
Cerita ini hanya fiksi, banyak adegan kekerasan. Bagi pembaca di bawah umur, harap bijak dalam memilih bahan bacaan. Terima Kasih
Sore itu Alaia menyelesaikan pekerjaannya lebih awal karena ada janji dengan Selena, Dion sempat bertanya apa yang akan Alaia lakukan, bahkan dia harus ikut mengerjakan apa yang Alaia kerjakan karena Alaia harus menemui temannya.
“Mbak, mau ketemu siapa?.”
“Teman.” Alaia merapikan penampilannya sambil tersenyum pada Dion.
“Yang waktu itu kesini?.”
“Iya.”
Dion hanya mengangguk-anggukkan kepala mengerti.
“Aku pergi dulu, kalau ada apa-apa, kamu bisa menghubungiku.”
“Siap.”
Alaia meninggalkan kantor setelah memberikan pesan pada asisten Selena, sebuah alamat di kirimkan pada Alaia. Alamat yang belum pernah Alaia kunjungi sebelumnya, sebuah gedung pameran lukisan, entah apa yang Selena lakukan disana.
Alaia membawa mobilnya menuju alamat tersebut, alamat yang mengharuskan Alaia melewati jalanan cukup sepi dan jarang kendaraan untuk sampai di gedung tersebut. Gedungnya lumayan bagus namun kosong, hanya ada beberapa mobil di depannya.
“Tidak ada pameran disini.” Alaia melepaskan sabuk pengamannya, kemudian keluar dari mobil dan berjalan menaiki anak tangga yang berjumlah tidak banyak untuk sampai di pintu utama gedung tersebut.
Pintunya tidak terkunci saat Alaia masuk, baru beberapa langkah saja Alaia merasakan seseorang memukul tengkuk nya. Pandangan Alaia menggelap dan dia mulai tak sadarkan diri tergeletak di lantai.
Saat membuka mata, Alaia berada di sebuah ranjang dengan kedua tangan dan kaki terikat, seorang bertubuh kekar membelakanginya menjadi pemandangan pertama yang Alaia lihat. Dia sama sekali tidak mengenali tempat tersebut, berbeda saat terakhir kali Alaia jatuh. Bahkan dia tidak yakin masih berada di tempat yang sama saat terakhir kali sadar.
“Sudah bangun?.” Kelvin, orang yang Alaia lihat itu adalah Kelvin yang tengah tersenyum manis namun terlihat menakutkan untuk Alaia.
“Apa yang kamu lakukan? Kamu melakukan ini semua?.” Pertanyaan Alaia mendapatkan senyuman Kelvin, pria itu berjalan dan duduk di sofa yang langsung berhadapan dengan ranjang tempat Alaia duduk.
“Aku tidak tahu apa yang kamu lakukan setelah semua yang kamu tahu mengenai Agam, rasanya Agam sangat di cintai sedangkan aku? Aku tidak pernah melakukan apapun dalam hidupku. Aku selalu melakukan semuanya dengan sempurna. Kamu tau kalau Agam membunuh banyak orang, tapi apa yang kamu lakukan? Kamu memaafkannya dengan mudah. Tidakkah kamu melihatku sedikit saja?.”
__ADS_1
“Jangan bercanda, aku menikah dengan mas Agam, aku mencintai mas Agam, dia suamiku. Jadi lepaskan sekarang, aku anggota kepolisian, kalau sampai pihak kepolisian tahu mengenai hal ini, hukumanmu akan lebih berat.”
“HAHAHAHA kamu bercanda? Pembunuh saja bisa berkeliaran dengan mudah. Aku tidak berniat membunuhmu sayang...” Kelvin beranjak dari duduknya, menghampiri Alaia dan menyentuh rambut wanita itu dengan lembut, tapi Alaia menghindar. Kelvin tetap tersenyum, namun kemudian dia mengambil ponselnya yang ada di saku. Menghubungi seseorang di seberang sana yang tengah sibuk dengan pekerjaan.
Meja panjang dengan beberapa orang penting berada di satu ruangan untuk membahas uang triliunan sebuah proyek besar yang berada di tangan A group. Agam sebagai pemimpin A group membuat rapat pada sore itu secara formal, Farah mulai menjelaskan mengenai proyek yang akan mereka kerjakan sebagai sekretaris Agam.
Awalnya Agam mengabaikan notifikasi panggilan dari Kelvin yang dua kali menghubunginya, namun saat nama istrinya tertera di layar. Agam menyela rapat tersebut untuk menerima telepon yang baginya sangat penting.
“Hai.” Suara di seberang sana berhasil membuat Agam terkejut namun dia berhasil berada di raut wajah yang sama seperti sebelumnya.
“Dimana istriku?.”
“Disini, wah seharusnya kamu menerima panggilanku.”
“Dimana dia?.”
“Kamu benar-benar terburu-buru.”
“Apa yang kamu lakukan pada Alaia!.” Bentak Agam yang membuat seluruh orang yang ada di ruangan itu melihat ke arah Agam. Agam memperhatikan sekitarnya “Kita tunda rapat hari ini.” Agam meninggalkan ruangan rapat masih dengan posisi bertelepon dengan Kelvin.
“Pak Agam, apa yang terjadi?.” Pertanyaan Liana yang baru saja datang untuk memberikan berkas tambahan ke ruang rapat menghentikan langkah saat melihat atasannya yang berjalan terburu-buru.
“Urus semuanya yang ada disana.”
“Baik pak.”
Agam masih melangkahkan kakinya menuju ke basement sendiriannya, “Dimana kamu sekarang?.” Dengan nada yang tenang Agam bertanya pada Kelvin melalui telepon sambil memakai sabuk pengaman.
“Tempat yang sudah kamu ketahui, tempat terakhir kamu mengambil nyawa seseorang beberapa tahun yang lalu.”
Agam sedikit berpikir, kemudian dia menancapkan gasnya ke sebuah lokasi yang dia tau sekarang bukanlah rumah lama nya, melainkan bangunan yang digunakan sebagai pameran seni. Setelah apa yang Agam lakukan beberapa tahun yang lalu, keluarganya pindah ke area yang lebih ramai dan tempat itu di ubah menjadi galeri seni yang disewakan untuk pameran lukisan.
Tidak membutuhkan lama, Agam sampai disana, dia juga melihat mobil Alaia ada disana, bersamaan dengan itu Agam melihat mobil lain datang dan seorang wanita keluar dengan buru-buru tanpa mengenakan tongkat bantunya.
__ADS_1
“Selena?.”
“Mas Agam, maafkan aku.” Wajah Selena nampak sangat bersalah.
Tapi Agam sama sekali tidak peduli, dia hanya ingin masuk dan membawa istrinya ke dalam pelukannya.
Pintu coklat tertutup menjadi ruangan dengan penjagaan ketat, beberapa menit kemudian pintu terbuka dan Kelvin keluar dari ruangan itu sambil tersenyum pada Agam yang datang dengan buru-buru.
“Kamu benar-benar tau lokasinya.”
“Dimana Alaia?.”
“Ada didalam, dia sedang tidur. Alaia memang sangat manis, membuatku tergila-gila.”
Agam mengepalkan tangannya kemudian menonjok wajah Kelvin hingga membuat tubuhnya tersungkur di lantai. Beberapa orang disana langsung menahan Agam dan memberinya banyak pukulan karena telah melukai bosnya.
“Cukup.” Kelvin berdiri sambil mengusap darah yang mengalir di sudut bibirnya dan mendekat kearah Agam “lepaskan Alaia dan aku akan membuatnya seperti di surga.” Ucapan Kelvin berhasil membangkitkan monster dalam tubuh Agam. Pria itu mulai melepaskan tangannya dari bawahan Kelvin serta melawan mereka semua dengan tangan kosong hingga semuanya jatuh tersungkur di lantai.
“Tarik ucapanmu sekarang.” Ucapan Agam dengan pandangan dingin dan penampilan berantakan menatap tajam kearah Kelvin.
“Hahaha Aku tidak akan menyakitinya tenang saja, kalian belum memiliki anak bukan? Bagaimana kalau Alaia hamil anakku saja?.”
Buugghhh
Agam kembali memukul Kelvin membabi buta, Kelvin tak kalah membalas pukulan Agam. Saat mereka saling melepaskan, Agam menarik sebuah pisau yang disembunyikan di balik jas yang dia pakai.
“TARIK UCAPANMU SEKARANG!.”
“Apa kamu pikir aku akan takut? Tidak!.”
Agam kembali memukul Kelvin, walaupun pria itu bisa menghindar tapi kali ini berbeda saat Agam berada di tubuh Kelvin yang jatuh ke lantai. Pisau itu menusuk perutnya “Apa kamu gi-la?.” Ucap Kelvin dengan terbata-bata sambil memegang tangan Agam yang menusuknya dengan pisau.
“Hahahaha bukankah lebih baik kamu mati?.”
Jlebb
__ADS_1
Satu tusukan kembali Agam layangkan pada perut Kelvin, darah mengalir di lantai. Saat Selena datang, wanita itu terbelalak menghentikan langkahnya sambil menutup mulutnya menggunakan tangan.