Perfect Husband

Perfect Husband
PH I 51


__ADS_3

"Hani," panggil orang itu membuat detak jantung Hani menjadi lebh cepat.


Merasa terpanggil, Hani akhirnya menoleh pelan dan hanya memasang wajah datar daat melihat Chris berdiri beberapa meter darinya. Pria itu tampak kaget dan terlihat senang dalam waktu bersamaan.


"Benarkan itu kau?" pria itu berjalan mendekat dengan senyum lebar, "tidak kusangka kami langsung menemukanmu. Memang insting Alex kuat sekali hingga dia tahu kau di sini."


"Di mana dia?" tanya Hani datar dan terdengar dingin.


"Oh, Alex sedang memarkirkan mobil. Kita tunggu saja, dia akan senang melihatmu. Dia sanga mengkhawa--" ucapan Chris terhenti saat Hani menarik tangannya paksa ke sebuah lorong pemisah restoran dan tempat karaoke di samping restoran itu. "Apa yang kau lakukan?' tanyanya saat mereka berad di lorong yang cukup gelap itu.


"Jangan katakan pada Alex jika kau melihatku," ucap Hani serius.


"Kenapa? Dia sangat menkhawatirkanmu."


Hani menggeleng kecil, "Aku butuh menenangkan diri Chris. Aku masih tidak bisa melupakan saat dia memeluk perempuan itu erat. Itu sangat menyakitiku."


"Tapi ini juga salahmu karena datang ke Paris dan memaksa untuk ikut padahal kau sendiri tahu jika akan menemui mantan kekasihnya," tukas Chris berusaha netral antara Hani dan Alex.


"Aku tahu jika aku memaksamu agar membawaku ke sini tapi aku tidak memaksanya agar membawaku ke tempat perempuan itu. Aku hanya ingin dia jujur kenapa dia menemui perempuan itu sehingga aku bisa menahan diri untuk tidak ikut campur Chris.Tapi kenyataannya dia menyembunyikan semuanya dariku seolah-olah aku tidak cukup penting di hidupnya, Jika dia terus seperti itu maka aku tidak yakin bisa menikah dengannya," kata Hani dengan ar mata yang mulai mengalir dari ujung matanya.


"Jika kau mau, dia bisa saja menjelaskan semuanya padamu sekarang, Han," yakin Chris tidak tahu harus berkata apa-apa lagi. Dia paling tidak sanggup melihat perempuan menangis di hdapannya.


"Tidak, Chris. Katakan padanya untuk menyelesaikan semuanya karena aku tidak mau tahu apa yang akan dia lakukan bersama perempuan itu selama di sini. Sebab lebih baik aku tidak mengetahui apa yang mereka lakukan. Jika semuanya selesai, aku akan menemuinya untuk mendengar hutang penjelasan yang belum dia katakan padaku. Jadi biarkan aku pergi Chris dan katakan padanya jika aku tidak apa-apa. Katakan padanya jika aku baik-baik saja dan jangan mengkhawatirkanku," pinta Hani sembari mengusap paksa air matanya. Dia langsung bergegas pergi sebelum Chris menghentikannya.


Chris mencekal tangan Hani lalu menatap perempuan itu serius, "Tapi kau harus tahu jika Alex juga terluka. Bukan hanya dirimu yang terluka, Han. Jadi aku mohon lepaskan ego kalian lalu bicarakan secara baik-baik. Jangan menambah masalah yang membuatnya semakin rumit."

__ADS_1


Hani menjauhkan pelan tangan Chris dari tangannya seraya menggeleng kecil, "Maaf, Chris. Untuk kali ini aku tidak bisa bersikap dewasa. Maafkan jika aku kekanakan," gumamnya lalu bergegas pergi.


Chris mendesah pelan karena harus memikirkan bagaimana cara mengatakannya pada Alex.


***


Alex mendesis kesal karena tidak menemukan keberadaan Chris padahal pria itu disuruh menunggu di lobi saja namun sahabatnya itu belum juga menampakkan diri. Alex langsung menghubungi pria dewasa yang entah pergi ke mana itu. Namun Chris langsung menampakkan diri sebelum Alex berhasil meneleponnya.


"Dari mana saja kau?" ketus Alex dengan tatapan tajamnya.


"Jangan menatapku seperti itu atau orang beranggapan ada sesuatu di antara kita," kekeh Chris canggung.


"Bagaimana? Apa kau menemukan Hani?" tanya Alex.


Chris terdiam sesaat sembari melamun mengingat semua ucapan Hani tadinya. Dia bimbang harus mengatakan apa pada Alex karena dia berada di sisi yang menyulitkan karena Alex dan Hani memiliki permintaan yang saling bertolak belakang.


Mata Alex spontan membulat dan terlihat binar senang di sana, "Benarkah? Lalu di mana dia sekarang?"


Chris menggeleng, "Aku tidak tahu. Dia langsung pergi begitu melihatku."


"Kenapa kau tidak menghentikannya?" tanya Alex dengan raut bingung dan juga kecewa.


"Dia bilang dia butuh waktu sendiri untuk menenangkan diri menjauh darimu," jawab Chris merasa bersalah karena berada di pihak yang serba salah.


"Tidak. Aku harus menemukannya," putus Alex berniat pergi.

__ADS_1


"Tapi kau harus menghargai keinginannya Alex. Kau tahu dia melihatmu memeluk Irene dan itu melukai hatinya. Tenanglah, dia pasti kembali," ujar Chris mengingatkan.


"Tapi sampai kapan?" teriak Alex frustasi.


"Sampai kau menyelesaikan semuanya dengan Irene. Itu yang dia mau." Chris sangat serius sekarang.


Alex mengerang marah sebab kini dia seolah hampir kehilangan orang yang dia sayangi lagi karena kebodohannya. Jika kali ini dia harus kehilangan Hani, maka dia tidak yakin apa dia masih hidup layaknya manusia sebab kehilangan Irene saja sudah banyak mengubahnya dan dia tidak mau kehilangan jati dirinya karena kehilangan sosok terpenting baginya.


"Baiklah. Aku akan menyudahi semua ini dan aku tidak akan membuatnya lama menunggu."


***


Hani terus menangis tidak peduli bagaimana tatapan orang-orang yang melihatnya, Dia tidaka peduli dengan apa yang orang pikirkan terhadapnya karena satu-satunya yang ada di dalam pikirannya hanyalah Alex, prianya itu. Dia bisa membayangkan seberapa sakit hatinya Alex jika mengetahui jika dirinya ingin menjauh sesaat dari pria itu. Baginya itu juga sulit namun dia harus memberi jeda untuk mereka berdua karena sejatinya mereka memang tidak cukup mengenal untuk menikah namun hati mereka yakin dengan keputusan yang mereka buat. Itulah alasannya bertahan meskipun sakit sekali menyadari jika dia masih jauh dari kata mengenal Alex.


Matanya tertuju pada toko wedding dress yang memajang berbagai macam gaun di etalasnya. Hani menyinggung senyum tipis saat melihat gaun indah itu mengingat tidak lama lagi dia akan mengenakan gaun itu. Tapi dia baru teringat jika dia belum memiliki gaun untuk pernikahannya yang terhitung hanya kurang dari sebulan lagi. Dia dan Alex juga bahkan belum membeli cincin mereka membuat Hani berpikir jika mereka memang belum siap untuk menikah dan terasa sangat dipaksakan.


Membuang jauh-jauh pikiran buruk itu Hani memilih masuk ke toko itu dan semua pekerja di sana langsung menyapanya ramah.


"Selamat datang. Ada yang bisa kami bantu?" sapa salah satu wanita berambut pirang cerah ramah kepadanya.


"Saya ingin melihat beberapa dress untuk acara pernikahan saya," jawab Hani takkalah ramah meski dia kesulitan menyembunyikan mata merahnya yang menjadi fokus orang-orang yang ada di sana.


Wanita itu mengangguk pelan dan tersenyum manis, "Baiklah, saya akan tunjukkan."


Hani menghela napas lega karena wanita itu tidak menanyakan alasannya datang sendiri karena aneh rasanya datang ke toko seperti ini sendiri karena biasanya pasti disertai oleh suami ataupun keluarga. Tapi karena Alex yang sangat sibuk dan jahat itu, Hani harus melakukannya sendiri.

__ADS_1


"Lupakan Alex sebentar!" katanya Hani pada dirinya sendiri.


***


__ADS_2