
Seperti biasa, aku menyiapkan sarapan untuk semua penghuni Villa. Sebenarnya Andra waktu itu ingin mengajak Minah ikut serta bersama kami, tapi aku berpikir untuk membiarkan Minah mengurus rumah kami sementara kami tidak ada. Nanti saat kembali, aku ingin rumah terlihat rapi. Bisa langsung di tempati tanpa harus beres-beres dulu.
Khusus untuk Andra, aku harus membawakan menu sarapannya ke kamar, tentu saja dia ingin sarapan berdua di temani olehku tanpa di ganggu oleh siapapun. Hobinya menurutku aneh. Tapi aku ikuti saja apa maunya.
Aku terkejut saat membuka kamar Andre, Ia tergeletak di lantai dengan posisi tengkurap. Segera aku menaruh sarapannya ke meja dan mencoba menyadarkannya. Tapi nihil. Aku segera menemui Andra untuk segera membawa Andre ke rumah sakit.
"Mas, Vall, kita harus segera bawa Kakak ke rumah sakit!" Suaraku ku lantangkan karena jarakku dan mereka cukup jauh. Abdra dan Vallen yang sedang menikmati sarapan serentak berdiri dan meninggalkan makanan mereka masing-masing, tergopoh-gopoh menuju kamar Andre.
Kami bertiga kalang kabut, dalam kebingungan. Andra segera memapah kembarannya untuk masuk ke dalam mobil. Sementara aku dan Vallen membawa segala keperluan yang mungkin di perlukan nanti saat kami ada di rumah sakit.
Andra membawa mobil dengan kecepatan penuh. Suasana jalan yang masih lengang ia manfaatkan untuk mempercepat proses perjalanan kami. Vallen memangku sebagian badan Andre. Aku melihat gadis itu menangis sedih melihat keadaan suaminya yang hanya diam dan tidak bergerak.
Aku gusar, sesekali aku menengok ke arah mereka. Rasa tidak tenang mulai merasuk dalam jiwaku. Takut terjadi apa-apa pada kakak iparku itu. Semoga saja bukan kabar buruk yang akan kami dapatkan kali ini.
Andra sendiri hanya bisa berusaha keras untuk tetap konsentrasi memandang ke arah depan. Ia merasa bertanggung jawab atas keselamatan mereka berempat.
Andra segera membelokkan mobil memasuki area rumah sakit yang juga si gunakan Andre saat kecelakaan waktu itu. Andra meminta tolong kepada beberapa perawat untuk membawa Andre masuk. Kami bertiga di landa kepanikan.
Andre masuk ruang perawatan, kami semua hanya bisa menunggu dan harap-harap cemas. Aku tahu, meskipun tampak tidak begitu akrab, tapi Andra sangat mengkhawatirkan keadaan Andre.
"Sabar ya, Mas. Kak Andre pasti kuat melewati semua ini. Dia bukan tipe orang yang mudah menyerah. Dia tidak akan membiarkan kita sedih dan merasa kehilangan,"Aku menenangkan Andra yang mondar-mandir dengan wajah penuh kepanikan.
"Kakakku yang terbaik, meskipun kami jarang bicara, tapi kami sebenarnya satu misi. Aku sangat takut kehilangan kakak, sayang..." Keluh Andra, ada rembesan airmata di kedua netra suamiku itu. Aku mengerti, Andre sangat berarti untuknya.
"Percaya padaku, kakak tidak akan meninggalkan kita. Dia masih akan selalu berada di tengah-tengah kita. Jangan takut," Aku memeluk suamiku erat, mencoba meringankan rasa takut yang menghampirinya.
Tidak ada pilihan yang terbaik, hanya takdir yang dapat menentukan kemana arah kita melangkah. Sebuah awal akan berujung dengan akhir, kita hanya bisa berusaha yang terbaik. Semoga hasil perawatanku terhadap emosi dan perasaannya menghasilkan seauatu yang positif. Hanya itu harapanku saat ini.
Dokter keluar dari ruang perawatan. wajahnya tampak ceria, aku yakin dokter ini membawa kabar baik. Aku tidak sabar untuk mendengarnya.
"Selamat. Pasien sudah sadar dan ia telah kembali. Ingatannya telah pulih. Ia dapat mengingat semua orang dengan sangat baik. Terutama istrinya, Vallen. pasien ingin bertemu sekarang juga," Mendengar itu, Vallen dengan semangat mengikuti langkah dokter untuk masuk ke dalam ruangan.
Aku kembali memeluk Andra erat. Semuanya telah berakhir, tidak ada lagi main peran, tidak ada lagi kucing-kucingan. Setiap hari aku dan Andra akan kembali menjalani saat romantis seperti biasanya tanpa ada yang mengganggu.
"Dengar kan mas? Tidak ada sesuatu yang sia-sia. Pengorbanan kita berujung indah bukan? Kakak telah kembali. Dia akan menjalani hidupnya dengan normal, dan kita? kita juga akan kembali menjalani kehidupan rumah tangga kita dengan sangat menyenangkan seperti biasa," Aku mengatakannya sambil menatap kedua bola mata Andra dengan penuh keyakinan. perasaanku bahagia dengan tidak ternilai lagi. Seluruh keluh kesah dan airmata kini terbayar sudah.
Bee. Tiba-tiba aku teringat kata itu. Ke depan tidak akan ada lagi orang linglung yang memanggilku dengan sebutan 'Bee' lagi. Seperti kisah bertemu alien, anggap saja Andre yang kemarin sudah pulang ke planetnya. Aku tidak akan bertemu lagi dengannya dan tidak pernah mengharapkan pertemuan yang seperti itu lagi kembali terulang.
Andre telah kembali pada kesempatan sekian kali dalam hidupnya untuk cinta sejatinya. Jika cinta sejatinya untukku, tapi ada vallen yang memberikan cinta sejati untuknya. Aku harap kedepan mereka bisa berbahagia seperti pasangan telenovela.
"Terimakasih, Sayang. Semua berkat kerja keras dan perjuanganmu juga ketulusan hatimu merawat kakak. Kamu mengesampingkan urusan pribadimu untuk kepentingan keluarga. Hatimu sangat mulia sayang. Kamu permata hatiku, belahan jiwaku, sekalipun, aku tidak ingin berpisah darimu," Andra mengelus rambutku seperti biasanya, dengan sangat lembut. Aku merasa sangat senang saat ia melakukan ini, seperti sebuah perlakuan yang istimewa.
"Kak, gimana keadaan Kak Andre?" Anita mendatangi kami bersama seorang lelaki. Mungkin itu kekasih barunya. Setelah mengeluh di tolak oleh Affandi ia memang berniat mencari mangsa baru. Menurutku lelaki ini cukup tampan untuk menyaingi ketampanan Affandi.
"Sudah baik. Dia sudah kembali normal. Siapa dia? Kenalin dong," Aku menyenggol pundak Anita gemas. Sementara Andra sedang tampak berbasa -basi dengan cowok yang di bawa Anita itu.
"Namanya Bian, temen kuliahku, Kak. Bru pindah kemarin," Anita menjabarkan sedikit siapa cowok yang baru saja di bawanya itu.
"Wah, gerak cepat nih, baru datang langsung embat, tapi boleh juga, tingkat ketampanan di atas rata-rata, Affandi lewat," Godaku, Anita tampak tersipu malu.
__ADS_1
"Sebenarnya, bukan sengaja aku gebet, cuma kebetulan aja, dia kebingungan dan ketemu aku, lalu kita jadi teman dekat seperti sekarang ini," Curhat Anita. Dia anaknya memang suka sok kenal sok dekat, dulu yang mengajakku kenalan juga dia duluan.
"Seganteng itu loh, yakin belum punya pacar?" Aku sengaja menggoda Anita.
"Dia bilang sih sebelum pindah ke sini, baru putus. Tapi aku sendiri juga nggak yakin kalau Bian itu jomblo," Anita jadi ragu sendiri dengan keyakinannya. Aku terkekeh.
"Gimana sih, kok malah ragu , baru ku goda begitu saja sudah patah semangat, pepet terus sampai dapat," Aku kembali menyemangati Anita untuk memperjuangkan perasaannya pada Bian.
"Aku agak kurang pede sih, kak. Soalnya dia terlalu kebaratan orangnya, beda sama budaya kita. Nggak yakin kalau dia mau serius sama aku," Anita tampak pesimis.
"Belum tentu lah, segala sesuatu harus di coba dulu. Jangan nyerah sebelum mencoba," Aku tetap memberikannya dukungan. Awalnya aku dan Andra juga seperti mau udaham di awal, tapi setelah di jalani, kami baik-baik saja sampai sekarang. Meskipun banhmyak duri dan kerikil yang berserakan.
Kami berlanjut membicarakan banyak hal. terutama tentang kampus dan masalah ku yang jarang ke kampus juga karena berbagai alasan yang terkadang sedikit konyol dan tidak masuk akal. Paling utama, karena aku lebih sering ke kantor Andra tentunya.
Ketika hari mulai siang dan semakin banyak anggota keluarga yang menjenguk, aku dan Andra jadi punya kesempatan untuk pulang. Beberapa hari berada di villa itu membuat badanku sakit. Belum lagi aku harus tidur di sofa yang jauh dari kata nyaman demi sebuah peran.
Aku merasa lega saat akhirnya mobil kami berbelok ke halaman rumah yang ku rindukan. Sudah hampir setengah bulan ini kami tinggal di villa. Aku merindukan sensasi kasur empuk yang biasa aku tiduri bersama Andra.
"Mas, senang juga ya, akhirnya kita bisa kembali lagi ke rumah ini setelah sekian lama, aku rindu kasur empukku. Tidur di sofa nggak nyaman, bikin sakit pinggang," Keluhku sambil memegangi pinggangku yang sedikit nyeri.
"Tenang sayang, biar nanti mas yang pijitin, tapi jangan lupa imbalannya," Ujarnya sambil menaik turunkan alis berulang-ulang. Ternyata suamiku lumayan genit juga.
"Tidak perlu, Tuan Andra, saya tidak punya uang untuk membayar imbalan anda," Aku terkekeh dengan kalimat dan gaya bicaraku sendiri.
"Saya tidak butuh uang Nyonya Sila," Andra menanggapi perkataanku dengan gaya dan bahasa uang sama.
"Lalu apa yang Tuan Andra inginkan?" Aku menatap suamiku penuh tanya. Andra membuka pintu dan menarikku masuk.
"Mas, turunin aku, malu kalau ada yang lihat," Aku meronta, namun tangan kokoh Andra tidak mau menurunkanku, ia terus membawaku naik ke atas.
"Siapa yang mau lihat? Cuma Minah yang ada di dalam rumah ini, Sayang. Aku sudah menanti hari ini. Di mana kita bisa menikmati hari dengan romantis, tanpa harus kucing-kucingan," Andra terus membawaku hingga akhirnya kami sampai di kamar kami. Tanpa di minta, aku membuka pintu itu, dan aku melihat pemandangan yang tidak kupercayai itu nyata.
Taburan kelopak bunga mawar berwarna merah dan di bentuk dengan bentuk hati. Aroma wewangian di kamar itu membuatku nyaman. Sebuah buket bunga mawar putih juga ada di atas ranjang.
"Selamat hari jadi yang ke satu tahun sayang, tetap jadilah istri yang terbaik untukku. Esok, jadilah ibu yang terbaik untuk anak-anak kita. Tetap berikan seluruh cinta dan kasih sayangmu untukku, Sayang," Andra berjongkok di hadapanku , ia membuka sebuah kotak mungil berisi cincin berlian. Aku terharu, airmataku menetes karena terlalu bahagia.
Aku bahkan tidak mengingat hari jadi ini. Dengan banyak kesibukan yang aku kerjakan akhir-akhir ini membuatkannya melupakan momen penting ini. Sampai Andra memberinya kejutan besar ini.
"Terimakasih, terimakasih banyak, Mas. Aku sangat terkejut dengan seluruh kejutanmu ini. Aku akan terus berusaha untuk menjadi lebih baik untukmu, mas. Aku juga ingin, kamu jangan pernah berubah, Mas. Tetap jadilah Andra yang seperti sekarang," Aku mengambil cincin pemberian Andra dan memakainya di sebelah cincin pernikahan kami. Tepatnya di jari tengahku.
Andra bangkit dari posisinya semula. Ia menyejajarkan diri denganku, meskipun tinggi badan kami jelas jauh berbeda, aku hanya sebatas lehernya. Ia memegang pipiku dengan kedua tangannya. Aku terpaksa mendongak memandangnya.
Bibir Andra hinggap dengan tepat di bibirku. Awalnya hanya saling menempel. Setelah itu ia melahap bibirku dengan rakus. Menggambarkan kerinduan yang telah menumpuk selama ini. Aku membalas setiap perlakuannya dengan penuh semangat.
Ia menarik turus resleting dressku yang terletak di depan dan membiarkan gaun itu jatuh ke lantai tanpa melepaskan ciumannya. Hawa AC yang dingin menerpa tubuhku yang hanya menggunakan dalaman itu.
"Maas...." Aku menikmati seluruh sentuhan Andra yang tidak beraturan. Sesekali ia melepas ciumannya dan mengulangnya lagi. Dia yang biasanya menyukai permainan singkat, kali ini agak berbeda.
Aku meraih kancing kemeja Andra dan mulai melepasnya satu per satu. Hingga lepas seluruhnya, dan Andra membantuku mempermudah melepaskan kemeja itu dari tubuhnya.
__ADS_1
Ku belai perlahan dadanya yang bidang dan halus itu. Meskipun ada beberapa bekas luka campukan yang terlihat, tapi tetap saja aku menyukainya, justru itu menambah kesan seksi.
Aku juga melepas ikat pinggangnya, membuka kancing, dan menurunkan resliting celananya. Ukurannya yang longgar membuat celana Andra jatuh bebas juga ke lantai.
Ia tampak sangat maskulin, seperti bintang iklan pakaian dalam pria yang terpampang di majalah dewasa. Aku sangat mengagumi keindahan tubuhnya yang membuatku selalu rindu untik membelainya.
Dalam satu gerakan, Andra berhasil melepas kaitan penyangga dadaku. Setelah itu ia membuangnya entah kemana. Ia melepaskan celana yang masih menyangkut di punggung kakinya, dan menuntunku perlahan mendekati ranjang.
Tubuh bagian atas kami telah berhimpitan. Permukaan kulit kami yang tidak lagi terhalang busana membuatnya saling bergesekan dengan bebas. Sensasi kulit lembutnya saat menempel di tubuhku membuatku menggila.
"Mas, aku sangat merindukanmu. Merindukan belaianmu, merindukan setiap sentuhan mas yang selembut ini," Aku mengusap pipi Andra berulang. Kami seperti pasangan yang sedang di mabuk cinta. Sentuhan demi sentuhan kami lakukan dan saling berbalas.
"Mas juga, Sayang. Kamu tahu, saat kemarin kamu sibuk ngurus kakak, akun sebenarnya sedih, selalu di tinggal saat lagi kangen-kangennya, apalagi saar kakak menyenderkan kepalanya di pundakmu, aku pengen marah dan nonjok kakak, tapi aku sadar, aku harus mendukungmu dan memberimu semangat, mas nggak bisa egois saat kamu saja mau berjuang,"Akhirnya Andra mengungkapkan perasaannya yang seaungguhnya. Jelaslah dia merasa cemburu, saat istrinya harus pura-pura menjadi istri orang lain. Meskipun orang itu kakaknya sendiri.
"Mas pikir aku nggak menderita jauh dari mas? menderita banget tau mas, sampai-sampai susah tidur. Makanya waktu itu sampai nangis sendirian di kebun gara-gara mas tinggal pulang, untung mas cepet balik lagi," Aku juga mencurahkan perasaanku.
"Mana tenang, Mas membiarkan istri mas yang cantik ini, tinggal bersama laki-laki yang tampannya satu level sama,Mas." Andra masih sempat memberiku gombalan. Lalu merebahkan badanku ke atas ranjang. Andra berada di atasku, bertumpu pada kedua tangannya, Ia memandangi wajahku tanpa berkedip. Bibirnya mengulas senyum yang selalu aku rindukan.
"Kenapa, Mas melihatku sampai seperti itu?" Aku penasaran dengan arti tatapan Andra.
"Kamu cantik, Sayang. Sampai tidak bisa menahan rasa rindu kalau jauh darimu," Gombalnya, tapi aku tahu,jawabannya bukan itu.
"Gombal aja terus,, ayo mulai mas, ngobrol terus, kapan mulainya?" Tanyaku tidak sabar.
"Jadi, istriku udah kebelet ceritanya..." Andra menggodaku lalu melanjutkan adegan yang sempat terhenti.
I love you, Iam who Iam because of you. You are every reason. Every hope and every dream. I've ever had and no matter what happens to us in the future, every day we are together is the greatest day of my life. I will always be yours.
(Dikutip dari Google.com)
Happy univers Andra-Sila...
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Hallo PH lovers...
Aku mau kasih pengumuman nih..
Nanti di eps 100, PH akan adakan Give Away.
Caranya mengikuti kuis yang akan di adakan di grup fans PH.
Jadi, buat kalian yang belum masuh dalam grup, bisa tulis no wa kalian di kolom komentar.
Dukung juga karyaku yang lain:
Di goda Berondong
Si Tampan Pemikat
__ADS_1
Follow IG-ku @Ekayunn_15
Terimakasih*..