
2 minggu kemudian
"Mas, cuacanya panas banget ya, enak banget ngadem gini di balkon sambil minum jus,"
Aku sedang menikmati weekend di rumah bersama suamiku tercinta tentunya. Semenjak aku ketahuan hamil, setiap ada waktu luang Andra selalu menemaniku dalam aktivitas apapun. Dia hampir mirip bodyguard yang menjagaku 24 jam.
"Seger sih seger, tapi ingat, kamu harus mengurangi konsumsi gula sayang, usia kandungan kamu kan udah hampir dua bulan, meskipun sekarang belum berefek, mulai di biasain kurangi konsumsi gulanya," Celoteh Andra. Setiap hari dia mengomeliku, apapun yang menurutnya tidak benar pasti memprotesku. sedikit-sedikit ia menanyakan setiap kegiatanku pada Dokter Kandungan yang biasa ku kunjungi. Mungkin kalau bisa protes si Dokter bisa protes karena suamiku super bawel.
"Makasih ya sayangku, udah perhatian banget sama aku, bahagia deh punya suami, mas." Aku memeluk Andra dari belakang. Dia sedang duduk di kursi biasa tempat dia bersantai.
"Sama-sama bawel," Andra menarik hidungku gemas. Dih, sendirinya yang bawel, tapi aku yang di bilang bawel.
"Mas, itu di bawah ada kak Andre sama Vallen, ayo kita ke bawah," Aku menangkap mobil kak Andre yang parkir di halaman. Dia dan Vallen tampak romantis. Bahkan Andre berinisiatif menggandeng Vallen dan berjalan bersama.
"Mas, lihat, mereka romantis banget kan ? Aku senang mas, ternyata pilihan aku pas buat kak Andre," Aku kegirangan melihat Andre yang akrab dengan Vallen. Sampai tidak sengaja lonjak-lonjak kecil.
"Sayang, inget, kamu lagi hamil. Jangan lonjak-lonjak seperti itu," Andra mengingatkanku. Spontan aku langsung berhenti.
"Maaf mas, aku lupa. Ayo, kita turun sambut mereka," Aku menyeret Andra pelan untuk turun ke bawah menemui Andre dan Vallen.
"Apa kabar kalian?" Andre menyapa kami yang menyongsong kedatangannya dengan Vallen. Aku melihat Andre jauh lebih ceria sekarang. Mungkin karena sudah menemukan cintanya bersama Vallen.
"Baik-baik kak, Vallen, silahkan duduk," Aku mempersilahkan mereka untuk duduk.
"Aku ambil minum dulu," Aku meninggalkan mereka bertiga ke dapur untuk mengambilkan minuman dan makanan kecil di bantu oleh Minah.
Mereka bertiga tampak Bercengkrama akrab. Aku baru bisa melihat sekarang, betapa manisnya hubungan kakak adik ini jika berjalan dengan normal. Ini baru namanya keluarga bahagia.
"Nah, ini dia minumannya, kak, Val, ayo di minum, di cobain juga kuenya," Aku menghidangkan makanan dan minuman untuk mereka.
"Sila, kamu lagi hamil ya?" Celetuk Vallen yang mengetahui perubahan di tubuhku.
"Iya, baru mau dua bulan, Val," Aku memberikan penjelasan untuk rasa penasaran Vallen.
"Kalian ini, kehamilan Sila sudah mau dua bulan tapi nggak ngabarin mama papa sama sekali. Mereka bisa marah kalau sampai tahu lebih dulu dari orang lain," Protes Andre pada kami berdua. Kami memang belum memberitahukan kabar kehamilanku pada kedua orangtua kami. Aku jadi merasa bersalah.
"Iya kak, kami memang belum bilang sama mama dan papa, maaf. Kami terlalu sibuk sendiri sampai lupa ngasih tau," Aku menunduk.
"Jangan salahkan Sila, kak. Aku yang lupa membawanya pulang. Akhir minggu kami akan datang ke rumah," Andra membelaku. Tentu saja ia tidak ingin kalau sampai aku terpojok.
"Tentu saja kalian harus datang, karena akhir minggu ini kami berdua akan bertunangan, iya kan sayang..." Andre memandang Vallen mesra. Ternyata mereka berdua tidak mau membuang-buang waktu untuk berlama-lama pacaran.
"Kalian mau tunangan? selamat ya, aku senang sekali mendengarnya, pasti kami akan datang ke acara pertunangan kalian. Semoga lancar ya sampai hari H," Kataku bersemangat. Aku sangat senang bisa melihat sahabat dan kakak iparku bahagia seperti saat ini.
"Memang terkesan sangat singkat, tapi aku merasa cocok dengannya. Jadi aku memutuskan untuk segera bertunangan lalu menikah secepatnya," Tukas Andre. Memang itu yang seharusnya dia lakukan. Dia pantas mendapatkan kebahagiaan dari orang yang ia sayangi.
malam harinya...
Aku berdiri di depan cermin sambil melenggak lenggok melihat perutku dari segala sisi. Tanpa sadar Andra memperhatikan tingkahku yang menurutnya sedikit aneh.
"Lagi ngapain sih istriku ini, hmm?" Tanyanya sambil memelukku dari belakang.
"Mas, kapan ya perutku besar, kok belum kelihatan berubah sih, aku udah nggak sabar mas, punya perut buncit," Aku melanjutkan aktivitasku mengelus perutku yang masih terlihat rata.
"Sabar dong sayang, nanti kalau udah waktunya membesar, pasti besar sendiri kok," Hibur Andra, masih dengan memelukku, dengan kepala di senderkan ke pundakku.
"Mas mau anak perempuan, atau laki-laki?" Tanyaku iseng. Kalau aku sih mau di kasih apa saja mau.
"Apa aja sayang, laki-laki ataupun perempuan itu kan hasil buah cinta kita yang penting tumbuh sehat dan lahir selamat, kamu dan juga bayi kita," Kata Andra mesra, aku tentu saja berbunga-bunga.
"Mas... peluk..." Aku berbalik ke hadapan Andra dan memeluknya seolah tak ingin berpisah. Andra membalas pelukanku dengan hangat.
__ADS_1
"Mas, aku sayang banget sama kamu, aku nggak perduli berapa kali aku sudah bilang ini, tapi aku akan terus mengulangnya. Kamu sangat berharga bagiku mas. Aku nggak tau bisa apa kalau saat itu kamu benar-benar meninggalkan aku," Aku terbawa perasaan hingga airmataku berlinang, Andra menyadari itu.
"Mas bilang apa? Jangan nangis lagi sayang. Mas juga sepenuh hati sayang sama kamu. Apapun yang kamu mau, kalau mas bisa penuhi pasti akan mas penuhi." Kata Andra pasti sambil mengelus rambutku pelan.
"Kamu terlalu baik mas. Aku sangat beruntung memiliki kamu," Aku mengeratkan pelukanku padanya.
"Aku sudah seharusnya melakukan semua ini untukmu sayang, Mas ingin jadi suami yang sempurna untukmu, meskipun selama ini mas belum bisa mewujudkannya. Mas masih sering membuat kamu sedih dan terluka, maafkan masmu ini ya, sayang..." Andra mengecup keningku lama, sampai beberapa menit. Aku merasakan tetesan air yang hangat jatuh membasahi pipiku, dia menangis. Menggambarkan perasaannya yang sangat besar padaku.
"Aku mas, aku... aku orangnya yang paling bersalah padamu. membagi perasaan dan perhatianku dengan orang lain, membuatmu terluka dalam. Aku ingin menebus semuanya mas, izinkan aku untuk mencurahkan perasaanku padamu, mas" Kataku sambil mendekapnya erat. Aku menyadari segala kesalahanku di masa lalu. Aku bahkan tidak terlalu respek dengan suamiku sendiri. Bahkan aku lebih banyak memikirkan perasaan Andre saat bersama suamiku sendiri
"Lakukan apa yang kamu mau, sayang. Aku menyerahkan seluruh hati dan jiwaku untuk mencintaimu," Bisik Andra pelan, membuatku begidik geli.
Aku mendorong Andra perlahan, aku maju selangkah, Andra mundur selangkah, sampai mentok ke ranjang, aku mendorong tubuh suamiku itu sampai terjatuh dan terlentang di kasur. Aku merangkak ke atas tubuhnya.
"Mas... cium aku..." Rengekku, saat melihat bibir suamiku yang merah alami itu menggodaku. Tanpa protes karena sudah biasa menghadapi sikap mesumku Andra menuruti apa mauku.
Ia menciumku lama, mungkin karena aku memancing hasratnya, jari jemari Andra menari kesana kemari. Terutama daerah-daerah yang sangat sensitif. Rasanya aku semakin lepas kendali karena perlakuannya itu.
"Sayang, mas mau itu..." Katanya memberiku kode. Aku mengangguk mengizinkannya. Andra tampak berbinar mendapat lampu hijau dariku dan mulai beraksi.
"Tok..tok..tok.." Pintu kamarku di ketuk seseorang, seketika kami menghentikan aktivitas yang sedang berlangsung.
"Iya, tunggu..." Sahutku sambil membenahi bajuku yang sedikit berantakan, merapikan rambutku yang agak acak-acakan. Sementara Andra juga melakukan hal yang sama dan menyusulku ke arah pintu dan membukanya, ternyata Minah.
"Ada apa minah?" Tanyaku penasaran.
"Di bawah ada Tuan dan Nyonya besar," Kata minah sopan. Panjang umur juga, baru tadi siang kani bahas, mama dan papa sudah datang kemari.
Aku dan Andra saling berpandangan. Tidak menyangka mereka akan datang ke rumah mereka terlebih dahulu. Seharusnya, kami sebagai anak yang wajib mengunjungi mereka.
"Tunggu apa lagi, ayo kita turun sayang," Andra menggandengku dan mengajakku turun. Minah mengekor di belakang kami. Aku dan Andra turun. Tampak papa dan mama sudah duduk menunggu kami di sofa.
"Andra, Sila, kami mau bicara pada kalian," Buka papa dengan aura menyeramkan. Sepertinya dia sedang sangat marah.
"Sejak pindah kemari, kenapa tidak pernah mengunjungi kami? Apa kalian sudah lupa punya orangtua?" Mama juga sepertinya marah. Ekspresinya sangat dingin.
"Maaf ma, kami berdua rencananya ujung minggu akan datang ke rumah mama, malah mama yang lebih dulu datang ke mari." Kataku selembut mungkin.
"Tentu saja akan datang karena undangan Andre, kan?" Mama salah menerka.
"Nggak, ma. kami memang berencana akan datang ke sana, untuk menemui mama dan papa," Andra mengambil alih. Ia juga takut kalau salah paham itu akan berlanjut.
"Sudahlah, saat ini mama nggak mau ribut sama kalian, mama cuma mau nganter ini, seperangkat obat untuk menyuburkan kandungan, apa salahnya kalian coba. Aku ingin mendapat cucu dari kalian," Kata mama sambil menyodorkan sebungkus obat-obatan kepada kami berdua. Aku dan Andra hanya tersenyum dan saling pandang.
"Kami tidak perlu ini, ma." Andra mendorong balik bungkusan itu ke arah mama. Beliau heran mengapa Andra melakukan itu.
"Loh, kenapa? Jadi kalian mau menyerah begitu saja?" Terka mama lagi, kami berdua kompak tertawa.
"Sila sekarang sedang mengandung cucu mama," Kataku pelan. Paps yang tadinya diam pun terkejut dengan kata-kataku barusan.
"Kamu benar-benar hamil, Sila?" Mama mencoba mencari kebenaran dengan apa yang dia dengar. Aku mengangguk. Mama langsung memelukku erat.
"Selamat ya, sayang. Jaga bayi kalian baik-baik." Kata mama dengan gembira. Ia sangat bahagia karena tidak lama lagi akan mendapatkan cucu dari kami berdua.
Suasana pun melunak. Tidak ada lagi sikap dingin. Kami saling berbagi cerita sekaligus mama memberiku wejangan apa yang boleh dan tidak boleh di lakukan saat hamil. aku hanya mendengarkan dengan patuh.
Setelah lumayan larut, papa dan mama pamit pulang. Kami menyuruhnya menginap tapi mereka bilang esok ada rapat penting. Lain kali mereka janji akan menginap di rumah kami.
"Mas, ayo.." Rengekku lagi meminta Andra segera menemaniku tidur ke atas. Andra mengabulkan permintaanku.
"Mas mau lanjutin yang tadi?" Tanyaku saat tiba di kamar.
__ADS_1
"Bobo aja ya sayang, sekarang kan udah malem, saatnya kamu bobo, istirahat." Andra merayuku dengan lembut.
"Baiklah, tapi kelonin ya?" Aku lagi-lagi merengek manja, Andra mengangguk dan mengangkatku naik ke tempat tidur. Ia menyelimuti tubuhku dan menyusul tidur di sampingku dengan memelukku erat.
"Mas, apa kekuranganku?" Tanyaku padanya tiba-tiba. Entah apa maksudku bertanya seperti itu.
"Nggak ada," Jawab Andra singkat.
"Kenapa bisa begitu, pasti ada lah, masa enggak sih?" Aku tetap ngeyel.
"Bisalah, karena setiap kekurangan kamu udah mas tutupin dengan kelebihan, mas," Gombalan Andra sukses memnbuatku tersenyum. Aku mencubit perutnya lumayan keras. Andra meringis kesakitan.
"Habisnya sih, mas suka gombal. Tapi aku suka," Kataku padanya, kini tidurku menghadap wajahnya yang tampan.
"Ayo tidur sayang, sudah malam. kamu harus banyak istirahat..." Andra merengkuhku ke dalam pelukannya. Rasa hangat pelukannya menenangkanku. Lelakiku ini selalu memberikanku rasa aman dan nyaman. Saat dekat dengannya, aku tidak takut lagi.
"Mas..." Aku memanggilnya karena belum bisa tidur juga.
"Hmm.." Jawabnya singkat, mungkin Andra terlalu lelah meladeni keinginanku seharian ini.
"Aku sedikit cemas, mas. Aku trauma dengan kejadian saat itu. aku takut kehilangan bayiku lagi," Lirihku. Andra yang sudah ingin tidur kembali terjaga. Ia menatapku dalam-dalam.
"Sayang, yang sudah berlalu, biarlah jadi kenangan. Anak kita sudah bahagia di surga. Sekarang tugas kita adalah, menjaga anak ini sampai dia lahir dan selanjutnya," Andra mencoba menyadarkanku. Apa yang di katakannya memang benar. Aku hanya tinggal merawat dan men jaga anak yang ada di dalam rahimku ini.
"Terimakasih sayang. Mas, sudah memberikanku ketenangan sekarang. Kalau begini aku jadi lebih baik. Mas... sini lebih dekat..." Kataku, Andra menurut.
"Cup..." Kucium pipinya. Srbagai tanda terimakasih karena sudah membuatku tenang.
"Cuma cium pipi? mas pikir..." Andra tampak menggodaku. Saat seperti inj ekspresinya sangat menggemaskan. Aku pelan-pelan mendekatinya.
"Mas maunya apa?" Bisikku
"Maunya ini...ini...ini," Andra menunjuk ketiga daerah sensitifku. Aku baru teringat kembali bahwa beberapa jam yang lalu kami nyaris saja melakukannya jika saja mama dan papa tidak datang. Tentu saja itu mungkin membuatnya tidak nyaman.
"Lakukanlah, mas. Seharian ini mas sudah banyak menuruti keinginanku, meskipun banyak di antaranya yang sedikit konyol. Jadi, malam ini aku ingin membalasmu, mas. Tuntaskanlah hasratmu," Kataku pasrah. Tentu saja aku tidak bisa membiarkannya tersiksa sepanjang malam menahan keinginannya. Ini juga sebagian dari kewajibanku untuk melayaninya dengan baik.
"Terimakasih sayang, kamu sudah mengerti keinginanku. Jujur aku memang merindukan momen seperti ini, meskipun hampir setiap hari kita melakukannya, kamu tetap membuatku tergila-gila..." Aku melihat wajahnya memerah. mungkin saja aku terlalu mempengaruhi perasaannya saat ini.
Andra melepas tali kimono tidurku. Ia menelan ludah, aneh. Padahal setiap hari ia selalu melihatnya. Aku menyadari perubahan bentuk tubuhku ini membuatku lebih seksi di beberapa bagian.
Tanpa menunggu instruksi dariku, Andra melakukan apa yang dia inginkan. Aku hanya perlu mengimbanginya dengan beberapa suara menggoda. Malam ini kami tidur hingga larut malam, Andra sepertinya sampai lupa peraturannya sendiri.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Hallo PH lovers, terimakasih sudah mampir.
jangan lupa klik love dan rate bintang 5 nya ya..
Tulis komentar kalian di bawah ini 👇👇👇
jangan lupa mampir ke novelku yang lain
judulnya Si Tampan Pemikat
Follow ig ku @Ekayunn15
Buat yang mau gabung grup fans PH juga boleh
coret-coret no wa kalian
di kolom komentar.
__ADS_1
terimakasih..