
Cerita ini hanya fiksi, banyak adegan kekerasan. Bagi pembaca di bawah umur, harap bijak dalam memilih bahan bacaan. Terima Kasih
“Setidaknya dia tidak akan buka mulut kalau aku menyuruhnya memanas-manasi istri Agam.” Ucap Cassandra sambil memilih pakaian yang akan dia kenakan hari ini sebelum kembali ke kota asal.
“Nyawa orang, kenapa kamu begitu tidak berperasaan.”
“Apa dia mati karenaku? Bukan, dia bunuh diri. Jadi kesalahanku dimana?.”
“Kita pernah berhubungan, setidaknya kita mengucapkan bela sungkawa pada keluarganya.”
“Tentu saja aku akan melakukannya.” Jawab Cassandra santai, lagipula memberikan ucapan bela sungkawa pada orang akan meningkatkan popularitas kebaikannya di depan penggemar dan publik.
Pesawat yang membawa Agam dan Alaia baru saja tiba di kota asal mereka, keduanya berjalan beriringan menuju keluar bandara. Ada satu mobil jemputan yang akan membawa mereka berdua kembali pulang ke rumah, sosok Agam yang selalu melakukan apapun sendiri, dia tidak banyak pekerja yang ada di bawahnya, sehingga yang menjemput mereka hari ini adalah sopir ayahnya.
Perjalanan ditempuh tidak begitu lama hingga mereka tiba di rumah, Agam membantu Alaia menarik kopernya, dua tangan yang menarik dua koper. Sedangkan Alaia hanya membawa tas kecilnya serta beberapa paper bag belanjaannya untuk hadiah kedua orang tuanya dan kakaknya.
Wanita itu duduk di sofa setelah meletakkan oleh-olehnya di meja, dia nampak sangat lelah dan sedikit jet lag. Alaia memejamkan matanya sebentar di sofa, dia tidak banyak bicara dan tidak ingin menyusahkan Agam lagi.
Setelah meletakkan kopernya di kamar, Agam turun menuju ke lantai satu, dilihatnya Alaia yang terlelap di sofa. Pria itu tersenyum dan kembali ke kamar untuk mengambilkan selimut, bukan tidak ingin membawanya ke kamar tidur, tapi takut kalau terganggu karena baru saja tertidur jika di pindah tiba-tiba.
Agam menyelimuti tubuh Alaia menggunakan selimut, merapikan barang-barang milik Alaia dan meletakkan di kamar, termasuk melepaskan sepatu yang Alaia pakai. Selama Alaia tidur, Agam mengurus banyak hal termasuk mengenai karyawan nya yang meninggal di Bali. Memang sudah ada Liana yang bekerja untuknya, tapi sebagai penanggung jawab dan presdir dari A Group, dia juga harus menurunkan tangannya ikut bertanggung jawab penuh.
Agam menyelesaikan kegiatannya di kamar mandi, dan keluar mengenakan pakaian serba hitam, kemeja hitam di padukan dengan celana kain yang pas di tubuh atletisnya. Pria itu menghampiri Alaia, dan mengusap rambut wanita itu lembut, tak lupa beberapa menit yang lalu dia sudah menghubungi asisten rumah tangga dari keluarganya untuk datang kerumah menjaga Alaia karena dia harus pergi. Agam mengecup puncak kepala Alaia, dan menitipkan wanita itu pada wanita paruh baya yang sudah dipercaya sejak dulu.
Agam mengendarai mobilnya menuju ke rumah duka keluarga karyawannya yang meninggal, kasus itu akhirnya ditutup dengan bunuh diri, selain itu perusahaan telah memberikan uang ganti rugi kepada keluarga yang ditinggalkan, sehingga tidak ada lagi yang perlu dilanjutkan bagi mereka karena surat bunuh diri tersebut.
__ADS_1
Mobil Agam terparkir di antara mobil lainnya, Liana menghampiri pria itu sembari memberikan sebuah karangan bunga yang dibelinya.
“Ini pak, bunga pesanan pak Agam.”
“Terimakasih.” Agam menerima karangan bunga tersebut dan masuk kedalam bersama Liana sebagai asisten pribadinya.
Saat berada di pintu masuk, bersamaan dengan kedatangan Cassandra bersama Chika manajernya.
“Pak Agam.”
Agam menoleh, dengan wajah dinginnya dia mengabaikan Cassandra dan memilih untuk masuk menyapa dan mengucapkan duka pada keluarga korban. Tak lupa Agam memberikan bunga serta uang berada di amplop putih pada keluarganya.
Setelah itu Agam langsung keluar, dia tidak ingin lama-lama disana karena harus mengerjakan pekerjaan lainnya. Pria itu berpisah dengan Liana yang membawa mobil sendiri, Agam melajukan mobilnya meninggalkan rumah duka menuju ke perusahaannya untuk mengambil beberapa berkas penting, hanya dia saja yang bisa mengambilnya di sana.
Alaia terbangun dari tidurnya saat jam sudah menunjukkan pukul 6 sore menjelang malam, lampu rumahnya sudah menyala sempurna, dia juga melihat pelayan yang menyiapkan makanan di dapur. Tapi Alaia tidak menemukan sosok Agam yang seharusnya beristirahat bersamanya juga.
“Bu Alaia sudah bangun?.”
“Mas Agam kemana bi?.”
“Makasih bi.” Alaia tersenyum kemudian naik ke lantai dua menuju ke kamarnya, barang-barangnya sudah ada disana, Alaia masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan badannya dan mengganti pakaiannya dengan pakaian rumah yang lebih santai.
Wanita itu keluar kamar kembali, menuruni tangga dan berjalan menuju ke dapur untuk membantu asisten rumah tangga yang membantunya hari ini.
“Bu Alaia duduk saja, biar saya yang mengerjakan semuanya.”
“Saya biasa mengerjakan pekerjaan rumah sendiri Bi, jadi nggak masalah.”
“Nanti pak Agam marah.”
“Nggak akan.”
__ADS_1
“Oh iya, tadi sudah saya buatkan minuman hangat, Bu Alaia bisa meminumnya terlebih dahulu, pak Agam mengatakan pada saya untuk membuatkan minuman hangat untuk Bu Alaia.”
“Makasih Bi.” Alaia menuju ke meja makan dan minum minuman hangat yang rasanya ada jahe, namun menyegarkan dan cukup membantu mengurangi rasa jet lag yang masih tertinggal di kepalanya.
Selama berbincang dengan asisten rumah tangga yang membantu membuatkan makan malam, suara mobil Agam terdengar di luar. Alaia dengan wajah bahagianya buru-buru keluar dari rumah dan menghampiri Agam yang baru saja keluar dari dalam mobil sambil membawa berkas pekerjaannya.
“Mas.”
“Sayang.”
Alaia menghampiri Agam dan memeluknya erat.
“Kenapa? Ada masalah? Kamu baik-baik saja kan?.” Tanya Agam sangat khawatir.
Alaia mengangguk dalam pelukan Agam “Aku hanya ingin memeluk suamiku, apa tidak boleh?.” Alaia menatap wajah Agam dengan pandangan sedih.
Agam tersenyum dan kembali membawa Alaia kedalam pelukannya, “Tentu saja boleh.” Tangan Agam mengusap kepala Alaia lembut.
Setelah berpelukan cukup lama, mereka masuk kedalam rumah. Asisten rumah tangga nya tersenyum melihat pasangan itu, sejak awal dia bahkan sangat tau kalau Agam dan Alaia adalah sepasang kekasih yang tidak akan pernah terpisahkan, apalagi dia yang cukup mengenal Agam, mengingat pekerjaannya yang sangat lama di keluarga Agam.
“Makan malam sudah siap Pak Agam, Bu Alaia.”
“Makan malam sama kita dulu bi?.” Ajak Alaia.
“Tidak Bu Alaia, saya harus segera kembali ke rumah nyonya dan tuan.”
“Terimakasih Bi, sudah menjadi Alaia.”
“Itu memang sudah tugas saya pak.”
“Ini.” Agam memberikan sebuah amplop berisi beberapa lembar uang pada asisten rumah tangga tersebut.
“Tidak perlu pak.”
“Saya yang mempekerjakan Bibi hari ini, bukan papa dan mama.”
__ADS_1
“Terimakasih banyak pak.”
Setelah itu asisten rumah tangga itu meninggalkan rumah Agam dan Alaia, hanya sisa mereka berdua disana yang tengah menghabiskan makan malam.