di setengah perjalanan tanggaku, membuat Vallen tersadar dari lamunannya.
"Ba_baik," Vallen segera menuruni tangga dengan tergesa-gesa. Ia sampai begitu heboh, hingga aku berbalik ingin mengingatkannya untuk jalan dengan santai dan hati-hati. Tapi...
"Aaaaaaaa...!!" Vallen tersandung kakinya sendiri dan melayang bebas ke arahku. Aku hanya bisa bersiap menangkapnya secepat kilat dan...
"Brukkk!" Kami berdua jatuh dan saling timpa seperti di dalam FTV. Mata kami beradu, dan lebih parahnya, posisi bibir kami yang menyatu tanpa jarak. Kami saling membatu. Tidak ada yang berbuat apapun. Sampai...
"Maaf, Ndre. Aku ceroboh," Vallen beringsut dengan cepat dari tubuhku. Ternyata tubuh mungilnya berat juga. Aku hanya menahan senyumku, mengingat kejadian konyol tadi. Aku tidak tahu apa yang ada dalam pikiran gadis itu sekarang. Tapi aku tidak ada hasrat untuk menciumnya tadi, hanya perasaan geli saat melihat Vallen panik dan pucat. Takut aku marah padanya.
"Kamu baik-baik saja, kan? Apa ada yang sakit?" Aku beriniaiatif untuk mwnanyakan keadaannya, meakipun aku tahu, dia baik-baik saja karena posisi jatuhnya yang sepenuhnya menimpa tubuhku.
"Ti-tidak ada. Ayo kita berangkat," Spontan Vallen menggandeng tanganku. Aku mengikutinya, sesaat kemudian dia berhenti dan segera melepaskan tanganku cepat.
"Maaf, aku tidak bermaksud untuk..."
"Tidak apa-apa. Biar aku saja yang menggandengmu," Aku menarik tangan gadis itu dan menggenggamnya erat lalu membawanya keluar.
"Kamu ingin ke mana?" Aku menanyakan tempat apa yang ingin dia kunjungi. Berusaha melepas kekakuan di antara kami karena kejadian di tangga tadi.
"Boleh kalau aku meminta kita pergi ke toko buku?" Tanyanya ragu, takut aku menolaknya.
."Tentu saja, mau cari buku apa?" Tanyaku penasaran.
"Rahasia. Hanya aku yang tahu," katanya dengan senyuman licik.
"Baiklah, tidak apa kalau tidak ingin memberitahuku. Nanti juga aku akan tahu," Aku mengejeknya.
"Kamu suka baca novel?" Tanyanya sambil menatapku serius.
"Novel?" Aku mengulang kata novel sambil tertawa. Seumur hidupku aku belum pernah baca novel.
"Kenapa kamu tertawa?" Vallen mengerutkan dahinya, heran dengan sikap Andra.
"Mana pernah aku baca novel, bacaanku ya.. cuma koran atau majalah otomotif, nggak ada yang lain." Jawabku santai.
"Monoton. Harus baca sekali-sekali, nanti aku pilihkan novel yang cocok untuk kamu baca," Sahut gadis itu dengan ceria. Dia juga perduli dengan bacaanku? Terlalu monoton katanya? Benarkah?
Aku mempercepat laju mobil yang kami tumpangi. Aku membawanya ke sebuah toko buku terlengkap di kota kami. Diam-diam aku penasaran, buku apa yang akan dia belikan untukku.
__ADS_1
Kami telah sampai di toko buku. Vallen turun dengan begitu gembira. Ia bercerita tentang hobinya mengoleksi berbagai buku. Aku pernah lihat, di rumahnya memang ada semacam perpustakaan pribadi. Menurutnya, belajar tidak harus di sekolah saja, tapi bisa di lakukan di mana saja.
"Ayo, Ndre," Vallen tampak sangat bersemangat dan juga ceria menuju pintu toko buku Lava Media yang sudah di tempeli blangko "Buka"
Aku hanya tersenyum mengikuti langkah gadis itu dengan santai. Aku sengaja memasukkan kedua tanganku ke dalam saku celana supaya terlihat maskulin.
Didalam, Vallen kesana-kemari mencari buku yang akan di belinya. Aku hanya memperhatikan tingkahnya yang seperti maniak buku itu.
Beberapa saat kemudian, Vallen dengan gembira berlari ke arahku sambil membawa sebuah buku. Aku yakin itu novel pilihannya yang dia bilang akan cocok denganku.
"Sesuai kataku, ini novel sangat cocok untukmu, ayo terima," Vallen menyodorkan buku bersampul hitam itu kepadaku.
"Perfect Husband? Cocok denganku dari mana?" Aku memprotesnya. Aku bukan sosok suami yang baik, apalagi sempurna.
"Kamu nggak sadar? kamu itu sosok suami sempurna loh, setia, jujur, penyayang, tampan, kaya lagi," Vallen terkekeh. Seperti sedang menghinaku.
"Kamu mau memuji atau menghinaku? Kenapa menertawakanku seperti itu?" Aku menyelidik.
"Nggak. Aku nggak ada menghinamu. Yuk ke kasir, habis ini kita kemana lagi?" Vallen melangkahkan kekinya ke kasir. Ia menumpuk buku yang ia berikan padaku tadi dan menyerahkan ke kasir.
"Terserah padamu saja, aku akan ikut," Sahutku.
"Bayar pakai ini, " Aku menyodorkan kartu kreditku pada kasir. Vallen menatapku seperti tidak mau menerima keputusanku membayarkan belanjaannya. Aku pura-pura tidak perduli dan melangkah keluar toko. Vallen mengejarku.
"Seharusnya nggak perlu di bayarin, kan aku yang mau traktir kamu," Vallen mendengus kecewa.
"Berikan kesempatan suamimu ini untuk mentraktirmu, Vallen. Aku juga ingin bisa sedikit bermanfaat untukmu," Kataku pelan sambil menatapnya dengan lembut. Aku memang ingin membahagiakan dia, meskipun hanya lewat perhatian kecil.
"Baiklah, terimakasih traktirannya, suamiku. Ayo kita pergi lagi, gimana kalau kita makan burger?" Mata Vallen berbinar. Sebaliknya, aku merasa nggak enak. Aku tidak suka burger, Biasanya aku akan mual seperti reaksi alergi dan berakhir di kamar mandi, tapi aku tidak bisa menolaknya, aku takut dia kecewa.
Pesanan telah datang, aku mulai merasa mual. Vallen melahap burgernya dengan nikmat, sementara aku bergidik ngeri, untuk menyentuhnya saja aku tidak berani.
"Ayo, makan. Atau perlu aku suapin?" Godanya. Mau tidak mau aku harus memakannya. Aku harus menghargai pilihannya. Tapi aku sudah mulai mual.
Aku menggigit burger itu sedikit, menunggu reaksi apa yang akan terjadi, benar saja, aku merasa sangat mual dan tidak tertahankan, aku berlari menuju toilet tanpa menghiraukan panggilan Vallen.
Karena lama tidak kembali, Vallen menyusulku, dan mendapatiku terduduk lemas di dinding luar toilet dengan wajah pucat.
"Andre, kamu kenapa? kamu tadi baik-baik saja, kenapa sekarang seperti ini? jangan-jangan burger itu beracun," Vallen menerka-nerka. Aku tersenyum tipis.
"Bukan burgernya yang salah, aku sebenarnya punya reaksi semacam alergi kalau makan burger. tapi aku menghargai pilihanmu. makanya aku tidak bilang," Curhatku. Vallen jongkok di hadapanku, memegang dahiku dan merasakan banyak keringat yang keluar. Segera ia mengambil tissu di dalam tasnya dan menggunakannya untuk mengelap seluruh bagian kepalaku yang berkeringat.
"Lain kali, jangan seperti ini lagi, aku bukan anak-anak yang mudah marah jika keinginannya tidak terpenuhi. Ayo, ku bantu bangun. kita ke rumah sakit. Biar aku yang nyetir." Vallen memapahku dengan sabar dan membawaku keluar dari tempat pusat perbelanjaan itu.
Sepanjang perjalanan, aku menggenggam tangan Vallen erat. Ia juga tidak keberatan menyetir dengan satu tangan. Aku merasa nyaman menggenggam tangan itu.
"Mualnya masih parah?" Ia tampak sangat mengkhawatirkan aku. Aku hanya bisa menggeleng, untuk memberinya tahu aku tidak apa-apa. Hanya saja kepalaku sangat pusing dan badanku lemas.
"Maaf, aku merepotkanmu, lagi." Keluhku. Aku merasa bodoh karena nekat melakukannya.
"Dalam hubungan suami istri, tidak ada kata merepotkan, semua ini justru karena kamu mau menghargai pilihanku, kan? Harusnya aku yang minta maaf. Belum mengenalimu dengan baik." Vallen berbalik menyalahkan dirinya sendiri.
__ADS_1
" Aku yang kurang komunikasi sama kamu, harusnya kita saling terbuka," Aku menyesali kecerobohanku sendiri. Lagi pula memang benar, kami belum pernah membahas hal pribadi sedikitpun kecuali tentang masalahku.
"Sudahlah. kita tidak usah saling menyalahkan. Anggap aja, kita semua memang salah," Vallen tersenyum manis seperti biasa. Aku merasa Wanita satu ini tidak pernah bisa marah. Selalu membawa kedamaian dalam hidup setiap orang yang di temuinya. Kalau saat ini aku masih sendiri, tentu saja tidak ada yang akan memperdulikan keadaanku. Vallen, kamu harus bersabar, jangan pernah tinggalkan aku.