Perfect Husband

Perfect Husband
71. The Fact Of


__ADS_3

Beberapa saat aku tiduran, aku justru penasaran kemana Andre pergi dan aku merasa ingin mencari tahu. Aku bergegas keluar kamar dengan pelan-pelan. Samar-samar aku mendengar Andre dan Vallen sedang saling bicara dan sepertinya akan turun ke bawah, aku segera masuk kembali ke dalam kamarku dan mengintip mereka dari lubang pintu khusus untuk mengintip siapa yang datang. Aku melihat tangan kanan Andre di perban. Aku penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi.


Setelah keadaan aku pikir aman, aku segera mengendap-endap memasuki kamar Andre dan masuk ke dalamnya. Tidak ada yang mencurigakan. Aku segera mengecek ke kamar mandi. Disana aku melihat pecahan kaca yang berlumur darah, juga sebuah foto, tunggu, fotoku dan Andre.


"Jangan-jangan, tangannya luka gara-gara meninju foto ini? Bagian tengahnya tampak kusut. Pasti dugaanku benar, jangan-jangan apa yang selama ini Andra bilang benar, Andre tidak pernah mencintai Vallen? Lalu, bagaimana bisa mereka sepakat untuk menikah? Jadi sampai sekarang dia sebenarnya masih mencintai aku?"


"Cklek.."Suara handle pintu di tarik orang. Aku panik akan sembunyi di mana. Aku segera berlari ke samping lemari dan bersembunyi.


Wangi parfum Andre menyeruak. Dia sepertinya hanya sendirian. Mungkin sebaiknya aku membahas masalah ini dengannya. Lagipula kalau tidak di bicarakan sekarang, mau kapan lagi?


"Kak..." Kataku mengagetkan Andre yang sepertinya akan ganti baju karena ia sedang buka dasi.


"Sila, kenapa kamu ada di kamarku? Kamu tahu kan, aku ini kakak iparmu, seharusnya kamu sedikit lebih sopan," Protes Andre. Terlihat sekali sekarang kalau sikapnya hanya di buat-buat.


"Apa maksud dari ini kak?" Aku menunjukkan foto kami yang telah berlumuran darah dan aku temukan di tong sampah kamar mandinya.


"Itu, bukan apa-apa. hanya jatuh, terus pecah. karena kotor jadi aku buang fotonya. masih ada yang di album," Jawabnya sambil menggantung jasnya. Aku tahu dia tidak jujur. Kalau dia jujur, pasti dia akan menatap wajahku saat berbicara.


"Jangan bohong kak, aku ingin kakak jujur. Kenapa kakak seperti ini? kenapa kakak nggak bisa mencari kebahagiaan untuk kakak sendiri... kenapa kakak..."

__ADS_1


"Cukup..!" Andre membentakku. Ini pertama kalinya sepanjang waktu aku pernah kenal dengannya, ia berani membentakku.


"Apa perdulimu dengan perasaanku?" Andre memepetku ke dinding. Ia mengurungku dengan kedua tangannya dan menatapku dengan tatapan yang sangat tajam.


"Apa kamu akan memilihku kalau aku jujur?! Apa kamu tau, rasanya jadi aku itu seperti apa?! Aku sakit hati setiap melihat kamu bahagia bersama laki-laki lain. Disini, disini rasa sakitku!" Andra memukul dadanya sendiri dengan tepukan yang lumayan keras.


"Bahkan, jika aku di pukul seperti ini ( Ia memukul wajahnya sendiri), atau aku di tonjok seperti ini(Ia menonjok wajahnya sendiri), itu rasanya tidak setara dengan sakit hati yang aku rasakan!" Bibir dan hidung Andre berdarah, pipinya merah bekas tamparannya sendiri. Aku menangis, melihat dia menyiksa dirinya sendiri karena aku. Hingga aku terduduk karena kakiku lemas dan tidak mampu menopang berat tubuhku.


"Atau kamu mau aku menjentuskan kepalaku seperti ini (Menjentuskan kepalanya ke tembok) Agar aku tidak memikirkanmu lagi?!" Aku bangkit dan memeluk Andre erat.


"Kakak, aku mohon jangan lakukan ini kak, aku mohon... jangan siksa diri kakak lagi.. please," Aku mendekapnya. Aku tidak perduli siapa dia, aku hanya ingin menghentikan aksi brutalnya menyakiti dirinya sendiri.


Aku memapahnya duduk di ranjang. Ia masih menangis di pundakku. Aku harus apa sekarang. Aku tidak menyangka, cintanya yang terlalu besar padaku membuat dia depresi parah begini.


"Aku mencintai kamu Sila. Aku sangat mencintai kamu, aku tidak bisa menerima kenyataan kamu sudah bahagia dengan laki-laki lain," Ia masih mengoceh.


"Kakak, terima semua kenyataan ini. Aku yakin, kakak bisa juga bahagia. Kakak bisa menemukan kebahagiaan yang lain. Jangan menyiksa diri kakak, aku juga sayang sama kakak, tapi kenyataan ini kita harus apa lagi? Kita hanya bisa mencari kebahagiaan dari keadaan kita kak."


"Kalau kakak seperti ini, kakak hanya akan menyakiti diri kakak sendiri. Aku mohon kak, jangan lakukan lagi, ya..." Aku memohon pada Andre agar dia mau menuruti permintaanku.

__ADS_1


"Kenapa aku harus tidak bisa memilikimu Sila.. Kenapa aku harus selalu mengalah. Aku ingin bisa bersamamu, menikah denganmu," ceracau Andre lagi. Aku menidurkannya di ranjang. Aku coba mencari obat anti depresi di dalam lacinya, aku memukan banyak obat, aku tidak tahu obat mana yang aku butuhkan. Aku coba telepon Affandi, meskipun dia seorang dokter kandungan, dia pasti tahu jenis-jenis obat ini.


Setelah menelepon Affandi, aku tahu obat mana yang harus aku berikan untuk Andre. Aku segera meminumkan obat itu padanya. Aku ingin kondisi Andre segera stabil.


"Minum, kak." Aku membantunya meminum obat itu untuknya. Aku sungguh-sungguh tidak tahu, kalau selama ini Andre mengidap depresi akut. Kata Fandi, kalau di lihat dari obatnya, depresi tingkat ini sudah sulit untuk di sembuhkan secara total.


"Sila..." Andre memanggil namaku. Sejujurnya aku takut berada di ruang yang sama ini dengannya. Di tambah lagi luka-luka di wajahnya yang dia buat sendiri, bukan tidak mungkin dia akan melukaiku juga. Tapi meskipun takut, aku berusaha untuk tetap merawatmya untuk sekarang.


Aku mengambil air hangat dari dispenser untuk mengompres luka lebam dan membersihkan darah yang ada di sekitar mulut dan hidungnya. Tiba-tiba saja dia memegang tanganku dan menarikku sampai wajah kami begitu dekat. Bau parfumnya yang manis kesukaanku menyeruak masuk ke dalam hidung.


"Sila, izinkan aku menciummu satu kali ini saja," Andre memintaku melakukan sesuatu yang tidak normal. Jantungku berdegup kencang karena panik haeus berbuat apa. Aku coba melepaskan diri tapi cengkeramannya terlalu kuat.


Dalam hitungan detik, Andre sudah menarik wajahku sampai tidak ada lagi jarak diantara kami berdua dan ia berhasil mengecup bibirku.


"Sila! Apa yang kamu lakukan?!" Andra tiba-tiba menerobos masuk ke kamar Andre. Aku semakin panik. Aku meronta dan melepaskan diri dari Andre sebisaku. Tapi Andra tidak mau menunggu lama, dia pergi meninggalkanku dan Andre dalam posisi yang memang mengundang salah paham. Setelah Andra pergi, barulah Andre melepaskan aku..


"Kakak sengaja melakukan ini?!" Aku emosi pada Andre. Karenanya, mungkin aku akan di ceraikan oleh Andra. Aku juga mungkin akan di buang oleh keluarga Wijaya.


"Tentu saja. Aku hanya memberimu cobaan kecil. Coba kamu rasakan sendiri, sakit hati itu apa. Bagaimana rasanya mencintai orang yang tidak memperdulikanmu," Andre tersenyum jahat.

__ADS_1


"Kakak jahat!" Aku berlari dan segera keluar dari kamar Andre untuk mengejar Andra. Semoga saja Andra masih mau memaafkanku.


__ADS_2