Perfect Husband

Perfect Husband
90. Selamanya Kita...


__ADS_3

Ketika seseorang jatuh cinta, segalanya akan terlihat sempurna. Apapun yang ada, apapun yang terjadi, apapun yang terkisah, saat bersama orang yang di cintai semuanya akan terasa sangat indah.


Ketika seseorang jatuh cinta, semua akan terasa manis. Apapun kalimat yang terucap dari sang pujaaan hati, semuanya indah, meskipun hanya sekedar ucapan 'selamat pagi'. Jangan tersenyum, sebab jika kalian tersenyum, pasti kalian pernah merasakan hal seperti ini.


Tanpa terasa, usia kandunganku sudah mencapai lima bulan. Andra tidak mengizinkan aku terlalu lelah. Ke kantor hanya boleh dua kali seminggu. Sisanya hanya di rumah. Melakukan gerakan ringan senam hamil.


Sebenarnya, aku belum merasa kepayahan saat melakukan berbagai hal, hanya saja Andra terlalu protektif padaku. Banyak hal yang aku tidak boleh lakukan. Sebentar-sebentar di Selalu konsultasi dengan dokter kandungan langganan kami. Dia tipe ayah super siaga. Terkadang aku harus berdebat dengannya, karena aku tidak boleh melakukan ini dan itu.


"Sayang, minum dulu susunya, mas udah buatin susu ini dengan penuh cinta. Harus di minum, kalau nggak, mas akan sedih," Andra membawakanku segelas susu hamil. Dia sudah beberapa hari rutin membuatkanku. Dia selalu merayuku untuk mau meminumnya dengan berbagai cara. Membuatku enggan menolaknya.


Aku mengambil susu yang masih sedikit hangat itu dari tangannya dan segera meminumnya sampai kosong. Melihatku yang penurut, ia pun tersenyum senang. Sebentar lagi dia berangkat ke kantor, di berikan senyuman adalah hal yang sangat istimewa.


Aku bangun, merapikan baju dan memakaikan dasi pada leher Andra. Jika wanita hamil biasanya mual saat bau parfum tercium. Tapi, aku malah suka mengendus baju bagian dada Andra.Setelah itu, seharian wanginya akan tetap tercium olehku.


"Mas, hari ini sibuk?" Tanyaku, saat Andra menyisir rambutnya di depan cermin.


" Belum tahu, Sayang. Kenapa?" Sahut Andra lembut.


"Kalau mas nggak sibuk, cepat pulang ya," Aku memeluk Andra dari belakang dengan manja. Andra diam dan memandang bayanganku di cermin. Sejurus kemudian ia tersenyum manis dan berbalik menghadapku.


"Sayang, cintaku yang manja, mas nggak janji bisa pulang cepet hari ini. Tapi, kalau nanti kerjaan mas nggak terlalu banyak, mas pasti pulang buat ketemu bidadari mas, ini." Andra mengelus pipiku mesra. Aku memegang tangannya lembut dan menciumnya.


"Mas, teruslah seperti ini, jangan pernah berubah, ya.." Kataku padanya penuh arti. Andra kembali meletakkan kedua tangannya di pipiku, menatapku dalam-dalam dengan penuh.


"Dengar baik-baik, mas tidak akan pernah berubah. Selamanya, mas akan tetap seperti ini sama kamu, sayang.." Andra mengecup keningku lembut. Aku dapat merasakan betapa besar rasa cintanya padaku.


"Terimakasih, Mas. Ayo kita turun, aku mau temani mas sarapan," Aku memeluk lengan Andra sambil tanganku yang satunya menenteng tas kerjanya. Suamiku itu hanya menuruti apa yang menjadi keinginanku.


Ia menyiapkan kursi untukku duduk, Aku sudah meletakkan tas kerja Andra di meja ruang tamu. Segera aku menyiapkan makanan yang akan di makan oleh Andra. Dia mangamati setiap apa yang aku lakukan. Tampak sangat kagum padaku. Padahal aku hanya menyiapkan makanan untuknya.


"Mas, kenapa sih. Ngamatin kegiatanku seperti itu?" Selidikku. Andra meresponku dengan senyum manisnya.


"Bahagia punya istri kamu, Sayang. Perhatian banget. Setiap hari, rasa sayangku bertambah terus sama kamu," Ujar Andra, sambil memulai suapan pertamanya.


"Ini sudah kewajibanku, Mas. Sudah seharusnya aku melayanimu dalam segala hal," Aku mengisi piringku sendiri dengan makanan. Porsi makananku sangat banyak sekarang, dua kali lipat dari biasanya. Mungkin karena kehamilanku mulai membesar.


"Terimakasih, Sayang. Untuk semua yang telah kamu kerjakan setiap hari, apa jadinya aku, tanpa istri sebaik dirimu," Andra terus menghujani pagiku dengan kata-kata manis. Membuat senyum di bibirku tidak berhenti mengembang.


"Berhentilah berbicara manis, Mas. Aku jadi ingin tersenyum tanpa henti. Sebenarnya, aku ingin bisa ikut ke kantor seperti biasanya. Bosen di rumah sendirian. nggak ada yang di ajak ngobrol, mas." Keluhku. Memang aku kesepian kalau di tinggal Andra ke Kantor. Di rumah sebesar itu, hanya ada aku dan Minah. Sedangkan Asistenku itu selalu sibuk mengerjakan sesuatu dan tidak sempat untuk menemaniku.


"Biar nanti aku telepon mama. Mama kan sedang libur di rumah, tidak mengawal papa dinas. Dia pasti senang jika aku memintanya untuk menemanimu," Andra memberiku usulan. Aku suka kalau mama mertua mau datang kemari. Beliau sangat menyayangiku. Sejak orangtuaku masih ada, tidak pernah di bedakan antara aku dan Anita. Kami diperlakukan sama.


"Baiklah, Mas. Aku setuju kalau mama kesini. Kangen juga kan, aku udah lama nggak ngobrol secara pribadi sama mama," Semenjak menikah dengan Andra, aku memang tidak sedekat dulu lagi dengan mama. Mungkin karena aku lebih sering asyik sendiri dengan Andra, jadi mama juga sedikit sungkan untuk dekat denganku seperti dulu.


"Mas berangkat dulu, Sayang. Nanti mas telepon mama untuk datang kesini. Jaga diri baik-baik, ya. Tunggu mas pulang, jangan kangen," Andra mengelus rambutku pelan, lalu meninggalkan meja makan dan berangkat ke kantor. Aku melambaikan tanganku dari depan pintu. Ia membalasnya dan menghilang ke dalam mobil tanpa melepas senyumnya.


Aku masuk kembali ke dalam rumah. Aku melihat Minah sedang membereskan piring-piring yang habis kami pakai. Aku duduk di ruang tamu. Kembali membaca buku tentang kehamilan dan mengurus anak. Aku ingin belajar bagaimana cara mengurus bayi dan anak Karena aku ingin mengasuh anakku sendiri nanti. meskipun mereka kembar, aku yakin aku pasti mampu melakukannya.


Aku tahu, mengurus satu anak itu sudah sangat repot, apalagi kalau dua anak sekaligus. Tapi mungkin akan ada sensasi tersendiri saat bisa mengasuh anak secara mandiri.


Kehilangan anak pertamaku, membuatku sedikit was-was. Aku takut kehilangan mereka lagi. Rasanya sangat berat jika harus kehilangan lagi. Aku hanya sedikit lega karena kehamilanku kali ini termasuk kuat. Meskipun aku melakukan aktivitas berat, mereka tetap baik-baik saja. Semoga terus seperti ini sampai mereka lahir.


"Sila..." Aku menatap ke sumber suara. Mama telah datang. Aku berdiri dan menyongsong mama. Aku memeluk beliau erat.


"Duduk, Ma.." Aku mempersilahkan mama duduk di sofa ruang tamu. Ku minta Minah menyiapkan minuman dan makanan kecil untuknya.

__ADS_1


"Aku senang mama datang, sudah lama rasanya tidak pernah ngobrol lagi smaa mama," Kataku dengan gembira. Mama tersenyum ramah. Beberapa bagian wajah beliau sangat mrip dengan si kembar. Mungkin mitos tentang anak cowok lebih mirip mamanya adalah benar.


"Kebetulan, mama juga ingin banyak bertanya padamu, tentang Andre. Apa kamu keberatan?" Mama tampak takut saat mengatakan kalimatnya ini.


"Tidak, Ma. Silahkan tanyakan sebanyak mungkin, Sila akan coba menjawab." Aku mencoba bersikap terbuka agar mama jadi lebih nyaman umtuk berbicara padaku.


"Sila, mama ingin kamu jawab dengan sejujurnya, apakah kamu masih mencintai Andre? Mama janji, ini rahasia kita berdua," Aku yakin mataku saat ini membulat mendengar pertanyaan mama. Untuk apa lagi mama tahu tentang perasaanku pada Andre?


"Seperti yang mama tahu, aku dan kakak bisa di bilang besar bersama. Kami melewati banyak momen bersama.Untuk perasaan cinta, tentu saja itu masih ada ma, tapi tidak sebesar dulu. Aku sudah mencintai Andra sekarang, Ma. Memangnya, buat apa mama ingin tahu tentang ini?" Aku balik bertanya pada mama. Aku juga ingin tahu mengapa mama menanyakan hal ini.


"Hanya ikatan cinta sejati yang biasanya terikat Sila. Apa sebelum Andra kecelakaan, kamu ada firasat?" Aku mencoba mengingat-ingat.


"Lebih tepatnya, sesaat sebelum aku mendapat kabar dari Vallen, aku merasa hatiku sakit dan dadaku sesak, Ma."Itu memang yang aku rasakan sesaat sebelum kabar Andre kecelakaan terdengar.


"Lalu saat itu, saat Andre sudah di nyatakan meninggal, kamu memeluknya dan dia kembali, betul?" Mama mengingatkanku saat mengerikan itu.


"Iya, Ma. Aku memeluk kakak, dan dia tiba-tiba sadar kembali," Aku membenarkan kata-kata mama.


"Percaya atau tidak. Itu adalah ikatan cinta sejati,Nak. Kamu ingat, di saat Andre sakit, kamu selalu berhasil membantunya untuk sembuh, itu artinya batin kalian benar-benar terikat. Suatu saat kalian akan bersatu," Aku tidak mengerti apa yang di ucapkan Mama. Mengapa mama bilang seperti itu? bukankan aku ini istri Andra, anaknya juga?


"Mengapa mama bilang seperti itu? Mama , aku ini istri Andra, aku tidak mungkin kembali pada Andre. Dia juga sudah menikah dengan Vallen," Protesku. Tapi Mama justru beranjak dari duduknya. Tersenyum kepadaku dan melangkahkan kakinya keluar dari rumah.


"Ma..! Mama...!" Aku memanggilnya kuat. Tapi mama hanya mengabaikanku.


"Nyonya..Nya...Nyaa...! bangun nya..!" Aku mendengar panggilan Minah. Aku membuka mataku. Memandang sekeliling sambil merasa bingung.


"Mana mama? tadi mama kesini kan?" Aku menanyakan keberadaan mama pada Minah. Pembantuku itu hanya melongo.


" Nyonya besar belum kesini, Nya. Tadi nyonya baca buku dan tertidur di sini. Saya biarkan karena takut ganggu. Eh, Nyonya malah teriak-teriak.. Ma.. ma.. ma.. gitu,"Cerita Minah membuatku bertanya-tanya. Tadi itu benar-benar mama kok.


"Tidak Nya, coba anda lihat, tidak ada makanan dan minuman di sini. Hanya ada buah-buahan, yang dari tadi pagi memang ada di situ," Minah menunjukkan sekeranjang buah yag terletak di meja. Dia benar, tidak ada makanan dan minuman di sana. Jadi, aku hanya mimpi? Apa arti mimpi itu?


"Tin...Tiin..." Klakson mobil di depan. Itu pasti mama. Benar saja, beberapa menit kemudian mama masuk ke dalam rumah. Baju mama tidak sama dengan yang tadi ada di dalam mimpiku.


"Mama baru datang?" Aku masih terpengaruh efek mimpi itu. Aku berusaha menata kesadaranku. Mimpi itu terlalu nyata.


"Iya, Sila. Tadinya mama mau datang lebih cepat, tapi di jalan, ban mobilnya tiba-tiba kempes. Jadi keaininya terlambat, deh," Cerita mama dengan wajah ceria.


"Papa mana ma?" Tanyaku, saat mendapati papa tidak ikut masuk ke dalam rumah.


"Papamu ada proyek sama Andre. Jadi nggak bisa ikut ke sini, bagaimana kandungan kamu, Sayang?" Mama mengelus perutku yang sudah sedikit membuncit.


"Baik, Ma. Mereka berdua sehat. Aku sebentar-sebentar konsultasi. Mas Andra sedikit lebay," Kataku mengadu pada mama sambil tertawa.


"Itu tandanya, Andra suami dan ayah yang siaga. Dia mungkin tidak ingin kehilangan lagi untuk kedua kalinya. apalagi yang ini hamilnya kembar, iya kan?" Apa yang mama katakan benar. Andra protektif padaku karena dia takut kehilangan buah hati lagi seperti saat itu.


"Iya, Ma. Sila tahu, kalau niat Andra itu baik. Makanya, aku nurut aja dia mau ngomong apa. Sampai-sampai aku nggak boleh ke kantor lagi, Ma. Padahal kan aku pengen jadi wanita karir, bisa selalu jaga Andra dari wanita-wanita penggoda," Sungutku, dengan wajah ditekuk. Sejujurnya ia hanya ingin memprotes keputusan Andra.


"Mana ada di kantor wanita penggoda, sayang. Berani Andra begitukan kamu, mama akan gantung dia di pohon bayem," Mama terkekeh dengan candaam garingnya.


"Ma, aku tadi abis mimpi Aneh.. Mama mau dengar ceritanya?" Kataku. Suasana seketika hening.


"Mimpi apa? coba ceritakan pada mama. Siapa tahu ada hubungannya dengan sesuatu," Mama pasang telinga. Aku mulai menceritakan kisahku pada mama. Ia memperjelas detailnya di setiap adegan mimpiku itu.


"Jadi seperti itu? Dan mimpi itu benar-benar nyata.? tapi semua jawaban yang kamu jawab itu benar-benar fakta?" Mama meragukan kebenaran ceritaku. Tapi semuanya memang fakta.

__ADS_1


"Benar, Ma. Mimpi itu benar-benar nyata. Kalau mama menanyakan hal yang sama, pasti aku juga akan jawab dengan jawaban yang sama," Aku meyakinkan mama. Beliau tampak berpikir. lalu seperti akan mengatakan sesuatu, lalu ia mengurungkan niatnya untuk berbicara. Membuat aku curiga. Ada sesuatu yang mama sembunyikan dariku.


"Itu hanya bunga tidur. Lain kali jangan tidur terlalu pagi, itu tidak bagus untuk kesehatan." Mama mengomeliku. Tapi tetap saja aku tidak menpercayai, Ada sesuatu yang di sembunyikan mama dariku.


"Mama nggak bohong? mama ntidak sedang menyembunyikan seduatu kan dariku?" Aku menyelidik, aku belum yakin dengan apa yang ku dengar.


"Sekarang mama tanya, Apa kamu bahagia bersama Andra? Apa kamu mencintainya?"Mama tampak serius bertanya padaku. Jantungku berdetak lebih cepat. Aku takut.


"Iya, aku bahagia dan mencintai Anda, Bahkan aku sangat mencintainya, Ma." Curharku. Mama mencoba tersenyum meskipun tampak terpaksa. Aku tidak pernah melihat mama seperti ini sebelumnya.


"Itu artinya, ikatan cinta sejati tidak akan berlaku, karena kamu mencintai orang lain. Sudahlah, tidak perlu dipikirkan lagi. Sekarang fokus untuk kehamilanmu saja, Sayang." Aku masih merasa ada yang di sembunyikan dari mama. Sepertinya mimpi ini bukan mimpi biasa. Aku takut, aku tidak ingin merusak semuanya lagi.


Aku sudah berusaha selam Ini. Menciptakan hubungan normal di antara kami bertiga. Aku ingin kami semua bahagia. Menemukan cinta masing-masing. Sampai aku berusaha mencarikan seseorang yang tepat untuk Andre, tujuanku adalah membiarkan dia bahagia dan menemukan cinta.


Apa itu ikatan cinta sejati? Aku tidak perduli. Aku sudah bahagia bersama Andra, sebaliknya dia juga sudah bahagia bersama Vallen. Memang aku masih memiliki sedikit cinta, tapi perasaan itu sudah tidak sama lagi dengan dulu.


"Mama, jangan bilang apapun pada Mas, aku mau ini jadi rahasiaku dan Mama. Aku tidak akan perduli apa itu ikatan cinta sejati. Apa yang aku lakukan untuk kakak semata-mata karena aku sudah menganggapnya kakak. Aku sudah sangat bahagia bersama Mas, dan selamanya itu tidak akan berubah," Aku mencoba meyakinkan mama. Aku ingin mama tahu, kalau aku sangat mencintai Andra.


"Iya, Sayang. Mama tahu, Sila anak yang baik dan manis. Tidak mungkin Silanya mama ini akan berbuat sesuatu yang salah. Jaga rumah tangga kalian baik-baik ya, meskipun mama ini jarang berkunjung, tapi mama juga memikirkan kalian, bagaimanapun juga, Andra juga anak mama." Mama merangkulku. Mendekapku erat. Dekapan mama sama hangatnya dengan dekapan ibu. Aku tidak akan mengecewakannya.


Dalam pikiranku, semua ingatan yang pernah aku lalui bersama Andre terbayang. Dia memang seperti bergantung padaku. Tapi setelah ia menikah dengan Vallen, aku harap dia bisa bergantung pada sahabatku itu sekarang.


"Ma, apa mama tahu, tentang perasaan kakak selama ini?" Aku mencoba menanyakan tentang Andre lagi pada mama.


"Yang mama tahu, dia sangat mencintai kamu. Hampir setiap hari, dia selalu menulis untukmu, Nak. Tentang rindunya, rasa kecewanya, cemburunya, rasa sayangnya, semuanya. Mama selalu datang ke kamarnya, saat Andre tidak ada, atau saat malam hari, dia telah terlelap. Mama sebenarnya merasa perih melihatnya seperti itu. Tapi takdir memang sudah memisahkan kalian berdua. Ada di satu lembar, mama membaca.. saat Andra baru pulang dati amerika dan membawa Sesilia. Kamu dan Andre berdua di atas gedung, dan kamu mengajaknya menikah, dia bahkan tau kamu hanya menganggapnya sebagai pelarian, tapi dia menuliskan kalau, dia rela. Dia mau melakukan apapun, asalkan kamu bahagia, Sila." Mama menangis mengenang masalah Andre yang ini. Mataku juga berkaca-kaca. Aku merasa beruntung karena di cintai dengan sepenuh hati olehnya.


"Maafkan aku, Ma. Aku tidak berniat untuk menyakiti kakak. Aku hanya merasa kakak satu-satunya orang yang bisa membuatku tenang saat itu. satu-satunya lelaki yang bisa untukku bersandar. Maafkan aku, Ma." Aku sudah selayaknya meminta maaf pada mama. Aku yang sudah membuat dua putra mama mencintaiku.


"Sayang, mama mengerti. Ini semua bukan maumu. Mama tahu, saat kamu bingung, Andre sendiri yang menawarkan untuk berbuat baik padamu, kan? jadi itu bukan salahmu, Nak. Hanya saja, di antara kalian bertiga ada ikatan yang rumit, akhirnya terjadilah salah paham. Sekarang mama sudah sedikit tenang. Tadi pagi Vallen menelepon mama, katanya semalam mereka sudah mulai tidur bersama. Andre juga bilang pada Vallen, kalau ia mulai mencintainya," Curhat Mama. Aku ikut senang mendengarnya. Aku bahagia akhirnya kakak mau membuka hati untuk Vallen.


"Aku bahagia, ma. Akhirnya, kakak mau membuka hatinya. Semoga dia dapat mencintai Vallen sepenuh hatinya," Aku mengeratkan pelukanku pada mama. Aku ingin selamanya kami seperti ini.


Jika kamu mencintai dua orang dalam satu waktu, pilihlah orang yang kedua, namun saat kamu benar-benar mencintai orang yang pertama, kamu tidak akan mampu jatuh cinta pada orang yang kedua. (Dikutip dari Google.com)


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Hallo PH lovers...


Aku mau kasih pengumuman nih..


Nanti di eps 100, PH akan adakan Give Away.


Caranya mengikuti kuis yang akan di adakan di grup fans PH.


Jadi, buat kalian yang belum masuk dalam grup, bisa tulis no wa kalian di kolom komentar.


Dukung juga karyaku yang lain:


Di goda Berondong


Si Tampan Pemikat


Follow IG-ku @Ekayunn_15


Terimakasih*..

__ADS_1


__ADS_2