
Cerita ini hanya fiksi, banyak adegan kekerasan. Bagi pembaca di bawah umur, harap bijak dalam memilih bahan bacaan. Terima Kasih
“Bu Alaia sudah teleponnya?.” Tanya Liana menghampiri Alaia.
“Sudah, Aku mau kembali ke hotel sebentar, ada yang ketinggalan.” Alaia mengambil tasnya dari Liana dan meninggalkan wanita itu tanpa mengatakan apapun lagi.
Alaia meninggalkan pesta lebih awal karena pikirannya yang tidak nyaman berada disana lebih lama. Berada di dalam mobil taksi, air mata Alaia jatuh untuk pertama kali dengan pikiran yang berantakan setelah menikah dengan Agam, selama ini dia sangat bahagia karena Agam memperlakukannya sangat baik, menangis pun bukan karena hatinya atau karena Agam, tapi hari ini sepertinya berbeda.
Alaia menggenggam kedua tangannya di pangkuan, entah kenapa dia sangat sedih hingga terisak, air matanya jatuh di tangannya. Mobil taksi sampai di depan lobi hotel tempatnya menginap dengan Agam, setelah membayar sopir, Alaia keluar dari dalam mobil dan masuk kedalam hotel setelah mengusap air matanya. Wanita itu berjalan bagaikan kuda tanpa melihat ke samping yang banyak pelayan hotel menyapanya sangat baik, Alaia mengabaikan itu hingga tiba di kamar hotelnya.
Tanpa membersihkan tubuhnya, Alaia merebahkan tubuhnya di ranjang, menutupi wajahnya menggunakan selimut dan menangis didalamnya, dia seperti anak gadis yang tidak pernah diperhatikan, padahal selama ini, dia bukan orang seperti itu.
Sudah hampir 20 menit Agam menunggu Alaia kembali, tapi istrinya tak kunjung kembali. Hingga Liana datang menghampiri, masih posisi yang sama yaitu Cassandra di sebelah pria itu.
“Dimana istriku?.” Tanya Agam buru-buru.
“Maaf pak, barusan bu Alaia bilang kalau kembali ke hotel karena ada barang yang ketinggalan.”
“Apa?.”
“Tapi sepertinya bu Alaia mendengar omongan karyawan soal bapak.”
Agam memicingkan matanya penasaran, hingga pandangan Liana tertuju pada Cassandra. Agam paham maksud Liana, “Aku akan menyusulnya, urus acara ini tanpaku.”
“Baik pak.”
Agam terburu keluar dari acara pesta, bersama dengan sopir nya, pria itu menuju ke hotel, keadaan jalanan yang macet di tengah kota membuat Agam sedikit terhambat sampai di hotel, walaupun jaraknya memang tidak begitu jauh dari resort lokasi pesta.
Sampai di hotel, banyak yang menyapa Agam seperti biasanya, namun Agam hanya fokus pada ponselnya yang terus menghubungi Alaia berkali-kali tapi tidak ada jawaban dari Alaia.
__ADS_1
Ting
Agam sampai di kamar hotelnya, dia menyalakan lampu yang memang sebelumnya gelap, pandangannya tertuju pada ranjang dan tas Alaia yang berada di sofa.
“Sayang...” Panggil Agam lembut menyentuh rambut Alaia yang terlihat sedikit, karena wanita itu menutupi tubuhnya menggunakan selimut. “Maaf.”
Alaia membuka selimutnya, menampakkan wajahnya yang sembab karena habis menangis, hati Agam terasa sangat sakit, rasanya seperti saat itu, ada rasa marah dan patah sekaligus. Agam menarik Alaia kedalam pelukannya, bukannya berhenti menangis, Alaia malah semakin terisak. Tanpa Agam sadari, air matanya ikut jatuh tanpa permisi.
“Mas, aku nggak cocok sama kamu hiks hiks.”
Apa yang dikatakan Liana memang benar, Alaia pergi dan menangis karena omongan karyawan “Siapa yang bilang? Bukan kamu yang nggak cocok, tapi aku yang terlalu buruk untukmu sayang, kamu wanita terbaik yang pernah aku temui, dan akan menjadi terbaik untuk selamanya.” Ucap Agam lembut.
Alaia terus menangis, Agam membiarkan wanitanya puas menumpahkan kesedihannya hingga dia benar-benar tertidur di pelukan Agam, perlahan Agam menidurkan Alaia di ranjang, menyingkirkan anak rambut yang menghalangi wajah cantik Alaia. Agam sedih karena dia membuat Alaia menangis hari ini, bukan Agam tapi dia yang akan menjadi salah satu orang paling bersalah untuk Alaia dan akan menanggung semuanya.
Agam mengambil pembersih make up milik Alaia di meja, menuangkan ke dalam kapas dan perlahan membersihkan make up Alaia, tanpa make up pun Alaia masih sangat cantik. Cup! Agam mencium bibir Alaia sebentar kemudian berjalan menuju ke sofa. Pria itu menuangkan air mineral kedalam gelas dan memasukkan sebuah bubuk putih di dalamnya setelah itu meletakkan di nakas sebelah tempat tidur.
Agam memutuskan untuk membersihkan tubuhnya di kamar mandi, selama Agam berada di kamar mandi, Alaia membuka matanya karena kehausan. Dia melihat air putih di dalam gelas yang berada di nakas sebelah tempat tidur, dan meminumnya. Alaia hanya tau kalau Agam berada di kamar mandi sekarang, dia ingin bertemu Agam tapi rasanya dia sangat mengantuk.
“Hoam...” Alaia kembali tertidur dengan nyaman.
Agam melanjutkan kegiatannya mengganti pakaiannya dengan pakaian santai dan bergabung dengan Alaia di ranjang mereka.
Ruang kamar berukuran 4x4 dengan fasilitas ranjang queen size, meja, televisi, dan juga sofa serta kamar mandi. Pintu kamar terbuka kemudian tertutup kembali, belum membangunkan seseorang yang tengah terlelap di atasnya.
Tak tak tak
Suara ketukan di meja membangunkan wanita yang tengah tertidur, matanya terbuka lebar saat melihat siluet seseorang yang duduk di mejanya.
Cetak
Lampu kamar tidur menyala berwarna orange, lebih jelas menampakkan sosok pria yang duduk di atas meja itu.
__ADS_1
“Siapa kamu?.” Wanita itu mengeratkan selimutnya dan sedikit memundurkan badannya ke belakang hingga membentur sandaran ranjang.
Tidak ada jawaban, tapi pria itu membawa sebuah pisau di tangannya dan berjalan sangat pelan menghampiri wanita itu, dia berusaha melawan dengan melemparkan apapun yang ada di dekatnya sambil berteriak meminta tolong.
“Tolong! Tolong!.” Nyatanya percuma karena setiap kamar di buat kedap suara.
Tangannya meraba-raba sebelahnya, tapi sudah kosong, semuanya sudah dilemparkan ke arah pria itu. Pria tinggi memakai pakaian serba hitam dengan topi juga masker yang menutupi sebagian wajahnya, hanya terlihat mata saja.
“Sekarang giliranku.” Suara serak yang seakan memekakan telinga. Pria itu membawa sebuah gelas kaca yang sebelumnya diambil dari meja kemudian melemparkan ke arah wanita itu hingga mengenai kepalanya, sebuah darah keluar dari kepala tapi dia masih dengan sangat sadar saat pria itu sudah semakin dekat.
“Tolong!!!.”
“Percuma.” Pria itu sudah berada sangat dekat, bahkan mereka bisa merasakan detak jantung masing-masing.
Sebuah pisau di todongkan menyentuh pipi mulus wanita itu “Jangan... aku mohon, aku minta maaf jika aku salah, aku mohon.” Wanita itu terus memohon pada pria yang ada di depannya.
“Ada yang menangis karenamu, ini adalah bayaran atas air matanya yang jatuh.”
Sraaakkkk
Pisau itu menggores sudut bibirnya hingga sampai telinga sedalam 5 centimeter, darah bercucuran, wanita itu kesakitan namun tidak bisa mengatakan apapun, nyawanya masih ada tapi rasa sakit itu membuatnya ingin mati.
Darah menetes di ujung pisau menyentuh hidungnya, semakin naik menuju ke alis nya perlahan. Wanita itu memejamkan mata menahan tangis karena kesakitan, detik berikutnya pisau itu menusuk matanya sangat dalam hingga membuatnya berteriak dalam diam.
“HAHAHAHAHA TEBUS JUGA DOSAMU DI NERAKA.”
SELAMAT ULANG TAHUN AMERICANANO KE-23
SEHAT SELALU, KONSISTEN NULIS NYA, SEMAKIN LEBIH BAIK UNTUK TAHUN INI DAN MASA DEPAN
__ADS_1
SEMOGA MIMPINYA TERCAPAI DI TAHUN INI !!!