Perfect Husband

Perfect Husband
77. Andre's Wedding


__ADS_3

#POVAndre


1 bulan kemudian...


Hari ini, Aku dan Vallen akan mengucapkan janji suci kami di depan penghulu. Kemarin, aku sudah ke psikiater untuk konsultasi dan membeli obat penenang untukku agar acara hari ini berjalan lancar.


Mungkin dengan menikahi Vallen, kejiwaanku akan membaik. Aku akan bisa membuka perasaanku pada Vallen dan pada akhirnya kami bisa menjalani kehidupan rumah tangga kami dengan normal.


Aku bahagia melihat papa-mama dan seluruh kerabat yang tampak sangat bahagia , karena akhirnya kami berdua menikah. Mereka semua menikmati permainan sandiwara kami, sampai tidak ada yang menyadari tipuan ini.


Sesuai dengan tema yang di pilih Vallen, kami menikah pun dengan tema putih. Segala persiapan telah dilakukan sengan sangat sempurna. Hari ini Aku dan Vallen akan menjadi Raja dan Ratu sehari.


Akad nikah sudah kami laksanakan dengan sangat khidmat. Di depan semuanya aku telah mencium kening Vallen dan sebaliknya, Vallen mencium punggung tanganku sebagai tanda penghormatannya padaku sebagai seorang suami.


Berlanjut ke acara sungkeman. setelah sekian lama akhirnya, aku dapat merasakan kembali hangatnya pelukan mama dan papa. Mereka berdua mencium dan memelukku sambil menitikkan Airmata.


Hari itu juga, untuk pertama kalinya setelah sama-sama dewasa aku dan Andra berpelukan. Sebagai kakak adik kembar, barulah kali ini kami tampak sangat akrab.


Tiba akhirnya, aku harus bersalaman dengan Sila. Gadisku, cinta pertamaku sampai hari ini. Aku tersenyum padanya. Aku sempat membisikkan kata maafku untuk kejadian pada hari itu. Barulah dalam momen ini, aku tidak bisa menahan airmata yang meleleh dari mataku. Pada akhirnya aku harus mengalah pada kenyataan bahwa aku dan dia memang tidak akan pernah bersatu sampai kapanpun.


Resepsi pun segera di gelar setelahnya. Aku dan Vallen bak model, yang di foto dalam berbagai pose. Berfoto dengan beberapa sahabat dan sanak saudara. Fotografer berulang kali mengingatkanku untuk tersenyum. Bagaimanapun juga, tubuh ini lebih jujur dengan apa yang terjadi sebenarnya.


Aku melihat Vallen tampak begitu ceria. Ia sangat menikmati momen ini. Ia sama sekali tidak menunjukkan sikap sedihnya. Gadis yang hebat. Selain dia, mungkin tidak akan sanggup menjalani kepalsuan ini. Semoga kehebatannya juga mampu merebut hatiku suatu hari nanti.


Resepsi berjalan lancar. Hari telah larut. Kami berdua harus kembali ke kamar. Karena masih di rumah mama, kami terpaksa harus tinggal di satu kamar. Tentu saja kamarku di hias sedemikian rupa, seperti kamar pengantin pada umumnya.


"Vall, tidurlah di ranjang, biar aku tidur di sofa ini saja," Kataku sambil melepas sepatu, dasi dan jasku. Aku membersihkan diriku ke kamar mandi dan berganti pakaian dengan baju tidur.


Vallen tampak termenung di depan cermin, sambil melepas mahkota yang menempel di rambutnya. Ia tampak kesulitan, tapi sama sekali tidak berusaha untuk meminta bantuanku. Wanita ini terlalu berusaha untuk menjadi mandiri.


"Boleh aku bantu?" Aku menawarkan diri pada Vallen. Gadis itu hanya mendongak tidak percaya aku berinisiatif untuk membantu kesulitannya.


"B-boleh..." Jawabnya gugup. Aku pun mulai berusaha untuk melepaskan mahkotanya.


"Aaaaah sakit!" Teriak Vallen tiba-tiba sambil memegang rambutnya yang ikut tertarik olehku.


"Maaf.. maaf.." Aku berulang minta maaf padanya. Akhirnya mahkota itu berhasil lepas dari kepala Vallen. Karena terlalu kuat menarik, mahkota itu terlempar dan pecah.


"Aaaaaa mahkotaku...! mahkotaku pecah! Harusnya kamu hati-hati dong, jangan sampai pecah." Ceracau Vallen heboh. Ia memang sangat menyukai mahlota itu.


"Sssstt... jangan keras-keras, Vall. Kontrol Volume, kamarku tidak ada peredam suara seperti di kamar Andra. Bisa-bisa orang akan mengira kita melakukan hal mesum," Aku menempelkan jari telunjukku di bibirnya sebagai tanda ia harus menghentikan teriakannya.


"Maaf Andre, aku lupa kalau kita baru saja menikah. Terimakasih bantuannya. tapi sayang mahkotanya udah pecah. Aku suka banget padahal," Gerutunya.


"Aku belikan yang baru kapan kita ada waktu lagi ke sana, sekarang tidurlah, kamu pasti lelah seharian ini," Aku meninggalkan gadis itu yang kembali menatap cermin dan menyisir rambutnya.

__ADS_1


Aku merebahkan diriku ke sofa khusus yang biasa aku gunakan untuk mengerjakan tugas kantor jika harus di kerjakan lembur. Aku menerawang ke langit-langit. Aku memikirkan status baruku sekarang. Aku adalah suami Vallen, wanita yang sama sekali tidak aku cintai. Meskipun begitu, ia tampak sabar dan ingin melakukan yang terbaik untukku.


Beberapa menit kemudian aku menangkap suara, gadis itu membersihkan diri dan keluar memakai baju tidur biasa. Maksudku, tidak berbentuk seksi. Tentu saja ia tahu diri, karena pernikahan kami ini hanyalah pernikahan di atas kertas. Entah sampai kapan akan terus begini, yang pasti sampai aku benar-benar bisa menerimanya.


Aku mengintip, gadis itu mengambil kelopak bunga mawar yang di taburkan di atas ranjangku, memandangnya beberapa saat lalu meletakkannya kembali. Lalu ia naik ke atas tempat tidur, menutup sebagian tubuhnya dengan selimut, menarik guling yang biasa ku pakai, memeluknya dan berusaha terlelap. Namun sepertinya sangat sulit untuknya bisa tidur.


Sebentar kemudian, gadis itu kembali terjaga dan duduk di tengah ranjang. Dia pasti sedang gelisah dan juga sedih. Seharusnya malam ini adalah malam penyatuan kami. Tapi sejak awal aku sudah bilang padanya bahwa aku tidak akan melakukannya sebelum aku bisa membuka hati untuknya. Aku tidak ingin melakukannya atas dasar kasihan. Aku ingin, saat malam itu tiba, aku melakukannya dengan orang yang benar-benar aku sayangi dan aku cintai.


Aku juga sudah memberinya waktu untuk mundur, tapi wanita itu tetap bersikeras untuk meneruskan semuanya. meskipun begitu, jujur, aku merasa bersalah padanya. Aku sendiri belum bisa tidur karena memikirkan ini. Lama-lama aku tidak tega juga membiarkannya bersedih seorang diri. Aku membuka mataku yang hanya pura-pura tidur.


"Vall, kenapa belum tidur juga?" Tanyaku padanya. Ia tampak terkejut. Ia tidak tahu sejak tadi aku memperhatikannya.


"Belum bisa tidur saja, kamu sendiri?" Ia balik bertanya kepadaku. Aku kembali duduk di sofa itu. Menjadikan tanganku sebagai penopang berat tubuhku.


"Sama, ada banyak hal yang membuatku tidak bisa tidur," sahutku. Pikiranku memang terganggu dengan berbagai hal.


"Apa kamu menyesal menikahiku?" Tanya Vallen menatapku dengan tatapan penuh keraguan. Aku hanya tersenyum.


"Kamu sendiri kan yang bilang, diantara kita hanya hubungan saling menguntungkan, jadi buat apa menyesal?" Aku mengerti, mungkin saat ini ia merasa aku terpaksa dan tidak nyaman menikahinya.


"Iya benar, di antara kita kan memang hanya sebatas hubungan saling menguntungkan, jadi aku tidak perlu secemas ini. Kalau begitu, tidurlah. Hari sudah semakin larut." Pesannya, sebelum akhirnya menelusupkan diri ke dalam selimut.


Keesokan harinya...


"Ayo kita turun bersama. Setelah acara pernikahan, adat keluargaku adalah sarapan pagi bersama keluarga. Kita harus hadir layaknya pasangan suami istri pada umumnya," Aku mengingatkan Vallen agar bersikap seperti apa saat sarapan bersama ini.


"Ayo," Aku menggandengnya keluar dan turun menemui seluruh keluarga yang telah menunggu kami di bawah. Mereka semua menatap kami dengan tatapan curiga.


"Selamat pagi, Vallen. Selamat datang dalam keluarga Wijaya. Kamu telah resmi menjadi bagian dari kami," Sapa Mama ramah. Aku dan Vallen duduk di kursi yang kosong.


"Selamat pagi, Ma. Selamat pagi semuanya.." Sapa Vallen ramah dan ceria.


"Semalam tidurmu nyenyak? Andre, lain kali jangan bermain kasar seperti itu. Sabar dan jangan tergesa-gesa. Pengantin baru selalu tidak sabar," Oceh Mama. Semua yang ada di meja tertawa. Wajahku memerah karena malu. Padahal kan semalam tidak terjadi apapun selain membantu Vallen melepas mahkota.


"Itu Ma, se-sebenarnya..."


"Maafkan Ma, kalau kami berdua semalam sangat berisik. Aku lupa kalau di kamar kami tidak dipasang pengedap suara. Nanti malam, kami akan melakukannya dengan tenang," Vallen memotong kata-kataku dengan kalimat yang membuat mereka semua yakin kalau semalam aku dan dia melakukannya.


"Wah, semangat pengantin baru memang sangat berbeda ya," Goda Mama. Aku merasa malu dengan apa yang di kira mereka. Vallen menyebabkan mereka semua salah paham.


"Andre, papa punya rahasia. Nanti akan papa bagi denganmu, ramuan yang bagus untuk meningkatkan stamina," Celetuk Papa.


"Uhuk..!" Aku tersedak mendengar Papa bicara seperti itu. Ramuan apa yang dia katakan? Aku bahkan tidak butuh ramuan itu. Gambaran pun belum ada kapan aku mau melakukan itu dengannya.


"Jangan malu-malu. Papa lebih tau, apa yang kamu butuhkan," Celoteh Papa lagi membuat wajahku semakin memerah karena malu.

__ADS_1


"Kami duluan semuanya.." Aku segera menggandeng Vallen kembali ke kamar, di taburi bisik-bisik mereka . Aku segera melepaskan gandengan tangan kami.


"Seharusnya, kamu tidak perlu bilang seperti itu, mereka jadi salah paham dengan kita berdua," Keluhku, sambil duduk di pinggir ranjang. Vallen pun melakukan hal yang sama, duduk disampingku.


"Kalau aku tidak bicara seperti itu, mereka semua akan tahu kalau pernikahan kita ini tidak sehat. Ikuti saja alurnya, aku sedang membantumu berakting." Kata Vallen dengan tenang. Ia memang benar, setidaknya mereka akan berpikir bahwa hubungan kami layaknya pasangan suami istri lainnya. Semoga Vallen bisa bertahan menghadapi sikapku yang dingin. Aku juga sangat ingin menjadi normal.


"Aku berhutang banyak padamu, Vallen. Aku berharap padamu dapat menyembuhkan penyakitku ini. Buatlah aku mencintaimu. Aku ingin membuatmu bahagia," Kataku padanya. Semuanya tidak di buat-buat. Aku sangat tersentuh dengan apa yang sudah Vallen lakukan untukku. Sejak awal sepertinya dia yang selalu memperhatikanku, memperdulikanku, tapi aku sendiri, tidak melakukan apapun untuknya.


"Aku tidak merasakan ini semua sebagai beban, Ndre. Kita jalanin aja semuanya sebaik mungkin. Iya kan? Kamu mau aku bikinin kopi?" Tanyanya padaku.


"Boleh, jangan terlalu manis, ya." Pesanku, sebelum Vallen menyeduhkan kopi untukku. Ini pertama kalinya aku di buatkan kopi oleh seorang wanita di pagi hari.


"Ini kopinya," Vallen menyodorkan kopi yang masih panas dengan asap mengepul dan aroma yang menusuk hidung. Aku menerimanya dengan hati-hati.


Aroma kopi tercampur dengqn wangi parfum Vallen membuatku merasa rileks. Vallen duduk di dekatku lagi.


"Val, apa harapanmu jika pernikahan kita ini akhirnya bahagia?" Tanyaku pada gadis itu.


"Aku ingin, kita berdua bahagia dan memiliki anak darimu," Jawabnya singkat. Aku bahkan tidak memikirkan jauh ke sana, apalagi berpikir untuk memiliki seorang anak.


"Kalau seandainya yang terjadi sebaliknya, apa kamu akan menganggapku sebagai musuh?" Tanyaku lagi,aku benar-benar ingin tahu, apa yang akan terjadi pada kami di masa depan.


"Tidak sedangkal itu, Ndre, bermusuhan karena tidak bisa bersama, itu adalah tindakan yang sangat kekanakan.Seandainya kita pada akhirnya tidak bersatu,aku akan tetap mau menjadi sahabatmu. Kita tidak perlu bermusuhan, Seperti anak abege saja," Sudah ku duga,pasti dia akan bersikap sangat dewasa. Aku mengagumi sikapnya itu. Beruntung sekali kalau pada akhirnya, aku bisa mewujudkan rumah tangga yang bahagia bersamanya.


"Kamu sungguh dewasa, Vallen. Kalau kamu tidak memutuskan untuk menikahiku, tentu saja di luar sana akan banyak orang yang mengharap jadi suamimu," Kataku.


"Kamu salah kali ini, Ndre. Aku justru sedang mencari jodoh untuk menikah. Bertemu denganmu adalah sebuah keajaiban," Kata Vallen dengan rona bahagia. Mengingat orang tuanya yang selalu menuntutnya untuk menikah.


"Oh, jadi kamu memanfaatkanku untuk terhindar dari cecaran orangtuamu?" Aku meledeknya. Ia terlihat sedikit salah tingkah.


"Salah satu alasanku adalah itu,tapi selebihnya aku memang perduli banget sama keadaan kamu, Ndre. Apalagi saat Sila menceritakan kamu dan perasaanmu, aku merasa sangat terpanggil untuk mengenalmu lebih jauh. Kamu adalah ikon cowok setia yang mulai langka di muka bumi ini," Aku merasa tersentuh dengan cerita Vallen. Ku tepuk-tepuk kepalanya pelan. Aku suka wanita tangguh sepertinya.


"Aku memang terlalu setia. Aku berusaha untuk melupakan dia, tapi ya itu, sulit. Apalagi saat dia dan Andra masih serumah dulu, rasanya setiap melihat mereka mesra, hatiku terasa sakit. Sakitnya sangat terasa nyata. Sekarang aja mereka udah rumah sendiri, keadaanku jauh lebih baik. Terkadang ingin rasanya aku merebut dia dari Andra, tapi sejak kecil aku sama sekali tidak pernah memberi apapun padanya, karena kami tidak besar bersama seperti kembar yang lainnya." Curhatku.


"Loh, kok bisa kamu dan Andra tidak besar bersama?" Vallen tampak sangat tertarik untuk membahas kisahku dan Andra yang terpisah selama ini.


"Aku di besarkan sendiri oleh orangtua kami, tapi Andra, ia di ambil dan di rawat oleh nenek dan kakek yang tadi makan bareng kita. Jadi kami sejak bayi tidak pernah bertemu, sampai aku menjodohkannya dengan Sila," Aku menjelaskan awal mula yang terjadi di antara kami.


"Kenapa kamu menjodohkan Sila dan Andra?" Tanyanya lagi.


"Saat iti ginjalku rusak dan sangat parah. Aku sudah di vonis tidak lama lagi meninggal oleh dokter, karena susah mendapatkan ginjal yang cocok untukku. Itulah yanh menyebabkan aku akhirnya menjodohkan mereka."


"Lalu, kamu bisa sampai sekarang?" Vallen ingin tahu mengapa aku bisa sampai sekarang.


"Ada seseorang yang kecelakaan dan keluarganya ikhlas memberikan kedua ginjalnya untukku. Ajaibnya ginjal itu cocok. Disitulah di mulainya drama percintaan yang rumit ini," Ceritaku.

__ADS_1


Apa yang terjadi antara sku, Andra dan Sila mungkin mwmang sudah seharusnya seperti ini. Sekali lagi, aku merasa akan baik-baik saja mengorbankan kebahagiaanku untuk dua orang yang penting dalam hidupku.


__ADS_2