Perfect Husband

Perfect Husband
74. Kasmaran


__ADS_3


Illust. Andra


Malam harinya kondisiku sudah membaik. Aku sudah tidak lagi memakai jarum infus. Badanku pun sudah cukup segar. Aku bersiap memakai kimono tidurku untuk menemani Andra makan di ruang makan lantai bawah. Dia bilang akan menungguku di ruang tamu.


Ku ikat rambutku serapi mungkin. Memakai bedak tipis dan juga lipgloss supaya tampak lebih cantik dan segar. Ku semprotkan beberapa semprot parfum kesukaan Andra lalu segera turun menemui suamiku itu, takut ia terlalu lama menunggu.


"Mas, kok belum ke meja makan, malah main HP di sini?" Aku menegur Andra yang sibuk dengan ponselnya di ruang tamu. Ia memandangku dengan tatapan terpesona.


"Nungguin kamu lah, sayang. Lama bener. Ternyata dandan dulu... Cantiknya," Andra memujiku. Menaruh ponselnya ke meja dan menggandengku ke meja makan. Aku suka dengan sikapnyq yang tidak pernah mengabaikanku.


"Silahkan, ratuku..." Andra menyiapkan kursi untukku duduk. Aku tersipu dengan perlakuannya. Benar-benar merasa seperti srorang ratu.


"Terimakasih, mas. Sini aku ambilin nasinya, mau banyak atau sedikit?" Aku mengambil piring yang ada di hadapannya dan mengambilkan nasi yang akan di makan Andra beserta lauk pauknya.


"Jangan terlalu banyak, sayang. Biar nanti kalau kurang, mas nambah lagi," Pintanya. Andra memang susah makan dan dia makannya tidak banyak. Terkadang aku diam-diam memasukkan serbuk tambah nafsu makan di minumannya, supaya makannya banyak.


Setelah menyiapkan makanannya, barulah aku mengambil makananku sendiri untuk ku makan. Semenjak hamil, aku tidak suka makan sayuran, hanya mau makan ikan, daging atau telur. Setiap makan sayur rasanya jadi mual.


"Mas, maaf ya, gara-gara aku ngidam, mas jadi ikutan nggak makan sayur, pasti bosen banget ya makan ginian terus," Kataku sambil memakan makanan yang ada di piringku. Aku selain nggak suka makan sayur, aku juga tidak mau melihat sayur atau orang yang makan sayur.


"Nggak, kok. Mas juga nggak terlalu suka sama sayur. Yang penting kamu makannya lahap, dedek kita yang di dalam perut tumbuh dengan sehat," Andra tampak semangat menikmati makanan yang ada di piringnya.


"Mas emang paling pengertian,deh. Makin sayang sama mas," Aku menatap Sambil mengedipkan mata genit padanya. Andra tertawa melihat tingkahku yang konyol.


"Sebentar sayang..." Andra mengambil tisu untuk membersihkan ujung bibirku yang terkena sedikit noda kuah.


"Makannya pelan-pelan, dong. Biar nggak belepotan gitu," Kata Andra sambil tersenyum manis padaku.


"Ada maunya nih," Aku meledeknya. Biasanya Andra kalau manis-manis sikapnya pasti ada maunya.


"Jangan berburuk sangka dulu, memangnya nggak boleh romantis sama istri sendiri?" Andra menatapku dengan senyuman khasnya yang manis.


"Boleh banget dong, mas. Aku cuci piring dulu ya," Aku mengangkat piring kami ke dapur dan mulai mencucinya.


"Perlu di bantuin, nggak?" Andra tiba-tiba melingkarkan tangannya ke perutku dan memakai pundakku sebagai penopang kepalanya. Ia tampak manja sekali malam ini. Mungkin karena kejadian tadi siang.


"Mas, nanti malu kalau sampai di lihat Minah, jangan genit-genit, kita lagi di tempat terbuka," Ocehku sambil menaruh piring yang sudah ku cuci ke rak.


Tiba-tiba Andra mengangkat tubuhku ke atas meja tempat biasa menyiapkan bahan makanan. Aku tidak berani teriak karena letak kamar Minah yang berdekatan dengan dapur.


"Mas, kamu mau apa?" Kataku sangat pelan sedikit berbisik. Sambil menopang tubuhku yang di tempeli oleh Andra. Dadaku di jadikan bantal olehnya. Ia memejamkan mata lumayan lama. Ia tampak sangat nyaman.


"Biarkan aku seperti ini beberapa saat. Nyaman sekali, sayang." Gumamnya dengan mata tetep terpejam. Kalau saja pertengkaran kami berlanjut, momen ini pasti tidak akan terjadi. Mungkin kalau kami masih musuhan, tidurpun pasti akan terpisah. Untung saja, Andra lebih besar rasa percayanya di bandingkan cemburunya.


"Sayang, kamu tau, kenapa mas bersikap manja seperti ini?" Andra mendongak agar bisa melihat wajahku dengan jelas, mata kami beradu. Setiap saat, setiap waktu, dia selalu mempesona dan menyita perhatianku.


"Memangnya kenapa?" Tanyaku penasaran. Aku memegang kedua pipi suamiku itu lembut. Aku menatapnya sangat dalam dan penuh rasa penasaran.


"Semua ini adalah bentuk dari penyesalan mas. Kejadian tadi siang pasti sudah membuat kamu jadi sedih, panik, dan campur aduk. Iya kan?" Tanyanya dengan sungguh-sungguh. Rupanya dia masih menyesal karena kejadian tadi siang. Padahal aku sudah melupakannya.


"Mas, lupakan ya. Semuanyq kan hanya salah paham. Jadi, mas nggak perlu takut. Aku sudah memaafkan mas, kok." Aku berkata dengan lembut. Ku elus rambutnya yang hitam alami itu.


"Aww...!" Pekikku. Andra menggigit bibirku sekilas tapi meninggalkan rasa sakit yang lumayan. Aku mencubit pipinya lumayan keras sebagai pembalasan dan diapun pasrah menerimanya.


"Cup.." Andra mendaratkan bibirnya tepat di bibirku. Hanya begitu dalam waktu yang lumayan lama. Mata kami beradu. Saling memandang satu sama lain. Saat Andra akan memulai menggerakkan bibirnya, Ponselnya berbunyi. Secepat kilat kami saling.menjauh karena kaget. Andra segera menurunkanku lalu mendatangi ponselnya yang tadi ia letakkan di meja ruang tamu.

__ADS_1


"Siapa mas?" Tanyaku penasaran, saat Andra sudah menggapai ponselnya.


"Nomor baru, sayang. Aku nggak tahu,"Ungkapnya.


"Angkat saja, mas. Siapa tahu penting." Aku coba mengingatkannya. Ia menuruti kata-kataku dan mulai berbicara dengan si penelepon yang masih misterius itu.


"Hallo. malam, dengan siapa saya bicara? Chatrine? Utusan Wijaya Group dari amerika? Besok? Baik. Baik. Selamat malam." Andre mengakhiri bicaranya. Aku penasaran, siapq Chatrine? Kalau dia utusan Wijaya Group berarti dia utusan kakek? Jangan-jangan kakek sengaja mengirimnya untuk mempengaruhi Andra lagi? Aku jadi teringat sosok Sesilia.


"Utusan kakek, mas?" Tanyaku lagi penuh penasaran.


"Iya, katanya besok dia akan ke kantor kita untuk menyampaikan pesan dari kakek yang tidak bisa di bahas lewat telepon. Aku tau, sayang, kamu pasti cemas kan. Aku juga tidak mau kejadian seperti Sesilia itu terulang kembali. Aku janji, akan melawan jika kakek sampai bertindak yang tidak perlu," Andra berusaha meyakinkanku bahwa kali ini ia tidak akan menyerah begitu saja dengan tindakan kakek, apapun itu. Aku juga tidak akan membiarkan kakek tua itu kembali membuat aku terpisah dari suamiku, meskipun aku paham, dia kakeknya.


"Besok aku ikut mas ke kantor, ya. Aku penasaran seperti apa Chatrine itu dan apa tujuannya kesini," Pintaku sedikit memaksa. Aku tidak akan tenang membiarkan suamiku ke kantor seorang diri dan di datangi seorang perempuan yang aku sendiri tidak tahu seperti apa wanita itu.


"Pasti aku akan membawa serta istriku yang cantik ini besok ke kantor. Tidak ada yang bisa menyaingi kecantikanmu, sayang.." Andra membopongku naik ke atas menuju kamar kami. Aku hanya diam, tersenyum dan melingkarkan jariku ke lehernya.


Andra membawaku seperti berlari. Mungkin karena badanku yang langsing tidak membebaninya. Apapun yang terjadi besok, setidaknya malam ini aku ingin tenang menikmati malam panjang bersamanya.


"Sayang, kamu kangen nggak, sama mas?" Tanyanya saat kami berdua sudah berada di atas tempat tidur dengan posisi ia terlentang dan aku memeluknya, tanganku ku letakkan di atas dadanya.


"Kangen dong, mas. Memangnya kenapa? tumben nanya gitu?" Aku penasaran. Dia tidak menjawab, hanya menarik lepas tali kimono tidurku.


"Mari kita melepas rindu, sayang..." Bisiknya. Tentu saja, aku tidak bisa menolak keinginannya. Kami melewati malam yang panjang dengan menciptakan suara-suara yang indah dan melupakan apa yang kami cemaskan esok hari.


Keesokan harinya...


Aku mengenakan stelan blazer berwarna abu-abu dengan rok selutut dengan warna senada. Rambutku sengaja Ku ikat agar tampak rapi. Wajahku telah kupoles dengan riasan serba tipis.


Andra juga mengenakan jas berwarna abu-abu. Padahal kami tidak berniat untuk menyamakan warna baju, hanya saja ini terjadi secara tidak sengaja. Aku membantunya memakaikan dasi. Jika suami lain lebih memilih memandang ke arah lain saat istrinya memasangkan dasi, Andra justru memandangiku sambil tersenyum. Terkadang, aku salah memakaikannya karena salah tingkah di hadapannya.


"Ini tasmu, mas. Ayo kita berangkat," Aku menyodorkan tas kantor Andra dan menjinjing tasku sendiri lalu kami keluar bersama. Mengambil bekal yang sudah di siapkan oleh Minah dan segera berangkat ke kantor.


Aku dan Andra duduk di jok belakang. Setiap ke kantor, sekarang lebih sering di antar oleh Pak Budi, supir kami. Caranya menyetir dengan sangat hati-hati membuat Andra percaya bahwa Pak Budi bisa mengendalikan mobil dengan sangat baik dan aman untuk aku dan bayiku.


Setiap kali ada saja cerita yang terjadi antara aku dan Andra saat pergi ke kantor. Terkadang aku ketiduran karena bangun terlalu pagi. Kadang juga aku main ponsel sambil merebahkan setengah badanku pada dada bidang suamiku itu.


Sesampainya di kantor...


Seperti biasa, karyawan menyapa kami saat kami datang. Aku dan Andra segera naik lift pribadi menuju ruangan kami. Meskipun aku merasa janggal sebelumnya, namun aku baru mengerti, kenapa lift karyawan di pisahkan dengan lift direktur. Itu karena Andra tidak mau sesak nafas karena berdesakan dengan mereka.


Aku dan Andra segera menyiapkan berkas-berkas yang akan kami kerjakan hari ini. Aku justru lebih kepikiran dengan Chatrine yang akan datang hari ini untuk menemui Andra.


Tidak lama, telepon di meja Andra berbunyi. Aku berani taruhan, itu pasti pemberitahuan. Bahwa orang yang bernama Chatrine itu sudah datang. Benar saja, Andra sudah menyuruh seseorang untuk mengantar wanita itu ke ruangan ini.


Aku duduk dengan tidak tenang. Aku mencoba mengalihkan perhatianku dengan mengerjakan file yang ada di laptopku. Tapi tetap saja tidak bisa mengusir rasa penasaranku pada Chatrine.


"Tok..tok.." Pintu ruangan kami di ketuk oleh seseorang.


"Masuk..!" Perintah Andra.


Masuklah seorang wanita cantik dengan wajah oriental berambut pirang dengan dandanan yang sangat glamor. Memakai gincu berwarna maroon dan riasan wajah yang sangat mencolok. Ia menggunakan Blazer berwarna putih ketat dengan bagian dada yang sedikit terbuka dan ukuran roknya yang sangat minim. Aku merasa mataku tertusuk melihat pemandangan ini. Sebagai seorang wanita, aku sangat malu melihat penampilan orang ini.


"Selamat siang," Sapanya. Andra segera menyambutnya sebagai bentuk penghormatan kepadanya sebagai seorang tamu.


"Selamat siang. Dengan Chatrine?" Tanyanya pada wanita itu.


"Benar. Anda pasti Andra. Benar juga kata kakekmu, Anda sangat tampan. Pertama kali melihat, saya langsung jatuh hati," Kata Chatrine dengan nada menggoda. Ck, sungguh menjijikkan. Benar dugaanku, pasti kakek hanya akan mengirimkan Andra wanita-wanita aneh yang di tugaskan untuk menggodanya. Aku curiga, jangan-jangan si kakek bekerja sebagai gigolo. Sungguh mengerikan.

__ADS_1


"Nona, sebaiknya langsung pada poinnya saja, apa maksud anda datang kesini, tidak perlu bertele-tele atau berusaha menggoda saya. Karena saya sudah beristri dan istri saya ada di sini." Andra berkata dengan tegas tapi Chatrine tidak mengindahkan dan mendekatkan duduknya pada Andra. Jarinya yang lentik mulai berani menyentuh pipi Andra. Aku sangat jijik melihat pemandangan ini.


"Wajahmu sangat tampan. Anda mapan dan kaya raya. Wanita seperti dia tidak pantas berdampingan dengan lelaki sempurna seperti Anda," Kata Chatrine sambil terus menyentuh pipi Andra dengan jarinya. Andra menepis tangan nakal itu secepat kilat.


"Jika tidak ada yang perlu di bicarakan lagi, sebaiknya kamu enyah dari ruangan ini!" Andra meluapkan emosinya. Ia juga tidak nyaman dengan adanya wanita penggoda itu.


"Jangan harap bisa mengusir saya dari sini atau nyawanya akan terancam." Chatrine menunjuk ke arahku. Rupanya si kakek belum puas untuk mengganggu kami. Menghancurkan cucunya sendiri.


"Jangan berani-berani menyentuhnya atau aku nyatakan perang meskipun dengan kakekku sendiri!"Andra tampak benar-benar emosi. Ia sendiri mungkin lelah dengan permainan yang selalu di ciptakan oleh si kakek. Wanita itu dengan berani mendorong Andra ke sofa, hingga ia setengah tertidur dan wanita itu mendatanginya layaknya seorang wanita penggoda. Aku sudah tidak tahan lagi untuk tidak ikut campur Aku tidak ingin suamiku ternoda.


"Plakk...!" Aku menampar wajah wanita itu sekuat tenaga. Aku sangat jijik melihat kelakuan Chatrine yang seperti akan menguasai suamiku dengan jerat cintanya.


"Berani sekali kamu mengusik suami orang! Di bayar berapa kamu sama si kakek untu menggodanya?! Hanya laki-laki bodoh yang mau di goda olehmu!" Cibirku. Aku mendorongnya menjauh dari Andra. Aku sesegera mungkin menariknya agar dapat menjauh dari wanita brutal itu.


"Hei, Wanita tidak tahu diri! Siapa dirimu kalau tidak di pungut oleh keluarga wijaya kamu hanyalah seorang gembel! Kamu masih berani untuk mencemoohku?" Chatrine mengerling tajam. Ia seperti sangat merendahkanku.


"Cukup! Jangan hina istriku! Keluar!" Andra benar-benar marah, kali ini Chatrine mau juga pergi meninggalkan kami.


"Aku akan datang lagi. Aku sangat mencintaimu, Sayang...Mmuah" Ucapnya sebelum keluar dari ruangan Andra. Andra tidak menjawab. Hanya menatap kepergiannya dengan tatapan sengit.


"Ck, benar-benar gila wanita itu mas. Bahkan lebih parah dari Sesilia. Apa mau kakekmu sampai harus mengirim wanita alien itu kemari?" Aku merasa sangat penasaran dengan maksud kakek sebenarnya. Sampai tidak berhenti merusak kehidupan cucunya sendiri.


"Aku tidak tahu, sayang. Apa maksud kakek. Yang jelas, aku lelah di permainkan olehnya seperti ini. Aku sepertinya harus menyatakan perang padanya!" Andra sangat geram. ia sangat ingin membalas sang kakek.


"Sudahlah, mas. Jangan di pikirkan lagi. Ayo kita mulai kerja saja," Aku menyemangati suamiku itu agar tidak berlarut-larut memikirkan masalah ini.


" Sayang, mulai besok aku akan carikan kamu Bodyguard supaya ada yang menjagamu. Aku tahu siapa kakek. Ia akan melakukan apapun untuk mencapai tujuannya, meskipun harus melukai atau menghilangkan nyawa seseorang. Itulah kenapa aku selalu menuruti keinginannya."


Ternyata kakeknya sangat berkuasa dan berpengaruh. Aku harus lebih hati-hati sekarang. Bisa saja kakek sudah menyiapkan beberapa pembunuh bayaran untuk mengincarku.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Hallo PH lovers, terimakasih sudah mampir.


jangan lupa klik love dan rate bintang 5 nya ya..


Tulis komentar kalian di bawah ini


jangan lupa mampir ke novelku yang lain


judulnya


-Si Tampan Pemikat


-Digoda Berondong


- Playgirl vs Cowok cupu


Follow ig ku @Ekayunn_15


Buat yang mau gabung grup fans PH juga boleh banget. Caranya:


Tulis nomor WA kalian


di kolom komentar.


terimakasih..

__ADS_1


__ADS_2