
Aku senang melihat antusias Andra sebagai ayah baru. Ia sengaja cuti untuk membantu mama mengurus bayi kembar kami, Alana dan Alandra. Semalaman ia rela duduk di samping box bayi untuk menunggu si kembar jika sewaktu-waktu terbangun.
"Tidurlah, aku bisa kok menjaga Alana dan alandra. Ini udah malem. Besok kan mas harus kerja nanti mas bisa ketiduran di kantor," Aku khawatir pada Andra yang yang nekat begadang untuk menjaga si kembar.
"Tenang, Mas besok masih cuti beberapa hari untuk membantu Mama mengurusi kembar. Supaya nanti Mas sudah terbiasa kalau mama sewaktu-waktu harus ada keperluan," Jawab Andra sambil memandangi wajah kedua bayi kami yang tengah terlelap. Hampir sepanjang malam Andra tersenyum sambil mengamati dua bayi mungil itu.
"Kamu tidak perlu melakukan itu Mas. Aku kan juga bisa mengurus si kembar, nanti kamu capek, loh. Katanya pekerjaanmu lagi banyak, yakin nggak apa-apa ditinggal cuti untuk mengurusi kembar?" Dua hari lalu sebelum aku lahiran, Andra sempat bilang kalau pekerjaan di kantornya sedang menumpuk. Banyak berkas yang belum dikerjakan. Belum lagi banyqk pertemuan penting. Tapi hari ini dia malah memutuskan untuk cuti, hanya karena ingin mengurus Si Kembar.
"Keluarga adalah prioritasku, apalagi kamu baru aja melahirkan kembar. Kamu butuh waktu istirahat lebih banyak. Biar nanti sementara Alana sama Alandra biar aku dan mama yang mengurus. Kecuali, saat mereka minta ASI itu baru tugasmu," Jawaban Andra membuatku merasa sangat dihargai sebagai seorang wanita. Memang setelah melahirkan badanku rasanya tidak karuan. Mungkin butuh waktu beberapa hari untuk menjadi normal kembali.
"Terima kasih Mas kamu selalu berusaha yang terbaik untuk kami. Kamu tidak hanya menjadi seorang suami yang baik, tapi kamu juga seorang ayah yang perhatian dan penuh kasih sayang. Alana sama Alandra pasti bangga banget, punya ayah yang seperti Mas. Terutama Alandra, dia pasti akan mencontoh Mas menjadi panutannya untuk menjadi seorang pria sejati," Pujiku pada suamiku. Aku sangat mengaguminya sebagai seorang suami. Dia bisa dibilang terlalu baik. Ketika banyak suami diluar sana yang tidak peduli pada istri anaknya, bahkan menelantarkan mereka, tapi aku memiliki Andra. Yang sangat bertanggung jawab dan sayang pada kami bertiga.
"Kamu juga dong,Sayang. Kamu adalah ibu yang terbaik untuk Alana dan Alandra. Mereka juga pasti akan bangga karena mamanya tidak hanya cantik, tapi juga baik penuh perhatian. Mereka akan mengagumimu suatu hari nanti. Karena kamu adalah ibu yang pantas untuk mereka idolakan. Pertama kali sebelum mereka mengidolakan orang lain," Kata Andra dengan sangat manis. Aku tidak menyangka Jika dia memandangku seperti itu. Aku hanya selalu berusaha yang terbaik untuk suamiku dan sekarang juga untuk kedua buah hatiku.
__ADS_1
"Jangan pernah berubah, ya. Aku tidak tahu lagi apa yang bisa aku lakukan. Kalau tidak memiliki suami sebaik, Mas. Kamu selalu tidak pernah bosan memanjakan aku, coba memahami aku, meskipun terkadang aku tidak memahami Mas. Aku selalu merasa menang sendiri dan banyak lagi kesalahan ku. Kamu selalu menerima aku apa adanya. Disaat orang lain hanya menilai kecantikanku, kebaikanku, tapi mas bisa menerima aku beserta keburukanku aku dan kejahatanku. Hanya Mas yang bisa seperti itu. Jangan pernah tinggalin aku dan kedua anak kita, jangan pernah, Mas harus janji," Tanpa terasa air mataku menetes, Saat aku mengucapkan kalimat-kalimat itu. Entah kenapa aku begitu takut kehilangan dia, suamiku yang menurutku sangat sempurna. Aku takut suatu hari, aku tidak bisa lagi melihat senyumannya, melihat ketampanannya, merasakan pelukannya yang penuh kehangatan. Aku sangat takut tidak tahu kenapa.
"Sayang, Mas tidak bisa berjanji apapun padamu. Tapi selagi aku mampu, aku akan berusaha menjadi suamimu yang terbaik. Menjadi ayah yang terbaik untuk Alandra dan Alana. Saat ini tidak ada yang lebih penting daripada kalian. Kalian menempati seluruh bagian di dalam hatiku, selamanya," Andra memelukku dan dihapusnya air mataku yang meleleh membasahi pipi
"Kamu sudah mau jadi yang terbaik mas. Dimataku kamu tidak ada kekurangan. Kamu yang paling terbaik diantara yang paling baik, aku sangat bahagia Bisa memiliki suami sepertimu. Kamu sangat luar biasa," Aku memeluk lengan Andra erat.
Tiba-tiba saja si kembar terbangun dan menangis secara bersamaan. Aku dan Andra menyudahi moment romantis kami berdua dan buru-buru mendatangi tempat tidur mereka.
"Anak-anak Ayah kenapa? Minta ditemenin ya sama ayah? Ayah sama bundanya malah berduaan, kalian ngiri cup cup cup," Chandra mencoba mengajak mereka berdua bicara dan ajaibnya mereka berdua langsung diam.
"Lihat Mas, Alandra merespon, loh. sebegitu kuatnya ikatan batin antara kamu dan dia," Aku ikut duduk di kursi yang ada di samping Andra. Agar aku juga bisa melihat kedua buah hati kami yang kini terbangun dari tidurnya.
"Alandra tahu, ya. Kalau ayah tersenyum sama kamu? Besok kamu harus jadi jagoan yang tangguh, biar bisa jagain Bunda. Biar Bunda sama Alana punya dua bodyguard yang keren dan juga tampan seperti kita ya sayang," Andra mengelus pipi Alandra dengan lembut, nampak sekali ia sangat menyayangi bayi mungil itu.
__ADS_1
" Alana juga jangan mau kalah ya, besok. Alana harus jadi anak yang baik, pintar, dan pandai memasak. Biar dua jagoan kita jadi semakin betah di rumah," aku membalas perkataan Andra pada Alandra. Bayi mungil perempuanku ini sepertinya kembali tertidur.
"Mas, jangan berisik Alana sepertinya bobok lagi," aku memperingatkan Andra untuk tidak Berisik.
"Iya Sayang, Mas tahu, tuh. Alandra juga mau tidur. Gemes, ya. Mereka pengennya tidur di samping kita. Gimana kalau mereka tidur seranjang aja sama kita?" Andra memberi usul untuk membawa Alandra dan Alana tidur bersama kami.
"Biarkan saja mereka tidur di situ,Mas. Nanti mereka juga terbiasa kok. Lagi pula, kita tidak bisa selamanya tidur bersama mereka, kan?" Aku tidak menyetujui usulan Andra, karena menurutku Alana dan Alandra butuh tempat yang luas. Jika tidur bersama kami takutnya mereka akan tidak bisa bergerak dengan bebas.
"Bilang aja kamu mau berduaan sama Mas,iya kan? Ayo ngaku," Andra meledekku karena mengira aku tidak menyetujuinya karena ingin selalu berduaan dengannya.
"Mulai deh Mas, mesum. Aku baru melahirkan loh, kamu harus puasa dulu. Aku tidak setuju karena Alandra dan Alana butuh tempat yang luas untuk bergerak. Sementara ranjang kita tidak begitu besar itu maksudku. Sekarang, Mas paham?" Aku berusaha memberikan penjelasan kepada Anda apa yang menjadi alasan ku untuk tidak mengijinkan Alana dan Alandra tidur bersama kami.
"Sebenarnya, mas juga tahu tapi mas cuman pura-pura enggak tahu. Kan kalau lihat kamu seperti ini, gemes jadi pengen cium," Andra semakin meledek ku karena sikapku yang menurutnya sangat menggemaskan.
__ADS_1
" Awas ya Mas lain kali aku balas," Aku mencubit pipi Andra dengan gemas tanpa perlawanan.