Perfect Husband

Perfect Husband
81.Mungkin Ini Awal


__ADS_3

POVAndre


Sepulang dari rumah sakit aku dan Vallen tidak jadi ke psikiater. Dia membawaku pulang ke rumah, keadaanku yang lemah karena alergi burger membuat Vallen harus memapahku sampai ke kamar, membuatkanku teh manis, membuat bubur untukku makan, dia super perhatian. Aku benar-benar terkesan dengan perlakuannya yang begitu perhatian ini.


"Gimana keadaan kamu,Ndre? udah baikan belum? Apa perlu aku panggil dokter lagiĀ  kesini?" Vallen tampak begitu khawatir dengan keadanku. Berulang kali ia mengecek suhu dengan cara menempelkan punggung tangannya.


"Jangan panik, aku tidak apa-apa ,kok. Sebentar nanti juga baikan, aku sudah beberapa kali terkena ini. Mending sekarang kamu duduk di sini, temenin aku," Aku berusaha menenangkannya. Dia tampak panik. Perlahan ia mengikuti saranku. Ia menarik kursi kecil dan duduk di sana, tepat di sampingku.


"Andre, jangan lama-lama sakitnya, aku nggak bisa tenang kalau kamu seperti ini." Vallen memegang erat tanganku, entah ia sadar atau tidak. Jadi sedalam inikah perasaannya padaku? Kenapa sepertinya ada yang berubah ya di dalam hatiku? Sepertinya aku mulai terkesan pada gadis yang telah menjadi istriku ini. Apakah ini awal dari tumbuhnya perasaanku padanya?


"Serius, aku nggak apa-apa,Vall. Dalam beberapa jam pasti baikan," Aku coba meyakinkannya lagi. Rasanya bahagia di saat aku sakit seperti ini ada seseorang yang benar-benar milikku yang memperhatikanku.


"Kalau gitu, kamu tidur, ya. Aku akan di sini. aku akan tetap menemani kamu," Usulnya, memang efek obat saat itu membuat aku mengantuk. Perlahan aku memejamkan mataku dan tidur dengan ada Vallen duduk di dekatku.


Beberapa jam kemudian...


Aku terbangun dengan Vallen yang tengah tertidur mendekap tanganku. Aku tidak tega untuk membangunkannya. Ia sepertinya lelah setelah hampir seharian mengurusku. Aku mengelus rambut wanita itu lembut. Caranya memperlakukan aku sungguh membuatku terkesan. Ia wanita super lembut dan sangat perhatian seperti mamaku. Didekatnya membuatku merasa sangat nyaman.


"Kamu sudah bangun dari tadi?" Vallen segera tersadar saat merasakan sedikit gerakanku.


"Baru aja, istirahatlah, aku sudah merasa lebh baik. Aku akan segera mandi setelah ini." Aku berusaha bangkit dari tidurku. Keadaanku memang sudah lebih baik daripada tadi sebelum tidur.


"Baiklah, kalau begitu aku kembali ke kamarku, kalau ada apa-apa jangan sungkan untuk mengetuk pintu kamarku," Pesan Vallen sebelum meninggalkan kamarku. Sabarlah menunggu Vallen, mungkin suatu saat akan tiba waktunya kita tidur di kamar yang sama.


"Vallen..." Panggilku sebelum dia berlalu.


"Ya... Apa kamu butuh sesuatu?" Tanyanya singkat.


"Tidak, aku hanya ingin mengucapkan terimakasih karena kamu telah merawatku dengan baik hari ini," Kataku, seraya memberikan senyum manis sebagai hadiah atas perhatiannya.


"Sama-sama. Aku suka melakukannya, tidak perlu merasa tidak enak." Gadis itu balas tersenyum padaku. Lalu ia membuka pintu kamar dan benar-benar menghilang.


Aku duduk di pinggir ranjang. Memikirkan Vallen sambil tersenyum. Mengingat segala hal yang kami lakukan bersama, meskipun hanya hal yang sepele tapi itu membuat hatiku tersentuh.Sepertinya perhatianku mulai tersita untuknya.Perasaanku yang awalnya biasa saja kini berubah sedikit menjadi tidak biasa.


Aku segera membersihkan diri. Sebagai rasa terimakasih, aku ingin mengajaknya makan malam berdua di luar. Memikirkannya, aku jadi sedikit salah tingkah. Apa dia akan suka jika aku mengajaknya keluar malam ini? Aku mengguyur kepalaku dengan derasnya air shower. Perlahan, sekilas bayangan Sila berkelebat di pelupuk mataku.


Aku tidak boleh lagi menginga+ wanita itu. Dia telah menjadi istri adikku. Aku harus bisa melupakannya. Arrrgh, kepalaku sakit. Bakhan ini rasanya sangat sakit. Aku terhuyung keluar dari kamar mandi, segera mencari obatku di dalam laci dan meminumnya segera.


Aku ingin sepebuhnya lepas dari penyiksaan ini. Kenapa srtiap aku ingin melupakannya, aku justru di datangi bayangannya dengan sangat nyata. Apa aku tidak boleh bahagia? Haris terbelenggu cinta Sila seumur hidupku?


Aku terduduk di samping ranjang, rasa sakit di kepalaku belum mereda. Aku ingin melupakannya dan memulai hidupku yang baru. Ku tarik rambutku dengan kedua tanganku untuk meringankan rasa sakit ini.


"Tok...tok..tok.." Ada seseorang yang mengetuk pintu.

__ADS_1


"Andre... ini aku. Aku mau mengantarkan bubur untukmu. Apa kamu sudah selesai mandi?" Suara Vallen terdengar jelas.


"Masuk saja...!" Teriakku, agar Vallen mendengar. Aku lalu mendengar pintu kamarku di buka dan Vallen masuk.


"Andre, kamu kenapa? Depresimu kambuh?" Vallen panik, ia segera meletakkan bubur yang ia bawa di meja. Sesungguhnya aku malu, karena saat itu aku hanya memakai handuk saja karena belum sempat mencari pakaian.


"Iya, tadi saat aku mandi, tiba-tiba bayangan Sila datang berulang, sampai kepalaku sakit. Akhirnya aku brthasil keluar dan minum obat.


"Ada aku di sini, Andre. Rasa sakitmu ini akan segera hilang," Vallen memelukku erat. Ia mengusap rambutku pelan. Sungguh nyaman, kehangatan tubuhnya membuatku tenang


"Cup.." Vallen mengecup keningku lama. Aku merasakan ada titik air yang membasahi pipiku. Dia menangis? Baru kali ini aku tahu dia bisa menangis seperti ini. Apa dia mulai lelah menjagaku?


"Vall, Jangan menangis. Maafkan aku jika aku salah, aku belum bisa menjadi suami yang baik untukmu, aku sering mengabaikanmu, melukai perasaanmu, aku..."


"Cup.." Vallen mengunci bibirku dengan ciuman. Mata kami beradu. Awalnya sedikit canggung, tapi aku akhirnya memberikan baladan ciuman untuknya.


Bibir lembutnya membuatku menikmati ciuman ini. Ini kali kedua aku melakukannya, setelah memaksa Sila saat siang itu. Aku merasa Vallen menjamah dadaku dengan jemarinya. Apa dia sedang menggodaku? Batinku bergejolak. Tapi Naluriku tetap menolak, aku belum bisa melakukannya sekarang. Aku menangkap tangan Vallen secepat kilat. Gadis itu sadar dan melepaskan ciumannya.


"Maaf, Vall. Aku belum siap melakukannya sekarang." Aku segera berdiri dan menuju lemari untuk mencari pakaian yang akan ku pakai.


"Iya, tidak apa-apa. Aku yang minta maaf karena kelepasan dan menggodamu. Aku paham, kamu belum bisa untuk menerima aku sepenuhnya," Vallen menunduk, ia tampak menyesali perbuatannya barusan.


"Vallen, kamu tidak perlu merasa bersalah. Jika ada yang harus merasa bersalah, aku orangnya. Harusnya aku memberimu nafkah batin, tapi aku tidak pernah melakukan kewajibanku. Aku bahkan tidak pernah menyentuhmu, maafkan aku..." Aku mengungkapkan rasa bersalahku pada Vallen. Aku benar-benar merasa bersalah padanya. Tapi aku juga tidak bisa memaksa hati dan perasaanku untuk menerimanya secepat itu.


Aku telah selesai memakai pakaian. Segera aku menghampirinya, membantunya berdiri dengan memegang lengannya. Lalu mendududkkannya du ranjangku. Aku menghapus airmata Vallen yang membasahi pipinya. Ini bukan dia yang setiap kali ku lihat. Dia tampak lemah dan cengeng. Seakan, kepribadian Vallen yang ceria dan tegar telah hilang.


"Dengar, aku tidak marah meskipun kamu melakukan hal tadi padaku. Itu hakmu, aku suamimu. Kamu boleh melakukannya padaku. Tapi aku minta maaf, aku belum bisa memenuhi kewajibanku yang lain padamu, suatu saat aku pasti akan menuaikan kewajibanku itu, sabar, ya.."Aku coba memberikannya pengertian. Untuk saat ini aku memang belum siap untuk melakukan hubungan badan dengannya. Bagaimanapun juga, aku belum bisa memastikan apakah aku benar-benar audah jatuh cinta padanya atau belum.


Vallen tiba-tiba bangkit dari duduknya dan memelukku. Aku segera membalas pelukannya. Aku yakin saat ini dia butuh ini. Dia butuh ketenangan dariku, suaminya.


"Andre, aku janji tidak akan seperti ini lagi. Maafkan aku ya, aku benar-benar tidak bermaksud melakukan itu. Maafkan aku, Ndre."Vallen memelukku semakin erat. Ia seperti sedang ketakutan dan tidak ingin aku menjauhinya karena hal tadi.


"Tenang, Vall. Kamu tidak perlu berjanji untuk itu. Kali ini aku memperbolehkanmu memeluk atau menciumku jika kamu ingin. Aku tidak melarangnya," Vallen menjauhkan kepalanya beberapa senti dari dadaku, menatapku dengan tatapan tidak percaya.


"Benarkah? Kamu mengizinkanku melakukan itu?" Matanya kali ini tampak berbinar penuh harap.


"Tentu saja, apa kamu senang?" Tanyaku lagi padanya. Vallen mengangguk mengiyakan bahwa ia sangat senang mendapatkan izin itu dariku. Vallen juga wanita normal, mana mungkin ia tidak akan berhasrat sedikitpun untuk menyentuhku. Aku sengaja membetinya ruang gerak agar ia merasa nyaman.


"Kamu tahu, ini seperti mimpi bagiku. Kamu memberiku ruang untuk dapat mencium dan memelukmu, aku sudah sangat bahagia. Terimakasih, Andre." Vallen kembali memelukku lebih erat. Senyumnya telah kembali. Aku seperti menemukan lagi Vallen yang kemarin.


"Apa sekarang terasa seperti mimpi?" Aku menggodanya, gadis itu menggeleng, tersenyum dengan sangat manis dan kembali mengeratkan pelukannya.


Vallen, seandainya kamu tahu bagaimana perjuanganku untuk memiliki perasaan yang sama sepertimu, kamu pasti akan mengerti. Aku juga ingin seperti suami pada umumnya yang dapat memperlakukan istrinya dengan layak.

__ADS_1


Hanya mengizinkannya memeluk dan mencium, itu seperti sedang berpacaran saja. Tapi bagaimana lagi, naluriku masih menolak untuk melakukannya. Aku yakin suatu saat aku bisa melakukannya, meskipun aku tidak tahu kapan saat itu tiba.


"Malam ini kamu ada waktu?" Tanyaku padanya yang masih memelukku.


"Selalu ada waktu untukmu, suamiku. Mau ngajak aku ke mana?" Ia pintar sekali menebak. Ia tahu kalau aku akan mengajaknya jalan keluar.


"Sekedar makan malam berdua di luar, Apa kamu kebwratan?" Tanyaku lagi. Aku hanya ingin ia memantapkanku.


"Tentu saja tidak, aku senang kamu berinisiatif mengajakku makan keluar, ini yang pertama kan setelah kita menikah? Aku sangat menantikan momen ini," Ungkapnya jujur. Benarkah ia sangat menginginkan dinner berdua denganku? Mungkin saja, dan ini hanya salah satu dari berbagai hal yang ia inginkan namuan tidak bisa mengungkapkannya menunggu aku yang berinisiatif.


"Benarkah kamu sangat menantikan momen ini? Baguslah, impianmu akan segera terpenuhi. Kita akan dinner romantis malam ini. Jangan lupa dandan yang cantik dan buat aku terpesona,"Kataku pelan di dekat telinganya. Mungkin gadis itu merinding kali ini.


"Kalau begitu, aku akan bersiap-siap, sampai bertemu nanti malam, sayang..." Vallen meninggalkanku. Aku tidak salah dengan? Barusan dia memanggilku dengan sebutan sayang? Gadis itu memang imut dan menggemaskan.


Aku mencari kunci mobil, bergegas keluar untuk mencari seikat bunga. Malam ini adalah dinner pertamaku dengan Vallen. Aku ingin memperlakukannya dengan spesial. Menyenangkan hati seseorang yang sudah mengabdikan hidupnya padaku itu tidak salah kan? Aku ingin menunjukkan padanya bahwa aku juga memiliki sisi romantis yang belum pernah aku tunjukkan padanya.


Vallen, meskipun aku belum yakin, tapi sepertinya aku mulai menaruh hati padamu. Aku mulai memperhatikanmu, dan mulai memikirkanmu. Semoga ini menjadi awal yang baik untuk kita. Aku akan swgera menjadikanmu ratuku. Bersabarlah sedikit lagi Vallen., Batinku berkecamuk.


Aku melajukan mobilku dengan hati yang sangat gembira. Aku senang dapat mengalihkan perasaanku. Aku semakin optimis untuk bisa hidup normal seperti orang lain. Terpenting, aku bisa menjalani kehidupan rumah tanggaku dengan baik.


Aku segera membelokkan mobilku setelah sampai dinsebuah toko bunga langganan mama. Saat ada suatu acara, mama sering membeli atau memesan bunga dari toko ini, Cemara Florist.


"Mas Andre, ada yang bisa di bantu?" Tanya Susan, si pemilik toko bunga itu sendiri. Ia sudah sangat mengenalku.


"Aku mau bunga Mawar putih, di bikin buket yang besar ya, pastikan bunganya segar dan terbaik," Ucapku mantap. Aku tidak sabar membayangkan ekapresi Vallen saat menerimanya nanti.


"Wah, mawar putih. Romantis sekali, kalau boleh tau buat siapa, mas? Pacar ya?" Susan penasaran. Ini kali pertamanya aku membeli bunga atas namaku sendiri. Dia sangat hafal bunga-bunga kesukaan mama.


"Bukan pacar, tapi istri," Aku malu-malu mengakuinya.


"Mas Andre sudah menikah? Kok saya tidak tahu ya? Biasanya ibu selalu pesan bunga di saya saat ada acara penting," Ungkap susan sambil memilih bunga pesananku.


"Kata mama, Mbak Susan sedang pergi keluar kota, jadi terpaksa mama beli di tempat lain," Aku coba menjelaskan. Susan manggut-manggut tanda mengerti.


Buket bunga selesai, aku segera pulang. Aku melajukan mobilku dengan kecepatan tinggi. Aku sudah tidak sabar menantikan malam nanti. Aku yakin Vallen akan dandan super cantik malam ini.


Ponselku berdering, nama Anita tertera di sana. Tumben anak ini meneleponku, apa ada urusan yang penting? Mengingat, meakipun kakak adik, aku dan Anita jarang berkomunikasi secara intens. Hanya sesekali di saat penting. Aku mengalihkan pandanganku dari jalan dan mencoba meraih earphone bluetooth-ku.


"Tiiin..Tiin..!!" Suara klakson mobil begitu keras, aku terkejut, terlebih lagi di depanku ada sebuah mobil bis besar yang juga melaju dengan sangat cepat. Tidak ada kesempatan lagi untuk menghindar, yang bisa kulakukan hanya banting setir.


"Ckiiiiiiit...!" Suara dercitan ban mobilku keras terdengar saat terpaksa harus berbelok debgan terpaksa.


"Brakkk!" Mobilku menghantam sesuatu bersamaan dengan terbenturnya kepalaku dengan sangat keras di kemudi. Aku yakin kaca mobilku pecah karena ada beberapa pecahan sesuatu yang menancap di tubuhku. Aku tidak bisa mengingat siapapun. Hanya sesosok wajah wanita cantik yang membayangiku. Aku merasakan tetesan darah keluar dari beberapa bagian tubuhku, pandanganku semakin kabur dan akhirnya gelap, benarcbenar gelap.

__ADS_1


__ADS_2